Jumat, Januari 29, 2016

Before- After Pertemuan dengan Nurul Noe

Sudah berkali- kali aku bilang kalau hidupku ini worth it banget. Sejak tahun 2008 mulai mengenal dunia blogging, rasanya aku seperti punya tempat yang lebih luas untuk berinteraksi. Punya banyak teman, menikmati karya teman, dan memamerkan karya sendiri. 

Hampir 9 tahun sejak mengenal dunia ini, akupun banyak belajar dan menyerap ilmu sambil sesekali berbagi ilmu yang pernah aku dapat. Biar gak numpuk jadi dibagi- bagi, toh saat kita memberi ada banyak hal yang tanpa disadari akan kembali. Asal gak perlu dihitung- hitung jumlahnya. Bahkan aku merasa apa yang aku bagikan itu gak sebanding dengan banyak berkah yang aku terima. Salah satu berkahnya adalah punya banyak teman baru yang gak pernah aku duga bisa berinteraksi atau bahkan berjumpa.

Sampai pada tahun 2014 yang lalu, aku punya kesempatan untuk mengenal dan dikenal karena salah satu ajang pemilihan blogger yang diadakan oleh salah satu komunitas. Dari sanalah pertemanan seru kami dimulai, pertamanya sih memang malu- malu kucing, tapi semakin lama semakin intens karena kami gabung disatu grup chatting yang seru dan gak pernah sepi. Makin seru karena anggotanya perempuan semua. Awalnya ada hampir 50 peserta yang gabung, lama- lama menyusut juga karena adanya seleksi alam, maksudnya saking ramainya grup bikin hp jadi hang dan memori penuh.

Jadi kalau dihitung usia kebersamaan kami, ini mau naik tahun ke 2 dan jumlah anggotanya pun gak sampai 25 orang. Selama hampir 2 tahun ini, banyak hal yang terjadi. Mulai dari aku yang masih kuliah sampai sekarang sudah lulus, ada yang dulu masih galau sama calonnya dan sekarang sudah punya anak, ada yang udah punya anak sampai punya anak lagi. Semua itu terangkum dalam kebersamaan sehari- hari dengan aplikasi chatting. Nyatanya meskipun daerah kami berbeda, bahkan ada 2 anggota yang tinggal di luar negeri gak bikin kita merasa terbatas untuk tetap in touch satu sama lain

Sayangnya selama hampir 2 tahun ini, kami belum pernah bisa kopdar secara lengkap. Hanya beberapa saja seperti teman- teman yang ada di JABODETABEK, Jawa Tengah, Jawa Timur atau ketika salah satu anggota mengunjungi wilayah anggota lainnya. Seperti mbak Noe yang beberapa waktu lalu berkunjung ke Malang. Pastinya udah pada tau kan ya kalau mbak Noe itu backpacker minded dan salah satu emak yang punya hastag #backpackingwithchildern. Banyak tulisannya yang bercerita tentang bagaimana serunya jalan- jalan di dalam ataupun luar negeri bareng ke tiga anaknya

Saat pertama kali berjumpa dengan mbak Noe tahun 2014. Waktu itu anak mbak Noe masih Abyan dan Daffa saja. Sayang sekali aku belum bisa ketemu sama keduanya. Waktu itu aku diajak jalan- jalan ke Kondang Merak dan Goa China barengan sama mas Rifqy, Mas Kur, Oky, Mbak Noe, dan Mbak Karima. 

Lalu di tahun 2015 aku punya kesempatan kembali untuk berjumpa dengan mbak Noe, kali ini paket lengkap karena ada om Tio, Abyan, Daffa, dan bonus bebe Ranu. 

Ah, inilah beauty of blogging. Aku gak pernah nyangka bisa punya teman- teman yang menginspirasi karena memang blog tentang perjalanan adalah bacaan favoritku, salah satunya ya blognya mbak Noe ini. Tapi ada juga salah satu blognya yang condong ke parenting

Jadi, inilah before after ketemu mbak Noe. Beforenya karena belum ada Ranu, afternya ya jelas udah ada Ranu. :D

Before :

27/9/2014 Kondang Merak
  After :


7/11/2015 - Mbak Lianny, Mbak Noe, Ranu
7/11/2015- bersama Abyan dan Daffa


Kamis, Januari 28, 2016

Ganti Nama Domain

Hai halo selamat pagi!

