Kamis, November 15, 2018

7 Barang Koleksi yang Paling Banyak Dicari

  1 comment    
categories: 
Buat sebagian orang, mengoleksi benda- benda tertentu kadang menjadi suatu hal yang menyenangkan, contohnya saja saya sendiri. Saya hobi banget koleksi kaus kaki, kenapa? Ya karena saya suka menggunakannya. Haha receh banget ya koleksinya.

Tapi ada teman saya, hobinya sama- sama menyimpan barang, tapi dia suka banget koleksi buku, anaknya memang lebih primpen dalam hal penyimpanan sampai akhirnya punya perpusatakaan mini, katanya sih awal dulu koleksi bukunya masih sedikit, eh lama- lama makin menumpuk dan ternyata hobi mengoleksi ini bisa jadi investasi.

Nah karena ranahnya koleksi ini sudah ke investasi, jadi ternyata mengoleksi barang- barang yang punya nilai jual kembali itu ada keuntungannya, diantaranya;

Memiliki barang koleksi itu bisa diarahkan ke bisnis, bahkan bisa menjadi pendapatan utama. Misal hobi koleksi sepatu, kamu bisa coba buat sepatu dengan brandmu sendiri. 

Kalau sudah suka dan pengen koleksi, udah pasti kita punya link untuk mendapat barang- barang koleksi kita dengan harga yang lebih murah atau bisa juga membelinya saat diskon. Nah kalau udah banyak kan bisa dijual kembali dengan garage sale, tapi jualnya tetap di atas harga beli kita.

Nah ternyata ada beberapa barang koleksi yang banyak diminati dan diburu oleh sebagian masyarakat loh, apa saja itu? Ini dia daftarnya;

1. Barang antik atau benda-benda jadul,
Uang kuno. Memiliki koleksi uang jadul atau uang kuno bisa sangat menguntungkan lho. Pasalnya, banyak kolektor di luar sana yang saat ini sedang mencari dan mengumpulkan uang-uang jadul tersebut untuk dijadikan sebagai koleksi pribadi maupun untuk dijual kembali. Nyatanya memang harga uang jadul sekarang bisa lebih mahal dari nominalnya.
[Sumber : Uang Lama Kuno]

Piringan hitam atau vinyl, merupakan salah satu benda yang banyak diburu oleh kolektor pecinta musik yang ingin mendapatkan kepuasan tersendiri saat mendengarkan musik dengan gramaphone.

[Sumber EuroPoster]

Perangko, semakin lama semakin keren. Apalagi zaman dulu perangko jadi salah satu bukti pembayaran jasa layanan Pos melalui surat-menyurat. Jadi kayak ada kenangan tersendiri gitu, utamanya buat generasi zaman old. Pantas saja bagi para kolektor, perangko merupakan salah satu benda berharga dan wajib dikoleksi.

[Sumber : www.goodnewsfromindonesia.id]
Selain untuk hobi, mengoleksi perangko juga bisa mendatangkan keuntungan karena banyak orang (kolektor) yang mencari perangko kuno dan unik serta jadul untuk dikoleksi atau untuk dijual kembali.

Benda pusaka. Macam-macam benda pusaka seperti keris juga banyak diburu oleh kolektor.

Buku jadul. Tidak hanya berbentuk buku bacaan, banyak juga komik jadul yang saat ini sangat langka dan sulit ditemukan biasanya dihargai sangat mahal.

2. Tas
Kita mengenal tas sebagai alat untuk menyimpan dan membawa benda-benda yang kita butuhkan. Namun modern ini, tas tidak hanya berfungsi sebagai alat penyimpanan dan carrier, tapi juga berfungsi sebagai fashion item (aksesoris) yang bisa menyempurnakan penampilan dan mengangkat prestise seseorang. 

Karena itulah tidak heran kalau tas bermerek yang harganya mahal justru dijadikan sebagai koleksi oleh kebanyakan wanita modern.

3. Sepatu
Selain tas, saat ini sepatu juga sudah menjadi salah satu barang wajib punya buat sebagian orang. Karena sepatu juga dianggap sebagai salah satu fashion item yang juga bisa menyempurnakan penampilan. Saya sendiri juga koleksi sepatu kets, beberapa sengaja beli yang bermerk karena saat sudah bosan bisa dijual kembali sebagai barang preloved, apalagi kalau kondisinya masih oke. 

