Sabtu, Februari 25, 2017

Melihat Kembali Kemegahan Candi Borobudur

  No comments    
categories: 

Akhirnya, setelah 8 tahun kaki ini bawa saya datang kembali ke Magelang untuk singgah di Candi Borobudur. Kalau diingat-ingat terakhir kali datang ke tempat ini waktu study tour kelas 8 zaman SMP. Waktu itu saya duduk bareng Inang dan pak Dodik as guru matematika yang mendampingi kami SKAL. Tapi dulu sih taunya semua udah beres, mulai dari tiket masuk dan semuanya. Tapi kemarin itu adalah pengalaman pertama saya ngurusin semua sendiri, sebagai seorang backpacker. Hahaha.

Kalau dulu naik bus sekarang ini naiknya motor, dulu gak tau rutenya sekarang malah nyetir sendiri. Bahkan sempat kehujanan juga di jalan dan mau balik ke Jogja karena rasa-rasanya perjalanan ini gak ada gunanya. Piknik pas hujan mana enak, gak bisa menikmati pemandangan, suasana becek dan ya ribet barang bawaan. Tapi entah kenapa, kami tetap melanjutkan perjalanan karena gak ada kesepakatan antara saya dan kawan jalan ini untuk kembali pulang, ujungnya saya yang ngalah. Yayaya, baiklah.
Pas udah mulai masuk area Borobudur juga hujan makin deres aja, udahlah itu rasanya mau balik aja. Akhirnya dalam keadaan basah nyemek nyemek, saya beli jas hujan harga enam ribuan warna biru. Lah udah basah ngapain beli jas hujan segala? Iya ini tujuannya untuk mengamankan barang-barang berharga sih. Kamera, hp, dompet, dan sejenisnya. 

Perjalanan ini akhirnya dipenuhi dengan keluhan dan gerutuan. Hehe. Tapi memang magic sih pesona candi ini, meskipun cuaca lagi gak mendukung rupanya tetap ramai pengunjung yang datang. Waktu itu kami sampai di sini sekitar pukul 15.30 terus ribet ini itu dan baru masuk area candi setelah bayar parkir pukul 16.00. Padahal aturannya candi ini tutup jam 17.00. HAHAHA. Jadi kami cuma punya waktu satu jam doang buat explore! Halaaaah ya udah mau gimana lagi, udah bayar juga, eman- eman kan kalau terbuang percuma.

Jadilah liburan ke Candi Borobudur ini agak failed karena hujan. Tapi ternyata pas udah naik ke lantai paling atas, lihat pemandangan sekitarnya jadi bagus banget loh. Kabutnya keren jadi kayak ada di atas awan gitu. Habis menggerutu terbitlah syukur. Haha. Mau kayak gimanapun, candi ini tetep megah dan mewah.

Jadi, kalau misalnya diajak kesini lagi sih saya tetep mau. Eh, asal gak naik motor aja ya.


Kamis, Februari 23, 2017

Cara Mudah Membuat Akun TripAdvisor

  1 comment    
categories: 
[tulisan ini murni ulasan pribadi tanpa embel-embel sponsor]
[Source : tripadvisor.co.id]
Sekitar dua minggu terakhir ini, saya mulai rajin look back ke perjalanan yang pernah saya lakukan selama ini, dari foto-foto dan blog. Mulai dari yang dekat-dekat aja di sekitar Jawa, saat di Batam dan saat pergi ke Singapura. Awalnya sih karena iseng malam-malam gak bisa tidur akhirnya lihat foto-foto dari zaman masih pakai kacamata belum ada framenya sampai sekarang udah full frame.

Kemudian entah kenapa saya terpikir untuk membuat rencana perjalanan akhir tahun ini. Seperti keinginan pertama saat membuat paspor, minimal sekali dalam satu tahun paspor ini kalau bisa harus ternoda oleh cap. He. Tangan ini mulai membuka laptop dan mengetikkan kata itinerary jepang murah, kemudian muncul banyak sekali rekomendasi tempat asyik untuk para backpacker berkantong cekak seperti saya. Wah banyak banget deh yang udah sharing pengalamannya, kemudian saya membuka TripAdvisor dan membaca ulasan di sana.

Baca Juga : Cara Mudah Membuat Paspor 

Dalam diam ditengah malam sembari menghadap laptop, mata saya melempar pandangan ke foto mbah uti di dinding kamar, lalu teringat akan pesannya saat saya mulai masuk kuliah. "Nduk, jadi manusia harus yang bermanfaat dan bermartabat, biar dihargai sama orang lain". Entah apa korelasinya dari lihat foto perjalanan, ketik TripAdvisor dan pesan mbah uti. Tapi memang tengah malam saat tak bisa tidur itu adalah waktu paling random karena pikiran pasti ambyar kemana-mana. Maka sesaat kemudian saya mulai klik daftar dan membuat akun TA, saya juga pengen berbagi pengalaman saya yang masih seupil kecil ke orang-orang melalui cerita dan tulisan di web paling fenomenal dikalangan pejalan ini.

Wah ternyata saya ketagihan! Dari malam sampai pagi gak jadi tidur karena keasyikan nulis ulasan, beneran kecanduan sama tripadvisor. Soalnya seru apalagi kalau pas dapat notifikasi poin, jadi makin semangat nulis ulasan. Haha. Meskipun poin di TripAdvisor ini kabarnya tidak dapat di reedem untuk apapun. Poin-poin ini adalah ungkapan terimakasih dan apresiasi TA untuk contributornya. Ohya TripAdvisor itu merupakan website yang concern di bidang pariwisata, disitu ada banyak banget user as traveller dan listing (pemiliki bisnis) tour, travel, restoran, hotel dan segala macam yang berhubungan dengan pariwisata. Perusahaan ini didirikan oleh Langley Steinert dan Stephen Kaufer pada tahun 2000 bulan Februari dan kantornya ada di Massachusets, Amerika sana.

