Jumat, Agustus 02, 2013

“Semua Akan Pergi”

  6 comments    
categories: 
Untuk saat ini, tidak ada hal yang lebih buruk kecuali kejadian 10 Juni yang lalu. Setelah sekian lama tidak merasakan kesakitan yang mendalam, saat itu Tuhan memberi kami ujian. Uti dipanggil pulang, menyusul mbah kung, buyut, serta saudara lainnya.

Setelah 14 tahun semenjak kepulangan mbah kung, dan bukan kebetulan saat itu ibu sedang mengandung adik saya, Donni. Serta saat itu saya masih kecil, hingga saat itu saya masih sempatnya bertanya pada ibuk yg banjir air mata "mbah kung lagi babuk kok diiyami to buk, kan adem" (kakek lagi tidur kok di mandiin sih buk, kan dingin), dan setelah saya mulai SMP, saya baru paham, kakek saya sudah meninggal.

*Sedikit cerita tentang kakek saya, beliau adalah the best mbah kungkung i ever have. Meskipun saat itu usia saya masih 6 tahun, tapi cinta kasih mbah kung tak ada habisnya. Sejujurnya saya tidak begitu ingat bagaimana bentuk kasih sayang beliau, tapi karena ibu sering bercerita, saya jadi bisa mengimanjinasikan kasih sayangnya.

Karena orang tua saya merantau di lain daerah, otomatis saya jarang berjumpa dengan mbah kung dan mbah uti, akung dan uti berada di Pare dan saya berada di Gurah. Kata ibu, setiap sabtu siang sepulang sekolah saya sering dijemput untuk diajak ke Pare. Kakek saya juga orang yang sangat kreatif, hampir semua perabotan rumah seperti kursi kayu, vas bunga, almari, pot bunga, rak- rak dan beberapa alat dapur dibuat dengan tangannya! WOW!

Beruntungnya saya dapat merasakan kasih sayang beliau meskipun hanya sebentar. Oh ya, kakek yang saya ceritakan ini kakek dari ibu.*

Kembali kecerita uti saya ya.

Sejak kecil saya sering tidur di rumah uti, menemaninya. Dari ke-6 anaknya, 5 sudah menikah dan 1 masih membujang. Semuanya sudah punya rumah sendiri. Namun, hanya 3 yang rumahnya berdekatan. Jadi, uti berada di rumah sendiri.

Saya masih ingat ketika tidur disana, setiap pagi uti pergi ke mushola untuk ibadah shubuh kemudian menawarkan saya mau sarapan apa, nasi goreng atau mie rebus. Hingga saat ini, saya masih belum bisa lupa rasa khas dari nasi goreng buatan uti saya. Nasi gorengnya bukan dari nasi putih tapi nasi jagung, pokoknya enak dan belum ada yang menandingi, pun itu ibu saya sendiri.

Setelah itu, saya diajaknya pergi ke sawah. Siangnya pulang dan tidur siang. Sorenya saat bangun sudah ada agar- agar kesukaan saya. Saat magrib tiba, saya diajak pergi ke mushola hingga isya'. Hebatnya, diusia uti saya yang menginjak 60 tahun saat itu, beliau masih bisa membonceng saya naik sepeda mini.

Saya sering dibuatkan pentol bakso serta pepes pindang (brengkes), agar- agar rumput laut, serta es dari lidah buaya.

Saat ada penjual pentol yang lewat depan rumah, saya juga sering diberi uang Rp. 500 kadang Rp 1000.

Itu saat uti saya masih sehat.

***
Sejak sakit gula, dan jempol kakinya diamputasi, uti saya sudah tidak pernah pergi ke mushola lagi. Apalagi sejak itu juga uti seringkali drop. AH, sudah sudah saya berhenti menggores luka.

Saya gak pernah bisa lupa untuk tahun- tahun terbaik bersama uti dan mbah kung.

Meskipun saya sering tahu ada orang meninggal, tapi saat itu perasaan saya masih biasa saja. Namun, sejak kematian uti saya, saya mulai berpikir logis dan sadar. Semua akan pergi meninggalkan kita, siapapun itu. Hanya butuh persiapan untuk keduanya.


yang akan pergi, dan yang ditinggalkan.

6 komentar:

  1. mantap ! kunjungi dan follow balik ya makasih :D

    BalasHapus
  2. salam kenal Silviana,,,sy suka sekali membaca tulisan2 kamu,,kamu berbakat sekali dalam menulis,,
    Salam kenal ya,,kalau boleh tahu, kamu mahasiswa UM kan,,??
    sama donk,,aku kuliah di UM juga,,
    Minal aizin walfaizin,,,
    www.mursalin.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal. Wah terimakasih, ini saya juga masih belajar :)
      Iya benar aku anak UM.
      Jurusan apa ?
      Terimakasih udah mampir disini ya :D

      Hapus
  3. aku malah ratau ndelok wajahe mbah kakungku. Lha wong kabeh wis sedo pas bapak ibukku jik cilik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, berarti wes suwe banget iku. Mpun Sepuh. Eh tapi ono fotone opo ora mas Ndop ?

      Hapus

Keep Blogwalking!