Sabtu, Maret 30, 2013

Blogiveaway - Silviana

  No comments    
categories: 

Kali ini, saya mau bagiin cerita soal jalan- jalan (travelling) saya ke Tk dan temen pembaca yang lain. Buat saya jalan- jalan itu penyegaran jiwa. Kenapa ? yip, karena ga cuma capek abis jalan- jalan aja yang di dapet, tapi kepuasan, serta kejadian- kejadian yang ga terduga yang pastinya ga bakalan dilupain.

Link :

http://silvianapple.blogspot.com/2012/07/menuju-madura.html

http://silvianapple.blogspot.com/2012/07/pertamax-jombang.html

http://silvianapple.blogspot.com/2012/11/balekambang-ii.html

http://silvianapple.blogspot.com/2013/03/tambakrejo-eksotika-pantai-blitar.html

http://silvianapple.blogspot.com/2013/03/eastjavatrip-malang-surabaya-madura.html

http://silvianapple.blogspot.com/2013/03/beachtrip-sekali-mendayung-3-pantai.html

http://silvianapple.blogspot.com/2012/04/amazing-sunday.html



#BeachTrip Sekali mendayung, 3 Pantai Terlampaui

  No comments    
categories: 

Haii. Selamat berlibur panjang ! :D
Diisi dengan kegiatan apa nih liburan kayak gini ? Travelling, belanja, atau sekedar istirahat di rumah saja ? yip, apa saja kegiatannya, semoga selalu dalam keadaan sehat yaa. Hihi

Jumat Sabtu Ahad ini saya nyepi di kosan. Dari 24 penghuni tinggal 3 anak saja yang 'stay' termasuk saya. 2 adik maba dari Madura, dan saya. 

Jumat ternyata adalah Jumat Agung, jadi jalanan di Malang cukup lenggang untuk dijelajahi, kapan lagi lihat Malang kayak gini di hari efektif ? Biasanya macet dan gerah.

Oh ya, liburan ini saya isi dengan separuh traveling dan separuhnya lagi leha- leha seperti sekarang. Kemarin, hari Jumat saya dan Bayu jalan- jalan ke Pantai di Selatan Malang. Rencana awal kami mengunjungi Pantai Goa China, salah satu destinasi recommended jika anda semua ke Malang. Tapi ternyata, dengan sekali dayung 3 pulau terlampaui. Saya baru tau malahan kalau Pantai Sendang Biru, Goa China dan Bajul Mati terletak dalam satu garis pantai. Namun, tempatnya yang berbeda- beda.

Kami berangkat pukul 7.25 dan sampai di destinasi pukul 10.25. 66 km kami tempuh dengan kendaraan bermotor. Terpotong waktu untuk sarapan di Kepanjen. Kami sarapan nasi ampok/empog intinya nasi jagung dengan lauk super banyak. Urap- urap, rempeyek ikan, mendol (tempe yang dibentuk lonjong), dan sayur kacang. Dilengkapi dengan teh panas. Mantap. Sayangnya, saya ga sempat nge foto karena benar- benar kelaparan. Kalap. Asli no Hoax kok. Penjualnya bisa di temukan di sisi kanan jalan depan pabrik Cakra Kepanjen. Penjualnya seorang ibu dengan rambut potong pendek (laki) dan ramah sekali. Jangan lupa mampir. 

Setelah cukup. Kami melanjutkan perjalanan ke Goa China. Seperti yang saya bilang tadi, Goa China terletak satu garis dengan dua pantai lainnya. Ada dua persimpangan yang memisahkan Sendang biru serta Goa China dan Bajul Mati. Arah kiri untuk ke Sendang biru jarak yang ditempuh untuk sampai ke tkp +- 1,5 km. Sedangkan untuk ke Goa China dan Bajul Mati adalah 5 km.

Akhirnya kami berdua memutuskan untuk ke Bajul Mati terlebih dahulu, karena letaknya paling selatan. Tiket masuk ke Bajul mati adalah 6ooo/orang dengan parkir untuk motor 3000 rupiah. Sayangnya di Bajul Mati sangat sedikit tempat berteduh, cuaca sangat panas dan waktu itu ombak benar- benar sangat besar. 



sisi kanan Pantai Bajul Mati




Sisi Kiri Pantai Bajul Mati


Sebelum menuju ke Bajul Mati, kami melewati sebuah jembatan yang unik. 






Kemudian, kami melanjutkan perjalanan (balik perjalanan) ke Goa China, 800 meter menuju TKP kami harus ber-gangnam style diatas kendaraan. yip. Jalanannya benar- benar masih berbatu (batu marmer) dan ukurannya lumayan besar. 800meter serasa 3 km. Tiket masuk di Goa China lebih murah dibanding dengan Bajul Mati, 5000/orang, namun biaya parkir yang mahal, yaitu 5000. Sama saja sebenarnya dengan Bajul Mati jika dipikir- dipikir. 

