Selasa, November 10, 2015

Menjemput Matahari di Desa Pesisir

  6 comments    
categories: 

Pagi yang cerah untuk jiwa yang sepi, begitu kata mas Aril ya. Tapi, kali ini jiwa saya gak lagi sepi, malah cerah dan hangat seperti matahari terbit. Iya dong, soalnya saya lagi menjelajah Desa Pesisir di Probolinggo. Baru sekali itu saya menikmati hangatnya matahari dengan lokasi langsung dari pantai. Ohya, padahal ini masih jam sangat pagi loh, tapi matahari sudah tinggi sekali. 



Saat melewati perkampungan Desa Pesisir tidak ada tanda- tanda penduduk berjualan ikan layaknya pantai pada umumnya, ternyata setelah selesai melaut hasil tangkapan langsung dibawa ke tempat pelelangan ikan. Sesampainya di lokasi pesisir, saya turun ke pantai, air sedang surut jadi saya bisa berjalan sekitar 2KM ke arah pantai. Sepanjang jalan saya melihat perahu yang sedang parkir dan rawa- rawa yang lebat. 



Hal pertama yang saya katakan saat itu adalah "Beruntung saya gak hidup di daerah kayak gini, gak bakalan sanggup", lalu Ilham tertawa. 

Hidup dengan keterbatasan moderintas, air dan lingkungan yang ya- kalau- boleh- saya- bilang kurang mendukung, transportasi yang cepat, dan hal lainnya yang tentunya tidak akan pernah ditemukan di kota, begitu juga sebaliknya. 


Mungkin, karena kebiasaan saya hidup di tempat yang ramai dan akses mudah dalam segala hal. Tapi, ada satu hal yang tidak akan pernah saya temukan di kota, yaitu ketenangan merasakan hangatnya matahari, ketenangan mendengar bisik- bisik remis dan gesekan daun rawa, juga kaki yang dingin menjejak tanah becek Desa Pesisir. Value experience memang mahal!

Selain itu, saya juga melihat langsung tempat dan alat pembuatan garam. Haha.. Ternyata, bagus ya.



Jika ada kesempatan untuk datang ke Probolinggo lagi, saya pasti akan minta untuk diantar ke tempat ini, untuk menjemput matahari di Probolinggo.



6 komentar:

  1. hati-hati mbak, kepleset nanti...licin tanahnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pak, licin sekali.
      Terimakasih sudah mampir :)

      Hapus
  2. pagi di desa ini sepertinya nyaman banget ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. nyaman dan damai. ayo kesini mba Diah :)

      Hapus
  3. suasananya sama seperti madura...jd rindu kampung halaman deh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku jadi pengen ke kampung halamannya mba Dwi. hehe

      Hapus

Keep Blogwalking!