Di sini kita bisa lihat banyak banget rekomendasi tempat wisata seklaigus dengan rate kualitasnya. Nah rate ini merupakan review/ ulasan dari para turis yang sudah datang dan merasakan langsung kondisi tempat wisata tersebut. Jadi kita bisa mempertimbangkan untuk memilih tempat wisata mana yang akan dikunjungi atau hotel mana yang sesuai dengan kita banget (budget, lokasi, kondisi dan lainnya). Kalau buat listing sih tripadvisor ini bisa jadi salah satu media promosi usahanya. Kayak kemarin saya sempat ulas Hotel Aston di Bojonegoro dan dibalas sama General Managernya, kayak gini kan rasanya seneng sebagai konsumen.

Jadi buat pejalan/ pembolang yang belum punya akun tripadvisor, yuk bikin. Lumayan bisa sharing pengalaman dan tentunya buat gaya-gayaan. hehe tetep. XD. Caranya mudah banget kok, guampil!. Ikutin ya,
[Tampilan web TripAdvisor]
  1. Pastikan punya gadget/ laptop serta jaringan internet buat akses websitenya,
  2. Masuk ke https://www.tripadvisor.co.id,
  3. Sudah? klik join/ bergabung, kita bisa menggunakan facebook atau email,
  4. Lalu edit deh profil kamu, seperti ganti foto, informasi kota domisili, dan lainnya. 
  5. Sekarang kamu sudah siap menulis ulasan dan membagikan kisah perjalanan kamu. 
Mudah banget kan? Mudah dong, cuma modal internet tok. Eh iya, kalau mau nulis ulasan di TA gak harus via PC kok, soalnya udah ada aplikasinya juga yang bisa di download di google store. Semoga bermanfaat ya. 

Senin, Februari 20, 2017

D’Leon Café Pare

  9 comments    
categories: 

"Pemilihan nama cafe ini sebenernya sudah berkali-kali berubah, sampai akhirnya memilih nama D'Leon karena terinspirasi dari kartun One Peace. Mba tau nggak kartun One Peace?" tanya mas Arief kepada saya.

"Tau mas, cuma ngga ngikutin sih", lempeng.

"Iya sebetulnya nama D ini masih jadi misteri tapi menurut fans One Peace D itu punya arti tekad D, maksudnya suatu tekad yang diwariskan turun temurun dari masa ke masa. Sedangkan Leon itu punya arti berani seperti Singa. Jadi maunya D'Leon ini........ bla bla bla bla bla bla. Jadi gitu mba".
..... terusannya saya gak nyimak. tapi nanti akan saya konfrm ulang ya. Hehe. Digetok pembaca, ampuuuuun.
[Suasana saat scoring]
Nah D'Leon ini adalah cafe sekaligus tempat untuk kursus bahasa Inggris. Yuhu semua tentu udah pada tau dong kalau kawasan Tulungrejo Pare merupakan daerah Kampung Inggris, di mana banyak banget tempat yang menyediakan sarana untuk belajar berbagai macam bahasa. Jadi kalau kursus di tempat ini setelah kursus bisa nongkrong nunggu kelas selanjutnya.
Nah kemarin saya ngopi di sini barengan sama Fatkhi dan Ria Lyzara. Niatnya sih cuma mau copy foto hasil jalan-jalan ke Kebun Anggrek di Kelud. Eh keterusan deh ngobrol sampai malam dan gak lupa lagi-lagi main boomerang sampai peluh membanjiri seluruh tubuh. Halah. Kami ngobrolin apa? Banyak! Biasalah cewek ya kan.
[Fatkhi, Ria Lyzara, me]
D'Leon ini selalu ramai soalnya pasti bakalan ada yang keluar masuk tempat ini, baik untuk kursus ataupun ngopi. Tempatnya sih asyik ya kalau sekedar nongkrong aja, apalagi disambi main wifi. Haha TETEP. Soal makananya sih standar cafe pada umumnya,tapi harganya murah. Kemarin saya pesan lemon tea kemudian habis, lalu pesan lagi milkshake dan ditemani dengan camilan pisang coklat keju totalnya gak habis Rp 20.000. It's really cheap enough, harga anak kosan banget. Apalagi kalau pas kere gak punya duit dan tetep pengen nongkrong sambil pamer foto di instagram, bisa banget datang ke D'Leon.
[Tremor detected]
Sebenernya sih setiap tempat yang saya kunjungi selalu ada hal yang saya suka dan gak saya suka. Nah yang saya suka dari tempat ini adalah suasananya terasa hangat, mungkin karena penggunaan lampu warna oranye dipadu dengan meja kursi yang diplitur halus gitu kali ya. Terus tempatnya bersih banget padahal krunya cowok semua loh, pelayanan juga cepat pokoknya pesanan kita akan tersaji kurang dari 5 menit. Soalnya kalau buat saya, menunggu pesanan yang lama datang itu menyengsarakan jiwa dan raga. Apalagi kalau udah lapar banget, makin emosi lah itu. Nah sayangnya D’Leon ini parkirnya sempit banget, ditambah dengan sepeda anak-anak yang sedang kursus jelas makin berjubel dan susah keluar dari area. Tapi untungnya mas-mas di sini baik hati mau menolong dan gak apatis.


Jadi buat yang di Pare dan lagi kere, you shold try to nongkrong asyik di D’Leon.

