Minggu, Juli 27, 2014

Pandangan Pegawai Baru (Versiku)

  2 comments    
categories: 
*Monggo dibaca, ini hanya opini ya. Tolong jangan di marahi kalau beda pendapat*
Hehehe

Pengalaman memang guru terbaik, kata- kata itu memang bener dan gak salah sama sekali. Ternyata kalau belum merasakan, mulut kita ini kadang suka ngomong celometan sana sini, seneng maido kalau bahasa jawanya, bahasa kerennya nyinyir.

Sama kayak aku ini, sering mikir kalau kerja ikut orang itu enak, dapat uang makan, gaji, dan yang paling penting adalah pengalaman, enak yo ? Iya, kalau belum pernah merasakan memang enak. Tapi, sejak 2 hari yang lalu, pemikiranku berubah. Jadi pegawai itu, gak enak. Apalagi "tukang ewang- ewang" (tukang bantu- bantu).

Ibuk ku pedagang jadi kerjanya di pasar, nah, di pasar ini punya ruko, kalau bapak juga sama, tapi beda profesi. Bapak punya penggilingan, orang nyebutnya tukang selep, e tapi bukan salep ataupun seleb ya.

Menjelang hari raya, tentunya banyak masyarakat yang belanja, dan pasar jadinya lebih ramai dari biasanya, kalau di sini ngomongnya "prepekan" *belum nemu bahasa Indonesia nya yang pas*. Nah, kalau menjelang lebaran begini, aku jadi punya kegiatan, bantu- bantu bapak ibu di pasar. Ini bukan pertama kalinya sih bantu- bantu menjelang lebaran tapi baru kali ini benar- benar merasakan gak enaknya jadi pegawai.

Kalau sama bapak, sistem bantu- bantunya simpel. Kalau ada yang nyelep, aku tinggal nerima, naruh barang di mesin giling, bapak yang nyelep, dan aku nerima uang. Tanpa banyak wuswuswus. Kalau sama ibu, sebenarnya lebih simpel, tapi jadi gak simpel karena dibumbui omelan- omelan. Hahaha

Kalau sama ibuk ini, aku cuma disuruh ngambil barang yang di beli, sesekali nimbang, dan ngitung jumlah belanjaan. Ya, ibuk sebelumnya kerjanya sendirian, karena memang beliaunya bisa menghandle semua sendiri. Cuma kalau lagi ramai begini, memang butuh bantuan sedikit. Aku yang gak ngerti tempat barangnya, sering lama melayani pesanan pembeli, dan itu yang bikin ibuku ngomel- ngomel. Mataku sering siwer, barang di depan mata malah cari- cari di tempat lain. Mungkin kalau ibarat game, pembelinya sudah kehilangan kesabaran yang ditandai dengan "love" nya ilang. Untung pembeli- pembelinya sabar, karena sudah kenal ibuk semua, dan mereka memaklumi ke-lemot-tan ku dengan sesekali ngomong "bakul e anyar" (*penjualnya baru).

Kalau dimarahi seperti itu, aku gak pernah marah balik, cuma agak jengkel dikit, duh dosa ya aku. Tapi, untungnya kalau lagi jengkel gitu aku cuma bisa diam aja, gak pernah ngebantah blas. Dan ibu bisa membaca kejengkelanku itu dengan menurunkan kadar omelannya padaku, dengan langsung menunjukkan tempat barang yang dimaksud pembeli. Ya aku juga sadar sih, awal- awal ibu sering ngomel itu memang pembelinya lagi banyak. Jadi, gak bisa mengarahkanku.

Setelah pasar selesai, dan pulang kerumah, ibu mengevaluasi kinerja ku selama dua hari kemarin. Beliau bilang, aku lebih cepet kalau di suruh ngitung jumlah belanjaan dibanding disuruh- suruh kerja okol atau otot. Soalnya, aku kalau itung- itungan jarang pakai kalkulator, dan baru kalau sudah selesai baru ngitung pakai kalkulator, dan katanya itu lebih cepet. Bahasane 'cak cek nek dikon kerjo mikir'.

