Senin, Maret 20, 2017

Menilik Rumah Dinas PTPN X Pabrik Gula Kediri

  10 comments    
categories: 

[Dibuat dengan canva]
Weekend yang asyik seperti biasanya, kali ini dapat kesempatan buat bedah rumah dinas punya PTPN X di Kediri. Sebetulnya gak ada acara khusus, cuma antar salah satu teman yang lagi penelitian soal bangun ruang rumah- rumah dinas pabrik gula, soalnya memang dia jurusannya arsitek dan lagi proses skripsiehhh. Sedangkan fungsi saya ada di sana adalah untuk jadi tukang foto dan video kalau dia lupa detail rumahnya. Padahal saya blas sama sekali nggak ngerti konsep dasar arsitek, saya taunya cuma rumah dinas PTPN itu oldies dan bagus buat objek foto, sudah. 
[maunya jadi kepala ADM- waks]
Saat itu hari Sabtu dan hanya dua lokasi pabrik gula yang kami datangi, yaitu PTPN X PG Ngadirejo dan PTPN X PG Meritjan. Awalnya kami datang ke Ngadirejo terlebih dulu karena memang lokasinya yang lumayan jauh dari rumah, setelah mengurus perijinan dan sembarang kalirnya kami diberi ID card tamu. Setelah negosiasi dengan pihak terkait kami mulai diantar untuk berkeliling melihat rumah dinas milik kepala administrasi. Rasanya sudah seperti famstrip atau kayak tuan tanah yang lagi hunting rumah tua untuk dibeli.

[Rumah Kepala ADM PG Meritjan]
[Tampak depan]
Namanya rumah dinas bentuk-bentuknya hampir sama semua, seperti pintu, jendela, dan juga kombinasi warnanya. Bedanya cuma di luas tanah, bangunan dan perabotan. Kalau rumah kepala adm tentu lebih besar dari rumah karyawan. Ya seperti itulah, strata. Nah dari semua bagian rumah dinas ini yang paling menarik buat saya itu bentuk jendelanya. Classic antique. Jadi kalau masuk rumah ini kayak time traveller gitu, kayak kembali ke masa lalu.
 
[lawas]

[Tirainya asyik]

Selain itu suasana rumah lawas emang kentel banget rasanya, kentel ademnya, kentel tuanya dan kentel rasa horornya. Soalnya rumah dinas kayak gini kan memang jarang dihuni, apalagi pabrik gula memang rasanya tidak semenarik dulu lagi. Kemarin saya juga lihat beberapa rumah dinas dibiarkan kosong dan otomatis tidak terawat. Sayang banget ya kan. Sempat terpikir kenapa gak dikontrakan aja, kan enak bisa nambah-nambah biaya operasional. Haha *anak ekonomi mikirnya untung-rugi. Tapi balik lagi ini kan milik BUMN jadi gak bisa sembarang orang yang keluar masuk area pabrik.

Huah kapan ya bisa punya previlage jadi penghuni rumah-rumah jadul ini?.

Kamis, Maret 09, 2017

Menikmati Keindahan Sisa Erupsi Gunung Kelud

  53 comments    
categories: 
[Tulisan ini sebetulnya re-make aja dari post saya sebelumnya di blog eksplorekediri. Tapi karena blognya gak pernah di isi jadi saya tutup. Hehe]

[@hani.izza dan @silviananoerita]
Ohya tulisan ini juga saya khususin buat Hani Alifatin Izza, teman yang saya kenal saat KKN 2014 dan bersahabat hingga sekarang. Tepat dua tahun yang lalu, Hani menginap di rumah kami, Kediri.

Siapa yang tak kenal dengan Gunung Kelud ? Tahun 2014 yang lalu, namanya kondang di seluruh pelosok negeri karena untuk kesekian kalinya Kelud mengalami erupsi dahsyat yang mengakibatkan wilayah Kediri dan beberapa kota lumpuh total karena diguyur hujan pasir, abu, dan batu kerikil. Kelud mengalami erupsi di malam hari dan membuat malam sangat mencekam.
Dua tahun berlalu Kelud mengalami pemulihan secara perlahan. Pepohonan dan rumput yang sebelumnya meranggas terkena panas lava pijar mulai tumbuh dan hijau kembali. Setelah sekian lama ditutup, wisata Gunung Kelud pun akhirnya dibuka untuk umum.

Baca juga : Mendaki Gunung Kelud Kediri

Kelud atau Kelut yang dalam bahasa Jawa memiliki arti sapu ini terletak di tiga perbatasan, yaitu Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang. Lokasi Gunung Kelud ini kurang lebih 30KM dari pusat kota Kediri dan berada di Kecamatan Ngancar. Kelud sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak gunung merapi yang masih aktif di Indonesia.

Rute menuju Gunung Kelud dapat diakses melalui beberapa jalur, yaitu  dari kota Kediri, dari Simpang Lima Gumul menuju Plosoklaten, dan dari Pare. Perjalanan menuju Kelud sangat mudah karena akses jalannya yang sudah bagus, untuk tiket masuk Gunung Kelud sangat murah dan tidak akan menguras kantong. Cukup dengan membayar Rp 8.000/ orang dan Rp 2.000/ motor kita sudah bisa menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan yang dititipkan di bumi Kediri ini.