4. Jam tangan
Dewasa ini smartphone semakin banyak dipilih sebagai penunjuk waktu, namun jam tangan masih tetap punya tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia bahkan dunia. Bagi yang belum mampu membeli jam tangan original yang harganya agak mahal, beberapa orang akan tetap menunjukkan kecintaan mereka dengan membeli jam tangan kualitas KW. Baik untuk bergaya maupun untuk menyalurkan hobi.

5. Busana
Busana adalah benda wajib yang tanpa sadar selalu berusaha kita dapatkan setiap tahun, wait bahkan mungkin setiap habis gajian ya. Sekalipun kita sudah punya busana seabrek di lemari, tetap saja kita tertarik untuk menambah koleksi dengan berbagai macam fashion terbaru yang kekinian dan keren. Baju- baju inipun masih punya nilai jual lho saat dijual kembali.

6. Buku
Membaca adalah salah satu hobi yang paling banyak diminati selain mendengarkan musik. Tidak heran apabila kemudian buku menjadi salah satu benda yang paling banyak dicari dan dibeli oleh masyarakat.

Sekalipun kehadiran e-books dan tablet sudah mulai menarik minat banyak kaum milenial, namun bukan berarti buku-buku fisik ditinggalkan begitu saja. Karena sensasi membaca buku dengan memegang fisiknya tidak dapat digantikan dengan ebook yang bisa kita baca via gadget.

7. Mainan
Sekalipun terdengar kekanak-kanakan, tapi faktanya banyak jenis mainan yang justru jadi benda yang dicari untuk dikoleksi, bahkan oleh orang orang dewasa. Mainan- mainan yang banyak dikoleksi, diantaranya adalah action figure, static figure, diecast, permainan remote control seperti mobil RC atau drone, boneka, puzzle, dan lego blocks.
[Sumber : diaboliquetoys]

Rekomendasi tempat beli benda hobi dan koleksi yang lengkap dan murah,

Buat kamu para kolektor yang berminat untuk membeli atau mendapatkan berbagai benda di atas, kamu bisa mencari di toko online Bukalapak. Karena online shop yang satu ini tidak hanya menyediakan produk yang kondisinya masih baru, tapi juga menjual produk-produk bekas atau second.

Soal harga, Bukalapak juga terkenal sebagai salah satu toko online tempat belanja murah. Disamping itu mereka juga konsisten menawarkan diskon, cashback, hingga gratis ongkos kirim. Langsung unduh applikasinya, ya!

Senin, November 12, 2018

Pengalaman Pertama Mendaki ke Jantung Kawah Ijen, Banyuwangi

  41 comments    
categories: 
[Ijen Crater]
Pukul 01.00 dini hari, saat banyak manusia di belahan bumi lain sedang terlelap dalam tidurnya, kami para tamu Ijen yang berada di Paltuding sedang bersiap untuk mendaki guna menyaksikan indahnya keajaiban bluefire dan kawah Ijen. 

Beberapa waktu yang lalu saya kembali melakukan perjalanan bersama teman-teman kantor. Kali ini perjalananya masih seirama dengan jalan-jalan ke Bromo kemarin, kemasannya masih dalam rangka outing. hehe
[Cahaya dari Paiton]
Perjalanan dimulai dari Kediri pukul 10.00 WIB, kami seharusnya pergi ber-enam. Sayangnya ada dua yang tidak bisa ikut serta, hingga akhirnya kami meluncur hanya berempat saja. Perjalanan kami diawali dengan doa, harapannya semoga selalu lancar dan selamat sampai tujuan. 

Perjalanan Kediri- Malang cukup lancar, bahkan saat sampai di Probolinggo-pun juga semuanya lancar. Alhamdulillah. Hingga akhirnya menjelang lepas maghrib kami sampai di rumah makan Utama Raya di Situbondo. Tempatnya oke banget dan memang sengaja didesain untuk rest area, karena fasilitasnya sangat lengkap. Ada SPBU, rumah makan, pusat perbelanjaan, mushola, kamar mandi dan penginapan.
Lepas makan malam, kami meluncur menuju Ijen. Ohya dalam perjalanan ini saya banyak tidurnya hehe.. Hanya sesekali terbangun saat rombongan kami salah jalur, soalnya sepanjang perjalanan kayak hutan-hutan terus, sepi dan gelap. Kemudian tau-tau sampai di pintu gerbang utama Ijen. Kami sempat berhenti sejenak untuk melepas lelah, soalnya perjalanan panjang kan ya dan cuma duduk terus. 
Ijen dingin banget! Saya sempat duduk di kursi yang terbuat dari bambu, rasanya NYES kayak duduk di es. Padahal waktu di Bromo, saya gak begitu merasa dingin dan menggigil. Yaaaah, meskipun pernah biduran sih dulu pas di sana. Hehe.

