Rabu, Januari 20, 2016

Serunya Permainan di Masa Kecil

  32 comments    
categories: 
Siang- siang bicara soal kenangan, rasanya tubuh dibawa kembali ke masa lalu dengan mesin waktu yang bernama ingatan. Kalau mau mengenang caranya cukup dengan diam, terpaku dan mengenang. Hmm. Jadi kangen dan pengen balik ke masa lalu nih jadinya. Keingat masih dimandiin waktu mau berangkat sekolah, di sekolah isinya cuma main- main aja, gak ada beban hidup, gak ada yang dipikirkan, gak ada patah hati. Isinya ya cuma senang- senang. 

Apalagi aku ini termasuk generasi 90-an yang katanya generasi terakhir yang merasakan kebahagiaan, sebelum era teknologi modern datang menyerang. Tapi menurutku, itu sih klaim generasi angkatan sekian yang gak rela karena menyadari ternyata mereka semakin dewasa (tua). Hehe. Beda masa ya beda produk, beda era beda lagi trendnya. Kalau dulu eranya mainan di luar rumah, sekarang eranya main di dalam rumah.

Tapi aku merasa beruntung karena masih bisa merasakan omelan ibuk setiap pulang main karena baju kotor atau pulang kesorean. Masih bisa merasakan banyak hal yang gak mungkin dilakukan lagi di zaman sekarang karena kesibukan, sibuk cari uang buat nikah kayaknya sih. Atau bahkan karena gak ada partner main yang seumuran. Pada akhirnya, ya cuma bisa diam, terpaku, dan mengenang. 

Kalau boleh cerita, masa kecilku itu bandel banget. Lebih suka main daripada belajar, lebih suka tiduran di bawah pohon rindang belakang rumah atau di atas jerami bakal pangan hewan peliharaan di kandang. Daripada tidur siang di kasur dengan kipas angin berputar. 

Sebelum ngehits acara adventure, dulu aku juga sudah menjelajah seluruh desaku dengan jalan kaki. Mulai dari cari daun yang bisa dikelupas biar bisa buat bola- bolaan, cari melinjo, nyolong bengkoang, ikut teman angon kambing di lapangan. Makanya, aku sekarang suka malu kalau ada tetanggaku yang buka- buka aib di masa kecilku pas kami lagi ketemu. 

Kalau boleh sombong "aku ngehits banget lah dulu itu".

Sebagai anak ngehits di zamannya, aku juga suka sekali bermain bersama teman. Mulai dari bola bekel, rumah- rumahan, barbie, bola kasti, gobak sodor, dakon (congklak), petak umpet, masak- masakan, lompat tali, layangan, egrang, ular naga, patil lele, gejlik, cirak (kelereng), dan masih banyak lagi. 


Sumber foto statistik[dot]tempo[dot]co
Tapi yang paling favorit adalah main cirak atau kelereng. Aku biasa main cirak di rumah uti karena di sana ada saudara- saudaraku dan banyak anak lainnya. Maklum di sana masih desa. Meskipun di setiap permainan cuma aku yang perempuan, tapi nyaliku gak ciut. Sistem main cirak seperti main judi. Kita menyumbang kelereng sesuai kesepakatan, lalu diatur berbaris ke belakang, ada kepala, badan, serta ekor. Tentunya setiap kelereng diberi jarak, seingatku jaraknya satu jengkal.

Semua yang ikut permainan harus membidik barisan kelereng itu dengan satu kelereng andalan. Penentuan siapa yang harus main pertama dan selanjutnya dengan cara hompimpa, suit atau wo dowo (njang panjang) - menggunakan tangan kanan, gerakan lurus dan tekuk. Lagunya "wo dowo sing dowo menang"-. Lalu jika ada yang sama ditentukan dengan suit. 

Kalau barisan kelerengnya panjang beruntung sekali yang bisa main pertama, karena punya kesempatan besar untuk membidik kepala. Tapi banyak juga yang missed karena setiap kelereng terdapat jarak yang lumayan lebar. 

Jika pemain pertama membidik lalu kena kepala, itu artinya seluruh barisan kelereng tersebut sah jadi milik pemain pertama, lalu permainan selesai. Jika pemain pertama mendapat bagian badan atau leher dan masih ada sisa kelereng, permainan masih dilanjutkan dengan pemain kedua, ketiga, dan seterusnya sampai pemain terakhir. Tapi, kalau pemain terakhir masih gak bisa menghabiskan kelereng, maka akan diisi lagi dengan kelereng baru sesuai kesepakatan. Begitu seterusnya.