[Sisa erupsi membentuk pemandangan yang cantik]
Jalanan berkelok dan pemandangan yang menyegarkan mata menjadi bonus perjalanan menuju Gunung Kelud. Setelah beberapa kali berkunjung ke Kelud, ini adalah pertama kalinya saya mencoba Misterious Road. Ohya tempat ini dinamakan misterious road karena memang jalan ini adalah jalan tanpa gravitasi. Jadi tuh gini ceritanya, jalan gunung itu kan naik yah terus buat buktiin apakah di sini beneran 0 gravitasi digunakan percobaan botol yang berisi air. Nah, harusnya si botol ini kan menggelinding turun ya, eh ternyata dia naik loh. Terus bisa juga pakai sepeda motor yang dimatiin mesinnya, itu juga naik dengan sendirinya. Nah itulah makanya jalan ini dinamakan misterious road.

Namun sayangnya, saat saya berkunjung ke Kelud, wisata utama masih belum dibuka untuk umum. Kendaraan yang biasanya boleh naik hingga parkir puncak, saat itu diberhentikan di pos yang jauh dari area parkir utama. Sehingga kita tidak bisa menikmati sungai air panas, melewati gelapnya terowongan, dan juga mendaki ke gardu pandang.

Namun jika kita ingin melihat keindahan sisa erupsi Kelud kita dapat berjalan kaki hingga sampai di puncak. Setelah bernegosiasi dengan petugas, akhirnya saya putuskan untuk menitipkan beberapa barang di pos dan membawa naik kamera serta air minum.

[Misterious Road]
Meskipun jalanan menuju puncak Kelud sudah aspal Korea, namun ternyata perjalanan mendaki tidak mudah dan sangat melelahkan karena kontur jalanan gunung yang naik turun. Namun hati saya tetap riang gembira karena cuaca di Kelud tidak begitu menyengat. Selain itu sisi kiri dan kanan pendakian menuju puncak sangat indah.

Lihat juga : Gunung Kelud

Bagi pengunjung yang ingin menikmati keindahan Kelud sangat disarankan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Supaya kawasan ini tetap terjaga keindahan dan kebersihannya. Jika datang ke Kelud, jangan lupa menyiapkan kamera terbaikmu karena ada banyak spot yang menarik yang sayang jika tidak diabadikan dan dilewatkan begitu saja.

[zoom in aja-eh]
Tertarik datang? Yuk agendakan piknik cantik di Kelud.

Selasa, Maret 07, 2017

Malam Panjang di Tugu Jogjakarta

  40 comments    
categories: 
Tugu Yogyakarta adalah sebuah tugu atau monumen yang sering dipakai sebagai simbol atau lambang dari kota Yogyakarta. Tugu ini dibangun oleh Hamengkubuwana I, pendiri kraton Yogyakarta. Tugu ini memiliki nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis karena dipercaya menghubungkan laut selatan, kraton Jogja dan gunung Merapi. Pada saat melakukan meditasi, konon Sultan Yogyakarta pada waktu itu menggunakan tugu ini sebagai patokan arah menghadap puncak gunung Merapi. - Wikipedia dengan modifikasi
Tiga kali datang ke Jogja dan sebanyak itulah saya gak pernah tahu rasanya foto di tempat ini, semua cuma sekedar lewat aja karena memang Tugu Jogja tidak pernah masuk dalam list kunjungan. Akhirnya kunjungan ke empat kalinya kemarin itu, saya baru tau kondisi Tugu Jogja yang sebenernya. Emm oke, bahkan saya agak kaget karena Tugu ini letaknya 'berasa' beneran pas ada ditengah-tengah perempatan jalan besar. Awalnya saya pikir tempat ini sama seperti Tugu yang ada di Malang, yang letaknya ada di dalam Taman. Rupanya enggak.

Baca Juga : Jogjakarta


[Keramaian di Tugu Jogjakarta]
Saat sampai di sekitaran Tugu, kami memutuskan untuk makan malam dulu di salah satu angkringan yang ada di pinggir jalan. Jadi sudah sah nih makan di angkringan di tempat asalnya. Menunya sama saja sih seperti angkringan yang ada di Malang, yaitu nasi kucing ditemani berbagai macam lauk dan baceman yang dibakar.