Padahal nih, Ijen itu posisinya masih lebih rendah dibandingkan dengan Bromo. Tapi kok Ijen rasanya dingin banget ya, apa karena ini masih pertama kalinya bagi diri dan jiawaku datang kesini, makanya masih belum penyesuaian. Entahlah.

Tak menunggu lama, setelah teman-teman lain sudah siap melanjutkan perjalanan, kami mulai meluncur ke area parkir atau biasa disebut dengan Paltuding. Ohya perjalanannya sekitar 30 menit dan akan ada beberapa pos pemberhentian yang digunakan untuk pendaftaran tamu. Saat kami datang, nomor buku tamunya sudah mencapai 1000. Jadi bisa bayangkan, kami akan ada di puncak Ijen kira-kira bersama 1000 orang atau bahkan lebih. 

Nah, uniknya dalam perjalanan menuju Paltuding ini kami hanya ditarik ongkos secara sukarela saja. Baru setelah mau menuju ke gerbang pendakian, kami dikenakan tiket Rp 7.500/ orang. Murah banget!. Tapi sepulang dari Ijen nih yang mahal ongkosnya. Ongkos apa? Ongkos pijit!.

Rombongan kami sampai di Paltuding sekitar pukul 10.30 dan kami gak bisa langsung mendaki begitu saja, karena memang pendakian baru dibuka pukul 01.00 WIB. Jadi kami harus menunggu di warung kopi yang ada di sekitar area parkir. Ada juga yang mendirikan tenda sih. Kayaknya seru kalau lain kali buat 'nenda' di area Ijen. 

Ohya fasilitas toilet di Paltuding juga cukup memadai lah kalau menurut saya, air cukup dan toilet cukup bersih. Tarif toiletnya antara 3-5 ribuan saja.

Nah, pas udah mau jam 01.00, kami bersiap jalan menuju area gerbang pendakian. Sebelum itu saya sempatkan buat pergi ke toilet dulu, karena kabarnya di sepanjang jalur pendakian memang tersedia toilet namun tidak ada air yang cukup.

Setelah saya dan semua rombongan sudah memegang tiket, air mineral dan P3K masing-masing, kami bersiap untuk memulai pendakian. Ohya jarak tempuh antara pos loket dan puncak Ijen katanya cuma 3,4 km saja. 
Awalnya sih perjalanan masih asyik ya, soalnya belum begitu menanjak makin lama makin menanjak bahkan kemiringannya sekitar 40 derajat. Saya terus berjalanan sambil sesekali berhenti untuk minum. Goals saya ke Ijen ini adalah untuk dapat melihat blue fire. Ohya, rombongan yang pergi bersama kami ada 19 orang. 

Jalur pendakian di Ijen ini cukup lebar dan aman, namun pastikan tetap hati- hati karena ada beberapa spot yang cukup berbahaya kalau kita lengah. Soalnya bisa langsung terjun ke jurang kalau sampai jatuh, ehem.

Jujur, mungkin ini adalah pendakian tanpa drama yang saya alami. Kalau mungkin teman- teman masih ingat tentang pendakian saya ke Panderman tahun 2014 dan sempat disasarkan makhluk astral itu, kadang bikin malas naik gunung, asli.

Baca Juga : Pertama Mendaki, Nyasar di Panderman

Kabarnya pendakian normal dari Paltuding ke Puncak Ijen dapat dilampaui sekitar 2-3 jam. Tapi kalau yang belum pernah ke Ijen bakalan gak percaya kalau jaraknya cuma 3,4km. Soalnya serasa 200 km saking jauhnya. Memang terasa jauh karena kontur tanahnya yang naik terus. 