Aku sebenarnya suka bantu- bantu gitu. Tapi, aku jadi malas kalau disuruhnya pakai bahasa yang kasar, jadi ibu kalau nyuruh aku ngomongnya selalu manis, dan aku selalu langsung berangkat. Hatiku ini gak bisa diajak frontal, sejak kecil hidup di lingkungan halus. Makanya, mulai sekarang ini, menjelang skripsi, aku mulai mikir kerjaan apa yang cocok buat ku nantinya, yang tentunya tidak "under pressure". Soalnya aku agak susah kalau disuruh kerja sama orang lain apalagi orangnya gak cocok sama aku, diriku selalu mendominasi dan adanya malah pertnerku tak suruh- suruh. Hahaha. Ets, tapi aku juga ikut kerja.

Gara- gara ngerasain ikut ibuku kerja, jadi gak salah kalau salah satu stasiun televisi pernah bikin acara Bosan Jadi Pegawai.


Kamis, Juli 24, 2014

JHS 08' Momen Indah Tak Terlupakan

  4 comments    
categories: 
Momen ramadhan memang selalu menyenangkan, suasana yang syahdu, angin yang berhembus sejuk, dan alunan merdu ayat suci Al- Qur'an darai speaker masjid dan mushola. Momen ini juga dimanfaatkan oleh banyak orang untuk menyambung silaturahim. Salah satunya dengan berbuka puasa bersama. Memang bukan momen buka puasanya, tapi momen ngumpulnya yang ditunggu.

Awalnya iseng- iseng guyonan soal buka bersama di grup BBM SMP. Terjadi saling ejek antara temen- temen yang sekolah di Malang dan di Kediri. Yang di Malang katanya jarang datang kalau temen- temen Kediri punya acara, akhirnya bersama enam teman yang lain, yaitu Putranti, Arinta, Indrajid, Meyladia, Sahil, Inang dan diriku. Nah, kami sepakat untuk membentuk kepanitiaan buka bersama. Ohya, ini bukan temen sekelas loh ini seangkatan.



Ayam Kremes Bu Lanny- Katang

*foto bonus*

 Broadcast, SMS, telepon, rapat online. Hingga terkumpulah 33 anak yang bersedia ikut buber. Aih senangnya. Tempat, waktu, iuran, semuanya sudah di sepakati. Ternyata, ada tambahan yang ikut, total 38 anak.

Setelah buber, kami lanjut ke Arc de Triomphe nya Kediri, Gumul. Gatau juga mau ngapain, pokoknya kumpul. Di SLG kami membentuk lingkaran, saling sharing, bercanda, dan perkenalan ulang, mungkin ada yang terlupa. 



Disaat yang lain kenalan, aku poto- poto sendiri. Lha mesti kalau acara- acara gini potoku sedikit. Walhasil, kameranya tak taruh di tiang yang mengitari SLG. :D hehe

Kayakanya memang belum semua yang kenalan, termasuk aku. Lha ngapain aku kenalan, se SMP pasti sudah kenal aku lah. *nggaya* :p

Kalau mau diceritakan obrolan kami semalam, gak selesai ini nanti postingannya. Jadi pamer foto - foto aja yak. hehe 
Soalnya aku juga bingung mau cerita apalagi.


Ini pas lagi niru gaya temen yang nuarsis banget, Meyladia. 
(kiri- kanan) Silvi, Putranti, Luky, Inang

 Percaya gak ? Waktu SMP inilah tim basket cewek paling ketjeh di kelas 7&
8 B. Secara kita menangan kalau lagi battle. *nge klaim*
Arttyas, Putranti, Silvi

(Kiri- Kanan) Lusia, Danang, Silvi, Luky, Inang, Indrajid, Alfun

Nah, kalau ini temen- temen sekelas. Paling akeh massa ne :D

Ini dua kawam saya. Alfun, dan Luky. 
*duh aku isin diajak foto dua cowok populer pada masa SMP* haha


Momen seperti ini lo yang gak bisa dinominalkan.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Maka, sembilan tahun yang lalu, kami masih sosok mungil yang takut- takut masuk sekolah baru bernama SMP. Usia kami masih belasan, dan kebanyakan dari kami masih ingusan, masih lugu, masih pemalu, dan masih- masih yang lain. Menjalani masa SMP selama tiga tahun, masing- masing dari kita tentu memiliki kenangan yang manis, atau bahkan sebaliknya. Tapi, mungkin kenangan masa- masa SMP tidak terlalu banyak yang dapat kita ingat. Sudah terlalu lama. Namun, beberapa dari kita pasti ada yang masih menyimpan kenangan- kenangan itu dengan rapi. Maka, enam tahun berlalu, Time flies, tidak terasa sekarang kami sudah berusia 20 sekian.