Setelah puas makan, teman jalan saya ini mengajak untuk mengambil foto di dekat tugu. Sebetulnya saya kurang tertarik untuk ambil gambar, karena kondisinya yang ramai. Namun teman jalan saya keukeuh bilang "mumpung di Jogja, ya ke sana aja sekalian. Meskipun cuma bentaran". Yasudah akhirnya ikut juga dengan kemauannya. Sejujurnya sih daripada Tugu Jogja ini saya lebih tertarik dengan tempat-tempat di sekitaran sini. Semua sudah maju dan berkembang, hampir semua lokasi di sekitaran pal* ini sudah jadi ladang bisnis yang menjanjikan.
[Tugu, thok]
Cukup lama kami menunggu lampu hijau menjadi merah, sampai akhirnya dapat sampai ke Tugu. Ternyata meski ada di tengah jalan besar, tugu ini juga lumayan ramai sama pengunjung yang foto-foto sih. Jadi mereka ambil celah ketika lampu merah di seberang sisi untuk ambil angle yang bagus. Agak ngeri-ngeri sedap juga sih kalau menurut saya. Tapi ternyata it's oke, saya sendiri juga melakukannya. Asal cepat ambil pose dan fotografer juga cepat tanggap untuk mengambil gambar. Haha.
[Foto ini diambil sambil minta izin orang sekitar tuk minggir sebentar :D]

Malam itu beberapa kali saya juga diminta tolong untuk mengambil gambar pengunjung lainnya, soalnya saya cuma duduk aja menikmati suasana malam yang ramai di Tugu setelah selesai ambil gambar. Saat itu ada satu keluarga dengan anak-anak yang masih kecil dan saya diminta tolong untuk ambil fotonya. Prosesnya agak lama karena saat mengambil foto si anak gerak terus tak mau diam, sampai menunggu dua kali lampu merah baru dapat hasil yang maksimal. Haha. Setelah selesai keluarga tersebut mengucapkan terimakasih dan izin untuk pergi.

Malam makin larut akhirnya kami juga memutuskan untuk kembali ke tempat menginap di Edu Hostel untuk beristirahat.


Sabtu, Maret 04, 2017

Mendol, Murah, Nikmat, dan Lezat Idolanya Semua Kalangan

  14 comments    
categories: 

Kering di luar, mbacem di dalam”. Andalan mahasiswa akhir bulan! Iyaaaa, yang lagi saya omongin ini namanya mendol. Si hitam nikmat, lezat dan murah meriah yang otentik banget dari kota bunga, Malang. Makanan yang bahan dasarnya dari tempe kedelai ini memang banyak ditemukan di daerah Malang dan Jawa Timuran sebagai lauk ataupun dimakan sebagai jajanan. Tapi yang paling sering sih si mendol dimakan buat temen nasi pecel atau nasi rawon, pokoknya kalau di Malang dan lagi makan rawon harus pakai mendol biar sah dan lengkap.

Sejujurnya, dulu saya juga gak tahu kalau makanan enak ini namanya mendol, bahkan baru kenalan waktu kuliah di Malang. Soalnya hampir di semua warung makan dekat kosan pasti ada lauk dengan warna coklat kehitaman berbentuk lonjong atau bulat pipih ini. Penasaran, akhirnya saya beli dua biji harganya Rp 500,-. Iya gak salah kok, jadi sebijinya itu cuma Rp 250,-. Glek. Tapi itu udah enam tahun yang lalu, kalau sekarang harganya sekitar Rp 500- Rp 1.000,- perbiji.
[Mendol]
Eh tapi mendol sebenernya agak jarang ditemui sih kalau di luar daerah Malang, jadi kalau memang kamu lagi ada di Malang wajib deh coba makanan ini. Sebetulnya kalau memang pengen banget makan mendol bisa sih buat sendiri, apalagi bahannya juga mudah didapatkan. Apalagi kalau soal rasa setiap orang pasti punya selera masing-masing. Mendol di Malang juga demikian, kalau beda yang ngeracik pasti beda rasanya. Tapi mendol tetap dihatiku karena darinya lah saya bertahan hidup di akhir bulan. Hidup jaya mendol buk warung pojok!. Eh.

Mendol dulu dan sekarang bisa jadi sudah berbeda kalau dari segi rasa karena memang sudah banyak variasi dari setiap penjual yang ada di Malang. Namun mendol akan tetap jadi mendol, makanan khas Malang yang akan selalu dirindukan kehadirannya. Makanya waktu kemarin saya dan mba Winda ada kesempatan kopdar dengan temen blogger dari luar kota, mba Winda langsung kasih rekomendasi buat nyobain mendol. Pas banget saya juga kangen pengen merasakan mendol yang mbacem serta pedas gurih.
Jadi ceritanya kami makan malam di sebuah tempat yang asik banget di Malang dan setelah semua makanan terhidang, ritual seperti biasa terjadi. Iya, ngefoto semua makanan yang tersaji buat diposting, temen saya ini fotonya banyak pakai smartphone padahal ada kamera dslr juga.

“Napa moto pake HP? Bagusan pakai DSLR gak sih mba?” tanya saya malam itu.

“Pakai HP ini tuh udah worth it banget loh Sil, mana simple pula”. Jawabnya.