Cuma mau kasih pengumuman aja, kalau hari ini aku mau ganti nama domain. Dari silvianapple menjadi silviananoerita. Semoga ini jadi awal yang baik buat aku ya. Pengennya biar semua sosial media serempak :D 

Terima Kasih.

Selasa, Januari 26, 2016

Olahraga Salah Satu Bentuk Investasi Masa Depan

  12 comments    
categories: 
Akhir- akhir ini aku sadar kalau hampir tiap satu minggu sekali selalu melakukan perjalanan jauh, entah ke Surabaya, Sidoarjo, atau Jombang. Semua perjalanan itu aku lakukan dengan naik motor sendiri. Makin kesini makin kerasa kalau badanku sebetulnya gak begitu fit ketika melakukan semua perjalanan itu, maksudnya selalu ada boyoken pegal di bagian pundak dan pinggang. Tapi meskipun begitu aku senang aja jalaninya. Mumpung masih belum menikah dinikmati dulu masa bebas berekspresinya. 

Nah, gara- gara keseringan melakukan perjalanan jauh tanpa memikirkan kondisi badan, tiap bangun tidur aku selalu merasa capek luar biasa dan malas beranjak, maunya tiduran terus. Padahal banyak banget project yang harus diselesaikan bulan ini. Makanya aku memutuskan untuk melakukan rutinitas yang sudah lama kutinggalkan, yaitu kembali olahraga. 

Diawali dengan olahraga kecil- kecilan, lari2 di dalam rumah tiap habis subuh, streching2 kecil aja biar badan gak kaku. Lalu berlanjut jalan cepat di sepanjang jalanan rumah, kurang beruntungnya rumahku ada di dekat jalan besar, jadi kalaupun masih subuh kendaraan sudah banyak lalu lalang. Lalu aku mulai memaksa badanku untuk lari kecil. 

Setelah hampir 2 minggu menjalani rutinitas olahraga, mulai kelihatan perbedaanya. Sebelumnya malas bangun sekarang jadi semangat dan gak sabar pengen keringetan. Sampai pada akhirnya kemarin lari- lari di lapangan besar, Stadion Canda Bhirawa Pare. Langsung dapat 10 putaran dan seketika tepar, nafas engap kayak ikan keluar dari kolam. Malamnya badan kaku semua dan diare. 

Setelah coba baca- baca soal penyebab diare, ternyata olahraga terlalu keras juga gak baik buat kesehatan, apalagi pemula kayak aku ini. Langsungan tanpa memperhatikan kondisi badan. Kayaknya kemarin sih pemanasannya kurang lama, makanya otot kaku semua.

Tapi, meskipun sempat drop dua hari, setelah sehat mau olahraga lagi. Kecil- kecilan yang penting rutin, karena aku sadar olahraga itu salah satu bentuk investasi masa depan juga selain uang.

Rabu, Januari 20, 2016

Serunya Permainan di Masa Kecil

  32 comments    
categories: 
Siang- siang bicara soal kenangan, rasanya tubuh dibawa kembali ke masa lalu dengan mesin waktu yang bernama ingatan. Kalau mau mengenang caranya cukup dengan diam, terpaku dan mengenang. Hmm. Jadi kangen dan pengen balik ke masa lalu nih jadinya. Keingat masih dimandiin waktu mau berangkat sekolah, di sekolah isinya cuma main- main aja, gak ada beban hidup, gak ada yang dipikirkan, gak ada patah hati. Isinya ya cuma senang- senang. 

Apalagi aku ini termasuk generasi 90-an yang katanya generasi terakhir yang merasakan kebahagiaan, sebelum era teknologi modern datang menyerang. Tapi menurutku, itu sih klaim generasi angkatan sekian yang gak rela karena menyadari ternyata mereka semakin dewasa (tua). Hehe. Beda masa ya beda produk, beda era beda lagi trendnya. Kalau dulu eranya mainan di luar rumah, sekarang eranya main di dalam rumah.

Tapi aku merasa beruntung karena masih bisa merasakan omelan ibuk setiap pulang main karena baju kotor atau pulang kesorean. Masih bisa merasakan banyak hal yang gak mungkin dilakukan lagi di zaman sekarang karena kesibukan, sibuk cari uang buat nikah kayaknya sih. Atau bahkan karena gak ada partner main yang seumuran. Pada akhirnya, ya cuma bisa diam, terpaku, dan mengenang. 