Kemarin, kami berkumpul, temu kangen, saling sapa, saling bertukar cerita dan nostalgia, dan yang paling penting menyambung silaturahim. Intinya, malam ini saya merasa basah hati. Bahagia dan terharu. Enam tahun berlalu, dan kita masih bisa asyik seperti dulu.

Terimakasih teman- teman lama ku, jangan kapok datang kalau ada acara ya. Terus jaga nyala apimu. 





Kamis, Juli 17, 2014

- you -

  4 comments    
categories: 

"Cintai pasanganmu sewajarnya, namun selamanya"
Ilham Sumarga


Mulai Menentukan Arah Hidup

  1 comment    
categories: 
Agustus nanti, usia saya menginjak 20 sekian. dan tidak tau kenapa rasanya hingga saat ini saya merasa masih seperti anak- anak yang belum punya cita- cita pasti. Katanya, usia- usia matang seperti ini harusnya sudah mulai memikirkan mengenai pekerjaan dan hidup masa depan. Tapi, kok saya masih lempeng aja.

Tapi, sore ini. Semua berubah. Otak saya mulai bisa diajak berpikir normal, normal seperti anak- anak yang beranjak dewasa lainnya. Berpikir tentang lulus studi, memikirkan pekerjaan, lalu meniti masa depan. Semua ini karena bapak dan ibu. Sebagai anak pertama yang memiliki satu orang adik, saya harus sudah punya ancang- ancang untuk tidak terlalu membebani orang tua. Baik dalam masalah finansial ataupun pikiran. Hingga saya besar seperti sekarang, orang tua saya memang tidak pernah mengeluh di depan saya, apalagi dalam masalah finansial, sekalipun tidak. Tapi, saya tau dan paham. Hidup di zaman seperti sekarang ini memang tidak mudah. Realistis saja. 

Perbincangan ringan setelah berbuka puasa di meja makan membuat otak saya berpikir keras. Perbincangan antara bapak dan anak pertama. Baru kali ini, bapak bicara dengan nada yang berat dan sumbang. Sebelumnya tidak pernah. 

"Kuliah kurang setahun lagi ya, nduk ? Bapak doakan semoga lancar jalannya, lulus, cari kerjaan mudah, dapat kerja yang enak. Sekarang ini lulus S1 dulu aja ya ? dapat kerja dulu, nanti kalau mau lanjut sekolah, monggo. Gantian bapak mikir adikmu. Kamu dapat kerjaan, terus bisa nyukupi kebutuhan kamu sendiri bapak sudah bahagia" - (ngomongnya pakai bahasa Jawa).

Sore itu, hati saya langsung basah, pengen nangis. 




Senin, Juli 14, 2014

Cerita Tentang Jam Tangan

  2 comments    
categories: 
Horee. akhirnya menulis lagi. Setelah sekian lama tidak melakukan posting dan blogwalking sekarang saatnya membayar semuanya. Aktif menulis lagi, semangat bw lagi. :D

Padahal kemarin- kemarin saya gak ngapa- ngapain juga, tapi malah gak produktif sama sekali. Sekarang, kalau sudah terlanjur begini baru ngerti kalau waktu tak akan pernah kembali. Tapi, gak apa- apa, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan ? (alasan orang kepepet). hehe 

Ngomongin soal waktu, saya seringkali lupa waktu kalau sudah nemu kegiatan yang asyik atau pas kumpul- kumpul temen. Padahal yang kayak gitu gak baik juga. Gara- gara itu saya sering gak disiplin waktu, suka telat, dll. Apalagi dulu waktu zaman sekolah, SMP kelas tujuh (7) saya gak bisa baca jam, sampai waktu tes bahasa Inggris materi baca jam saya harus remidi tiga kali. Baca jam dalam bahasa Indonesia aja gak bisa gimana baca jam dalam bahasa Inggris. Nah karena malu sering dihukum gara- gara telat dan malu diolok temen, sejak itu saya mulai belajar baca jam, dan sering pakai jam tangan. Awalnya risih. Malahn sekarang, di setiap kesempatan saya selalu pakai jam tangan, kalau gak pakai jam rasanya aneh. Kayak ada yang kurang.