Namun saya jamin deh, buat yang suka sama petualangan, mendaki ke Ijen wajib buat dicoba. Suasana malam saat pendakian ini rasanya bikin syahdu di hati. Mungkin kita emang capek mendaki, tapi kita juga disuguhi sama indahnya gemintang di langit. Rasanya capek jadi sedikit terobati, kemudian tau- tau kita udah sampai di pos terakhir yang udah deket sama puncak.

Beberapa kali saya sempat merasa di PHP sama diri sendiri, soalnya sering bilang,

"wah puncak udah deket, lihat udah banyak lampunya!"

Ternyata, puncak masih jauh. Tapi, saya sangat bersyukur, karena akhirnya bisa sampai di puncak pukul 03.00, bersama mas Roni. Nah di atas, ternyata kami juga berjumpa dengan beberapa teman dari rombongan yang sedang menunggu teman lainnya.

Karena ini pertama kalinya saya berkunjung ke Ijen, saya gak mau dong ketinggalan momen buat melihat blue fire yang katanya cuma ada dua di dunia ini. Akhirnya setelah sepakat, saya dan mas Roni turun untuk melihat blue fire di dekat kawah Ijen.

Blue Fire sendiri merupakan reaksi dari gas bumi ketika bertemu oksigen pada tingkatan tertentu. Hasil dari reaksi inilah yang akhirnya memunculkan api yang berwarna biru.

Katanya, cuma 700 meter aja kami bisa sampai dekat blue fire. Nyatanya? Tau sendirilah gimana ya kan. Haha. Jalurnya bebatuan dan curam, jadi kami harus sangat hati-hati saat menuruni jalur- jalur ini. Selain karena rawan longsor juga rawan kepleset. 

Ah sebelum turun untuk melihat api biru, kamu akan menemukan penjaja sewa masker mulut khusus yang bentuknya seperti teropong, karena memang ijen ini masih termasuk gunung aktif ya.

Malam sebelumnya saya juga sudah coba untuk cari masker N95, namun tidak bisa saya temukan di beberapa apotek, jadilah cuma pakai masker mulut biasa yang tulisannya 'sensi' itu. Nah waktu ditawari, dan mas Roni memutuskan untuk tidak sewa, cukup berbahaya sih sebenernya. Padahal biaya sewanya juga murah aja, sekitar 25K.

Saat melakukan perjalanan turun menuju kawah, bau belerang bener- bener menusuk hidung. Sekitar pukul 04.00 kami sudah sampai di dekat api biru, bau belerangnya jelas makin kuat.
Hingga akhirnya mas Roni memutuskan untuk mencari tempat untuk istirahat agak jauh dari sumber gas sulfurnya dan membiarkan saya berkelana mengambil gambar api biru.
Sayangnya entah kabut atau gasnya cukup tebal saat itu, hingga api biru hanya terlihat sedikit saja. 

Suasana makin terang dan gas belerang juga makin tebal, saya memutuskan untuk istirahat di dekat tempat duduk mas Roni. Gak taunya gas belerang arah anginnya ini menuju ke arah kami. Sontak banyak yang lari menghindar dan menjauh. Sedangkan kami masih duduk disitu sambil menutup hidung. 
[haha mana ga jelas lagi ngeblur]
Setelah kejadian ini, mas Roni sempat lemas dan sayapun panik. Setelah itu lekas-lekas kami berjalan menjauh sekaligus naik ke puncaknya lagi. Padahal jujur pengen banget bisa ambil gambar kawah Ijen yang berwarna ijo tosca dari dekat. Yah, mungkin lain kali bisa kesana lagi.
[Good Morning, peps. From Punggung Gunung Ijen]
Ternyataaa, pas jalan naik ke puncak atau orang biasa bilang punggung Ijen. Kami lagi dan lagi disuguhkan keindahan yang memanjakan mata banget. Pemandangan kawah Ijen ini sungguh cantik, apalagi ditambah dengan langit dan awan yang cerah. Wow. Sumpah kalian harus datang dan lihat sendiri!.

Tapi jalur ini cukup sempit dan curam ya. Saat naik ke atas kami harus antre soalnya ada yang mau naik dan ada juga yang masih mau turun.