Kalau boleh cerita, masa kecilku itu bandel banget. Lebih suka main daripada belajar, lebih suka tiduran di bawah pohon rindang belakang rumah atau di atas jerami bakal pangan hewan peliharaan di kandang. Daripada tidur siang di kasur dengan kipas angin berputar. 

Sebelum ngehits acara adventure, dulu aku juga sudah menjelajah seluruh desaku dengan jalan kaki. Mulai dari cari daun yang bisa dikelupas biar bisa buat bola- bolaan, cari melinjo, nyolong bengkoang, ikut teman angon kambing di lapangan. Makanya, aku sekarang suka malu kalau ada tetanggaku yang buka- buka aib di masa kecilku pas kami lagi ketemu. 

Kalau boleh sombong "aku ngehits banget lah dulu itu".

Sebagai anak ngehits di zamannya, aku juga suka sekali bermain bersama teman. Mulai dari bola bekel, rumah- rumahan, barbie, bola kasti, gobak sodor, dakon (congklak), petak umpet, masak- masakan, lompat tali, layangan, egrang, ular naga, patil lele, gejlik, cirak (kelereng), dan masih banyak lagi. 


Sumber foto statistik[dot]tempo[dot]co
Tapi yang paling favorit adalah main cirak atau kelereng. Aku biasa main cirak di rumah uti karena di sana ada saudara- saudaraku dan banyak anak lainnya. Maklum di sana masih desa. Meskipun di setiap permainan cuma aku yang perempuan, tapi nyaliku gak ciut. Sistem main cirak seperti main judi. Kita menyumbang kelereng sesuai kesepakatan, lalu diatur berbaris ke belakang, ada kepala, badan, serta ekor. Tentunya setiap kelereng diberi jarak, seingatku jaraknya satu jengkal.

Semua yang ikut permainan harus membidik barisan kelereng itu dengan satu kelereng andalan. Penentuan siapa yang harus main pertama dan selanjutnya dengan cara hompimpa, suit atau wo dowo (njang panjang) - menggunakan tangan kanan, gerakan lurus dan tekuk. Lagunya "wo dowo sing dowo menang"-. Lalu jika ada yang sama ditentukan dengan suit. 

Kalau barisan kelerengnya panjang beruntung sekali yang bisa main pertama, karena punya kesempatan besar untuk membidik kepala. Tapi banyak juga yang missed karena setiap kelereng terdapat jarak yang lumayan lebar. 

Jika pemain pertama membidik lalu kena kepala, itu artinya seluruh barisan kelereng tersebut sah jadi milik pemain pertama, lalu permainan selesai. Jika pemain pertama mendapat bagian badan atau leher dan masih ada sisa kelereng, permainan masih dilanjutkan dengan pemain kedua, ketiga, dan seterusnya sampai pemain terakhir. Tapi, kalau pemain terakhir masih gak bisa menghabiskan kelereng, maka akan diisi lagi dengan kelereng baru sesuai kesepakatan. Begitu seterusnya.

Maka dari itu, kita harus jeli dan punya trik supaya punya kesempatan main pertama, caranya setiten (menganalisa) dan mengamati anak A, B, C biasanya pakai jari apa ketika suit, pakai telapak atau punggung tangan ketika hompimpa, dan sebagainya. 
Haha. Ya! Aku dari kecil sebetulnya memang tricky dan mulai pencitraan ketika sudah besar.

Gara- gara suka main cirak, aku juga punya kelereng banyak. Zaman dulu, semakin banyak kelereng hasil dari main, maka dianggap paling wah dan master. Haha. Ngakak sendiri ingatnya. 

Cirak : Kalau menang bakalan di arak, kalau kalah jangan mencak- mencak. Begitulah kira- kira. Ketika kita melempar kelereng andalan dan kena kepala, maka sorak gembira penonton atau anak- anak yang gak ikut main serasa bikin kepala jadi besar. Kalau kalah banyak yang ngambek karena kelerengnya habis.

Bolak- balik aku dimarahi mbah uti dan ibuku, katanya perempuan main kelereng. Gak pantes, gak etis, dan gak gak yang lainnya. Jadi, kalau ada yang bilang aku masih terlihat tomboy sampai sekarang, saudara dan teman- teman cirakku itu punya andil besar dalam membentuk kepribadianku. Haha.

