Minggu, November 25, 2012

Tentang Impian

  No comments    
categories: 

Aku pernah bermimpi
Menjadi bintang yang paling bersinar
Ku tak menyangka ini terjadi

Debo ~ Bintang yang Bersinar

Saya pertama denger lagu ini rasanya terenyuh, gimana enggak. Lagu ini semacam 'tempeleng' buat saya yang jarang banget bisa bersyukur sama pencipta. 
Pernah kah saya cerita kalau waktu kecil saya pengen jadi astronot ? ya kalau memang belum coba cek ke TeKaPe dulu :). Udah baca ? nah, mungkin impian- impian masa kecil saya kalau dibilang sekarang ababil, dan plin- plan mungkin ya? 

Waktu itu saya sangat kagum dan suka dengan Neil Amstrong, betapa hebatnya dia ya. Terbang ke bulan. Saya pengen banget bisa kayak dia, lihat keindahan bumi dari luar angkasa, naik pesawat ulang alik, pakai baju astronot, betapa bangganya. Saya tau Neil Amstrong dari majalah- majalah yang dikirim oleh tante saya dari Batam. Tante saya, tiap bulan selalu mempaketkan buku- buku pengetahuan yang sangat banyak. Itulah sebabnya saya suka membaca. Kemudian, impian saya berubah. Saya ingin jadi ilmuan, membuat pesawat saya sendiri untuk nantinya saya naiki ke bulan. ahh ~ betapa imajinasi saya sungguh liar. 

Masuk masa sekolah di TK, saya paling tidak suka menggambar, menyanyi, ataupun menulis. SAYA TIDAK SUKA SEKOLAH. Saya hanya suka melihat teman- teman saya beraksi di depan kelas. Saya menikmatinya.. Pernah statu ketika, saat jam istirahat, saya diminta oleh salah seorang teman untuk mengantar ke kamar mandi, saya masih ingat saat itu kami bertiga, 1 laki- laki dan 2 perempuan termasuk saya. Coba saya ingat kembali, kamar mandi TK saya besar, ada dua pintu. Pintu pertama untuk wastafel, dan yang kedua adalah kamar mandi. Saat itu teman saya perempuan sedang buang air kecil, dan pintu kedua tidak di tutup, yah masa anak- anak zaman itu, mana ngerti hal- hal seronok ? masih lugu. 

Tiba- tiba, pintu pertama tertutup, dan ternyata memang kami sengaja dijebak oleh teman- teman yang nakal. Kedua teman saya menangis, ya seorang laki- laki menangis saat terkunci bersama dua perempuan. Saya? oh soeey, saya cool waktu itu, haha.. saya mencoba untuk membuka pintu, hingga berkali- kali. Hingga akhirnya, saya bilang ke dua teman saya. "Diam, kalau kalian nangis, mereka (teman yang mengunci) bisa dengar", akhirnya teman saya diam. Setelah menunggu beberapa lama, saya mendengar bisik- bisik di luar, dan seketika pintu langsung saya buka. Saya tendang 2 anak nakal di depan saya. Dan mereka menangis. haha. Karena kejadian itu, tidak ada teman- teman yang mengganggu saya. :D

Semenjak saat itu, saya ingin belajar karate. :D, 

Memasuki usia sekolah dasar, mimpi saya semakin lama semakin liar, saya kepingin jadi dokter, saya menyukai pelajaran sains hingga berlanjut ke SMA. Ayah saya memang bukan orang yang memiliki jenjang pendidikan yang tinggi, namun dia bercita- cita memiliki anak- anak yang hebat. Mulai masuk SMA, ayah saya bilang "kamu nanti setelah lulus mau kerja apa kuliah ?, kalau kerja masuk SMK, kalau kuliah masuk SMA", dan ibu saya, adalah wanita konservatif yang saat masa sekolah begitu pandai memainkan rumus- rumus fisika kimia. Hingga akhirnya saya masuk SMA. 

Menurut saya, SMA adalah masa kompleks, dari awal, ayah sudah bilang "kalau di SMA, harus masuk IPA". Apalagi saat itu, pemikiran ayah dan ibu saya adalah "you must get IPA" ~ sebagai anak yang masih disetir oleh orang tua, saya begitu mati- matian supaya bisa masuk IPA. Saat penjurusan, jeng jeng jeng.. I'm failed. Saya masuk IPS. Dan betapa ayah dan ibu saya marah. Saya takut. Hanya karena kurang satu nilai di fisika saya masuk IPS. wtf! Apalagi ayah saya bilang "mau jadi apa masuk jurusan IPS ?"

Hingga saat itu, saya berhenti bermimpi. 

Pertama masuk kelas saya akhirnya tergabung kembali dengan PeWe, teman akrab saya masa kelas X. Dia juga masuk IPS. Saya mulai sedikit tenang. Tapi masih tetap belum bisa menerima. Hingga kakak kelas yang mengenal saya bilang "kamu menyesal masuk IPS ? Enak kok di IPS, kalau kamu kesulitan nanti aku bantu, aku kasih pinjam buku- buku". 

Banyak motivasi yang diluncurkan untuk saya, tapi ayah dan ibu saya masih belum bisa menerima. Hingga akhirnya, saya mulai ogah- ogahan menjalani kelas XI, saya ngga mau tau, mau nanti naik atau enggak, terserah. Saat penerimaan rapor, saya sedikit tersenyum. bahahaha. Saya masuk di 10 besar kelas. dan 20 besar jurusan. Saat itu yang mengambil rapor ayah saya. 

Hingga sekarang, saya masuk di Universitas yang bagus. Di jurusan yang katanya sulit. Bertemu dengan teman- teman dan orang- orang yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Punya pengalaman magang di radar Malang, jadi penulis tetap di majalah fakultas. its really something

0 komentar:

Posting Komentar

Keep Blogwalking!