Pakai jam tangan disetiap kesempatan

Nah, saya punya rencana mau nambah koleksi jam tangan lagi, tapi males kemana- mana. Jadi, iseng- iseng saya lihat koleksi jam tangan secara online, dan menemukan situs Zalora.co.id. Ternyata di Zalora ada banyak banget barang pilihannya mana bagus- bagus juga. Mupeng berat.

Ada banyak barang yang branded, kalau jam tangan saya lebih suka pakai yang merk CASIO, selain awet juga keren. Koleksi jam tangan CASIO bisa dilihat disini. 



Jadi, selamat menikmati belanja online di Zalora :D. 
Just click and shopping! @ZaloraID.


Kamis, Juli 03, 2014

[Sweet memories] KKN 2014

  3 comments    
categories: 

Kuliah Kerja Nyata, merupakan salah satu program yang harus ditempuh oleh mahasiswa pra tingkat akhir, di seluruh universitas yang ada di Indonesia. Mendengar kata KKN pertama kali yang saya rasakan adalah deg deg an. KKN, Kuliah Kerja Nyata, entah nyata yang bagaimana. Universitas Negeri Malang, dalam satu tahun mengadakan KKN dua kali, saat semester pendek, dan semester ganjil. 

Semester pendek ini -s e h a r u s n y a- saya dan teman- teman sedang berada di rumah menikmati liburan tiga bulan, namun harus mengejar target KKN semester pendek supaya segera bisa lulus di semester tujuh.

Sebelum KKN, diadakan pembekalan tiga kali. 12- 14 Mei pembekalan awal, menjelaskan mengenai berbagai hal mengenai KKN, mulai dari perkenalan daerah, penjelasan posdaya, teknis, penjelasan kegiatan, serta berbagai contoh program kerja.

Penempatan sudah dilakukan jauh- jauh hari beserta nama kelompok, dari berbagai fakultas, kami belum pernah bertemu, bahkan kenal. Kami saling mencari melalui media sosial, facebok, twitter, bahkan google. Bertukar nomor telepon, hingga membentuk grup whatsapp. 

Satu kelompok terdiri dari 20 hingga 21 mahasiswa bagi yang penempatan di desa, dan 10 mahasiswa yang mendapat tempat di daerah kota. Selama pembekalan bersama ke 19 teman yang lain, saya selalu duduk bersama mereka. Menjalin kearaban, menjalin kekeluargaan. 

Nama desa kami adalah Jatisari, berada di Kecamatan Pakisaji. Masih berada di Malang. Cerita cerita sebelumnya, bagi saya KKN selalu horor, berbanding terbalik dengan keadaan di kota yang penuh dengan kemudahan. KKN menurut cerita, tempat tinggal yang tidak nyaman, sarana mandi yang sulit, sinyal yang susah, serta hal- hal mengerikan yang lainnya seperti kondisi keamanan daerah yang rawan akan pencurian, perampokan, dan lainnya.

Setelah sering bertemu, kelompok saya melakukan survey di desa tempat KKN. Tujuannya tentu melihat kondisi daerah, cek sinyal, dan tempat tinggal. Berbeda dengan kelompok yang lain, kelompok saya mendapat tempat tinggal di rumah penduduk, dengan sistem sewa. Namun, banyak kelompok lain yang tinggal di tempat perangkat desa. Untuk teman- teman laki- laki tinggal di sebuah rumah yang mungil dan ditempati 7 orang, sedangkan untuk posko wanita rumah lumayan besar, dan ditinggali 13 orang.

Kami pertama kali mendatangi pak Carik atau lebih dikenal dengan sekdes, kemudian pak kepetengan atau jogoboyo (keamanan). 