D’Leon Café
Jalan Anggrek 11B, Pare, Kediri (Depan Ganesha Operation- Perempatan Masjid An-Nur ke Utara.
IG : @dleoncafe

Senin, Februari 13, 2017

Berkunjung ke Keraton Yogyakarta

Ini adalah pertama kalinya saya berkendara sejauh ratusan kilo meter menuju Jawa Tengah dengan sepeda motor, 10 jam perjalanan kami tempuh untuk sampai di kota penuh sejarah ini. Rasanya? Jangan ditanya, capek banget! Kalau disuruh balik ke Yogya lagi naik motor udah pasti jawabannya KAPOK. Cukup sekali aja buat pengalaman dan pelajaran.
 
Baca Juga : Terpesona Keindahan Tamansari Water Castle

Perjalanan ke Yogya ini disponsori oleh niat dan keperluan mendadak pergi ke Jogja untuk mengurus sekolah lanjutan. Sambil menyelam minum air ya kan, mumpung di Yogya ya main-main lah ke wisatanya. Nah karena waktunya mepet sekali, kami harus pandai-pandai memanage waktu supaya semua urusan selesai tepat waktu dan sisanya bisa digunakan untuk jalan-jalan. Setelah semua selesai, kami mulai membuat rencana berkunjung ke beberapa lokasi wisata yang mudah dijangkau. Apalagi ceritanya ini kami beneran buta arah jadi cuma mengandalkan GMaps, thok. Oke akhirnya beberapa lokasi wisata siap kami datangi, salah satunya Keraton Yogyakarta ini.

"Yogya ramai banget, ya!" 

"Emang pernah sepi?"

"Iya sih"

Setelah memarkir kendaraan kami berjalan menuju loket untuk masuk Keraton, harganya murah meriah goceng aja per orang ditambah dengan biaya kamera Rp 1.000. Oke saatnya mengeksplore Keraton Yogya! Ohya yang akan saya ceritakan ini adalah Keraton yang ada di depan Alun-alun Utara ya. Begitu memasuki area Keraton kami langsung disambut dengan patung buto (wajah raksasa), disitu saya sempat kaget dan ini kayaknya cocok buat nge-prank. Mengulik lebih dalam ternyata sedang ada pagelaran wayang kulit, tapi kami tidak berniat untuk melihat karena mau explore keraton bagian dalam.

 Saya sepertinya agak lupa-lupa ingat, dulu saat SMP pernah study tour ke Keraton Yogya juga tapi entah Keraton yang bagian mana. Bangunan di Keraton ini megah banget, bahkan Ilham sampai berandai-andai suatu saat pengen punya rumah sebesar dan semegah Keraton ini.
[busana prajurit]
[Museum kaca- atap simbol matahari ini punya makna humanity and wisdom]
Kami masuk ke beberapa tempat untuk melihat peninggalan di masa lalu. Eh tapi ada satu tempat yang boleh dikunjungi namun tidak boleh dipotret. Jadi kalau pengen tahu datang aja ke Yogyakarta ya!. Ada banyak hal yang bikin saya suka datang ke Keraton ini, salah satunya adalah saat melihat para abdi dalem yang sudah sepuh nyinden dan memainkan gamelan Jawa. Hal yang membuat saya iri, kenapa si mbah-mbah ini suaranya bagus banget kalau pas nyinden, sumpah iri deh!. Saya sempat duduk agak lama di sini untuk mendengarkan para abdi dalem ini memamerkan talentanya. Itulah bukti kalau kebudayaan lokal masih eksis sampai sekarang. Sayangnya kemarin gak ada anak muda yang ikut dalam pagelaran. Jadi perlu banget nih memupuk rasa cinta terhadap kebudayaan lokal.

Setelah 3 jam dan puas berkeliling Keraton kami bersiap untuk explore tempat wisata lain di Yogyakarta. Seneng banget bisa keliling di Keraton ini, banyak informasi dan pelajaran yang gak ada di buku. Soalnya saya ikut tour bareng bule. Jadi pengen tinggal di Yogya biar bisa explore banyak tempat asyik dan bersejarah.

Next, cerita berkunjung ke Borobudur.

Keraton Yogyakarta 
Senin- Minggu 
08.00- 16.00 WIB


 

Kamis, Februari 09, 2017

5 Tempat Wisata di Surabaya yang Ingin Saya Kunjungi di Tahun 2017

Ngomong-ngomong soal Surabaya, siapa sih yang gak tahu nama daerah ini. Orang Indonesia kebacut pol kalau sampai gak tahu, ya udah deh kalau emang gak tahu minimal pernah dengar lah ya. Secara Surabaya ini kan salah satu kota yang bersejarah selama zaman kemerdekaan, bahkan sampai punya sebutan kota pahlawan karena saking heroiknya dulu saat pengusiran VOC dan lagi di Surabaya kan punya banyak tempat bersejarah, salah satunya Jembatan Merah. Eh ini ada lagunya juga, ciptaan Gesang.

Nah dulu waktu kecil saya itu sering diajak ke Surabaya naik bus sama mbah kung. Rasanya kalau pergi ke Surabaya kayak jauuh banget, berangkatnya pagi terus pulangnya sore. Pokoknya dulu seneng banget deh rasanya. Lah sekarang pas udah besar gini malah sering banget pergi ke Surabaya sendirian, naik motor terus balik hari (pulang-pergi di hari yang sama), bisa seminggu 3-4 kali perginya. Apalagi pas zaman habis lulus kuliah kemarin, pas masih jobless jadi sering ke Surabaya untuk memenuhi panggilan wawancara dan gathering blogger.