Maka dari itu, kita harus jeli dan punya trik supaya punya kesempatan main pertama, caranya setiten (menganalisa) dan mengamati anak A, B, C biasanya pakai jari apa ketika suit, pakai telapak atau punggung tangan ketika hompimpa, dan sebagainya. 
Haha. Ya! Aku dari kecil sebetulnya memang tricky dan mulai pencitraan ketika sudah besar.

Gara- gara suka main cirak, aku juga punya kelereng banyak. Zaman dulu, semakin banyak kelereng hasil dari main, maka dianggap paling wah dan master. Haha. Ngakak sendiri ingatnya. 

Cirak : Kalau menang bakalan di arak, kalau kalah jangan mencak- mencak. Begitulah kira- kira. Ketika kita melempar kelereng andalan dan kena kepala, maka sorak gembira penonton atau anak- anak yang gak ikut main serasa bikin kepala jadi besar. Kalau kalah banyak yang ngambek karena kelerengnya habis.

Bolak- balik aku dimarahi mbah uti dan ibuku, katanya perempuan main kelereng. Gak pantes, gak etis, dan gak gak yang lainnya. Jadi, kalau ada yang bilang aku masih terlihat tomboy sampai sekarang, saudara dan teman- teman cirakku itu punya andil besar dalam membentuk kepribadianku. Haha.

Kalau kamu tanya, sekarang kemana semua kelerengku ? Sudah aku jual waktu kelas 3 SD ke teman kelasku. Kelereng biasa lima biji kuberi harga Rp 500, kadang aku bonusi juga. Tapi kalau kelerengnya ada corak yang bagus lebih mahal lagi harganya. Alasannya karena gak punya tempat menyembunyikan semua harta karunku itu.

Sekali lagi, aku merasa beruntung karena semua hal asyik di masa itu sudah pernah kulakukan.




Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa"

32 komentar:

  1. bernostalgiaaaa
    bacanya jadi kangen masa2 dulu
    hahaha kalo gw g terlalu jago main gundu/ kelereng
    dari rumah bawah setoples pas pulang habis hahaha
    gw paling suka main tap benteng tuh
    dulukan disekitar rumah gw masih banyak pohon jadi pohonnya bisa digunain buat markasnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sering kalah berarti ya. Haha.
      Ohiya. Bentengan kalau di sini nyebutnya.

      Hapus
  2. wah,baru tahu namanya cirak hehehe

    BalasHapus
  3. Kalau di tempat ane namanya "Setin" atau "neker" :D
    Hahaha, dulu kalau maen bawa dari rumah paling 5 biji, tapi nanti kalau pulang jadi satu kaos. Hahaha.
    sayang anak anak jaman sekarang udah pada gak mau maen yg ky beginian. Padahal seru & asyikk... :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di sini kelereng juga neker. Haha jago dong berarti :)

      Hapus
  4. wkwkwkwkw...mainan kelereng juga ya..kalo aku suka mainan layang2 Sil :)

    BalasHapus
  5. Saya juga dulu pernah ketagihan main kelereng (bahasa daerah di tempatku disebut Baguli'). Sampai semuanya dibuang sama Mama gara-gara aku katanya anak perempuan...


    Terima Kasih sudah ikut GA saya dan mbak Lidya

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama dong berarti, sama- sama dimarahi hehe.
      Sama2 mbak Amma, jangan dikalahin ya :p

      Hapus
  6. Naah kaan, mba rahmah aja dimarahin, gimana aku. wkwkwk.. mainanku lebih feminin, tunggu yaaa

    BalasHapus
  7. Wah, main kelereng. AKu main bekel :D

    BalasHapus
  8. Wah, pake dijualbelikan juga nih kelereng. :D Bakat dagang nih

    BalasHapus
  9. wah suka kelereng ya.. ak kurang suka hihi #feminim :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha iyaa, soalnya sodara laki semua nih :v

      Hapus
  10. silvi tomboy juga ya dulu mainannya kelereng :) Makasih udah iktan ya Pi

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya masih kelihatan juga skrg tomboynya. Sama2 mba lia

      Hapus
  11. kalo skrg mah mungkin disebutnya si bolang ya mba... hehe

    BalasHapus
  12. Kalau saya sih sukanya main layangan, coba deh intip di http://amir-silangit.blogspot.co.id/2016/01/mengenang-era-90-dengan-memainkan.html terimakasih :D

    BalasHapus
  13. Dulu koleksi kelerengku banyak.. Mulai dari yg peling kecil sampai yg besar.. Tapi entah sekarang pada kemana

    BalasHapus
  14. apaaah? generasi 90 annn
    hiks..emak mlipiir karena generasi 70an

    BalasHapus
  15. berasa keren kalau ngumpulin kelereng hasil menang taruhan kelereng :)))

    BalasHapus
  16. Berangkat bawa sepuluh, pulang bawa sekresek xD

    BalasHapus

Keep Blogwalking!