Selasa, Juni 04, 2019

Euforia Menyambut Lebaran

  No comments    
categories: 
Haru dan sedih, begitu cepat Ramadan berlalu. Tak terasa, Insya Allah malam ini akan terdengar kumandang takbir di segala penjuru dunia. Saat takbir berkumandang, terkadang muncul perasaan riuh sekaligus sepi dalam hati saya.

Lebaran tinggal menghitung jam saja, persiapan apa saja yang sudah dilakukan untuk menyambutnya? Di wilayah saya, ada banyak kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat untuk menyambut datangnya hari yang fitri. Maka dari itu saya menyebutnya sebagai, euforia lebaran.

Dua minggu jelang lebaran, biasanya sudah banyak yang bersiap untuk memperbarui warna rumah dan pagarnya. Gak lupa juga sofa, meja dan kursi dijemur biar kembali empuk saat diduduki tamu.

Nah, kalau di rumah saya sendiri, hingga saat ini euforianya masih sekedar cat ruang tamu  dan cuci- cuci toples untuk pemanis meja saat lebaran nanti. Kalau soal beres- beres rumah, biasanya sih beberapa jam sebelum salat ied, jadi suka bangun pagi banget. Toh juga rumahnya jarang dibuka saat lebaran, soalnya pergi terus. Haha.

Selain itu, tahun ini saya juga gak begitu banyak berkunjung ke pusat perbelanjaan seperti tahun sebelum- sebelumnya, untuk beli jajanan atau baju. Semuanya sudah kami persiapkan jauh- jauh hari sebelum puasa tiba. Maksudnya seperti jajanan, kami sudah pesan ke langganan dan siap diantar ke rumah beberapa hari sebelum lebaran tiba.

Euforia lain ketika jelang lebaran adalah mulai majunya jamaah yang datang untuk tarawih dan tadarus. Kalau ini entah pantas atau tidak jika disebut euforia, namun kenyataanya seperti itu sih. Dan yang paling tidak bisa dilepaskan saat jelang lebaran adalah mulai banyaknya suara petasan dan disepanjang malam.

Ada satu tambahan lagi euforia yang saya lakukan jelang lebaran, saya memandikan kucing- kucing yang ada di rumah, namun karena adanya penguranga secara drastis, jadinya tahun ini hanya memandikan satu kucing saja. Saya pribadi tidak ada yang istimewa dalam menyambut lebaran, hanya mempersiapkan hati dan diri aja kalau berkunjung ke tetangga ditanyain kapan kawiiin..

Entah ini boleh disebut euforia atau lebih ke fenomena. Ohya, sebagai pemilik blog ini, saya menyampaikan mohon maaf lahir dan batin untuk semua pembaca, ya. 

Senin, Juni 03, 2019

Tentang Jodoh dan Kesehatan

  No comments    
categories: 
[Dibuat dengan Canva]

Ada rasa sedih ketika ramadan mulai meninggalkan diri, meski sudah berusaha sebaik mungkin, tapi rasanya masih tetap belum maksimal dalam menjalankan ibadah selama bulan ramadan. Padahal di bulan suci penuh berkah ini, kita sebagai umat Nabi Muhammad diberi kesempatan seluas- luasnya untuk berdoa dan beribadah kepada Allah SWT.

Saya pernah mendengar ceramah saat mengikuti majlis, ada waktu- waktu mustajabah atau waktu terbaik untuk berdoa dan berpeluang besar dikabulkan. Waktu- waktu itu diantaranya adalah sepertiga malam terakhir, saat sahur, menjelang berbuka, saat malam lailatul qadar, dan sepanjang puasa (sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Penjelasan waktu tersebut ada hadistnya, silakan dicari ya atau ditanyakan kepada ustadznya. Di sini saya gak akan bahas soal hadist- hadist.


Nah, karena ada banyak sekali waktu istimewa yang diberikan kepada kita, maka sayapun tidak mau menyia- nyiakan kesempatan ini. Ada cukup banyak doa dan harapan yang saya panjatkan sepanjang Ramadan ini. Utamanya berkenaan dengan diri saya sendiri dan orang terdekat.

Sebagai anak perempuan yang dianggap sudah cukup umur (di atas 25 tahun) dan sudah pantes untuk menikah. Saya sering banget dikejar pertanyaan “kapan?”. Sebetulnya, orang tua tidak memaksa saya untuk segera menikah, semua diserahkan sepenuhnya kepada saya.

Hanya saja, ada saja banyak orang di luar sana yang mengusik dan akhirnya orang tua sering ke’triger’ mengenai hal ini. Ini juga gara- garanya, ada cukup banyak anak perempuan di wilayah saya yang usianya beda 4-5 tahun lebih muda, sudah lebih dulu menikah dan memiliki anak. Jadi seolah- olah saya yang usianya di atas 25 + 1 ini dianggap ketuaan banget dan belum nikah- nikah. Hahaha. Ingin tertawa tapi sebal.

