Minggu, Januari 18, 2015

Turut Bahagia

  4 comments    
categories: 
Malam itu, saya terbangun. Pukul 00.49 selalu sekitaran itu. Setiap hari, begitu. Rutinitas otomatis yang ter-setting sejak satu tahun lalu.

Apalagi yang dilakukan ? Selain beribadah malam ? Yup, Internetan. Saya membuka twitter, tempat dimana semua orang yang memiliki akun sosial media itu bisa menjadi apa saja. Utamanya komentator.

Sekrol timeline, menemukan retwittan salah satu teman, isinya begini "Tak ada yang lebih menyedihkan dari perpisahan tanpa keinginan". Yang belakangan saya tahu, ternyata dari http://kumpulanspasi.wordpress.com/. Tiba- tiba, pikiran saya langsung tertuju pada kabar dari seorang teman yang baru saja melaksanakan pernikahan. Senang mendengarnya, apalagi saya tau mereka sudah menjalin hubungan lebih dari 6 tahun, lika- liku hubungannya, dan dengan segala perbedaan.

Dulu, sempat bertanya- tanya, apakah mereka bisa menyatu, padahal ada sekat diantara mereka, iya sekat itu namanya agama. Cuma karena membaca twitt tersebut, pikiran saya bisa sampai kemana- mana, teringat ini itu. Waktu itu, dalam suatu diskusi bersama alm. Chandra, kami membicarakan tentang hubungan teman kami tersebut. Bagaimana nantinya jika mereka tidak jadi satu dalam artian menikah, gimana sakitnya kalau dipisahkan cuma karena perbedaan. Sakitnya ? Jangan tanya, sudah pasti dimana- mana.

Ternyata, kemarin, terdengar kabar mereka sudah menikah. :))

so, happy wedding ya!

Entah apapun prosesinya, aku turut bahagia.


4 komentar:

  1. selamat menikah, turut bahagia juga :)

    BalasHapus
  2. Kadang kita mikir terlalu muluk-muluk ya... sedangkan yang butuh hanya dijalani dengan simpel dan sederhana :)
    biar yang ngecat lombok yang ketok palunya :D

    BalasHapus
  3. Setiap orang memiliki prinsip masing-masing untuk menjalani kehidupannya.

    BalasHapus

Keep Blogwalking!