Koordinator Desa kami bernama Ahmad Rizky Hidayat dari Lumajang, anaknya kalem dan multitasking. Semua dipikirkan. Great! Berarti kami tidak salah memilih kordes. Wakil Kordes Rama Budi Wijaya dari Madiun. Sekretaris 1 adalah Hani Alifatin Izza dari Lamongan, sekretaris 2 Ria Dwi Febriani dari Ponorogo, Bendahara 1, saya dari Kediri. Bendahara 2 Adelia Regina Avista Tjandra Dewi dari Batu. Anggota kami yang lainnya : Citra Amelia Agung, Dyastri Sudariyati, Logya Khaesty Palupi, Selvina Maharani, Nanda Puspita Amalia dari Malang. Devy Probowati dari Blitar, Nafiatus Syafaati dari Tuban. Naily Rizqi Amaliyah dan Achmad Cahya Febrianto dari Lumajang, Mega Citra Darmastuti dari Ponorogo, Hasto Pujo Pratowo dari Pasuruan, Bima Alim Azizi dari Madiun, Ade Yudha Nugroho dari Nganjuk serta Ilham Sumarga dari Probolinggo.         

Kehidupan baru saya bersama orang- orang baru yang penuh dengan perbedaan latar belakang sudah dimulai.

Hari pertama datang ke Jatisari, saya dan teman- teman mulai pindahan, rumah dengan 3 kamar tidur, ditempati oleh 13 anak perempuan yang identik dengan sikap egois serta tidak mau kalah. Umumnya rumah di desa, kamar mandi hanya ada 1 saja. 

Pembagian kamar selesai, ada beberapa yang tidak mendapat kamar, saya salah satunya. Saya memilih untuk tidak tidur di kamar karena tidak suka “umpel- umpelan”. Hari pertama di desa baru, kami bersilaturahmi ke pak RT serta RW tempat kami tinggal.

Hari selanjutnya, kami mulai berkenalan dengan perangkat desa dengan datang ke kelurahan, disini penyambutan sangat baik, dan kami berdiskusi mengenai kondisi desa Jatisari. Program yang dibutuhkan serta permasalahan yang ada. Hingga akhirnya kelompok kami dapat menentukan program yang cocok untuk desa ini.

Minggu pertama, saya masih saja ingin pulang, setiap hari telepon ibuk, mungkin karena belum menemukan kenyamanan.
Penentuan piket masak, beberes rumah, piket balai desa, penentuan program, semuanya menjadikan masing- masing dari kami semakin akrab satu sama lain. Menyatukan isi kepala 20 orang memang susah, namun dengan menekan ego diri masing- masing, syukurlah kelompok kami ‘lempeng’.

Sama halnya dengan kelompok lain, kami juga melakukan rapat harian menentukan program kerja yang akan dilaksanakan, ada 10 program yang direncanakan, dan syukurlah di ACC semua oleh pihak kampus. Namun, hanya 8 yang kami laksanakan dikarenakan keterbatasan waktu serta dana.
Menjalani KKN selama hampir 1,5 bulan, merubah pandangan saya mengenai ‘ngeri’nya KKN. Mungkin, memang kebetulan di tempat saya daerahnya enak, enak dalam artian masih dapat dijangkau oleh kendaraan, sinyal, dan fasilitas lainnya. Agak jauh memang dari kota, namun masih dapat dijangkau dengan mudah.

Di tempat ini, saya memiliki teman, sahabat, saudara dan keluarga baru. Di tempat KKN ini, saya belajar artinya menahan ego, saling memahami, dan mengerti satu dengan yang lainnya. Disini saya juga belajar toleransi yang saya rasa mulai hilang dalam diri saya. 

Bercanda, tertawa, galau, sedih, nangis, semuanya terangkum dalam satu bulan setengah yang rasanya cepat sekali berlalu. Ada banyak sekali yang ingin saya ceritakan, mungkin nanti akan terbagi menjadi beberapa bagian.
Ada banyak hal baru yang saya alami disini. 

Terimakasih teman- teman KKN Jatisari 2014. You’ll be missed!