Minggu, September 22, 2019

Pengalaman Sakit Pinggang Kecetit dan Pengobatannya

  No comments    
categories: 
Tulisan ini murni pengalaman pribadi, tidak ada muatan sponsorship sama sekali. Jadi akan ada beberapa brand obat yang saya sebut secara gamblang.

Jadi ceritanya beberapa waktu yang lalu, saya mengalami sakit pinggang sebelah. Umumnya sih dikenal dengan sebutan kecetit. Sebelum- sebelumnya saya sama sekali belum pernah mengalami kondisi seperti ini. Maksudnya sakit pinggang hanya satu sisi saja. Kalau sakit pinggang kedua sisi sudah sering banget.

Nah, hari Rabu pagi saya mengalami rasa sakit di pinggang sebelah kiri, rasanya antara sakit yang mengginggit dan sakit seperti ditusuk- tusuk. Tiba- tiba saja saat bangun tidur nyeri sekali. Awalnya saya hanya mengira kalau ini sakit kelelahan akibat perjalanan liburan di weekend sebelumnya.

Jadi hari Rabu itu masih saya biarkan saja, hanya sesekali saya oleskan counterpain dan kadang hot in cream.  Kalau memang ini sakit pinggang biasa, harusnya sesaat setelah dioles cream terkenal ini, nyerinya bisa berkurang. Tapi ternyata kok masih sama saja bahkan semakin sore rasanya semakin menjadi.

Apalagi hari Rabu itu saya masuk kantor seperti biasanya. Untuk duduk gak nyaman, untuk jalan sakit. Rasanya gak menentu banget. Setelah saya telusuri, ternyata ini bisa jadi karena hari Selasa saya menyelesaikan beberapa pekerjaan secara bersamaan. Jadi cukup sering mengubah posisi badan tapi posisi tetap duduk. Bisa bayangin gak ya para pembaca?

Jadi posisi saya tetap duduk, hanya pinggang ke atas yang sering berubah posisinya. Kalau dalam bahasa Jawa, "ngongkek awak", atau muter badan 45 derajat dan mungkin saja agak kebablas.

Jadi, kecetit ini merupakan kondisi umum dari sakit tulang belakang. Umumnya menimpa leher (cervical) dan pinggang (lumbal). Biasanya hanya satu sisi saja, sama kasusnya seperti yang saya alami. Asal muasalnya dari gaya hidup, kurang olahraga, atau posisi duduk yang kurang tepat alias tidak ergonomis. Bisa jadi terlalu membungkuk dan terjadi dalam jangka yang cukup panjang.

Nah, karena Rabu itu saya merasa sangat kesakitan. Jadi saya coba untuk googling dengan keyword "sakit pinggang sebelah kiri". MAK TRATAP!. Di page one muncul penjelasan dari hellosehat, bisa jadi sakit pinggang sebelah kiri ini diakibatkan oleh batu ginjal.

Saya sempat kaget tapi mencoba mengingat kembali, bahwa selama ini belum dan semoga jangan sampai ada masalah dengan kemih. Selama ini quantitas minum air mineral saya juga lebih dari cukup.

Jadi saya rasa kecil kemungkinan kalau sampai kena batu ginjal. Tapi kalau emang kehendak Tuhan saya kena sakit kemih ini, ya gak tau lagi.

Saya juga sempat sambat ke orang rumah soal sakit pinggang saya ini, tapi tanggapannya "mungkin capek biasa aja, kan habis perjalanan".

Tapi beneran deh sakit banget. Waktu di kantor, saya juga sempat cerita- cerita soal sakit pinggang yang saya rasakan. Setelah ditanya kira- kira kenapa, ada aktivitas yang berlebihan atau tidak, dan langsung dibilang, "Lho, kecetit itu, Vi".

Kemudian saya direkomkan obat apa saja yang sebaiknya dikosumsi untuk mengurangi rasa sakit ini. Ada yang mahal, ada yang standart dan ada yang murah. Mulai harga 50 ribu ke atas sampai ada yang paling murah yaitu 1 kapsulnya Rp 2.500.