Oh ternyata dia pakai HP ASUS Zenfone, ya pantesan aja kalau gitu. Smartphone  ini kan memang udah mencuri banyak perhatian para photographer ponsel karena hasil fotonya memuaskan dan tajam banget. Pokoknya udah mirip kayak kamera professional gitu deh hasil jepretannya. Saya aja sampai kagum waktu lihat hasil fotonya waktu itu, terus mupeng pastinya. Haha. Tapi emang pantes sih kalau smartphone ini jadi andalan soalnya kalau dilihat dari cerahnya hasil fotonya ternyata nih dia pakai reknologi PixelMaster Camera. Sebuah teknologi  yang dikembangkan secara khusus untuk menunjang hasil foto yang istimewa. Intinya sih kalau pakai kamera ASUS ini bikin nagih mau motret-motret. Nah selain itu gara- gara ASUS punya teknologi yang keren penghasil foto apik, si smartphone dengan kamera kece impian segala umat tangan tremor saat ambil gambar dan resah karena hasil fotonya buram. Jadinya udah gak resah lagi, soalnya ASUS memang stabil banget deh.

Eh satu lagi, Zenfone juga punya fitur yang bisa bikin bokeh-bokeh gitu kalau motret kena lampu atau auto focus buat motret jarak dekat, jadinya gambar bisa blur di bagian belakang, “Depth of Field” nama kerennya sih. Kalau misal mau motret kuliner unik pasti keren banget kan, apalagi kalau di upload di IG. Udah kayak food blogger hits ala-ala gitu. Padahal ini fotonya cuma’ pakai HP, bukan kamera professional.

Mau nabung ah biar bisa beli satu, mau ngerasain juga punya HP dengan kamera kece. Jadinya kalau mau motret-motret gak perlu rikuh dilihatin sama orang lain karena nenteng-nenteng kamera DSLR.

Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel.



Jumat, Maret 03, 2017

Cerita Keliling Pulau Jawa dalam Lima Hari

  7 comments    
categories: 
[Postingan ini agak sedikit agamis]

Tahun 2015 yang lalu sehari setelah wisuda, saya pernah menuliskan keinginan-keinginan yang ntah mungkin terdengar tidak relevan di buku catatan kecil yang kayaknya sih cuma saya thok yang baca (ibu biasanya buka-buka privasi anaknya juga). Salah satunya soal perjalanan, di sana saya nulis 'keliling pulau Jawa'.

What a life! Nasib sering banget bawa saya ke tempat yang pernah saya tulis sebelumnya. Akhirnya, 2017 kemarin saya bisa keliling pulau Jawa dalam 5 hari. Memang sih tujuannya bukan buat travelling, tapi buat saya ini sudah cukup. Let say, Alhamdulillah hirabbil alamin.

Jadi ceritanya saya itu ikut ibuk ziarah wali 9, ah maksudnya melanjutkan perjalanan ke wali 9 setelah tahun lalu menyelesaikan wali 5. Sebetulnya saya gak ada rencana buat ikut acara ini, karena memang setiap tahun acara seperti ini rutin ada di lingkungan tinggal saya, kebetulan ibu dan bapak menjadi panitia. Mendekati hari H keberangkatan, bapak sakit dan memilih untuk tidak ikut serta karena memang ini perjalanan yang panjang dan jauh, jadilah saya diminta untuk menggantikan bapak berangkat. Mendadak sekali bahkan 3 jam sebelum keberangkatan saya belum bersiap apa-apa. Rute keberangkatan dari Jatim-Jateng-Jakarta-Jabar-Jateng-Jatim.

Hari Rabu kami berangkat dari rumah pukul 13.00 menuju Kudus, lama perjalanan kurang lebih sekitar 10 jam. Ohya saat sampai di parkir area menuju Sunan Kudus ini kami harus naik ojek dulu, yah karena kondisinya tengah malam jadi agak sepi deh kang ojeknya mungkin pada ngantuk kali ya. Padahal kalau misalnya kami datang siang di tempat ini banyak tersedia angkutan sejenis lyn atau becak motor yang memang disediakan untuk tranportasi peziarah.
Jaraknya lumayan jauh kurang lebih sekitar 2KM, 1 sepeda motor untuk 1 orang penumpang. Jadi gak bisa cabe-cabean gitu deh. Nah kebetulan banget saya dapat kang ojek yang masih muda, dia naiknya patas banget sumpah sampai deg-deg an saya. Tapi untungnya saat kembali ke parkir area saya dapat bapak ojek yang naiknya santai-santai. Biaya naik ojek ini Rp 8.000 sekali jalan.