Sayangnya saya ke Surabaya selama ini ya cuma gitu aja, seringnya datang ke acara terus pulang, kadang stay semalam kalau pas punya voucher hotel. Jarang banget datang ke Surabaya khusus untuk berwisata. Padahal di kota pahlawan ini banyak banget tempat asyik yang must visit buat nambahi koleksi foto di instagram. Hehe. Duh kenapa saya baru menyadarinya setelah sekian lama, yak. Padahal di Surabaya banyak juga temen yang semoga siap sedia kalau diajak melipir kesana-kemari.

Dari sekian banyak wisata di Surabaya ada 5 tempat yang pengen banget saya datangi tahun 2017 ini. Apalagi pas hits banget 'Oke Google' kemarin, jadi makin pengen datang khusus untuk berwisata, explore Surabaya. Ya masa ibukota sendiri gak pernah dijamah wisatanya, memang dasar saya ini manusia Jawa Timur yang masih magang. Hehehe.

Nah ini dia tempat wisata yang mau saya datangi, 


Tugu Pahlawan

Seriusan saya belum pernah ke sini. Yaampun lepak kali dah. Padahal Tugu Pahlawan ini kan salah satu tempat yang punya historical buat Surabaya. Ya memang cuma sebuah monumen berbentuk paku terbalik dengan tinggi 41,15 meter dilengkapi ornamen canalures (lengkungan) sebanyak 10 buah dan terbagi dalam 11 ruas. Ternyata angka-angka ini punya arti 10-11-45 yang merupakan tanggal bersejarah buat Indonesia.  Tugu Pahlawan ini lokasinya ada di tengah kota Surabaya dan berdekatan dengan Kantor Gubernur. Nah kalau datang ke Tugu Pahlawan ini saya nanti juga mau main ke museum bawah tanahnya.

Klenteng Sanggar Agung
Pernah lihat iklan "Oke Google" pas di Surabaya, khan? Pas sunrise dua pejalan duduk-duduk dibawah gapura berbentuk naga. Nah itulah Klenteng Sanggar Agung. Di sini sih katanya dekat sama Pantai Kenjeran dan ada patung Kwan Im yang tinggi banget letaknya ada di tepi laut. Klenteng ini gunanya udah pasti buat beribadah umat Tridharma, tapi juga dibuka untuk umum sebagai lokasi wisata. Saya pengen datang ke sini soalnya memang penggemar tempat ibadah sih. Suka aja datang ke tempat ibadah umat lain, bisa tau dan belajar hal baru. Mungkin Sanggar Agung ini juga hampir sama kayak Pa-Auk Tawya Vipassanā Dhura Hermitage di Rempang, Batam.

Monumen Kapal Selam (MonKaSel)
Tahun lalu mba Rahmah sempat ajak saya untuk main ke Monkasel, sayangnya karena keterbatasan waktu rencana ini gagal dan sampai sekarang ini belum terlaksana. Monumen kapal selam ini tampak luar seperti ada kapal yang sangat besar kombinasi warna hijau dan hitam. Nah ternyata kapal yang dipajang ini adalah kapal yang pernah digunakan dalam pertempuran di laut Aru, namanya KRI Pasopati 410. Jadi ada apa aja ya di dalam kapal ini? Let’s see! Gak sabar mau datang ke sana.

Museum House of Sampoerna
“Main o ke House of Sampoerna, ben kamu tau nek arep dadi legend iku perjuangan e yo berat” kata salah satu teman saya. Saya inget banget dia ngomong kayak gitu pas masih zaman kuliah, pas saya masih cupu belum berani pergi jauh-jauh. Nah setelah saya baca-baca dari reviewnya HoS ini merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi. Ya meskipun saya bukan perokok sih ya, tapi kan saya juga pengen tahu sejarahnya produsen rokok kretek yang paling terkenal ini. Nanti deh saya tulis ulasannya versi saya tentunya kalau sudah berkunjung, ya.

Ekowisata Mangrove Wonorejo
Seumur hidup saya yang hampir menginjak ¼ abad ini, baru sekali saya mengunjungi hutan mangrove. Itupun saat melakukan kunjungan singkat ke Probolinggo, tepatnya di Pantai Bentar. Ternyata di Surabaya yang metropolitan ini juga ada ekowisata mangrove dan OMAEGAD saya baru tahu setelah lihat di blog teman. Nah karena sering pergi ke Surabaya belum sah kayaknya ya kalau belum mampir ke tempat ini. Kayaknya sih kalau datang ke sini enak sore-sore gitu kali ya, sambil ngadem. Tapi jangan pas musim hujan sih, nanti gak bisa foto-foto asyik.

Semoga tahun ini bisa terlaksana deh main ke 5 tempat wisata ini, kan tahun 2017 juga baru memasuki bulan ke dua, jadi pasti ada waktu. *Optimis. Rencananya sih pengen pergi ke wisata-wisata ini barengan sama keluarga atau temen blogger gitu pasti lebih seru dan asyik yak, ramai-ramai kayak famstrip. Apalagi soal akomodasi udah gak pusing lagi, soalnya udah ada sewa mobil Surabaya. Jalan-jalan kemanapun gak perlu worry apalagi kalau dalam jumlah banyak.



Jadi, ada yang mau jalan bareng saya ke 5 wisata di Surabaya ini? Yuk.

Selasa, Februari 07, 2017

Icip Kuliner Anambas Mie dan Luti Gendang di Kedai Kopi Mie Tarempa Batam

Siang-siang iseng nonton Kompas TV Big Bang! Show, terus pas banget yang lagi dibahas itu kuliner vegetarian yang bahan dasarnya jamur. Foundernya bilang makanan ini beneran vegetarian karena prosesnya alami dan tanpa bawang, apalagi untuk bisnisnya ini mereka bekerja sama dengan salah satu vihara Maitreya di Dukuh Kupang, Surabaya. 

