Sabtu, Maret 14, 2015

Mendaki Gunung Kelud Kediri

  21 comments    
categories: 

“Naik- naik ke puncak gunung, tinggi- tinggi sekalii..“ – Ibu Sud.

Lagu yang terus menerus kami dendangkan saat mendaki Gunung Kelud. Liriknya ya cuma itu saja karena memang gak ada pohon cemara di area Gunung Kelud Kediri. 

Beberapa waktu yang lalu, saya menemani teman yang datang dari LA untuk mengunjungi beberapa wisata di Kediri. Teman saya namanya Huny, dia ngidam sekali pengen tau Simpang Lima Gumul dan Gunung Kelud. Sebagai tuan rumah yang baek hati saya turuti aja maunya kemana. 

Kami menyusun rencana, tempat mana saja yang akan kami kunjungi. Dikarenakan waktunya yang terbatas, hanya dua hari di Kediri, hari Jum’at dan Sabtu. Keterbatasan waktu inilah yang akhirnya memunculkan ide untuk berkunjung ke Gunung Kelud. Awalnya sih saya ragu karena memang baru satu tahun yang lalu erupsi hebat, dan saya sudah lama tidak main- main ke Kelud. Terakhir tahun 2013 bersama keluarga.

Ada kekhawatiran, nanti di Kelud bagaimana. Apalagi kami hanya berdua, cewek- cewek dan berkendara menggunakan sepeda motor. Padahal jarak rumah saya dan loket Gunung Kelud itu jauh, kurang lebih sekitar 40 km. Belum lagi nanti naiknya, melewati jalan sepi yang panjang dan berkelok, kalau ada begal gimana. Ahh. Sempat galau sendiri. Tapi akhirnya tetap mengiyakan keinginan teman. Eman- eman, di sudah jauh- jauh datang dari LA masak mau ke Kelud gak dikabulkan. Ini kan kesempatan langka buat dia, bisa jalan- jalan di bumi Majapahit yang fenomenal. Haha.

Hari Jum’at kami berangkat, setelah melakukan berbagai persiapan dengan cek baterai kamera (karena ya saya sering kelupa belum cabut dari chargernya), tripod, dan air minum.  Kalau kamera memang wajib ya dibawa pas jalan- jalan, biar bisa pamer gitu ke kalian- kalian, terus pengen deh datang ke Kediri. Hahaha. Tripod juga penting banget nih, biar bisa bareng gitu fotonya. Air minum juga penting banget, soalnya nanti di Gunung Kelud, kami akan naik ke Gardu Pandang, dan turun ke sumber air panas. Nah, untuk sampai ke tempat- tempat itu kami harus menjajaki tangga yang jumlahnya ratusan, kalau dijumlah jadi ribuan.

Awalnya kami berekspektasi demikian.

“Yookk Hun, selak awan. Panas binggo iki ngko”

Berangkat dari rumah dengan suka cita. Sempat beberapa kali kesasar karena saya lupa jalan. Duuh ah! Cah Kediri abal- abal tenan ki aku. Tapi untungnya ada harapan yang muncul ketika kami mulai putus asa, yap. Petunjuk jalan. Selanjutnya, kami berkendara dengan riang gembira. Sesampainya di loket kami membayar tiket masuk dan retribusi parkir. Masih murah meriyah kok.

Sepanjang perjalanan, teman saya bilang “sumpah Sil, apik Sil”, sambil ketawa- ketawa. Aih, mungkin di LA gak ada yang kayak gini. Hahaha. Jalanan yang berkelok- kelok, naik turun, pemandangan yang menyegarkan mata khas pegunungan. Namun, tawa riang kami berhenti seketika, saat sepeda motor yang kami naiki tidak bisa naik ke atas. Akhirnya salah satu dari kami harus turun karena kelebihan beban, di beberapa tanjakan kami harus gantian untuk jalan kaki.

Lalu, ditengah jalan, kami diberhentikan oleh seorang laki- laki. Kami tidak boleh melanjutkan perjalanan. DEG!. Sempat takut dan berpikir macam- macam, kenapa kok gak boleh padahal puncak masih jauh. Ternyata, setelah erupsi pengunjung tidak boleh naik ke puncak dengan menggunakan motor,  harus jalan kaki menuju parkir utama. Ternyata tadi yang mengehentikan kami adalah tukang parkir. Oooh. 