Begitu sampai, kami tidak langsung menuju pantai dikarenakan udara sangat panas. Kami stay di salah satu warung dan menunggu matahari sedikit turun. Saya main ayunan. Hihi



Kami akhirnya turun ke pantai, hanya sebentar dikarenakan panggilan sholat Jumat sudah berkumandang. Bayu sholat Jumat dan saya menunggu di bale rumah penduduk yang letaknya bersebelahan dengan masjid. Masjidnya tidak terlalu besar, mungkin jika di daerah kita masjid ini disebut dengan mushola. karena ukurannya yang lebih kecil. 



Saat saya menunggu Bayu selesai jumatan, saya berbincang dengan salah seorang bapak penjual makanan di tepi pantai. Beliau menanyakan darimana asal saya, dan menanyakan bagaimana rasanya sampai di Goa China, karena memang medan yang ditempuh tidak mudah. 

Saya yang orang ekonomi pembangunan (*tsah), menanyakan perihal jalan yang sulit ditempuh untuk mencapai pantai, kenapa tidak dibangun supaya memudahkan, dan lain- lain. Akhirnya si bapak ini bercerita, tentang permohonan bantuan ke pemerintah Malang, melalui desa, perhutani, dan keduanya sejak dua tahun yang lalu. Namun, hingga saat ini belum ada yang direalisasi. Bapak tersebut juga bercerita jika beberapa tahun yang lalu, mobil belum dapat masuk ke Goa China. 1,5 tahun yang lalu, warga setempat bergotong- royong dan saat ini mobil dapat masuk ke kawasan pantai meskipun dengan jalan yang berbatu, karena memang kemampuan masyarakat untuk membangun hanya sampai di perbaikan jalan yang sebenarnya belum layak untuk dilewati. mybe you can call it, Mackadam. Jalan yang masih berbatu dan belum sampai aspal.

Padahal jika pemerintah kota mau ikut campur tangan menangani tempat wisata seperti Goa China ini. Dengan ikut merawat dan memperbaiki, pastinya retribusi daerah akan bertambah sehingga menambah APBD. 

Maka dari itu kenapa masuk di pantai ini sedikit mahal, yah anggap saja kita ikut membantu membangun dan mensejahterakan masyarakat setempat.

Kami berjalan melintasi ujung hingga ujung, dan pukul 15.00 kami keluar area Goa China. 





Oh ya, kenapa disebut Goa China ? yap, karena disalah satu bukit, terdapat Goa yang buntu (tidak ada tembusan), dan dulunya ada seorang pertapa China yang bertapa di Goa tersebut bertahun- tahun dan hilang begitu saja (mukso), serta meninggalkan surat. Akhirnya, oleh masyarakat setempat diberi nama Goa China.





Di pantai Sendang Biru, hampir sama dengan dua pantai lainnya banyak terdapat penjual ikan yang masih segar dan disini sedikit amis. Sayangnya saya tidak sempat memotret karena cuaca yang tidak mendukung, hujan lebat.

Tunggu trip trip saya selanjutnya yaaa...

*Foto dokumentasi pribadi



Jumat, Maret 29, 2013

Miaw Cat's Giveaway

  6 comments    
categories: 


*seorang ibu sedang ngasih minum susu anaknya, dengan sabar dan penuh kasih sayang*
Ekspersi keduanya adalah "Full of Happiness".

Anak : "mikmikmikmik (lagi netek), nyim nyim, segar dan sedapnya susu ibuku ini, aku akan cepat tumbuh besar, dan menjaga ibu dari kucing garong yang sudah memakan saudara- saudaraku, terimakasih ibu, aku sayaaaaaaang sama ibu, mikmikmikmikmik"

Ibu : "iya anakku sayang, cepat tumbuh besar dan sehat ya. Ibu sayang sama kamu"

Miaw-miaw ini diikutkan di Cat's Giveaway by AHc


*foto ini diambil waktu saya lagi ada di rumah uti, Pare, Kediri, Jawa Timur, Indonesia.

#takepoto

  No comments    
categories: 

This is my liltlebrother, his name Donni Rezaldy. Apakah kami mirip ? 

Rabu, Maret 27, 2013

#Kopi Pagi W/ Afif

  2 comments    
categories: 
Beberapa hari yang lalu (entah lalu yang kapan), saya bertemu dengan Afif Alfaris di kantin kampus, pertemuan ini sama sekali tidak direncanakan, kami juga tidak janjian. Saat itu saya berangkat agak pagi karena jam setengah sepuluh saya akan menghadapi UTS, saya sempatkan sarapan di kantin, dan kebetulan Afif serta kawan- kawannya di sana. Kopi pagi saya pikir.
Begitu saya selesai makan, saya menghampiri Afif untuk meminta foto- foto saat kegiatan Lokakarya untuk arsip HMJ.