Eh, pas ngomong vihara Maitreya saya langsung rindu sama makanan ciak ce di resto Maitreya, Batam. Eh sebenernya alasan aja sih, bisa jadi ini karena kangen sama Batam-nya. Biasalah orang mellow gini denger apa dikit udah langsung kangen. Iya saya orangnya gampang kangen dan dikangenin. Terus akhirnya cuma bisa ngiler aja karena di Kediri belum nemu tempat makan vegetarian kayak di Batam. Ya karena memang di sini gak ada vihara besar, mungkin nanti kalau pas pergi Surabaya saya mau mampir ke Dukuh Kupang.

Terus daripada kangen-kangen doang, saya nulis aja lah biar produktif. Secara blog ini butuh nutrisi juga biar gak kurus kering kayak yang punya. Sekalian pamer kalau pernah makan makanan khas Pulau Anambas, ya meskipun belum pernah datang ke Anambas sih yang penting udah icip kulinernya dulu. Padahal waktu itu pas saya datang pertama kali ke Batam dan bergabung dengan Blogger Kepri, di grup udah ada obrolan temen-temen di sana mau trip Anambas sekitar bulan Maret-April. Lha dalah malah saya sekarang udah gak di Batam lagi. Haha.

[Menul-menul banget nih]
Ohya, makanan khas pulau Anambas ini yang paling terkenal ada 2, Mie Tarempa dan Luti Gendang. Tapi ada banyak menu juga selain 2 jenis itu, ada gado-gado Tarempa, sate Tarempa, kwetiaw sapi, Ngo Hiang Ikan, dan masih banyak. Tapi saya cuma pernah coba Luti Gendang dan mie Tarempa saja dan cocok sih buat lidah super Jawa ini, khususnya untuk Luti Gendangnya kalau mienya sih sama aja kayak mie kuah pada umumnya, cuma bumbunya lebih kuat dan kental. Ada makanan di Batam yang sama sekali gak cocok buat saya, Prata. Muehehe. Aneh aja masa roti di makan sama kuah kari ayam.
[Montok dan sexy]
Eh dari kedua makanan ini saya paling favorit Luti Gendang, pernah pulang kantor agak malam terus mampir di Kedai Kopi ini pesan Luti Gendang yang masih anget terus ditemani sama es teh tarek. Wuih surga dunia kali, wak. Enak pol tapi sayang sendiria sih waktu itu. Hahaha.

Luti gendang ini sama kayak roti goreng cuma teksturnya padat gak kopong (kosong) dan didalamnya ada isian abon dengan bumbu yang khas. Kalau bahasa inggrisnya mungkin fried dough filled with fish-floss and chili. Jadi rasanya itu manis, gurih agak pedas sedikit dan aroma isiannya nyengat banget, enak gak eneg. Apalagi pas digigit gitu krenyes di luar karena memang gorengnya kering tapi pas dikunyah dalamnya lembut. Entah kekuatan magic apa yang bisa bikin Luti Gendang seenak itu.

[Isian abon Luti Gendang]
Kalau mie Tarempanya kemarin saya nyobain 2 jenis, mie Tarempa kuah dan basah. Mie di tempat ini menggunakan mie ombo atau mie lebar yang warnanya putih itu. Terus dimasak dengan menggunakan bumbu khas melayu kayaknya ya. Saya gak begitu notice sih karena menurut saya mie di semua tempat itu ya sama saja. Tapi gak tau deh nanti kalau kamu nyobain mie Tarempa gimana.
[Mie Tarempa kuah]
[Mie Tarempa Basah-ngecemes]

Harganya juga gak begitu mahal sih, untuk Luti Gendangnya dibandrol Rp 2.500/ biji, sedangkan untuk mie Tarempa dibawah Rp 12.000. Ini sih worth it lah ya antara harga dan rasanya yang beneran enak, kalau menurut saya. Jadi buat kamu yang di Batam atau lagi pas pergi ke Batam, sempetin mampir ke Kedai Kopi Mie Tarempa ini deh buat icip kuliner Anambas. Setidaknya kalau belum pernah datang ke daerahnya kita udah pernah nyobain kulinernya. 

Kedai Kopi Mie Tarempa
Jl. Laksamana Bintan | Komplek Ruko Royal Sinkom blok D 15-16, Batam Center, Kepri




Senin, Februari 06, 2017

Terpesona Keindahan Taman Sari Water Castle

Bangunan putih kecoklatan, taman air, dan lorong gelap berlumut ini rasanya jadi ciri khas dari Tamansari Water Castle Yogyakarta, setelah menelusurinya sih saya baru bisa menyimpulkan seperti ini. Beberapa kali datang ke Yogya, ini pertama kalinya saya berkunjung ke tempat mandinya para raja dan ratu yang ternyata bagus banget dan tentunya instagramable. Agak menyesal sih, kenapa gak dari dulu gitu mampir. Haha


Ini adalah perjalanan saya keluar Jawa Timur pertama kalinya lagi setelah pulang dari Batam. Datang ke Yogya dengan bikepacker selama 3 hari membuat saya tahu, Yogya sekarang makin cantik dan tentunya selalu ramai. Eh wait, bikepacker? Yas. Perjalanan 10 jam kami tempuh dari Malang hingga Yogyakarta. Tujuannya untuk datang ke UNY dan UGM dan selebihnya cuma mau ke tempat mainstream di Yogya, sih. Salah satunya Tamansari ini.

