Senin, Februari 02, 2015

Bangkit Dari Rasa Sakit

  7 comments    
categories: 

From here



“Saya, Silviana. Manusia biasa yang banyak galaunya, karena kesedihan yang gak kira- kira. Padahal sedihnya cuma gitu- gitu aja. Ngerasa jadi manusia paling pathetic cuma karena patah hati, atau cuma karena dimarahin dosen gara- garanya jarang bimbingan skripsi, padahal udah sedikit lagi mau selesai.” 

Bener kata orang, makin tinggi pohon, makin kencang anginnya. Kalau saya nyimpulinnya semakin dewasa hidup semakin banyak masalahnya. Kompleks urusannya, gak sesimpel waktu masa remaja. 

Seni hidup adalah masalah. Ibarat menggambar, hidup adalah kanvas, dan masalah adalah kuas, dan cat nya adalah cara kita menyelesaikan masalah. *ngasallll*. Gpp yang penting asik. Hehe.

Saya pernah jatuh, lalu takut untuk bangkit. Masalahnya mungkit tidak sesimpel yang dibayangkan, pokoknya sakitnya tuh dimana- mana. Sakit sampai berbulan- bulan, dan hidup saya penuh dengan penolakan – denial. Awalnya tidak dapat menerima yang sudah terjadi, selalu menyalahkan diri sendiri, dan terus menerus ketakutan. Apalagi, ekstrimnya saya sampai menutup diri dari teman- teman. Bahkan sampai membenci diri sendiri. Ah, masa lalu yang penuh dengan pelajaran.

Namun, lama- kelamaan, saya sadar. Hidup saya tak boleh terus menerus seperti ini, saya harus bangkit, harus berpindah, harus move on dari rasa sakit. Banyak kesempatan di luar sana yang sudah saya lewatkan. Lalu, perlahan saya mulai membuka diri ke orang- orang, mencoba menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Sulit memang, tapi saya gak mau terus menerus memanjakan hati saya yang terluka dengan kesedihan. Sudah terlalu lama, dan sudah saatnya saya kembali ceria seperti sebelumnya.

Awalnya, merasa sangat sulit untuk berdamai dengan diri sendiri, menghilangkan semua perasaan takut dan rasa bersalah. Namun, semua saya kembaikan ke yang diatas. Semua yang terjadi adalah hak veto-Nya, kehendak- Nya yang mungkin untuk urusan “ini” tak bisa di lawan oleh siapapun.

Saya bangkit karena saya mencintai diri saya sendiri dan orang- orang di sekitar saya yang tak pernah berhenti memberi support dan pelukan hangat setiap saat. Terimakasih kalian semua, manusia- manusia berhati malaikat. ^_^



7 komentar:

  1. wuih, quote e persis sing tak share ndik FB kapan kae, tapi tak bahasa indonesiakne ben fansku paham haha.

    BalasHapus
  2. semoga sukses melewati ujian hidup mbak.

    BalasHapus

Keep Blogwalking!