Oh ya, siapa Afif ? kok dari tadi ngomongin Afif Afif terus tapi ga diperkenalkan? -_-

yip! Afif ini adalah salah satu adik maba saya di Himpunan dan satu divisi dengan saya. Saat Olimpiade Ekonomi kami juga berada dalam satu bidang sebagai panitia, yaitu dalam sie Publikasi Dekorasi dan Dokumentasi.

Lalu, apa tujuan tulisan ini dibuat ? Hati- hati nanti Afif nya ke GR an. 

Haha, enggak. Saya sih cuma mau nepati janji ke dia buat nulis soal dia di blog, dulu dia pernah nulis di Box Comment pengen di tulis disini itu yang pertama. Yang kedua, saya mau share-in pembicaraan kami waktu itu.

Afif dan saya, sama- sama pecinta fotografi, bedanya Afif punya kamera lebih dulu daripada saya, selain itu dia juga mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa HIMAFO (Himpunan Mahasiswa Pecinta Foto), sedangkan saya tidak. So, dia pasti punya pengalaman lebih banyak dibanding saya. Hihi

Oh ya, kami ngomong ngalor ngidul soal kamera, senengnya punya kamera, sampe betapa seringnya masing- masing dari kami mbolang setelah punya kamera XD. Waktu itu saya juga nyeritain, tentang transisi kamera saya sejak jaman baheula sampe sekarang, dan Afif juga demikian. Saya pernah ngerasain punya Lomo (walaupun sebenernya bukan punya saya, tapi saya mengaku itu hak milik saya) heheh, Tustel, hingga sekarang slr.

Saya dengerin apa- apa yang dia ceritain, mulai dari tehniknya sampe main feel waktu motret. Tapi, yang paling saya ingat adalah, Afif bilang dia pengen make tustel, kenapa ? karena dengan tustel, orang akan menghargai setiap moment yang dibuat.

Bener juga sih.


Saya yang tengah, Afif di kanan dan di kiri Lidwina. 

Selasa, Maret 26, 2013

#EastJavaTrip Malang- Surabaya - Madura (Bangkalan)

  4 comments    
categories: 
Menepati Janji saya beberapa hari yang lalu, saya sekarang mau mempost tentang #EastJavaTrip saya beberapa minggu yang lalu. Oh ya, kemarin saya pulang dan inginnya menyempatkan waktu untuk menulis tentang #Trip ini tapi kebanyakan malah saya pakai buat rehat.

Yukk, langsung aja kita ke ceritanya.

12 Maret lalu, saya menjelajah 3 Kota di Jawa Timur. Perjalanan dimulai dari Malang pukul 07.00.

Sebelumnya, saya sama sekali belum pernah ke Bangkalan dengan naik sepeda motor. Terhitung ini kali ke tiga saya ke Bangkalan, satu kali bersama keluarga, satu kali backpackeran (baca : ngegembel) bersama kakak , dan satu kali naik motor. Saya tidak pernah mengira akan melampaui perjalanan sejauh ini. Selama 12 jam !

Kami memulai perjalanan ke Surabaya, niat awalnya sih cuma mau lihat jembatan Suramadu yang kata banyak orang megah. Nah, saya pengen membuktikan sendiri tentang omongan- omongan mereka.

Sebelumnya kami mampir di sebuah warung makan di pinggir jalan sebelum pandaan. Saya memesan soto ayam. Hampir 30 menitan kami menunggu makanan tersaji di depan kami. Yah, mungkin memang baru memotong ayam/ bahkan baru saja merebus sayur lalapan. Ternyata benar demikian -_-.

Pembeli adalah raja, dan apakah raja diperlakukan demikian ? gerutu saya dalam hati. Sekian lama kami menunggu, akhirnya makanan datang. Setelah ritual makan ditambah dengan lauk "menggerutu" tersebut, kami membayar dan pulangnya "menggerutu" lagi, karena menu 1 mangkok soto ayam, 1 piring nasi pecel, dan 2 gelas jeruk panas = 25.500. Hell yeah, sebagai turis (oke, sebut saja kami turis ya), menu seperti itu dengan harga segitu sama sekali tidak singkron. *Oh, ralat. Ini menurut saya saja. Hehehe

Perjalanan dilanjutkan menuju Surabaya. Surabaya, pukul 08.45an panasnya sama dengan tengah hari.  Saya yang terbiasa dengan udara sejuk Malang, benar- benar merasa 'terbakar' di neraka dunia ini.