Setelah bernegosiasi, kami menitipkan barang- barang yang sekiranya akan mengganggu pendakian. Kami hanya membawa barang yang diperlukan. Kamera, tripod, HP, notes, dan air minum. Awalnya, bapak tukang parkir bilang perjalanan hanya 15 menit kalau jalan kaki. Ternyata.. Jalanan menanjak dan akhirnya kami tidak sampai di terowongan. Hanya sampai setengah jalan dan berhenti untuk memotret.  Lagi pula, terowongan masih ditutup, begitu juga dengan gardu pandang dan sumber air panas.

Tak lupa kami berdua welfie dengan menggunakan tripod. Berat bo! Apalagi ngatur fokusnya. Kamera tua, jadi autonya sudah gak on lagi. T_T. Kalau dibandingin, tetep enak pakai HP plus tongsis kalau selfie, enteng. Apalagi kalau pakai HP Smartfren kayak punya akang.



Tapii, tadaaa. Jadi kayak orang pacaran gini aku sama Huny, mana fotonya bocor juga ada orang dibelakang dan muka kami yang sudah kumut- kumut keringetan, padahal udah dandan necis banget. Selamat datang di Gunung Kelud Kediri Huny. Enjoy ya..


Yang lain ? Kapan mau ke sini ? Yuk, ditunggu ya.






Senin, Maret 09, 2015

Ah Cuma Foto

  13 comments    
categories: 

Belajar ikhlas, belajar menerima, menyiapkan diri jika suatu saat nanti ada yang lepas..

Uteesme dan Kaos Warung Blogger

  7 comments    
categories: 
Kaosnya adem banget! Kainnya lembut lagi. Sukaaaaak! Makasih @warung_blogger dan @uteesme <3 <3 <3

Udah pada tahu kan kalau WB -- @warung_blogger sering bikin kuis di hari Kamis ? Namanya #KUMIS. Cek deh, siapa tahu dapat hadiah :D

Sebenernya sih udah pengen banget kaos WB sejak lihat temen- temen kopdaran di Jakarta kemarin, tapi cuma bisa mupeng aja, karena gak bisa datang ke Jakarta. Untungnya WB baik hati bikin kuis TTS, udah semangat banget ikutan, eh kelewat tanggal pas mau submit jawaban. T_T

Ternyata, WB masih baik lagi, hehe. Bikin #KUMIS hadiah 2 kaos WB. Semangat ikutan, dan Alhamdulillah dapat. yay. Makasiiih <3

Kaos dari uteesme ini adem dan lembut, nyaman banget dipakainya. Cuma satu sih, sayangnya pendek, jadi harus pakai jaket gini deh. Tapi tetep ketjeh kan ya ? Ntar mau pakai ah kalau ada kopdar- kopdar. 
   




Hihi.. Fotonya pakai tripod, ngatur- ngatur sendiri :v

Gunung Kelud, Molek nan Gagah

  3 comments    
categories: 
Aku termenung di bawah mentari
Diantara megahnya alam ini
Menikmati indahnya Kasih Mu
kurasakan damainya hatiku --- Damai Bersama-Mu


Satu tahun berlalu, dan kamu tetap angkuh menyajikan panorama yang memanjakan mata.


Satu tahun selepas erupsi dahsyat itu, akhirnya aku berani menjejak hati dan kaki lagi di rumahmu. Menjadi salah satu dari sekian banyak tamu agungmu.



Kelud, eksotis dan tetap menjadi destinasi utama jika wisatawan berkunjung ke kota kita. Selain tahu dan Simpang Lima Gumul tentunya.

Ada cerita lain yang membuatku akhirnya berdamai kembali untuk datang ke tempatmu, tak banyak yang berubah, hanya beberapa pembangunan resort dan cottage di beberapa tempat. 




Sekian kali datang ke tempatmu, baru kali ini aku benar- benar paham dimana letak jalan misteri, tentu aku penasaran dan mencobanya, dan kamu memang benar, ini membuatku terheran- heran, meskipun kejadian ini memang sesuai teori.

Sepanjang jalan, tak hentinya aku melongo mengagumi kecantikanmu. Pemandangan yang hijau, udara yang sejuk, dan matahari yang tak terlalu menyengat.

Cepatlah pulih, supaya aku bisa pamer ke semua orang kalau dirimu punya lava dome, dan gardu pandang, kita buktikan pada semua orang, Kediri punya destinasi wisata cantik dan menawan.

Selamat datang di Gunung Kelud. 



bonus foto :p
Nah, ini wisatawan asing yang saya antar lihat Kediri, asalnya dari LA (baca : Lemenjen/ Lamongan)

 HI kak IL <3

 *diperankan oleh model.

aku berasa hipster *halagh*

Foto- foto ini diambil dari kamera dengan bantuan Tripod.