[Foto dokumen pribadi]
Nah karena hampir tengah malam kami sampai di Kudus, lokasi ziarah makampun sudah ditutup hingga akhirnya kami menuju ke masjid Al Aqsha yang bangunanya merupakan akulturasi budaya islam, hindu dan budha. Saya baru pertama kali berkunjung ke daerah yang terkenal dengan kreteknya ini dan kagum dengan desain unik dari menara masjid Kudus yang istimewa. Bangunan menara ini memiliki tinggi kurang lebih sekitar 18 meter dan bagian dasarnya berukuran 10 x 10 m. Di sekeliling sisi bangunan terdapat hiasan piring bergambar yang jumlahnya sebanyak 32 buah. Hiasan ini terbagi dengan dua warna, yakni 12 buah berwarna merah putih dengan gambar lukisan bunga dan 20 buah berwarna biru dengan gambar beberapa lukisan seperti masjid, pohon kurma, dan manusia serta unta. Selain itu juga terdapat tempat wudhu dengan ukuran 12x4x3 meter sebanyak 8 buah. Jumlah delapan pancuran ini mengadaptasi dari keyakinan Budha, yakni delapan jalan kebenaran atau Asta Sanghika Marga.
[Bersama kanjeng ibu ratu―tengah malam, ngantuk]
Setelah selesai ziarah kami kembali menuju ke tempat para ojek mangkal, tapi sebelumnya mumpung di Kudus beli oleh-oleh jenang dodol dulu dong ya buat oleh-oleh. Nah sayang banget deh saya di sini cuma singgah sebentar aja padahal niat hati pengen kulineran dulu, tapi karena ini bukan acara piknik asyik dan melibatkan banyak pihak jadi gak bisa seenak sendiri memutuskan sesuatu.
[Menara di Demak]
Perjalanan kami lanjutkan menuju makam Raden Patah dan dilanjutkan ke Demak di Sunan Kalijaga. Kamis subuh kami sampai di masjid raya Demak dan wow gede amat ya, iyalah namanya aja masjid raya. Oh saya jadi ingat sesuatu, padahal sebelum berangkat ziarah saya sudah diwanti-wanti sama bapak untuk tidak mudah heran sama sesuatu, intinya sih kalau ada apa-apa yaudah abaikan aja dan jangan sampai terlontar kata-kata. Pokoknya apapun itu abai aja, jadinya saat di setiap daerah saya cuma bisa batin aja. Eh saat di Demak saya sempat sarapan soto kerbau dan asli enak banget!. Hari ke dua ziarah ini perjalanan kami lanjutkan menuju Jakarta, sembari perjalanan ini kami juga berkunjung ke beberapa tempat ziarah seperti di Pekalongan. Perjalanan ini benar-benar sangat panjang, saya yang udah jarang naik bus akhirnya setiap pagi selalu minum obat anti mabuk deh. Jadinya tau kan apa yang terjadi selama perjalanan, iya jadi isinya molor melulu.
[Bersama Mak San- saya- ibu]

[Bersama sist Nayu}]
Sampai pada akhirnya Kamis tengah malam kami sampai di Priuk dan menginap di area Makan Mbah Priuk sampai pada Jum'at subuh rombongan kami menuju ke Masjid Istiqlal. Di sini saya berjumpa dengan teman kecil yang biasa saya panggil dengan sebutan 'sist' kalau di rumah, Mba Ayu datang ke Istiqlal untuk berjumpa dengan orang tuanya yang juga turut serta dalam rombongan. Ohya mba Nayu ini tetangga sebelah kanan rumah saya, tinggal di Jakarta dengan suami dan sist Nayu ini seorang hafizah. Ah kalau datang ke Istiqlal begini saya jadi ingat teman-teman saya di kampus, bersama merekalah saya datang ke Jakarta untuk pertama kalinya dan berkunjung ke Masjid Istiqlal di tahun 2013 yang lalu untuk Kuliah Kerja Lapangan.
[I LIGHT you]
Yay, kalau sudah selesai di Jakarta artinya sekarang kita kemana? Yap betul banget, kita menuju ke Jawa Barat. Asyik, apalagi kami akan lewat jalur puncak. Wow, double asyiknya sih kalau begini. Tapi sayang banget deh keindahan puncak tidak bisa kami nikmati karena sebelumnya sempat hujan deras dan pemandangan yang dapat kami nikmati hanya kabut tebal. Sampai di Jawa Barat kami menuju ke Cirebon Utara tempat Sunan Gunung Jati. Nah di sinilah yang menurut saya scary banget, gak perlu saya ceritakan ya. Takutnya gara-gara tulisan ini nanti malah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, jadi mari cari aman aja. Di Sunan Gunung Jati terdapat pintu masuk makam yang kabarnya tidak sembarang orang dapat masuk ke sana dan di dalamnya masih terdapat 7 pintu lainnya. Kalau perkiraan saya sih cuma orang dengan ilmu agama tingkat tinggi yang bisa masuk ke tempat tersebut. Saya sempat dengar cerita dari ibu kalau mbah kyai Futuh― seorang ulama di tempat tinggal saya pernah masuk ke tempat tersebut.

[Panjalu-1]
[Panjalu-2]