Untuk arah, selain menggunakan penunjuk jalan yang ada. kami juga menggunakan jasa GPS yang langsung terhubung ke satelit, jadi setiap jalan yang kami lewati benar- benar detail.

Sekitar pukul 10.00, kami sampai di loket Suramadu. Here We Go ! S U R A A A A A M A A A A A D U U U U U U U :D. Dengan hanya membayar 3ribu rupiah, kendaraan yang kami naiki, melaju melawan angin lautan Suramadu..


SURRAMADDDHUUUUH
|

Sesampainya di ujung jembatan, saya memutuskan untuk lanjut ke Makam Syeh Kholil di Bangkalan. Ini benar- benar pertama kalinya saya melewati Suramadu, hahahh.. dan seriusan, saya takjub ! 30 menit dari jembatan kami sampai di Martajasah, makam Kiai Syekh Kholil..



Bangunannya bagus, dan begitu masuk ke dalam masjidnya, hati, pikiran, jiwa, raga saya berasa ademmmm..

Bertepatan dengan ibadah sholat Dhuhur, saya mengikuti jama'ah disini, bersama banyak orang yang juga datang. 

Kami juga tidak menyia- nyiakan waktu untuk tidak menikmati Bebek Sinjay Madura. Meskipun ramai, kami ngga patah semangat. Hehehh.. Masuk warung jam 12, keluar dengan membawa kantong plastik berisi Nasi Bebek Sinjay pukul 13.30 *keringetan*.


Ini antrinya



*NGILERRRR!* MAU LAGIIIII!!!

Yang unik dari bebek sinjay ini, selain mereka tidak membuka cabang serta delivery order, tata cara pemesanan dan pengambilan pesanan pun unik. Jika di warung makan lain, pelayan datang dan menawarkan pesanan, di sinjay ini beda.

Oh ya. Bebek Sinjay ini terletak di sebelah kiri jalan jika kita menuju jembatan Suramadu saya lupa jalan apa (bukannya ga mau nyari, yah biar natural aja karena emang lupa).  Tapi kelihatan kok, paling ramai warungnya. Di Sinjay begitu masuk tempat makan ini, pembeli harus antri terlebih dahulu untuk melakukan pembayaran, dan nantinya akan terdapat nomor antrian di nota. Nah, ada empat loket yang tersedia disini. Disisi kanan untuk mengambil antrian pesanan yang dibungkus, sebelah paling kiri untuk yang makan di tempat, dan dua di tengah untuk loket pembayaran. Jadi, kalau kita pesan untuk di bawa pulang, setelah melakukan pembayaran kita menuju ke loket paling kanan untuk menunggu giliran, sedangkan untuk makan di tempat, kita mengambil piring yang sudah tersedia kemudian berjalan ke loket paling kiri.

Eits, jangan khawatir. Disini juga tersedia minuman yang beraneka ragam, mulai dari macam- macam jus buah, minuman botol, dan yang paling menarik versi saya adalah es degan dengan degan yang masih bulat !, tapi ada juga kok yang di jual per cup. Yang paling spesial lagi, sambal pendamping bebek maknyus ini adalah sambal pencit *ngiler*

Satu porsi nasi bebek sinjay dapat kita nikmati dengan menukar 15.000 saja ! wow. Oh, Bebek Sinjay ini juga pernah masuk teve loh. Bondan Winarno. Jadi, ngga diragukan lagi.

Setelah keluar dari Sinjay kami meneruskan perjalanan untuk pulang. Kelaparan, kami berdua berhenti di POM Sidoarjo untuk makan bebek sinjay dan menunggu hujan reda.

Sesampainya di Pandaan, kami berhenti di masjid Muhammad Cheng Ho, bertepatan dengan waktu Ashar juga. Masjidnya bagus. Etnik dan bangunannya memang memukau, dan saya baru tahu kalau di belakang masjid Cheng Ho ini ada penjual bakso yang 'katanya' recomended untuk di coba. Selain itu, saya juga baru tau kalau Masjid Cheng Ho itu ada dua, yang satu di Pandaan, dan satu lagi di Surabaya.




Karena sudah sore, kami melanjutkan perjalanan pulang, hujan terus mengguyur sepanjang jalan, dan sampai di Malang (kost saya) pukul 18.30. #eluseluspantat

Pukul 19.00 saya rapat LKMO yang nantinya akan saya ceritakan setelah ini.