Meskipun dapat diobati tapi katanya ya, kecetit ini akan datang lagi dan lagi. Saat istirahat makan siang, saya akhirnya pergi ke Kimia Farma untuk beli obat. Saya hanya bilang minta obat untuk sakit pinggang kecetit. Lalu setelah dicarikan, saya dipanggil ke kasir.

Di situ saya tidak ditanya mau obat yang seperti bagaimana, maksudnya tidak diberi opsi untuk obat- obat yang dapat digunakan untuk penyakit ini. Saya langsung diberi dua jenis obat. Merknya Epsonal 50mg dan Voltaren 50mg.

Setelah saya googling, Epsonal ini merupakan obat yang digunakan untuk terapi simtomatik untuk kondisi yang berhubungan dengan Spasme Muskuloskeletal atau kejang otot. Sedangkan Voltaren 50mg digunakan untuk meregangkan ototnya.

Waktu bayar, saya sedikit kaget karea ternyata obatnya mahal. Maklum saja ya, kaum BPJS yang jarang banget konsumsi obat. Tapi, saya jadi tahu, bahwa harga obat yang cukup mahal juga dapat mempercepat penyembuhan (dalam kasus saya ini, ya).

Ohya, Epsonal dan Voltaren ini diminum masing- masing 2x dalam 1 hari. Dalam 5 kali minum obat atau artinya dua setengah hari, rasa sakit menggigit yang saya rasakan berangsur hilang dan Alhamdulillah saat ini sudah tidak terasa sakit lagi.

Ohya, selain Epsonal ada juga opsi obat yang dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit dari kecetit ini, yaitu Ibuprofen atau daun bidara (harga 1 kapletnya Rp 2.500).

Namun dengan kejadian ini, saya jadi punya PR besar untuk mulai memperbaiki posisi duduk dan gaya hidup, alias harus banget nih mulai olahraga lagi.

Nah, semoga cerita kali ini bermanfaat ya untuk teman- teman.

Rabu, September 04, 2019

Liburan ke Surabaya yang Penuh Drama

  2 comments    
categories: 
[Rona jingga di langit Surabaya]
Beberapa waktu yang lalu, saya, anakzahir dan mba Tiwwi melakukan perjalanan ke Surabaya dengan mengendarai moda transportasi bus. Kebetulan ini pertama kalinya anakzahir pergi ke Surabaya naik angkutan umum. Jadi sambil liburan singkat juga sambil belajar mengenal dunia luar.

Saat itu hari Sabtu dan perjalanan kami dimulai dari diantarkan oleh adik saya ke terminal yang ada di Pare. Mengingat tidak ada bus arah Surabaya yang lewat depan rumah, jadilah mengambul keputusan untuk menunggu bus di terminal saja.

Tidak lama setelah kami sampai, bus yang akan kami naiki tiba. Berbekal informasi dari teman saya Leli, saya jadi tahu untuk prefer milih bus Bagong untuk ke Surabaya. Alasannya simpel aja, bus ini lewat jalur tol. Harganya juga terjangkau banget, 20K/ orang.

Anakzahir tidak dihitung karena duduk dipangku uminya.
Saya rasa peralanan kala itu cukup cepat dan tidak terlalu lama ngetem, hanya sesekali saja.

Saat sampai di Terminal Purabaya, sungguh takjub dengan bangunanya. Kalau gak ada tulisan “Terminal Purabaya”, mungkin saya akan mengira kalau tempat ini adalah bandara.

Soalnya asli bersih banget, beda sama yang pernah saya datangi dulu – udah lama banget memang gak ke Surabaya naik bus.

Sambil istirahat sejenak dan melaksanakan tugas alam, kami mulai memikirkan perjalanan selanjutnya untuk bisa sampai ke hotel Ohya, tujuan kami bertiga ke Surabaya ini sebetulnya memang cuma mau staycation, tok. Kebetulan waktu itu ada voucher OYO dari Local Guide dan sayang kalau gak dipakai.