Kalau kamu tanya, sekarang kemana semua kelerengku ? Sudah aku jual waktu kelas 3 SD ke teman kelasku. Kelereng biasa lima biji kuberi harga Rp 500, kadang aku bonusi juga. Tapi kalau kelerengnya ada corak yang bagus lebih mahal lagi harganya. Alasannya karena gak punya tempat menyembunyikan semua harta karunku itu.

Sekali lagi, aku merasa beruntung karena semua hal asyik di masa itu sudah pernah kulakukan.




Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa"

Minggu, Januari 17, 2016

Keripik Pisang GoBana, Produk Lokal yang Siap Mendunia

  36 comments    
categories: 

Bicara soal produk lokal UMKM aku jadi ingat pengalaman saat semester empat yang lalu, di tempatku belajar, kami yang sudah memilih Ekonomi Pembangunan sebagai jurusan harus memilih lagi konsentrasi untuk didalami ilmunya. Jadi simpelnya, setelah memilih A harus menentukan untuk masuk ke A1, A2, A3, dan seterusnya. Hal tersebut diharuskan karena aku mengambil jurusan non kependidikan (yang nantinya tidak bergelar S.Pd tapi S.E).

Saat itu aku dan teman- teman memilih salah satu dari tiga konsentrasi yang disediakan, antara lain Ekonomi Perbankan, Perencanaan Pembangunan Ekonomi Daerah, serta Koperasi dan UMKM. Faktanya kurang lebih150 mahasiswa jurusan non kependidikan yang mengambil pilihan Koperasi dan UMKM hanya 2 orang. Bayangkan, hanya 2 orang saja. Akhirnya karena konsentrasi tersebut tidak memenuhi kuota, 2 orang pemilih itu masuk ke pilihan lainnya.  Jadi memang konsentrasi Koperasi dan UMKM tidak diminati.

Sayang sekali bukan ? Padahal aku yakin semakin berkembang pengetahuan dan kreatifitas manusia, maka akan banyak produk- produk baru yang muncul dan mungkin saja tidak terpikir oleh kita. Salah satunya ya produk- produk olahan makanan, karena sifatnya yang continue atau berkelanjutan dan selalu dibutuhkan oleh manusia yang notabene butuh makan. Apalagi kalau dilihat dari potensinya, produk olahan makanan yang berasal dari sektor agroindustri tentu punya tempat tersendiri buat orang Indonesia yang terkenal doyan nyemil.  Rasanya kurang pas kalau mengerjakan sesuatu tapi gak ada camilannya. Entah itu gorengan, kue kering, keripik atau yang lainnya. Tapi meskipun suka nyemil kita juga harus memilih camilan yang gak cuma enak aja, tapi juga sehat dan bergizi.


Nah beruntung sekali kemarin aku punya kesempatan untuk bisa hadir di acara Launching Keripik Pisang GoBana produksi Roemah Snack Mekarsari Sidoarjo. Buat yang belum tau, Mekarsari adalah nama dagang yang digunakan oleh bu Ida Widyastuti selaku pemilik dari Roemah Snack Mekarsari yang menyediakan berbagai macam produk makanan ringan. Saat pertama kali memasuki rumah snack ini aku melihat sekeliling, disana terdapat ratusan item dagangan yang berjajar rapi. Semua makanan ringan yang tersedia menggoda sekali untuk dibawa pulang. 



Puas berkeliling di toko lantai 1, aku diarahkan untuk naik ke lokasi acara yang berada di lantai 2. Banyak teman- teman yang sudah hadir, baik blogger maupun mahasiswa. Acara di mulai dengan sambutan dari Mbak Sugi Hartati dan dilanjutkan dengan pembawa acara. Sebagai pembukaan awal kami ditunjukkan video mengenai Roemah Snack Mekarsari dan berbagai award yang dicapai oleh bu Ida.

Bu Ida menyambut kami

Acara dilanjutkan dengan sambutan dari bu Ida, beliau menyambut kami dengan hangat dan beberapa kali melontarkan candaan untuk mencairkan suasana. Beliau banyak bercerita tentang sejarah hidupnya hingga bisa menjadi seperti sekarang ini. Mulai dari beliau yang tidak pernah melihat ibu kandungnya, karena berpulang saat melahirkan bu Ida, hidup berpindah- pindah karena ikut dengan saudara, sampai merantau ke Batam untuk bekerja sembari memiliki sampingan berjualan sprei dan bed cover. Hingga akhirnya memiliki ide untuk mendirikan usaha produksi makanan ringan yang diberi nama Mekarsari. 