Awesome untuk #EastJavaTrip waktu itu. Sholat Dhuhur di Bangkalan dan Sholat Ashar di Cheng Ho. #Kotakota

Senin, Maret 18, 2013

#Off Sementara

  No comments    
categories: 
Halo.. Sebenarnya saya punya 2 cerita yang ingin segera saya ulas disini, yang pertama adalah saya baru saja #EastJavaTrip ke Surabaya dan Madura , dan yang kedua kemarin hari Sabtu dan Minggu 16-17 Maret 2013, saya dan rekan- rekan Himpunan Mahasiswa Jurusan melaksanakan LKMO (Latihan Kepemimpinan Manajemen Organisasi), dan keduanya akan saya bagi ke kalian nanti setelah saya sudah di rumah, dan selesai UTS. Oh ya, kompi saya kabel fleksinya rusak, jadi layarnya ga bisa dipakai dengan baik. Mungkin untuk beberapa waktu kedepan saya off menulis di blog. Menunggu perbaikan atau mungkin mama saya mau membelikan kompi baru, hahaha (ngarep).
Oke, babai untuk semua rekan blogger yang menyempatkan waktunya membaca blog saya. 

Salam

Cewek baik- baik

Sabtu, Maret 16, 2013

#awakward

  6 comments    
categories: 
Cita- cita ? Mau jadi apa hei, Silvi !

Saya selalu pahit kalau ditanya seperti itu. Entah kenapa. Apa alasannya, dan bagaimana menjelaskannya.

Saya kuliah di jurusan Ekonomi Pembangunan. "He ? Cewek kok kuliah jurusan pembangunan?" . Bukan, ini bukan jurusan pembangunan, tapi Ekonomi Pembangunan. 

Kebetulan, ya bukan kebetulan sih sebenarnya, Fakultas Ekonomi di tampat saya memiliki 3 Jurusan, yaitu Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi Pembangunan. Ekonomi Pembangunan sendiri memiliki 2 Prodi (program pendidikan? entahlah pokoknya Prodi), yaitu S1 Ilmu Ekonomi dan Studi Pembanguan dan S1 Pendidikan Ekonomi.

Saya masuk di Prodi S1 IESP, jadi murni, bukan pendidikan.

Jelas, jika masuk pendidikan nantinya saya akan mengikuti program keguruan, alias jadi guru, alias ngajar, alias membagi ilmu, dan alias alias lainnya. Tapi saya enggak. 

Terus, jurusanmu itu nantinya ngejadiin kamu apa ?

Semster 5 nanti, saya akan penjurusan oh lebih tepatnya pengambilan konsentrasi, jadi ada 3 konsentrasi yang ditawarkan, yaitu Koperasi dan UMKM, Perbankan, dan Perencanaan Pembangunan Daerah.

Bisa saja nanti kami kerja di koperasi/ menjadi pegawai bank/ bisa juga jadi pns, pegawai pemda, dll.

--

Tapi, sampai saat ini saya bingung. Mau ambil apa yah nantinya. 
Saya ga pengen jadi pegawai pemerintah, GAK MAU!!!

Jujur sih, saya pengen jadi editor, kerja di gagasmedia/gramed/bukune mungkin. Hehhe

Atau jadi jurnalis. Gitu- gitu jurnalis duitnya banyak loh!

Tapi, ibu pernah bilang, "ah, janganlah jurnalis itu jadi kerjaan, cukup jadi hobi aja, miris aku lihat berita- berita wartawan di pukuli". 

Jadi, apakah hidup ini benar- benar hanya berekspektasi pada "mengejar uang untuk kehidupan yang lebih baik saja?".

Susah..

Jadi orang kayak saya. Yang melakukan kegiatan dengan perasaan. Moody. Jadi sebenarnya, bukan hanya uang yang saya kejar nantinya, dan juga saat ini. Tapi, saya juga butuh rasa bahagia, dan cinta dengan kegiatan yang saya lakukan.

-

*Saya gak mau jadi pegawai pemerintah, apalagi di Indonesia. 

Kamis, Maret 14, 2013

#Molly-Pict

  No comments    
categories: 





Ini Kucing saya, namanya Molly. 

Taken from Canon EOS 1100D

  No comments    
categories: 

Ya, akhirnya kamera saya yang lama, sudah diganti dengan yang baru.

Akhirnya yah. Tapi, ternyata saya keliru. Kamera jenis ini perawatannya berbeda dengan kamera poket/ kamera- kamera lainnya. Kenapa ? yak. Karena kameramemiliki komponen kecil dan detail serta rumit. Lebih dari itu, karena Indonesia merupakan negara tropis sehingga debu/mikroba berdistribusi sangat cepat. Jadi, perawatan kamera ini di Indonesia harus lebih intens.

Membeli kamera ini, tidak berhenti hanya dengan kamera saja, tapi juga harus membeli tool kit serta cleaning kit. Apalagi setelah saya googling box tempat kamera juga harus dijaga kelembabannya supaya tidak berjamur dan tetap kering. Sebenarnya bisa disiasati dengan silica gel untuk menjaga kelembaban, tapi lebih baik lagi jika menggunakan dry box (kotak tempat kamera yang bisa diatur suhunya).

