Selasa, Februari 05, 2013

#ReviewFilm

  6 comments    
categories: 
Saya barusan liat film judulnya The Way Home, tadi waktu ada kelas Mikro Lanjut saya minjem lapy Nop2 buat ngirim file, dan saya yang emang dasarnya KEPO langsung minta izin buat liat koleksi filmnya dia. Ada beberapa yang udah saya lihat, dan ada beberapa lagi yang saya belum denger sama sekali. Salah satunya itu tadi, The Way Home. 

Gegara sama si Nop2 di taruh folder film Thailand, saya langsung ngira ini film Thailand, tapi waktu nonton kok gada Thailand- Thailandnya. Ternyata, ini film Korea dan booming tahun 2002, film terbaik pada waktu itu juga. (Taunya juga dari searching).

Oke, mari kita mulai :



taken from Google


Judul : THE WAY HOME
Genre : Drama
Direktur : Lee Jeong-hyang 
Penulis : Lee Jeong-hyang
Cast : Eul-boon Kim :Grandmother 
Seung-ho Yu :Sang-woo 
Hyo-hee Dong :Sang-woo’s Mother
Waktu : 88 menit
Diliris tahun : 2002

Didedikasikan untuk seluruh nenek didunia.
THE WAY HOME , film ini menceritakan tentang seorang anak bernama Sang- Woo, tipikal anak yang terbiasa hidup di kota, dan sangat nakal serta egois. 

Terpaksa harus tinggal bersama neneknya di desa terpencil, karena ibunya harus mencari pekerjaan baru. Awalnya Sang- Woo sangat tidak menghargai neneknya. Selalu mengabaikan apa saja yang dilakukan oleh neneknya, dan cenderung menghindar dari neneknya.

Meskipun begitu, nenek ini sangat sayang pada Sang- Woo. Selalu membelikan apa saja yang Sang- Woo minta, padahal (kemungkinan) uang yang dimiliki terbatas. 

Nenek ini, tidak bicara sama sekali karena mengalami tuna wicara. Mengakibatkan semakin sulitnya berkomunikasi antara Sang- Woo dan si nenek. 

Sifat egois yang dimiliki Sang- Woo perlahan mulai luntur, anak kecil ini mulai membantu neneknya mengambil jemuran, memanen buah di kebun dan membawanya pulang dengan troli. 

Saat mereka (Sang- Woo dan Neneknya) akan pergi ke pasar, mereka harus naik bus yang sangat jarang datang. Sehingga mereka menunggu berjam- jam. Setelah nenek menjual buah, Sang- Woo diajak membeli ramen (sepertinya), dan membayar dengan uang hasil menjual buah. Dari mata Sang- Woo ia mulai tersentuh.

Pulangnya, Sang- Woo menyuruh neneknya pulang sendiri karena ia ingin pulang bersama gadis yang ia sukai. Jelas, Sang- Woo sampai dulu dirumah, dan neneknya belum juga pulang hingga beberapa bus datang. Meskipun egois, nyatanya Sang- Woo sangat menanti kepulangan neneknya. Ternyata, neneknya tidak naik bus melainkan jalan kaki dari pasar, dan jaraknya sangat jauh. 

Tiba saatnya Sang- Woo harus kembali ke kota, dia mengajari neneknya menulis, supaya dapat memberi kabar kepadanya jika terjadi apa- apa pada neneknya. Saat Sang- Woo naik kedalam bus, dia turun lagi dan memberikan surat- surat yang dia buat kepada neneknya.


Film ini berhasil mendeskripsikan kasih sayang dan cinta seorang nenek tanpa banyak kata, tingkah polos dan lugu si nenek dan sikap rewel, manja dan egoisnya cucu melebur menjadi sebuah drama yang menyenangkan, indah dan haru untuk dinikmati.


"Film ini didedikasikan untuk para nenek di seluruh dunia."

Setelah nonton, apa sih yang bisa diambil dari film ini ?

Kalau saya, jelas. Nangis, dan langsung keingat sama uti, apalagi saya udah lama banget gak ngunjungi uti. 

Saya langsung ngubek- ngubek kompi, nyari foto saya sama uti, dan ini hasilnya :



Foto terbaru yang diambil setelah reuni keluarga besar, hari raya ke 3.

Saya kangen diboncengin naik sepeda mini kayak dulu ke mushola, dibikinin nasi jagung goreng + teri, dan agar- agar. 

Sekarang, uti saya sakit. Diabetes. Makin hari tubuhnya makin habis kemakan sakit dan pikiran. 

Saya sayang banget sama uti. Banget.

6 komentar:

  1. iya... filmnya bagus bgt.
    Suka adegan yang pas malam sebelum balik ke kota, Sang Woo gambarin kertas mainannya buat jadi post card, trus masukin benang ke semua jarum biar neneknya ga susah2 klo kehabisan benang T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku 2 kali nonton, tetep aja nangis.. Adegan- adegannya sederhana tapi menguras air mata. Yak, setuju. Itu haru banget rasanya ya T.T

      Hapus
  2. waduh sepertinya bagus, jadi pengen download nieh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. yes and you must :D - nilai 95 buat film ini

      Hapus
  3. kebayang kadang aku sibuk kuliah suka ga ada waktu ngobrol sama mbah...mendadak sedih gini

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, aku juga. Apalagi habis nonton ini, makin sedih..

      Hapus

Keep Blogwalking!