Next, Cirebon selesai dikunjungi kami menuju ke Tasikmalaya ke tempat dengan nama Pamijahan. Tempat ini masih asri banget karena lokasi tempat ziarah berada di tengah danau, nah kalau kita mau ziarah ke sana kita harus naik perahu. Masalahnya belum ada perahu motor di sini, jadilah naik perahu dayung dan dibantu dengan satu orang pengayuh baling-baling. Tapi ini seru banget asli deh, eh seru-seru ngeri sih ya. Hehe. Saat sudah sampai di lokasi pun kami harus menaiki tangga dulu untuk bisa sampai ke masjidnya. Fiuh, perjuangan yang sangat panjang ya. Ohya, saat akan pergi ke tempat ini kami diwanti-wanti oleh panitia untuk tidak mengambil apapun tanpa seizin juru kunci, selain itu juga menahan diri untuk tidak berkomentar terhadap hal-hal yang ya mungkin diluar kebiasaan kita. Oke deh, noted.
[Panjalu-3]
[Panjalu-4]
Tidak menunggu lama setelah semua jamaah berkumpul, rombongan kami melanjutkan perjalanan menuju tempat yang akan menjadi persinggahan terakhir selama ziarah ini yaitu Pamijahan. Pamijahan merupakan tempat wisata religi yang masih terawat kelestarianya, di sini selain tempat ziarah juga terdapat goa. Malam itu kami beristirahat di sebuah penginapan untuk mengistirahatkan badan yang lelah perjalanan dan baru esok paginya pergi ke makam dan goa. Ah sayang sekali saya tidak ikut serta karena mengantuk, padahal pasti seru banget!. Soalnya setelah saya baca sejarahnya, goa ini punya lorong yang dapat menghantarkan kita menuju Banten, Cirebon, hingga Makkah. Wallahu A'lam. Selain itu juga terdapat mata air yangs angat jernih seperti air zam-zam dan stalagtit dalam goa terdapat lekukan berbentuk bulat yang menyerupai seperti peci atau kopiah haji. Konon jika ada salah satu "kopiah haji" ini pas berada di atas kepala kita saat kita berdiri, maka Insya Allah yang bersangkutan tersebut akan dapat menjalankan perintah Allah untuk memenuhi rukun islam ke lima, yakni ibadah haji ke Baitullah di tanah suci Makkah. Sekali lagi Wallahu A'lam.

Oh fyi nih saat menuju Pamijahan ini saya juga melewati sebuah pondok pesantren Suryalaya, sebuah pesantren tempat rehabilitasi pengguna narkoba.


Alhamdulillah pada hari Sabtu kami melanjutkan perjalanan menuju ke Jawa Tengah (lagi) untuk berkunjung ke 2 lokasi, yaitu Gunung Pring di Muntilan dan Bayat. Hampir seharian perjalanan dari Jawa Barat menuju Jawa Tengah ini, akhirnya saya melewati daerah-daerah teman blogger yang belum pernah saya temui sebelumnya. Sayang seribu sayang kami tidak dapat berjumpa karena saya memang cuma sekedar lewat aja. Tapi saya tetep pamer-pamer kalau saya lewat daerah mereka lewat mention-mention di twitter dan grup WhatsApp. Saking asyiknya berbalas pesan saya sampai kehabisan kuota dan beli pulsa murah lagi supaya tetap bisa update. Duh padahal ini kan niatnya ibadah. Hehehe.

Selama perjalanan itupun kami juga selalu diiringi oleh hujan yang intensitasnya lumayan deras di berbagai daerah. Sempat beberapa kali saat berjalan kaki menuju wisata religi kami kehujanan untung saja saya sudah beli dry bag untuk liburan, jadi barang-barang dan mukena aman deh.

Akhirnya Minggu setelah isya kami sampai kembali di Kediri. Sungguh, ini perjalanan super panjang yang pernah saya lakukan bersama ibu. Semoga suatu saat jika memang dikasih umur, saya bisa kembali ke tempat-tempat ini. Tapi jangan langsungan gitu lah ya. Sakit pinggang, saudara.


(ads).

Selasa, Februari 28, 2017

Anak Kucing dalam Frame

  2 comments    
categories: 
Ini adalah gambar anak kucing saya, ibu kucing bernama Mili. Ini kehamilan pertama dan tak terduga. Si cewek suka bergaul dan pulang-pulang hamil. Setelah sekian bulan 'nggembol' anak bayi, akhirnya Desember kemarin lahiran juga. Ada 5 ekor yang berhasil keluar, sayangnya 1 mati karena paling kontet dan kalah jatah susu ibu. Tapi awal Maret nanti, 3 ekor sudah siap pindah rumah untuk ikut keluarga baru. 












Cute? Yes of course!
Adopt don't shop, don't buy too.

Sabtu, Februari 25, 2017

Melihat Kembali Kemegahan Candi Borobudur

  3 comments    
categories: 

Akhirnya, setelah 8 tahun kaki ini bawa saya datang kembali ke Magelang untuk singgah di Candi Borobudur. Kalau diingat-ingat terakhir kali datang ke tempat ini waktu study tour kelas 8 zaman SMP. Waktu itu saya duduk bareng Inang dan pak Dodik as guru matematika yang mendampingi kami SKAL. Tapi dulu sih taunya semua udah beres, mulai dari tiket masuk dan semuanya. Tapi kemarin itu adalah pengalaman pertama saya ngurusin semua sendiri, sebagai seorang backpacker. Hahaha.

Kalau dulu naik bus sekarang ini naiknya motor, dulu gak tau rutenya sekarang malah nyetir sendiri. Bahkan sempat kehujanan juga di jalan dan mau balik ke Jogja karena rasa-rasanya perjalanan ini gak ada gunanya. Piknik pas hujan mana enak, gak bisa menikmati pemandangan, suasana becek dan ya ribet barang bawaan. Tapi entah kenapa, kami tetap melanjutkan perjalanan karena gak ada kesepakatan antara saya dan kawan jalan ini untuk kembali pulang, ujungnya saya yang ngalah. Yayaya, baiklah.
Pas udah mulai masuk area Borobudur juga hujan makin deres aja, udahlah itu rasanya mau balik aja. Akhirnya dalam keadaan basah nyemek nyemek, saya beli jas hujan harga enam ribuan warna biru. Lah udah basah ngapain beli jas hujan segala? Iya ini tujuannya untuk mengamankan barang-barang berharga sih. Kamera, hp, dompet, dan sejenisnya. 