Nah, saran saya sih buat yang ngebet pengen kamera sejenis dengan saya, mending pikirin dan siapin mental serta dana yang cukup buat punya gadget ini. Saya agak nyesel sebenernya.

Rabu, Maret 13, 2013

Saat Mampu, Maka Berbagilah

  3 comments    
categories: 

Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman- teman sedang menikmati makan siang di salah satu tempat yang biasa kami kunjungi. Kebetulan tempatnya tidak begitu jauh dari rumah dan dekat dengan jalan raya, sehingga tempat ini selalu ramai ketika jam makan siang, apalagi didukung dengan tempat yang nyaman, luas dan bersih. Maka tak heran jika tempat ini menjadi tujuan utama, manusia- manusia yang perutnya ingin dimanjakan.

Oke, saya pikir intro diatas begitu formal ya. Sorry, keseringan bikin berita reportase sampe bahasanya pun ga bisa ngepop kayak biasanya. Haha, harap maklum, deadline cetak majalah makin dekat.

Sebenernya, bukan itu inti dari cerita ini. Oke deh langsung saya mulai. Saat saya makan, tentunya banyak orang yang datang dan pergi, bukan hanya untuk makan, tetapi para 'pekerja seni jalanan' juga ikut nimbrung buat dapet recehan- recehan atau sekedar 'ngarep' bisa ditraktir makan. 

Nah, kebetulan waktu itu ada 3 orang anak kecil yang menjadi tukang seni alias minta- minta. Beberapa orang respect dengan memberi beberapa recehan, dan ada lagi yang lainnya malah sama sekali tidak menganggap ada. Jadi, sampai beberapa waktu si adek- adek yang harusnya lagi tidur siang/ main ps di rumah ini menunggu sambil menengadahkan tangan dan tak lupa mulutnya terus menerus meminta. 
Kemudian ada beberapa lagi yang tidak memberi tapi malah memarahi.

Saya merhatiin semua kejadian itu. dan temen- temen saya juga ikut ngelihatin, malah ada temen saya yang sempat memotret, tapi saya minta dia buat ngehapus karena memotret anak jalanan yang dia sebut dengan human interest itu termasuk eksploitasi, menurut saya. Dan teman saya langsung menghapusnya. 

---

Dari semua itu, saya jadi kepikiran. Orang kok ada yang gitu yah ? Maksudnya ga nganggap orang lain ada, kemudian ga ngasih tapi malah marah- marah. 

Saya langsung ngejudge orang- orang yang kayak gitu, pasti kehidupan sosialnya buruk. Sesama manusia aja kayak gitu, apalagi sama yang enggak manusia ?, hewan misalnya. 

Nah, kemudian kejadian tadi saya ceritain ke ibuk, dan ibuk saya bilang "ya mungkin orang itu belum pernah aja ngerasain nikmatnya diambil sama yang ngasih. Ini kamu ingat- ingat ya mbak (Ibu saya selalu manggil saya mbak, dan adik saya selalu dipanggil dengan sebutan adek), setiap rezeki yang kita dapat, ada sebagian darinya (rezeki itu) hak mereka. Jadi, jangan sampek kita ga bagi- bagi sama mereka, yah walaupun ga banyak tapi seenggaknya mereka ikut ngerasain lah". 

Dari omongan ibuk saya, saya jadi nyimpulin gini. Misalnya aja manusia sama kucing. Manusia lagi makan ayam goreng, manusia udah makan dagingnya, dan gak mungkin tulangnya dimakan sampai habis juga, nah kalau manusia itu ga 'serakah', udah pasti tulang itu bakal di kasih ke kucing. Karena manusia udah ga butuh lagi tulang itu. Sama kayak manusia sama manusia, kalau kita punya uang lebih, lebih baik kalau dibagi sama orang yang membutuhkan. 

Berbagi sama orang lain itu menyenangkan kok. Dunia terlalu indah kalau dinikmati sendirian. Sungguh saya berterimakasih sama ibuk, yang selalu mengikutsertakan saya dalam hal- hal kemanusiaan. 





Senin, Maret 11, 2013

no tittle

  No comments    
categories: 

Honestly, saya kurang begitu menykai sebuah perjalanan, itulah kenapa saya sangat ingin mempunyai kantong ajaib seperti doraemon, supaya dapat mengeluarkan pintu kemana saja. Jadi, saya gak perlu capek menempuh perjalanan yang menghabiskan waktu hingga berjam- jam di jalan.

Sayangnya, semua itu tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Atau bisa dibilang hal- hal seperti itu sulit untuk direalisasikan. Pertanyaanya, adakah manusia yang dapat menembus waktu ? Saya rasa, hingga saat ini belum ada. 