Apalagi waktu itu kami yang mau naik sempat dimaki-maki sama guide yang bawa tamu dan mereka mau turun lihat blue fire, padahal hari udah terang dan gak mungkin juga kelihatan jelas blue firenya.
[Bersama mas Roni]
Sampai ada beberapa yang saking buru- burunya buat turun kepleset dan batu pijakannya longsor mengenai pendaki lain. Untungnya sih gak terluka dan tidak ada korban jiwa. Emang gak bisa disalahkan karena kita yang ada di Ijen pada capek semua, jadi pada sensitif semua.

Saya sempat mendengar abang-abang bule bilang,

"Hey guys, this is not about blue fire, this about happiness".

Nah, pas udah di atas kita ketemu sama rombongan kantor yang lain dan ternyata dari 19 orang yang ikut naik ke Ijen, cuma saya dan mas Roni yang mau turun ke kawahnya. Hehe.

Setelah puas mengambil gambar, kami diarahkan untuk kembali turun ke Paltuding karena cuaca sempat berubah menjadi sedikit gerimis namun tidak lama. 

Mungkin sebetulnya Ijen itu hampir sama kayak gunung yang lain. Sama- sama ada ojeknya, jadi gak perlu khawatir buat yang pengen naik (mendaki) ke Ijen tapi kok gak mampu, yaudah naik aja taksi lokal.

Taksi Lokal?
[Taksi Lokal]
Iya, ini nih yang bikin unik, di sini ojeknya bukan ojek motor atau kendaraan yang pakai mesin. Masyarakat menyebutnya taksi, yaitu moda trasnportasi yang bentuknya kayak kereta dorong untuk loading barang di gudang- gudang consumer goods.

Jadi yang naik ya duduk di bagian depannya itu. Tapi gak usah khawatir, soalnya udah ada bantalan empuknya kok. Jadi gak akan sakit kalau duduk di taksi lokal ini.

Nah caranya penggunaanya adalah kalau mau naik taksi untuk naik ke puncak, akan ada tiga orang yang menjalankannya, dua orang di bagian depan untuk menarik dan satu di belakang untuk mendorong.

Sedangkan kalau taksi ini dipakai untuk turun, cukup satu orang saja yang mengemudikannya, karena saat turun hanya perlu rem untuk kontrol laju taksi lokal ini. 

Karena itulah biayanya mahal, kalau kamu mau naik untuk ke puncak, kamu harus mengeluarkan dana sekitar 500-700K, sedangkan kalau turun sih bisa dinego. Kemarin ada teman saya naik taksi lokal untuk turun ke Paltuding hanya membayar sekitar 100K saja. 

Selain itu, kita juga bisa melihat pekerjaan yang paling berbahaya di dunia, para penambang belerang. 

Ohya sebelum pergi ke Ijen, saya juga sempatkan untuk mencari informasi mengenai persiapan apa saja yang wajib banget dibawa buat pendaki pemula seperti saya, kurang lebih inilah yang saya pakai mengikuti tips untuk wisata ke Ijen; 
[Bersama dua kolega kantor, mas Salim dan mas Roni]
Saya kesana pakai kaos yang bahannya cukup tebal dari Kattoenhttp://www.kattoen.id/

Kemudian tambah pakai jaket yang windproof, terserah mau merk apa katanya yang bagus punya Eiger. Tapi karena gak punya, saya pakai jaket kesayangan sayaLotto.

Sepatunya saya pakai sepatu boots KodyNokha, yang solnya gak bikin lecet kaki, melindungi dari dingin dan enteng buat melangkah. Boots ini sudah saya pakai buat jalan-jalan ke Baluran, Bromo 2x, pantai dan Ijen. Cukup oke sih.

Bawa senter atau headlamp, soalnya kalau mau mendaki dini hari kayak yang saya lakukan dan teman-teman kan gelap yah,

Bawa masker ini penting banget, bisa beli masker N95 atau sewa di sana,

Bawa air mineral dan mungkin camilan, saya kemarin selama perjalanan gak makan camilan sama sekali karena ya you know lah takut sakit perut,

yang paling penting adalah selalu patuhi aturan yang ada di sana, karena kita ada di alam dan jangan pernah main-main dengan alam. Termasuk jangan suka buang sampah sembarangan, ya.