Perjalanan ini akhirnya dipenuhi dengan keluhan dan gerutuan. Hehe. Tapi memang magic sih pesona candi ini, meskipun cuaca lagi gak mendukung rupanya tetap ramai pengunjung yang datang. Waktu itu kami sampai di sini sekitar pukul 15.30 terus ribet ini itu dan baru masuk area candi setelah bayar parkir pukul 16.00. Padahal aturannya candi ini tutup jam 17.00. HAHAHA. Jadi kami cuma punya waktu satu jam doang buat explore! Halaaaah ya udah mau gimana lagi, udah bayar juga, eman- eman kan kalau terbuang percuma.

Jadilah liburan ke Candi Borobudur ini agak failed karena hujan. Tapi ternyata pas udah naik ke lantai paling atas, lihat pemandangan sekitarnya jadi bagus banget loh. Kabutnya keren jadi kayak ada di atas awan gitu. Habis menggerutu terbitlah syukur. Haha. Mau kayak gimanapun, candi ini tetep megah dan mewah.

Jadi, kalau misalnya diajak kesini lagi sih saya tetep mau. Eh, asal gak naik motor aja ya.


Kamis, Februari 23, 2017

Cara Mudah Membuat Akun TripAdvisor

  9 comments    
categories: 
[tulisan ini murni ulasan pribadi tanpa embel-embel sponsor]
[Source : tripadvisor.co.id]
Sekitar dua minggu terakhir ini, saya mulai rajin look back ke perjalanan yang pernah saya lakukan selama ini, dari foto-foto dan blog. Mulai dari yang dekat-dekat aja di sekitar Jawa, saat di Batam dan saat pergi ke Singapura. Awalnya sih karena iseng malam-malam gak bisa tidur akhirnya lihat foto-foto dari zaman masih pakai kacamata belum ada framenya sampai sekarang udah full frame.

Kemudian entah kenapa saya terpikir untuk membuat rencana perjalanan akhir tahun ini. Seperti keinginan pertama saat membuat paspor, minimal sekali dalam satu tahun paspor ini kalau bisa harus ternoda oleh cap. He. Tangan ini mulai membuka laptop dan mengetikkan kata itinerary jepang murah, kemudian muncul banyak sekali rekomendasi tempat asyik untuk para backpacker berkantong cekak seperti saya. Wah banyak banget deh yang udah sharing pengalamannya, kemudian saya membuka TripAdvisor dan membaca ulasan di sana.

Baca Juga : Cara Mudah Membuat Paspor 

Dalam diam ditengah malam sembari menghadap laptop, mata saya melempar pandangan ke foto mbah uti di dinding kamar, lalu teringat akan pesannya saat saya mulai masuk kuliah. "Nduk, jadi manusia harus yang bermanfaat dan bermartabat, biar dihargai sama orang lain". Entah apa korelasinya dari lihat foto perjalanan, ketik TripAdvisor dan pesan mbah uti. Tapi memang tengah malam saat tak bisa tidur itu adalah waktu paling random karena pikiran pasti ambyar kemana-mana. Maka sesaat kemudian saya mulai klik daftar dan membuat akun TA, saya juga pengen berbagi pengalaman saya yang masih seupil kecil ke orang-orang melalui cerita dan tulisan di web paling fenomenal dikalangan pejalan ini.

Wah ternyata saya ketagihan! Dari malam sampai pagi gak jadi tidur karena keasyikan nulis ulasan, beneran kecanduan sama tripadvisor. Soalnya seru apalagi kalau pas dapat notifikasi poin, jadi makin semangat nulis ulasan. Haha. Meskipun poin di TripAdvisor ini kabarnya tidak dapat di reedem untuk apapun. Poin-poin ini adalah ungkapan terimakasih dan apresiasi TA untuk contributornya. Ohya TripAdvisor itu merupakan website yang concern di bidang pariwisata, disitu ada banyak banget user as traveller dan listing (pemiliki bisnis) tour, travel, restoran, hotel dan segala macam yang berhubungan dengan pariwisata. Perusahaan ini didirikan oleh Langley Steinert dan Stephen Kaufer pada tahun 2000 bulan Februari dan kantornya ada di Massachusets, Amerika sana.

Di sini kita bisa lihat banyak banget rekomendasi tempat wisata seklaigus dengan rate kualitasnya. Nah rate ini merupakan review/ ulasan dari para turis yang sudah datang dan merasakan langsung kondisi tempat wisata tersebut. Jadi kita bisa mempertimbangkan untuk memilih tempat wisata mana yang akan dikunjungi atau hotel mana yang sesuai dengan kita banget (budget, lokasi, kondisi dan lainnya). Kalau buat listing sih tripadvisor ini bisa jadi salah satu media promosi usahanya. Kayak kemarin saya sempat ulas Hotel Aston di Bojonegoro dan dibalas sama General Managernya, kayak gini kan rasanya seneng sebagai konsumen.

