Selasa, Januari 12, 2016

Cerita Tentang Ces

  12 comments    
categories: 
Bulan Oktober yang lalu aku baru cerita soal kucing baru di rumah dan kuberi nama Ces, tapi baru- baru ini aku memanggilnya Pakencus. Soalnya lebih enak pelafalannya dan bisa dipanjang- pendekkan ketika memanggilnya. Misalnya saja, "Cus. Cus. Cus" atau "Pakencuuuss.. Cuuuuus..".

Selama  4 bulan ini Cus tumbuh besar dengan baik, makan terpenuhi, gizi tercukupi, vitamin tak pernah ketinggalan, mandi seminggu sekali. Jadilah dia sehat, kuat dan trengginas. 

Kemudian, bulan ini aku ditawari kucing oleh saudaraku. Persia mix domestik, lucu dan menggemaskan. Jadilah kucing di rumahku ada 4 ekor. 2 dewasa dan 2 kitten, kadang aku kewalahan juga mengurusnya. Apalagi dengan bertambahnya kucing di rumah berarti jumlah biaya makan yang aku keluarkan untuk mereka juga bertambah. Biasanya 2 ekor kucing aku cukup membeli dry food satu bulan sekali, sekarang 4 ekor menjadi sebulan dua kali. 


Nah, beberapa hari yang lalu. Adikku membawa kitten 1 lagi ke rumah, warnanya bermacam- macam. Jadi total kucing di rumah ada 5 ekor. Saat bapakku tau, beliau langsung mengultimatum kalau semua kucing akan dibuang, akhirnya setelah diskusi panjang bersama bapak dan ibu, aku diberi pilihan untuk melepaskan salah satu kucing- kucingku itu. Masalahnya, aku udah kadung suka sama kucing baru macam warna itu, dia pintar dan lucu. Belum lagi kalau berdiri tubuh bagian bawahnya berbentuk seperti papan catur karena selang- seling dan juga terlihat seperti memakai dasi. Tapi aku juga gak mau melepaskan ke empatnya. 


Dua hari berlalu, ibu kembali mengabarkan kalau ada tetangga depan rumah mau mengadopsi salah satu kucing- kucing ini. Aku menyarankan untuk kitten macam warna saja yang diberikan, tapi ibu kadung menawarkan Pakencus. Sedih luar biasa rasanya, karena pakencus adalah kucing penurut yang gak pernah main jauh, dia jantan tapi gak suka berkelana. Sayangnya Pakencus ini suka sekali nakal dengan kitten yang lainnya. 
Bagaimana bisa kita melepaskan sesuatu yang kita sayangi ? Refleksi Senin pagiku yang syahdu. Semalam terlibat obrolan agak keras dengan bapak, soal apalagi kalau bukan kucing di rumah. Awalnya aku ga mau kalau salah satu kucing itu dihibahkan, tapi bapak dan ibu bilang "pilih salah satu, dikasih ke orang atau dibuang?". Akhirnya setelah menimbang- nimbang, dengan sangat dengan berat hati, akhirnya Pakencus lah yg harus diberikan ke orang karena dia suka nakal sama kucing yg lainnya di rumah. Padahal dia tuh yang paling nurut sama aku, kupanggil langsung lari ke arahku, goler2an minta di elus kepala dan perutnya. Kadang ada egoisme dan ketidakrelaan dalam diriku saat banyak orang yang main ke rumah lalu "naksir" dengan kucing2 ini. Takut kalau beneran di minta dan was- was gimana kalau nanti ngerawatnya gak kayak aku. Padahal who knows juga. Tapi yasudah, semoga Pakencus ga nakalan lagi di tempat barunya. 😭😭
A photo posted by Silviana (@silviananoerita) on
Setelah itu, Pakencus aku ajak bicara seperti biasanya, aku kasih tau jangan nakal di tempat baru, aku bakalan jenguk. Sejak itu dia gak pernah main keluar rumah, padahal biasanya dibelakang atau samping rumahku. Ngintil kemana- mana seperti gak mau pisah. Makin sedih rasanya. Tapi ya bagaimana, janji sudah dibuat dengan tetangga. 

Cus menunggu ibu ibadah dan ikut menyimak saat beliau mengaji
Akhirnya, dengan berat hati aku mengantarkan Pakencus ke tetanggaku. Haha lebay ya, padahal Pakencus masih bisa kujenguk tiap hari. 
Hewan itu punya naluri. Sesaat setelah ibu dan bapak bilang salah satu harus dikasih orang, aku elus2 pakencus sambil bilang ke dia (kayak ngbrol sama temen) "pakencus ojok nakal loh, ojo pipis sembarangan, ngko tak sambangi ya nek ng kono" Sejak itu dia gak main keluar rumah sama sekali, biasanya pulang cuma makan aja terus keluar lagi meskipun gak jauh- jauh. Glibet ibu waktu ibadah, nunggu aku cuci baju, pokoknya ngintil terus. Hihihihi Padahal kami ngasihnya ke seberang rumah doang haha Ini tadi kuantar dia kesana, lari2 terus gak mau ditangkap, padahal dia kalau digendong2 manut. Udah sampai di tetangga depan, dia lari kesana kemari kayak bingung. Tiap lihat orang lari sembunyi, kudekati keluar, ngeong2 kayak marah ku elus2 diam. Hiks. Lalu kukasih dia makan, asik makan kutinggal pulang 😭😭 Tapi aku yakin, Pakencus kenyang di sana. Soalnya yg adopsi sekarang penjual soto daging dan kare ayam. Tapi aku kok sedih ya. #dramatis
A photo posted by Silviana (@silviananoerita) on
 Ah, perpisahan yang dramatis. Tapi semoga dia gak nakal lagi di sana. 

Salam sayang untuk Pakencus. 



12 komentar:

  1. Bener sekali, sesama pecinta kucing aku sangat percaya kucing punya naluri, dia mengerti kita tapi kadang kita nggak mengerti bahwa dia (kucing) nggak mau berpisah dgn kita...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Barusan aku jenguk dia mba Dwi, pulangnya aku nangis T.T

      Hapus
  2. selamat pergi cus
    moga kau bahagia dengan pmilik barumu
    aku selalu mendoakanmu agar kamu baik2 disana

    BalasHapus
  3. Kasian ya, itu baru kucing, gimana prasaan anak yang dikasikan orang tua kandungnya ke orang lain T___T *tulung Sil aku mellow

    BalasHapus
  4. Wah bakalan gemuk tuh ntar pakencus, ikut sama penjual soto daging dan kari ayam. tapi mungkin dia gak akan dapet perhatian seperti mbak silviana ngasih perhatian kan yak, secara kan mbaknya masih muda gitu, pasti perhatian banget :)

    BalasHapus
  5. kiyuttt :) kalo melihara kucing cuma pernah waktu sd habis itu dianya sudah gk ada, gak miara lagi

    BalasHapus
  6. mukanya Ces lucu banget pi

    BalasHapus
  7. Lucu banget sich Ces mu. Semoga dia senang bersama keluarga barunya ya

    BalasHapus
  8. Tiap hari masih bisa komunikasi dg pakencuuus ya, pii. Deket tetangga ini. :D

    BalasHapus
  9. Imuut. :) Pingin banget punya, sayangnya gak boleh pelihara kucing di rumahku. :)

    BalasHapus
  10. kan bisa disambangi di rumah tetangga saat jam besuk toh

    BalasHapus
  11. makasih bos infonya dan salam sukses

    BalasHapus

Keep Blogwalking!