Nah, pas perjalanan buat turun ke Paltuding beberapa kali saya sempat terpeleset dan jatuh, begitu juga teman- teman yang lainnya. Tapi seru banget asli, pas sudah sampai di area Paltuding dan parkir capeknya baru kerasa semua. Udah ngantuk, capek, lusuh, semua deh pokoknya.

Awalnya saya sempat bilang gak mau naik Ijen lagi, tapi setelah satu minggu capeknya hilang baru pengen buat kesana lagi. Hehe. Soalnya ada beberapa spot yang belum saya nikmati. 

Buat kamu yang pengen ke Kawah Ijen, lokasinya ada di Taman Sari, Licin, Banyuwangi. 
[Chers, from here]
Semoga kita semua penyuka perjalanan, selalu bisa terus melakukan perjalanan dan menikmati keindahan ciptaan Tuhan. Jangan lupa untuk bersyukur. 



Sabtu, November 10, 2018

Berwisata ke Bee Jay Bakau Resort, Probolinggo

  7 comments    
categories: 

Kalau berkunjung ke Probolinggo, entah kenapa selalu pengen nyanyi lagunya Katon Bagaskara.
"Pulang ke kotamu.. Ada setangkup haru dalam rindu.. Masih seperti duluuuuuu.. Sliramuuuuu".


Haha.. Probolinggo, buat saya kota yang dilewati oleh jalur pantura ini emang punya seribu satu kenangan yang gak bisa dilupakan, padahal saya berkunjungnya sih cuma beberapa kali aja ya. Tapi mungkin karena ada seseorang yang jauh di sana, yang membuat kota ini pernah begitu istimewa.


Ah. Masa lalu..


Ohya ini ceritanya lanjutan dari perjalanan ke Bromo kemarin ya, jadi setelah turun dari Bromo kami bersiap menuju BJBR atau Mangrove Bee Jay Bakau Resort. Lokasinya ada di daerah pelabuhan PPP Mayangan. Tempat ini sih sebenernya lebih ke wisata mangrove, karena sepanjang perjalanan menuju inti dari wisata kita harus melewati hutan mangrove. 


Suasananya waktu melewati hutan mangrove ini enak, sejuk gitu. Padahal Probolinggo kan panas ya. Tapi pas udah di inti wisata, kembali panas lagi. Hehe. Nah, selain tempat wisata BJBR ini juga punya resort yang bisa disewa. Namun kali ini saya berkunjung bukan buat menginap, cuma istirahat sejenak sambil makan siang di resto yang ada di tengah-tengah BJBR.



Setelah makan siang, kami diberi waktu sekitar 1 jam untuk berkeliling melihat wisata BJBR. Ada beberapa landmark yang bagus buat foto instagram ya, tapi panasnya nggak bisa diajak kompromi. Lain kali mungkin harus bawa topi pantai atau payung ya.

Ohya fasilitasnya sendiri sudah lengkap dan memadai, ada toko souvenir, ada mushola di atas pantai dan toiletnya juga memadai banget. Ohya waktu makan siang di resortnya, menu makanannya juga enak-enak dan pengen nambah cuma malu. Haha.


Tiket masuknya standart wisata, weekdays 15K dan weekend 30K. 



Selebihnya silakan menikmati BJBR via foto ini ya..

[Ko Tian sedang berjalan menyusuri pantai]



[Kuda Cipta]





















Sepulang dari BJBR kami juga mampir untuk mencicipi es krim di Sumber Hidup dan membeli beberapa oleh- oleh.





Pulang..



Jumat, November 09, 2018

Cara Sablon Kaos Untuk Pemula

  1 comment    
categories: 
Sablon, merupakan salah satu cara yang banyak digunakan oleh masyarakat di zaman ini untuk mencetak desain dari komputer atau yang digambar, selanjutnya desain tersebut akan diterapkan pada media seperti kaos, plastik, kertas, kaca dan kayu.

Namun media yang paling banyak digunakan adalah kaos karena kembali pada kebutuhan sehari-hari.

Sekarang ini banyak masyarakat mengadakan acara atau kegiatan yang menggunakan nama sebuah organisasi atau sponsor. Maka untuk membuat kegiatan- kegiatan tersebut meriah dan kompak, panitia seringkali membuat kaos seragam bagi partisipan kegiatan. 

Hal ini membuat permintaan sablon kaos semakin banyak dan usaha sablon menjadi usaha yang menguntungkan serta memberikan kesempatan yang besar.