Memperluas jaringan pasar bu Ida juga bekerjasama dengan puluhan UMKM dan petani untuk menunjang usahanya. Jadi sama- sama diuntungkan dan disejahterakan. Pada tahun 2009 Mekarsari membuka gerai dengan nama Roemah Snack Mekarsari yang berada di pusat kota Sidoarjo, tepatnya di Pondok Jati C- 04 Sidoarjo Jawa Timur. Selain di Sidoarjo, Mekarsari juga memiliki outlet di Denpasar, Bali.

Semakin tahun Roemah Snack Mekarsari semakin melebarkan usahanya dengan membuat berbagai macam inovasi produk. Berawal dari emping melinjo yang dijual ke toko- toko, keripik singkong berbagai macam rasa, hingga keripik pisang yang diberi label Gobanano dan Opak Pisang Bananos. Inovasi- inovasi ini sukses membawa bu Ida meraih berbagai macam penghargaan, mulai dari perempuan inspiratif Nova, Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women, Green Entrepreneur, Award Inovasi Olahan Buah Tropis, dan masih banyak yang lainnya.

Hingga muncullah GoBana sebagai produk baru yang akan meramaikan pasar produk makanan olahan. Nah ada beberapa hal yang membuat GoBana ini istimewa, mulai dari bahan baku pembuatannya yang hanya menggunakan pisang agung atau pisang tanduk yang berukuran besar dan pisang- pisang ini hanya bisa ditanam di lokasi tertentu. Lalu ada 8 varian rasa yang dijamin belum pernah ada di pasaran. Jadi cocok kalau GoBana jadi salah satu oleh- oleh yang wajib dibawa pulang ketika kita mampir ke Sidoarjo.
 
Teman- teman yang menjadi penggemar makanan ringan tentu akan senang dengan adanya produk keripik ini. Rasa- rasa yang ditawarkan memiliki khas masing- masing, seperti D’ Rujak, D’Sambal Petir, Classic Caramel Chocolate, Classic Caramel Durian, Cheese, Japanese Green Tea, Choco Banana, dan Hot Spicy

Melihat peluang pasar yang luas, Mekarsari yang dulunya hanya menjual produk- produknya secara offline, sekarang ini juga menjual produknya secara online. Jadi, buat kamu- kamu semua yang pengen merasakan enaknya GoBana sudah gak perlu khawatir lagi karena bisa beli produknya secara online. Tinggal klik ini klik itu GoBana segera sampai di depan rumahmu.

Gak perlu ragu kalau mau beli online, soalnya GoBana yang baru saja launching ini juga sudah merambah pasar internasional loh seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Oman, Bahrain, Saudi, Malaysia, Korea, dan Singapura. Nah, tau sendiri kan kalau produk yang mau masuk ke negara- negara tersebut harus memenuhi berbagai macam persyaratan. Jadi udah kompetitif banget nih GoBana, sudah teruji kualitasnya.

Soal harga 1 pack GoBana dibanderol dengan harga Rp. 15.000  saja, harga yang sebanding dengan rasa yang enak dan kualitas yang oke. Kalau mau harga lebih murah kamu bisa jadi Distributor atau resellernya. Informasi selanjutnya bisa kamu baca di web GoBana.

Web GoBana
Serunya lagi nih, program dari Mekarsari setiap 1 pack penjualan GoBana akan disisihkan Rp. 200 untuk sosial. Sasarannya ibu hamil yang tidak mampu membayar biaya rumah sakit dan anak- anak yang ingin melanjutkan sekolah namun tidak memiliki biaya. 

Setelah bu Ida menjelaskan tentang sejarah Roemah Snack Mekarsari dan usahanya, sekitar pukul 10.00 waktu Sidoarjo. Bu Ida bersama para undangan meresmikan peluncuran GoBana. Kemudian acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang seru. 


Bu Ida bersama undangan menunjukkan cara makan Pisang D' Petir
Nah, supaya gak penasaran soal varian rasa, nih aku beri gambaran ya biar kamu semua makin yakin kalau mau ngicip GoBana.

8 varian rasa Keripik Pisang GoBana Mekarsari


1.     Pisang D’ Rujak 


Kalau pisang jadi bahan tambahan rujak sih sudah biasa, kalau ini keripik pisang tapi rasa rujak. Manis, pedas, asin, lengket bercampur jadi satu. Cocok dinikmati degan es degan kayaknya ya.