Jadi buat pejalan/ pembolang yang belum punya akun tripadvisor, yuk bikin. Lumayan bisa sharing pengalaman dan tentunya buat gaya-gayaan. hehe tetep. XD. Caranya mudah banget kok, guampil!. Ikutin ya,
[Tampilan web TripAdvisor]
  1. Pastikan punya gadget/ laptop serta jaringan internet buat akses websitenya,
  2. Masuk ke https://www.tripadvisor.co.id,
  3. Sudah? klik join/ bergabung, kita bisa menggunakan facebook atau email,
  4. Lalu edit deh profil kamu, seperti ganti foto, informasi kota domisili, dan lainnya. 
  5. Sekarang kamu sudah siap menulis ulasan dan membagikan kisah perjalanan kamu. 
Mudah banget kan? Mudah dong, cuma modal internet tok. Eh iya, kalau mau nulis ulasan di TA gak harus via PC kok, soalnya udah ada aplikasinya juga yang bisa di download di google store. Semoga bermanfaat ya. 

Senin, Februari 20, 2017

D’Leon Café Pare

  10 comments    
categories: 

"Pemilihan nama cafe ini sebenernya sudah berkali-kali berubah, sampai akhirnya memilih nama D'Leon karena terinspirasi dari kartun One Peace. Mba tau nggak kartun One Peace?" tanya mas Arief kepada saya.

"Tau mas, cuma ngga ngikutin sih", lempeng.

"Iya sebetulnya nama D ini masih jadi misteri tapi menurut fans One Peace D itu punya arti tekad D, maksudnya suatu tekad yang diwariskan turun temurun dari masa ke masa. Sedangkan Leon itu punya arti berani seperti Singa. Jadi maunya D'Leon ini........ bla bla bla bla bla bla. Jadi gitu mba".
..... terusannya saya gak nyimak. tapi nanti akan saya konfrm ulang ya. Hehe. Digetok pembaca, ampuuuuun.
[Suasana saat scoring]
Nah D'Leon ini adalah cafe sekaligus tempat untuk kursus bahasa Inggris. Yuhu semua tentu udah pada tau dong kalau kawasan Tulungrejo Pare merupakan daerah Kampung Inggris, di mana banyak banget tempat yang menyediakan sarana untuk belajar berbagai macam bahasa. Jadi kalau kursus di tempat ini setelah kursus bisa nongkrong nunggu kelas selanjutnya.
Nah kemarin saya ngopi di sini barengan sama Fatkhi dan Ria Lyzara. Niatnya sih cuma mau copy foto hasil jalan-jalan ke Kebun Anggrek di Kelud. Eh keterusan deh ngobrol sampai malam dan gak lupa lagi-lagi main boomerang sampai peluh membanjiri seluruh tubuh. Halah. Kami ngobrolin apa? Banyak! Biasalah cewek ya kan.
[Fatkhi, Ria Lyzara, me]
D'Leon ini selalu ramai soalnya pasti bakalan ada yang keluar masuk tempat ini, baik untuk kursus ataupun ngopi. Tempatnya sih asyik ya kalau sekedar nongkrong aja, apalagi disambi main wifi. Haha TETEP. Soal makananya sih standar cafe pada umumnya,tapi harganya murah. Kemarin saya pesan lemon tea kemudian habis, lalu pesan lagi milkshake dan ditemani dengan camilan pisang coklat keju totalnya gak habis Rp 20.000. It's really cheap enough, harga anak kosan banget. Apalagi kalau pas kere gak punya duit dan tetep pengen nongkrong sambil pamer foto di instagram, bisa banget datang ke D'Leon.
[Tremor detected]
Sebenernya sih setiap tempat yang saya kunjungi selalu ada hal yang saya suka dan gak saya suka. Nah yang saya suka dari tempat ini adalah suasananya terasa hangat, mungkin karena penggunaan lampu warna oranye dipadu dengan meja kursi yang diplitur halus gitu kali ya. Terus tempatnya bersih banget padahal krunya cowok semua loh, pelayanan juga cepat pokoknya pesanan kita akan tersaji kurang dari 5 menit. Soalnya kalau buat saya, menunggu pesanan yang lama datang itu menyengsarakan jiwa dan raga. Apalagi kalau udah lapar banget, makin emosi lah itu. Nah sayangnya D’Leon ini parkirnya sempit banget, ditambah dengan sepeda anak-anak yang sedang kursus jelas makin berjubel dan susah keluar dari area. Tapi untungnya mas-mas di sini baik hati mau menolong dan gak apatis.


Jadi buat yang di Pare dan lagi kere, you shold try to nongkrong asyik di D’Leon.

D’Leon Café
Jalan Anggrek 11B, Pare, Kediri (Depan Ganesha Operation- Perempatan Masjid An-Nur ke Utara.
IG : @dleoncafe