Kami datang pukul 08.00 dan ternyata masih tutup, jadinya nunggu dulu deh sampai buka sekitar pukul 09.00 lebih dikit. Datang ke Tamansari dari hostel ini perjuangan dan penuh dengan perdebatan, soalnya kami sama-sama gak tau sama sekali arah dan lokasi. Makanya lewat postingan ini saya mau mengucapkan thankyou so much buat GMaps. Haha. Nunggu satu jam ngapain aja? Udah pasti foto-foto di depannya dong! Soalnya kan gak bocor tuh pastinya. Hehe. Selebihnya duduk gak jelas sambil ngobrol soal program S2.

Baca : Jogjakarta, Rindu Ingin Jumpa

Begitu Tamansari buka kami langsung beli tiket, masih pagi dan antrean udah panjang. Untung kami duluan jadinya gak nunggu lama deh, tiketnya untuk lokal goceng aja perorang dan tiket kamera Rp 2.000. Tapi ada drama nih pas beli tiket, gini ceritanya, waktu itu kami agak kebingungan soalnya gak punya uang receh buat beli tiket kamera. #GAYAMU. Jadi kami bawa 2 kamera, nah uang recehnya cuma punya tiga ribu doang, berarti kurang seribu. Terus ibu loket bilang kamera satunya taruh aja di kendaraan biar gak bingung. Yaudah deh beli 1 tiket aja buat kameranya. Tapi hati kok rasanya gak ikhlas kalau cuma bawa satu kamera, gak bisa candid-candid'an dong. Haha. Akhirnya kami tetep usaha, setelah mengais-ngais cari receh di dalam tas dan saku eh nemu recehan lima ratuan ada dua biji. Langsung deh antre lagi beli tiket satu lagi buat kamera. Ohya kamera yang bayar itu khusus action cam, dslr, mirorless dan sejenisnya.

 Udah beres urusan drama tiket, kami langsung explore Tamansari ini. Waktu itu kami memang sengaja gak pakai guide soalnya malam sebelumnya udah baca-baca di internet. Jadi saat berwisata ini khusyu' mau menikmati dan foto-foto. Masuk area Tamansari tiket kami diperiksa, setelah dicek simpan aja jangan dibuang. Soalnya nanti waktu kita mau masuk ke masjid bawah tanah bakalan dicek lagi.

[Batu bergambar teratai berjumlah 5, simbol waktu menunaikan ibadah sholat] 
Menyusuri area Tamansari bagian depan ini bikin saya pengen renang, airnya kelihatan seger banget deh apalagi Jogja panas banget waktu itu. Sayangnya sih gak boleh mandi di sini. Hehe. Ohya kalau kita sudah keluar dari area utama ini kita belum selesai ya tripnya. Jangan balik lagi karena ga bisa dan gak boleh, kalau memang mau balik lagi artinya harus beli tiket baru. Nah misal bingung tanya aja sama penjaganya, ruang bawah tanah di mana. Nanti pasti akan ditunjukkan sama penjaganya, soalnya sih kita harus lewat perkampungan penduduk dulu. Fyi, para penduduk yang ada di perkampungan ini adalah keluarga abdi dalem.

Begitu sampai di masjid bawah tanah, tiket kita akan dicek lagi. Terus kalau udah masuk aja deh, memang agak creepy sih soalnya gelap. Aura sejarahnya dapet banget, agak ngeri gitu atau emang saya yang cemen kali ya. Hehe.

Ohya, tempat ini dulunya merupakan sumur dan sekarang hits banget, belum ke Tamansari kalau belum menyusuri semua tempat yang instagramable ini. Sebenernya agak membingungkan rutenya kalau buat yang masih pertama datang kayak saya. Tapi semua bagus sih, seperti menyusuri lorong waktu dan kembali ke masalalu. Trip 2 jam di Tamansari sukses bikin saya terpesona, sayangnya cuma satu aja sih. Cuacanya panas banget dan itu sempat buat saya bad mood. 

Setelah Tamansari, enaknya kemana lagi?
Cerita ini masih berlanjut.

Kamis, Januari 26, 2017

Hemat Waktu dengan Memanfaatkan Citilink Web Check In

Tulisan ini diposting berdasarkan pengalaman pribadi menggunakan Web Check In.

Ohya, temen-temen di sini ada yang belum pernah naik pesawat? atau malah udah sering banget? Kayaknya rata-rata udah semua ya, kan sekarang ini harga tiket pesawat udah kayak harga naik bus antar propinsi atau kereta. Apalagi banyak penawaran promo, jadi udah lumayan terjangkau banget. Kayak kemarin pas lebaran tahun lalu pulang ke Jawa dan baliknya ke Batam, saya  menggunakan pesawat dengan maskapai Citilink. Menyadari kalau saat itu adalah arus balik, maka saya mencoba memanfaatkan fasilitas Citilink Web Check In. Bener aja, saat akan check in bagasi suasana counter Juanda gak ada bedanya sama pasar. Rame bange padahal masih jam 04.00 pagi, kayaknya pada tidur bandara.

Terus pas pulang ke Jawa lagi bulan Nopember kemarin saya kembali menggunakan fasilitas ini karena waktunya mepet, jadi pukul 12.00 waktu Singapura atau pukul 11.00 WIB saya masih ada di Harbourfront menunggu jadwal pulang ke Indonesia dan pukul 14.00 saya udah harus ada di Bandara Hang Nadim untuk terbang ke Surabaya.