2.     Pisang D’Sambal Petir





Penilaian pertamaku saat bu Ida mendemokan cara makan keripik pisang ini adalah "aneh". Keripik pisang original yang gurih dipadu dengan sambal cubit "petir" yang pedas. Pertama kali merasakannya, lidahku langsung berontak saking pedasnya. Sesuai dengan namanya ketika makan keripik pisang lalu dicolek ke sambelnya, saat masuk  ke mulut dan menyentuh lidah rasanya menggelegar seperti petir.

Sambal petir sendiri juga merupakan produk olahan yang dimiliki oleh Roemah Snack Mekarsari yang dibranding dengan nama Sambel Cubit Petir Jeng Ida. 

3.     Classic Caramel Chocolate


Keripik pisang dipadu dengan caramel adalah kombinasi yang cocok untuk lidahku karena rasanya yang umum. Penampilannya yang coklat mengkilat membuatku tertarik untuk makan lebih banyak. Jika biasanya makanan dengan campuran coklat kadang eneg, tapi GoBana memiliki komposisi yang pas.  

4.     Classic Caramel Durian 

 
Kalau lagi makan GoBana dengan rasa ini ibaratnya beli satu dapat dua rasa, pisang dan durian. Jadi kita makan pisang kombinasi rasa durian. Meskipun begitu, bau durian tidak terlalu menyengat. Jadi buat kamu yang gak suka sama durian, bisa coba makan GoBana dengan rasa ini. 

5.     Cheese



Buat yang suka keju, GoBana juga kasih varian rasanya. Kombinasi pisang dan bumbu menciptakan rasa yang Asin, manis, dan full of cheese. Jadi puas banget makan yang ini, apalagi kejunya dalam bentuk bubuk dan kamu gak akan merasa ditipu kayak rasa- rasa keju di tempat lain.

6.     Japanese Green Tea 


Matcha! Lagi hits kan sekarang matcha di mana- mana. Rasa GoBana green tea ini beda tentunya sama green tea dalam bentuk cair karena kalau minuman green tea lebih banyak rasa pahitnya sedangkan green tea yang ada di GoBana ini lebih manis.
7.     Choco Banana 


Saat kamu makan GoBana dengan rasa ini kamu akan merasakan banyak bubuk coklat meleleh dimulut. Rasanya tentu saja manis yang berasal dari pisang dan ditambah dengan bubuk coklat. Cocok dinikmati dengan teh tanpa gula.  

8.     Hot Spicy


Buat kamu penyuka pedas GoBana punya varian rasa Hot Spicy. Beda dengan yang lainnya, cabe yang digunakan berasal dari cabe asli yang dikeringkan lalu diolah menjadi bubuk. Bukan cabe dengan tambahan merica. Jadi pasti terasa pedasnya.

Unik dan asik semua kan ? Camilan baru dengan berbagai rasa bikin gak berhenti ngunyah, nagih lagi dan lagi. Apalagi packagingnya yang menarik juga memberi nilai tambah untuk GoBana. Kemasannya terbuat dari alumunium voil yang secara teori bisa menyimpan bahan makanan hingga satu tahun lamanya. Selain itu GoBana juga menggunakan kemasan stand- up pouch kombinasi zipper lock, jadi kalau misal kamu pengen bagi keripik pisang sama adikmu, gak perlu khawatir bakal melempem atau dijajah semut. 


Zipper Lock
Cara untuk membukanya juga mudah, cukup ikuti arahan yang ada di kemasan. Pertama sobek atau gunting dulu, baru dibuka zipper locknya.


Desain yang simpel tapi bercerita juga bikin orang tertarik untuk membeli produk ini. Selain itu karena GoBana merupakan keripik pisang yang gak cuma enak tapi sehat, makanya ada juga informasi nutrition facts per pack. Jadi kamu gak perlu khawatir lagi. Buat yang masih khawatir dan takut nyemil soal masalah kehalalan, tenang GoBana sudah punya sertifikat dari MUI.

Nutrition Facts GoBana
Label halal dari MUI dan komposisi GoBana
Tak terasa acara launching hampir selesai, selain mendengarkan penjelasan dari bu Ida kami juga dipersilakan untuk live twit. Sekitar pukul 12.00 acara selesai dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

Jadi buat kamu yang penasaran sama GoBana tunggu apalagi ? Buktikan sendiri enaknya keripik pisang GoBana si produk lokal yang siap untuk menjawab tantangan MEA dan menjelajah dunia.