Sebenenrnya mau ke Pujon, ada hotel yang bagus di sana dan rekomended banget, namun karena cuaca sedang kemarau jadi tekad untuk ke Malang agak maju mundur. Soalnya takut terlalu dingin dan malah gak nyaman.

Nah, akhirnya kami memutuskan untuk naik Go-Car saja, begitu dapat driver ternyata gak ramah banget. Posisi kami saat itu memang masih jalan dari dalam terminal ke luar terminal. Memang kelirunya di saya karena kecepetan order. Saat ditelepon saya menanyakan lokasi driver, bilang ada di Alfamart.
[Udah riwil mau ke hoten (hotel)]
Mohon dimaklumi karena memang bukan orang Surabaya jadi ya belum hapal Alamart ada di kanan atau kiri pintu masuk terminal.

“Maaf pak, ini saya masih di dalam. Masih jalan keluar”

“Ya, aku ada di depan Alfamart”

“Alfamart itu yang dekatnya Ramayana bukan? Maaf belum tahu”

“Lho yok opo se, Alfamart yo Alfamart. Ramayana yo Ramayana”

“Ya pak, saya tak cari sambil jalan”

Kemudian telepon dimatikan.

Maklum ya buk, kita bawa anak masih balita dengan bawaan ransel yang cukup berat. Gak lama setelah itu, saya ditelepon lagi sama drivernya. Nadanya agak tinggi.

“Kamu di mana?”

“Ini masih di jalan pak baru mau sampai gerbang depan”

“Lho yok opo se kok sik mlaku iki. Tak pikir wis di Alfamart”

Wah bangzat juga nih driver, batin saya.

Dengan suara agak meninggi saya jawab “Aku mau kan wis ngomong ya pak, sik mlaku. Iso sabar ora? Nek ora cancel wae!”

“Lho kok konsal kensel ae”

“Makane sabar, iki aku wis ngerti mobilmu”

Sebetulnya waktu telepon pertama kali, mba Tiwwi udah bilang untuk cancel saja karena drivernya tidak ramah. Tapi saya kan gak enak, udah dipick up, kasihan batinku.

Begitu paham kalau itu drivernya, dengan agak dongkol saya tanya ini bener driver X bukan. Setelah pasti, saya dan mba Tiwwi mulai masuk mobilnya. Bener aja, orangnya gak ramah sama sekali.

Saat akan pergi, dia (driver) meminta uang parkir dengan ketus. Pun dengan percakapan selanjutnya, dia menanyakan kepada kami, mau lewat atas atau bawah.

Mba Tiwwi juga sempat tanya soal jarak lokasi yang akan kami tuju.

“Pak, ini gak begitu jauh kan ya lokasinya”

“Jauh.”

Saya disitu masih diem aja.

Sepanjang perjalanan tidak ada komunikasi apapun, saya dan mba Tiwwi juga lebih memilih untuk diam saja daripada muncul hal- hal yang tidak diinginkan, semacam baku hantam. Haha

Begitu sampai, tidak ada bantuan apapun dari driver. Saat itu biayanya 49K dari Terminal Bungurasih ke tempat tujuan kami di wilayah BG Junction. Saya membayar dengan uang 50K. Gitupun drivernya masih sempet tanya, “Kembalian gak?”. -_-

“Ambil wes”, sambil saya banting pintu agak keras. Bodo amat deh. No thanks juga. Tapi meski begitu, saya gak mau mematikan rejeki orang yah. Tetap dikasih bintang 4 dengan deskripsi yang super panjang x lebar.

Setelah itu saya dapat info dari mba Tita, kenalan saya di Disbudpar kalau sebaiknya lain kali naik bus pariwisata yang disediakan oleh Pemkot Surabaya, yang bayarnya pakai botol plastik itu. 

[Masih ada drama lagi di sini]
Ah, perjalanan ke Surabaya yang melelahkan dan penuh drama di perjalananya. Lho, kok ternyata cerita ini sudah panjang begini. Kayaknya cerita soal staycation mending dibuat cerita di post selanjutnya aja ya.