Baca : Backpacker Hemat Singapura

Jadi dua kali pakai fasilitas web check in ini solutif banget kalau menurut saya, soalnya bisa memperpendek waktu check in di counter. Lho? Emangnya kalau udah check ini online masih harus ke counter ya? Iya dong karena kita harus verifikasi dan check in bagasi untuk mendapatkan boarding pass.

Caranya mudah aja kok, gak ribet banget.

1. Masuk ke Citilink Web Check In - https://book.citilink.co.id/SearchWebCheckin.aspx ;

[Web Check In]
2. Masukkan Nomor Konfirmasi dan nama belakang. Untuk nomor konfirmasi kita dapatkan dari kode booking di e-ticket. Untuk yang pesan tiket di situs booking online seperti Traveloka kode bookingnya ada 6 digit. Lalu input nama belakang kamu;

[Booking Code digunakan untuk check in online di Web Check In]
3. Nanti otomatis data kita akan muncul. Lalu centang check in di rute tujuan kita dan jangan lupa pilih seat ya. Kalau saya kemarin karena harus transit dan ingin duduk bersebelahan dengan sepupu maka saya pilih SUB-CGK untuk pilih seat;

[Tampilan web]

4. Ohya untuk maskapai Citilink kita akan kena charge Rp. 30.000 jika melakukan booking seat. Tapi kalaupun memang cuma mau check in aja dan gak pilih kursi, gak perlu bayar alias gratis kok, lalu yang terakhir;

5. Pastikan semua sudah di cek untuk melakukan pemesanan. Tinggal oke oke oke. Selesai deh.

Mudah kan? Mudah banget, apalagi gak ribet juga. Kalau sudah check in online artinya data kita sudah terekam di servernya bandara, gak akan khawatir ketinggalan pesawat deh. Tapi meskipun begitu kamu juga harus tetap disiplin sama waktu, ya. Kan lebih baik menunggu daripada ditinggal. Belajar untuk menghargai waktu adalah cerminan diri manusia yang baik. Tsah. 

Semoga bermanfaat, ya!

Note : Semua gambar di atas adalah milik pribadi dan tanggalnya sudah expired.

Minggu, Januari 15, 2017

Running Trail di Bukit Kura-Kura Onga'kan

  3 comments    
categories: 
[Spot yang bagus untuk foto-foto]
Tempat hits lainnya setelah Kampoeng Anggrek adalah Bukit Kura-Kura Onga'kan yang ada di Besowo. Daerah paling ujung timur Kediri yang berbatasan dengan Kasembon- Malang. Kemarin saya berkunjung ke tempat ini untuk menemani teman yang sedang running trail pertamanya di tahun 2017 untuk persiapan running Tawangmangu.

Saat itu hari Minggu dan cuaca cukup mendukung untuk melakukan kegiatan running. Kami berangkat pukul 08.00 pagi dari Pare menuju Besowo. Padahal nih masing-masing dari kami belum ada satupun yang pernah berkunjung ke Onga'kan. Akhirnya dengan mengandalkan GPS sebagai petunjuk jalan kami bersiap untuk berangkat. Rute yang kami tempuh dengan mengikuti GPS adalah Pare-Gadungan-Manggis-Sepawon-Puncu. Setelah hampir 1,5 jam perjalanan nyatanya Onga'kan tak kunjung terlihat. Bahkan kami harus menempuh jalanan berbatu jika mengikuti arahan dari GPS.

Hingga akhirnya kami berjumpa dengan seorang bapak yang sedang bongkar muatan,

"Mau ke onga'kan? Salah jalur! Jangan ikuti GPS karena sudah banyak yang tertipu. Ini rute untuk motor trail. Lewat saja Kepung sampai bertemu dengan patung Rinjing nanti belok kanan, lurus, sudah itu Onga'kan".

Akhirnya kami putar balik dan saya sempat menyuarakan sumpah serapah karena kecewa. Syem. Baru kali ini saya dibablasin sama GPS sampe separah ini. Haha. Hingga akhirnya sekitar pukul 10.00 WIB kami sampai di latar ombo atau centre point Onga'kan. Tidak menunggu lama, si kawan langsung bersiap untuk pemanasan dan akan lari dari centre point hingga puncak Onga'kan. Saya? Tentunya naik motor dong ke atas. Haha.
[mestakung]
Jarak antara centre point dan puncak Onga'kan kurang lebih 5 km, tentunya dengan contour tanah yang menanjak dan rusak, karena memang infrastrukturnya masih belum sempurna untuk tempat wisata. Masih jalan setapak yang dibuat sekenanya asal bisa dilewati dan sama sekali belum ada jalan paving yang bagus untuk memudahkan pegunjung. Ohya, jarak centre point dan gerbang masuk Onga'kan adalah 3 km dan sisanya 2 km. Terbayang? Teman saya running sekitar 58 menit untuk menempuh jarak 5 km. Sedangkan saya sekitar 35 menitan dengan naik motor. Eh bahkan beberapa kali ada yang terjatuh karena tidak fokus dalam berkendara.

Tiket masuknya murah meriah aja, goceng untuk satu orang dan tiga ribu untuk motor. Bisa gratis juga sih kalau bilang anak bupati. haha. Disini kita juga bisa mengistirahatkan motor sejenak, soalnya kan sudah pasti mesinnya panas karena dipakai trail. Apalagi kalau motornya matic kayak yang saya pakai. Pulang langsung servis kayaknya sih.

Konter tiket
Sesampainya di atas, ternyata kondisinya rame pol! Ya memang sih saat itu hari libur jadinya gak bisa disalahkan juga kalau sampai penuh, bahkan saking ramenya saya gak punya kesempatan untuk mengambil gambar tanpa bocor. Pupus sudah niat untuk eksis di tempat paling hits se jagat Besowo. Namun tak masalah, masih ada lain waktu untuk menikmati Onga'kan tanpa kebocoran pandangan.