Nah buat yang mau bikin usaha sablon tapi masih pemula, ada beberapa keunggulan tekhnik sablon yang wajib kamu tahu nih, diantaranya;

  1. Kamu bisa mencetak desain yang sama pada berbagai kaos dengan jumlah yang sangat banyak,
  2. Hasilnyapun relatif stabil dan seragam, hal ini menjadikan banyak pengguna teknik sablon merasa puas,
  3. Menghasilkan beberapa efek yang menarik dan tidak ada pada kaos biasa yang mungkin kamu beli di toko seperti glitter, glow in the dark, efek desain timbul dan juga efek mengkilap ataupun metalik,
  4. Biaya cetak masih terjangkau namun hasil yang diberikan tetap bagus,
  5. Fleksibel, dikarenakan dapat diaplikasikan pada jenis  bahan apa saja dengan desain beragam. Namun pencetakan untuk desain tertentu masih membutuhkan teknik yang juga berbeda di setiap printing sablonnya.

Banyak yang berminat untuk mempelajari sablon, dikarenakan teknik sablon ini mudah dipelajari dan  tidak membutuhkan modal yang terlalu besar untuk awalnya. Khususnya buat yang memulai UMKM dibagian percetakan, percetakan kaos bisa jadi alternatif pilihan untuk usahamu.

Persiapan Cetak Sablon 

Saat kamu ingin mencoba membuka usaha sablon, hal pertama yang harus dilakukan adalah persiapan bahan dan alat sablon. Berikut adalah tahapan dalam mempersiapkan cetak sablon:

  • Kamu harus punya kaos polos yang akan dicetak, kalu bisa pilih warna yang terang, ohya jual beli kaos polos juga bisa jadi usaha sampingan loh,
  • Papan triplek ukuran besar,
  • Rangka atau screen gambar yang sudah diafdruk untuk diterapkan pada media, khusus untuk sablon,
  • Rakel yang telah terpasang dengan pegangan rakelnya juga,
  • Tinta khusus sablon atau tinta tekstil, tinta ini bisa dibeli di toko yang menyediakan bahan tekstil,
  • Lakban dan juga plastik yang ketahanannya cukup kuat,
  • Kain katun perca serta air secukupnya untuk membersihkan sisa tinta yang ada pada kaos hasil sablon.

Proses Cetak Sablon 

  • Siapkan kaos yang akan digunakan, kemudian masukan ke tatakan triplek agar kaos tersebut tertarik dengan sempurna, hal ini supaya tinta tidak tembus ke bagian belakang kaos. Selain itu guna dari tripleks ini adalah untuk menstabilkan kaos saat sedang disablon,
  • Letakan rangka, screen maupun kasa sablon di atas kaos. Usahakan posisi gambar sesuai dengan desain yang diinginkan, karena akan sulit untuk mengubahnya jika ada kesalahan.
  • Jika desain lebih dari satu warna, maka gunakan selotip untuk menutupinya,
  • Posisikan rangka screen sesuai rancangan yang kamu buat,
  • Tuang tinta di sisi gambar tepat diatas obyek. Setelah itu tarik cat sablon tersebut ke bawah dengan rakel dan  berikan tekanan yang kuat supaya tinta merata. Cukup satu kali tarikan saja namun pasti, jangan ragu saat menarik rakel,
  • Bersihkan atau cici tinta dari rangka dan siapkan gambar lainnya atau media lain,
  • Terakhir atur hasil sablon dan ulangi tahapan diatas sampai kaos dan desain yang kamu inginkan selesai. Sehingga tidak akan ada kesalahan atau human error karena pencetakan ini.

Nah, kalau dilihat dari tahapannya mudah kan? Buat kamu yang ingin menggunakan cara ini untuk mencoba tekhnik sablon, bisa langsung menyiapkan alat dan bahannya. Kalau semua kaos sudah tersablon dengan baik tunggu hingga tinta kering sempurna.

Untuk pengeringannya, lebih baik kamu menggunakan angin- angin atau cahaya matahari. Karena hasilnya dapat lebih bagus jika dibandingkan dengan mengeringkan menggunakan pemanas elektronik seperti hairdryer dan sejenisnya. 

Kamis, November 08, 2018

Menikmati Keindahan Bromo di Musim Kemarau

Halo..