Dari ketidak sukaan saya akan perjalanan ini, membuat saya berpikir tentang kehidupan. Yah, memang sudah waktunya saya memikirkan tentang hal tersebut, karena usia saya tahun ini memasuki babak ke 20.

Mungkin, kalau Tuhan menciptakan kemudahan untuk manusia, kita tidak akan pernah merasakan yang namanya perjuangan. Jika ada pintu kemana saja, kita tidak akan merasakan proses menuju suatu tempat. Sama halnya dengan jika kita lahir, maka akan langsung mati. Seperti itu.

Jadi, saya mulai menikmati setiap proses  yang saya alami selama hidup.

Sama seperti kemarin, saat saya baru pulang dari Kediri dan menuju ke Malang. Seperti sebelumnya, saya menggunakan angkutan kota yang mungkin anda biasa menyebutnya bus, untuk sampai ke terminal di Malang. Saya tidak pernah menyukai kendaraan ini, alasannya ? yah you know lah, hampir semua transportasi umum di Indonesia tidak begitu berpihak baik pada penumpang. Sayangnya, hanya bus ini lah satu- satunya akses yang efisien dan memudahkan saya untuk turun di depan rumah. Jika ada yang ingin mampir, rumah saya berada di dekat jalan raya. Itulah kenapa di KTP saya, (ya saya sudah punya KTP, barusan) tertulis alamatnya : Jalan Raya . . . . .. Kediri.

Sejak awal saya kuliah di Malang, saya memang tidak dibiasakan oleh ibu saya untuk naik bus ini. Saya lebih sering diantar oleh kakak/ travel/ diantar sendiri oleh ayah. ya, kalian boleh bilang saya manja. Apalagi waktu itu ditambah dengan stigma negatif tentang angkutan ini, kurangnya keamanan, banyaknya kecelakaan masuk jurang, dan yang paling parah adalah kriminal di dalam bus. 

Lagi- lagi saya sadar. Hidup memang perjuangan. Kesadaran ini memuncak ketika saya pulang dan tidak mendapat tempat duduk dalam bus. Dari Malang hingga turun did epan rumah, dan begitu pula saat saya kembali ke Malang, dari rumah hingga sampai di Malang. Kejadian seperti ini sudah saya alami sekitar 4 kali. Oke, silahkan dibayangkan, berdiri di dalam kendaraan selama 3 jam dengan medan yang berkelok- kelok naik turun. Saat pertama kali berdiri seperti itu, sampai di rumah saya nangis, capek. 

Tapi, mungkin disitulah prosesnya. Disitulah serunya. 

Seperti kemarin, saya naik bus ini lagi. Untungnya, tidak terlalu ramai sehingga dari rumah hingga malang saya tidak perlu berbagi tempat duduk dengan orang lain. Di beberapa tempat bus berhenti dan menaikkan penumpang, lalu duduk satu keluarga dibelakang bangku saya. Ayah Ibu dan satu Anak. 

Selama di perjalanan, si anak laki- laki kecil ini, tidak bisa diam. Menyanyi, berdiri, lalu berbicara apa saja selama perjalanan. 

Tentunya, saya risih. 

Tapi saya biarkan saja saat itu. 

Saat si adek kecil ini berdiri dan berpegangan di bangku tempat saya bersandar, saya melihat keadaannya. dan saya, terenyuh. 

Adek ini, mungkin masih berusia sekitar 7- 8 tahunan, dan dia mengalami bibir sumbing. Sebelum saya tau keadaanya pun, saya sudah membatin kalau anak ini pintar dan aktif, karena di setiap pemberhentian bus, adek ini selalu membaca apa saja yang terlihat olehnya. dan yang paling membuat saya malu adalah, saat dia menyebut jalan yang berkelok- kelok. Kanan- Kiri- Kanan lagi- Kiri lagi. 

"Saya yang berusia hampir 20 tahun, hingga saat ini masih suka gagap kalau ditanya tentang arah" ya, itulah keterbatasan saya.

Tapi, yang saya suka, adek ini ceria gitu. hehe

Kemudian, ibu nya ngajakin saya ngobrol, dan dari obrolan itulah saya tahu kalau mereka mau berlibur ke Sengkaling (Pemandian di Malang).

Tak lupa saat adek ini akan turun, dia dadahdadah sama saya. Haru banget :')

Dari semua kejadian ini, bolehlah ditarik kesimpulan kalau kejadian tak terduga bisa datang kapan saja dan dimana saja.

