Selasa, Oktober 22, 2013

KEPUASAN KONSUMEN

  4 comments    
categories: 
Saya sering melakukan rutinitas -jalan- jalan- di- sore- hari-. Meskipun hanya muter gang di daerah kosan yang sempit dan padat. Lumayan mengurangi resiko osteoporosis kayak iklannya Sarah Sechan itu. 

Beberapa hari ini, ada hal- hal yang membuat saya merasa tidak puas dengan kinerja pemberi jasa di daerah kosan saya.

Pertama, Teringat kalau baterai jam tangan tiga- tiganya mati semua, saya mampir ke salah satu outlet jam tangan, disana juga tersedia berbagai macam aksesoris yang lengkap juga murah meriah, cocok untuk kantong anak kosan. Sebenarnya saya mau ganti baterai jam tangan ketiganya, pas nanya soal 'harga' baterai, agak sedikit kaget. Kok mahal ya, gak kayak biasanya. 

Akhirnya memutuskan untuk mengganti baterai jam yang biasa saya gunakan. Mengingat soal harga, bisa ludes dompet saya kalau ganti ketiganya. 

Kebetulan yang jaga seseorang mbak yang menurut saya ramah.

Pas saya pertama kali datang ..


"Mba, mau ganti baterai jam, satunya berapa ya?"

"Harga baterai nya 10K ini yang ori mbak, yang 377 (yang biasanya) harganya 5K tapi kosong, yang ori tahan sekitar 1 tahun lebih, dan yang 377 itu cuma 6 bulanan, kalau aku sih mending yang ori aja".

"Oke, ganti yang jam ini aja"

Dan malam ini, jarum jam saya sudah gak mau jalan lagi. :|
Itukah yang dinamakan ori dan bertahan selama setahun lebih ?

--

Kedua, Sepulang dari pergantian jam, saya mampir ke sebuah warnet yang menyediakan hotspot juga. Kebetulan karena warnet tersebut menurut saya kinerja komputer dan jaringannya cepat saya mampir. 

Saat saya mau masuk ke bagian komputer, saya di stop oleh penjaganya. Saat itu waktu menunjukkan 16.30. 

"Mau ngenet mbak ?"

"Iya, ada yang kosong?"

"Ada mbak, tp kami mau tutup jam 17.00"

"ohiya gak apa- apa, saya memang cuma sebentar saja ngenetnya"

"gak bisa mbak, kalau sudah mau tutup kami tidak menerima meski ada yang kosong"

Jujur saya heran!

"Oh gitu, kalau begitu saya beli paketan hotspot aja mas"

"Kalau mau tutup kami sudah tidak jual mbak"

"Baiklah"

Ehm, tidakkah ini aneh ? Menurut saya sih. Kan kalau saya ngenet saya masih punya waktu 30 menit to. 

Ini penolakan yang menyakitkan. Hiks. Jujur saya kecewa.

Ketiga, Saat saya sedang ngeprint. Mungkin gak cuma di daerah Malang yang sekarang bisa ngeprint pakai mesin foto kopian. Kemarin saya ngeprint BAB 1 proposal di salah satu percetakan, dan kalau kita ngeprint keluarnya melalui mesin fotokopi. 

Memang gak banyak saya ngeprinya, cuma 2 lembar aja. Tapi, kertasnya kayak terlipat gitu, apa ya bahasanya, pokoknya kertasnya itu gak rapi gitu, ada beberapa bagian yang kayak lungset (gak rapi). Pas saya bilang :

"Mas, ini kok kertasnya gini?

"Mesinnya panas mbak"

"Oh kalau gitu tolong print lagi ya"

"mesinnya panas, podo ae mbak"

"Ooo gitu, kalau gitu tolong print di printer yang mesinnya gak panas dan cetakannya tintanya jelas ya mas"

Kemudian di print ulang sama masnya. dan saya membayar dua kali. 

Jujur, saya tidak keberatan jika membayar lebih mahal untuk hasil yang maksimal, tapi saya akan sangat senang jika bayar murah tapi hasil maksimal juga.

Padahal, kepuasan konsumen itu berbanding lurus dengan pelayanan produsen. 

Sudah paham dengan poin yang saya maksud ? Oke sip!
Selamat malam. :)

4 komentar:

  1. yang sabar, penolakan memang menjadi masalah. namun, bagimana 'menyikapi' suatu penolakan menjadi lebih penting...

    semangat teman!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dalam ekonomi tidak demikian mas ma'ruf. Ini loatnya dr sisi ekonomi, bukan pribadi :)
      Thnks sudah mampir :) semangat

      Hapus
  2. lagi lagi nemu komentar "yang sabar". sungguh menjengkelkan. hahahaha... Padahal kalau saya baca dari awal sampe akhir, dik Silvi sudah sabar banget tuh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi.. Iyaaa memang sebenarnya mas :'D ..

      Hapus

Keep Blogwalking!