Haha.. Jujur kagok banget mau mulai cerita perjalanan ini. Entah mungkin karena sudah cukup lama tidak berbagi di blog karena alas an sibuk atau emang sense menulisnya mulai luntur. Sebenernya banyak sekali yang ingin saya ceritakan, tapi lagi- lagi entah kenapa buat mulai kok susah sekali.

Bromo, lagi dan lagi. Tahun ini adalah ketiga kalinya saya berkunjung ke bumi Tengger ini, pertama saat awal tahun, kedua di pertengahan tahun sepulangnya dari Baluran. Ketiga kalinya ini berkunjung karena acara outing bersama kolega kantor, divisi finance & accounting (F&A).

Bosan nggak sih berkunjung ke Bromo lagi, lagi dan lagi? Nggak sama sekali lho. Malahan masih penasaran terus. 

Pengalaman baru karena sebelum-sebelumnya kan gak pernah ke Bromo bareng- bareng gini. Kami berangkat hari Sabtu sore menuju ke Surabaya karena sekarang ini Madiun- Surabaya udah ada jalan tol. Jadi bisa lebih cepat dan efisien.

Bayangan malas kalau berkunjung ke Surabaya harus ditempuh dengan waktu  berjam-jam juga udah sirna. Intinya perjalanan sangat lancar dan tanpa hambatan. Buktinya pukul 18.30 kami sudah sampai di Rumah Makan Bu Kris Pandaan, padahal saat rombongan sampai di daerah Kertosono pukul 16.00 WIB.

Setelah semua rombongan F&A sudah berkumpul dan makan malam sudah selesai, kami bertolak menuju Bromo. Saya gak begitu memperhatikan jalan karenaaaa tidur. Haha. Maklum deh ini kan perjalanan singkat, Sabtu berangkat, Minggu udah pulang. Jadi harus banget jaga kondisi badan, apalagi niatnya ke Bromo kan mau lihat sunrise, otomatis kita gak tidur malam harinya.

Sekitar pukul 22.30an tau-tau aja kami udah sampai di penginapan untuk coffee break dan istirahat sejenak sebelum melakukan persiapan untuk melihat sunrise. Ohiya, waktu itu juga pas banget mati listrik, jadi karena gabut kami akhirnya pada tidur pulas. Hahaha

Pukul 02.30 WIB jeep datang menjemput dan kami bertolak menuju penanjakkan. Saat itu kondisinya Bromo lagi penuh karena memang sedang weekend dan after libur panjang. Nah karena itu rombongan kami tidak dapat parkir di penanjakkan 1 dan beralih ke bukit cinta.

Di Bromo ini memang ada beberapa spot untuk melihat matahari terbit. Penanjakkan 1,2, Bukit kingkong dan bukit cinta. Masing-masing punya view yang berbeda, maka dari itu ke Bromo tuh gak bisa cukup sekali aja.

Cuaca pagi itu cukup mendukung dan matahari terbit dengan cantiknya. Sungguh jatuh cinta banget sama rona jingga, biru, dan ungu di pagi itu. Karena ini perjalanan dinas jadi saya gak bisa seenaknya menikmati keindahan matahari terbit ini terlalu lama, setelah dirasa cukup kami kembali ke parkir jeep untuk menuju ke pasir berbisik.
Ohya, sayang saat itu kami tidak  dapat melihat bukit teletubies karena kondisinya yang masih pemulihan pasca kebakaran beberapa waktu yang lalu. Ah saya hampir lupa, ini pertama kalinya saya ke Bromo saat musim kemarau dan menjadi pengalaman baru karena dapat melihat Bromo dengan view yang berbeda, kering, gersang dan badai pasir.
Makin siang Bromo makin panas dan kami juga sempat mengalami terpaan badai pasir saat melakukan perjalanan menuju jeep. Begitu sampai di kendaraan pak sopir yang bahkan saya lupa bertanya siapa namanya itu meminta kami semua untuk lekas masuk ke dalam untuk menghindari badai.
Karena kondisi badan yang sudah lelah kami sepakat untuk segera kembali ke penginapan untuk sarapan dan bersih diri karena akan melanjutkan perjalanan ke Bee Jay Bakau Resort (BJBR) di daerah Mayangan Probolinggo.

Next..