Rabu, Maret 06, 2013

Gift

  1 comment    
categories: 

Thank you for this gift, mom ! Love you. :')

Sabtu, Maret 02, 2013

Tidak Update

  2 comments    
categories: 
Saya punya standart tinggi untuk masalah aksesoris yang saya pakai. Bukan, bukan masalah harga yang tinggi dan branded. Bukan sama sekali. 

Standart tinggi yang saya maksud disini adalah bebeda dari yang lain, dan yang pasti nyaman. Nah, kenyamanan ini lah yang sulit sekali saya ciptakan dalam membeli barang. Ada yang bagus, tapi ternyata banyak jenisnya. Saya memang selalu susah jika membeli sesuatu, susah menentukan. Membeli barang itu seperti jatuh cinta, jika suka pada pandangan pertama, dicoba cocok, maka saya akan saya beli. Momen seperti itulah yang seringkali sulit saya dapatkan.

Hingga akhirnya, banyak keluar masuk toko, sampai pulangpun tak membawa apa- apa, capek.

Itulah sebabnya, saya bukan tipe orang yang update untuk masalah penampilan. Saya lebih suka memakai barang yang tahan lama, meskipun harganya lebih tinggi dari biasanya. Karena kepuasan konsumen, ditentukan oleh selera. 



TambakRejo, Eksotika Pantai Blitar

  1 comment    
categories: 
Kamis, 28 Februari 2013.

Saya suka pantai, birunya pantai, dan luasnya langit selalu membuat mata saya dimanja. 

Kamis ini, kebetulan saya kosong kuliah , karena dosen saya sedang tugas ke Batam- Kepri. Finger (penanggung jawab kelas atas MK (Mata Kuliah) Ekonomi Internasional dan Moneter) sudah memberitahukan berita ini sejak hari Senin saat kuliah Statistika Inferensial. Akhirnya saya putuskan untuk pulang ke Kediri hari Rabu sore. 

Sebelumnya (hari Sabtu/Minggu saya lupa), saya di lobi oleh kakak untuk diajak ke pantai Pelang Trenggalek, dan saat itu saya menolak karena hari Kamis masih ada kuliah. Tapi, ternyata saya Kamis kosong. Akhirnya saya cus ikut ke pantai.

Prepare

Kamis pagi, saya dapat info dari kakak kalau kami berangkat pukul 7. Kami sampai di tempat janjian (STAIN Kediri) pukul setengah 8. Oh ya, kami berangkat bersama 6 orang lainnya. Pukul 8 1/4 kami semua bersiap untuk berangkat. Sayangnya, kami tidak jadi pergi ke Pantai Pelang di Trenggalek, padahal di Pelang ada air terjunnya juga. Jarang.

Kenapa ga jadi ? yip, treknya sulit, primitif runaway banget banyak yang bilang.

Akhirnya kami ganti rencana, bukan ke Pelang tapi ke TambakRejo di Blitar. Lebih dekat dan sama- sama keren.

Perjalanan

Selama perjalanan, kami banyak bercengkerama satu sama lain, padahal sih belum kenal semua saya. Hehe.. Diantara mereka ber 7, hanya saya yang selundupan. Yang lain mahasiswa STAIN, dan saya bukan. Selama 2 jam berjuang dengan perut mual dan pusing karena jalannya memang gak mudah, meskipun sudah halus tapi medannya berkelok- kelok curam. Tiket masuk ke pantai ini sangat terjangkau, 2k untuk anak- anak, dan 3k untuk dewasa. Oh ya, saya gak begitu ingat jalan apa saja yang kami lewati. Tapi, kalau diajak kesana lagi dan jadi GPS, Insya'Allah saya masih ingat kok. B|

Sampai juga

yay. Sampai juga akhirnya. Kesan pertama saya waktu nyampe adalah PANAS. Yaiyalah namanya juga pantai bre. Saya langsung lepas sepatu dan jalan- jalan di pasirnya. Kami mengambil spot bagian kiri jika menghadap ke laut, air tenang dan cantik. Jika ingin memacu adrenalin dengan ombak yang lebih besar dapat mengambil spot kanan.

Oke deh, langsung aja saya pamerin foto- fotonya. 



Ombaknya besar dan eksotis


Sisi kiri pantai, tenang dan cantik


wow



Muh dan mas Shofa

oke, abaikan

momen yang tepat

|
Baju Biru : Mba Faiq ; Garis- garis : Mba Asfa ; Orange : Sis Tiwwi ; Jilbab biru muda : Fitria ; Merah : Silvi (saya) ; Baju Coklat : mas Shofa ; Baju Putih : Muh


See ? Gimana ? KEREN ya.

Untuk penutupnya, terimakasih untuk sis Tiwwi ; Fitria ; mba Asfa ; mba Faiq ; Ma'ruf ; Muh ; dan mas Shofa. 


 *foto koleksi pribadi*