Harapannya saya sih kedepannya akan ada banyak fasilitas untuk wisata ini, ya. Seperti akses jalan yang lebih bagus dari sebelumnya, MCK, tempat parkir dan tentunya para pengunjung juga disiplin kalau lagi ada di tempat wisata.

Segitu dulu deh ya, kapan-kapan kita jalan-jalan dan cerita lagi. 
Bukit Kura-Kura Onga'kan, Besowo, Kediri. 

 

Cantiknya Warna-Warni Bunga di Wisata Kampoeng Anggrek Kediri

  14 comments    
categories: 

Akhirnya setelah sekian lama cuma dipamerin foto-foto wisata baru di kampung sendiri oleh teman, kemarin saya bisa singgah di salah satu wisata yang sedang hype bagi kalangan masyarakat Karisidenan Kediri. Wisata ini dikenal dengan nama Kampoeng Anggrek dan berada di kawasan Wisata Gunung Kelud, tepatnya berada di Desa Sempu, Kecamatan Ngancar. Lokasinya berada sebelum pintu masuk Gunung Kelud, buat yang gak notice sama rambu lokasi pasti kebablas soalnya memang gak begitu nampak sih ya.
[Pemandangan Wisata Kampoeng Anggrek dari ketinggian. Foto : Fatkhi]
Saya pergi ke wisata ini bersama tiga teman yang lain, Fatkhi Rizkya, Ria Lyzara, dan Sasky Dwi. Fatkhi dan Ria adalah teman saya saat SMA sedangkan Sasky adalah teman masa SMP, sebetulnya kami sering janjian untuk jalan bareng tapi baru kali ini bisa terlaksana. Setelah debat alot di grup chat yang secara mendadak terbentuk kami memutuskan untuk berkunjung ke Kampoeng Anggrek. Padahal masing-masing dari kami belum pernah sama sekali datang ke tempat ini, jadi hanya mengandalkan informasi yang ada di internet dan saya menggunakan GPS untuk bisa sampai di lokasi dengan tepat. Eak.

Lokasi Kampoeng Anggrek sendiri tidak berada di pinggir jalan raya, tapi berada di perkampungan yang agak jauh dari jalan utama. Tapi gak perlu bingung, soalnya kalau sudah masuk area ini papan petunjuk ada banyak dan jelas kok, jadi dijamin gak akan kesasar. 

Begitu sampai di lokasi kami membayar tiket Rp 26.000 untuk 4 orang dan 3 sepeda motor. Jadi tiket masuknya Rp 5.000 dan parkir Rp 2.000. Murah meriah, kan?. Saat kami datang petugas parkir bilang, "Pas banget mba datang hari ini, kemarin penuh sampai gak bisa gerak". Memang saat itu kami datang 2 hari, tepatnya hari Selasa setelah libur panjang Natal dan tahun baru yang dibarengi dengan libur sekolah. Makanya pantas aja kalau sempat membludak pengunjungnya. 
[Foto : Fatkhi]
Begitu masuk ke area Kampoeng Anggrek, kami disuguhi oleh pemandangan taman dengan berbagai macam tumbuhan seperti nanas dan bunga bermacam warna. Ohya sebetulnya area wisata ini tidak begitu luas, tapi karena penataannya yang apik saya merasa kalau tempat ini luas banget. Ada dua lokasi taman anggrek dan tanaman lainnya seperti bunga-bunga dalam pot. Menurut saya di sini adalah spot favorit para pengunjung untuk berpose. 
[Berbagai macam bunga. Foto : Silviana]
Sayangnya saat itu cuaca tiba-tiba mendung dan turun hujan, jadinya kami lebih banyak berteduh daripada explore lokasi. Namun menurut saya kampoeng anggrek sendiri merupakan tempat wisata yang friendly untuk dikunjungi, baik oleh anak-anak, remaja, dewasa, maupun lansia. Soalnya kalau kita datang ke tempat ini tidak terlalu membutuhkan effort besar seperti mendaki gunung atau lembah. Tempatnya landai dan jalan-jalanable kok. Selain itu ada wahana untuk anak-anak juga. Eh gak cuma itu aja ding, ada beberapa kandang hewan seperti bebek, angsa, ayam, dan monyet. Ada yang menarik juga nih dari wisata ini karena ada patung kingkong raksasa yang terbuat dari jagung.
[@saskydwi. Eh cek instagramnya ya!]
[Silvi, Fatkhi, dan Ria. Foto : Sasky]
Setelah hujan sedikit reda, kami berempat memutuskan untuk pergi ke kantin untuk makan siang. Hujan-hujan rasanya bikin perut jadi lapar. Sayangnya kami agak sedikit kecewa dengan hidangan yang ada di kantin ini. As you know, hampir di semua tempat wisata itu kebanyakan penjual kudapan gak mikirin soal kualitas barang yang dia jual. Jadinya kan pembeli kecewa sama pelayanannya. Setelah selesai makan siang yang mengecewakan dalam segi kuantitas dan rasa itu kami pergi untuk sholat dhuhur di mushola dan pulang.
[Kantin Kampoeng Anggrek]
Over all sih tempat wisata ini bagus untuk dikunjungi untuk bikin rileks pikiran. Suasana dan cuaca mendukung banget karena udaranya sejuk dan bikin fresh. Eh kalau mau beli bibit atau bunga juga bisa loh. Jadi, kamu mau ke sini kapan?.

Kampoeng Anggrek Kediri
Buka sepanjang hari Senin- Sabtu, pukul 08.00-17.00 WIB.