Berkenaan dengan itu, maka saya berusaha untuk selalu meminta diberi jodoh yang baik dan diberi ketetapan iman. Tak perlu cepat, asal datang di waktu yang tepat. Jujur nih ya, kalau terus dikejar- kejar sama pertanyaan soal nikah, kadang muncul pemikiran males buat nikah. Hahaha

Selain itu di Ramadan ini saya juga berdoa semoga diberikan rejeki yang cukup dan barokah. Cukup buat beli rumah, cukup buat beli heli, cukup buat pelesiran kemana- mana. Hahaha. Nglunjak.

Semoga saya, orang tua, keluarga dan semua makhluk selalu diberikan kesehatan biar bisa terus beribadah dan melakukan aktivitas, diberikan keselamatan di dunia dan akhirat dan yang terakhir semoga bisa berjumpa kembali dengan Ramadan di tahun depan.

Ada aamiin?

Minggu, Juni 02, 2019

Momen Terbaik Ramadan Tahun 2019

  No comments    
categories: 
[Dibuat dengan Canva]

Alhamdulillah, 28 hari ramadan sudah terlewati. Insya Allah usahanya maksimal dan seimbang antara hablumminallah dan hablumminanas, berusaha memaksimalkan antara urusan akhirat dan urusan dunia.


Di Ramadan tahun ini saya masih sama seperti tahun sebelumnya, masih tetap bekerja seperti biasanya, semuanya masih sama. Namun setiap momen pasti ada satu atau dua hal yang spesial dan jadi yang terbaik.

Sama kayak Ramadan sebelumnya, Ramadan saya di tahun ini juga punya beberapa momen terbaik yang Insya Allah akan jadi pengalaman tak terlupakan untuk tahun- tahun selanjutnya.

Ohya, teman- teman yang mengikuti blog ini pasti tahu kalau baru-baru ini saya mulai bergabung dengan komunitas pecinta kucing di Kediri, kan. Nah semenjak saya bergabung dengan komunitas ini, lingkar pertemanan saya juga semakin luas.

Ditambah lagi, di Ramadan ini saya juga turut serta dalam acara bagi takjil. Ngomong- ngomong, saya baru dua kali mengikuti acara bagi takjil semacam ini. Haha. Call me, coepoe.

Selain itu, di Ramadan ini saya akhirnya bisa menghatamkan alquran di hari ke 25. Sebetulnya saya tidak ada goal untuk khatam saat Ramadan, karena sadar diri ada pekerjaan lain yang mungkin akan bikin waktu terbatas untuk bisa ngaji.

Ternyata, saat di kantor juga masih bisa ngaji karena saya punya aplikasi MyQuran yang senantiasa menemani dan bisa dibaca setiap waktu. Dengan begitu, saya juga bisa tetap menjaga wudhu. Alhamdulillah.

Yang terakhir, momen terbaik saya di tahun ini adalah meminimalisir buka puasa di luar rumah. Cuma 3 kali dan itupun hanya teman kantor dan teman dekat. Tahun ini saya memang tidak ikut acara buka bersama teman- teman sekolah.

Entah mungkin memang tidak ada yang mengadakan karena sudah pada repot sendiri, atau saya yang kurang tau informasinya. Yah, hikmahnya bisa lebih banyak buka puasa bersama keluarga di rumah.

Melariskan masakan ibu yang mungkin masakkannya tidak seenak resto ternama, tapi selalu jadi yang paling enak di lidah kami sekeluarga.

Semoga tahun- tahun selanjutnya bisa berjumpa kembali dengan Ramadan, meskipun tidak ada jaminan.  

Sabtu, Juni 01, 2019

5 Jajanan yang Wajib Ada Saat Lebaran

  No comments    
categories: 
[Dibuat dengan Canva]
Liburan hari pertama kerja dan H-4 menuju lebaran. Rasanya sudah mati kebosanan. Dari pagi cuma tiduran, main handphone dan nonton youtube. Gak produktif blas. Tahun lalu, liburan kerja itu mepet banget sama hari raya.

Jadi panjang libur di lebarannya, kalau tahun ini malah 4 harinya ada di akhir bulan puasa. Karena memang gak punya agenda apa- apa jadi seharian isinya mager- mageran. Tahun ini juga gak bisa pergi kemana- mana karena mepet banget sisa libur lebarannya sama masuk kerja.

Sebenernya pengen sih bikin kue buat suguhan lebaran, tapi kayaknya susah terlaksana karena memang gak menganut tradisi itu, sejak dulu. Pernah sesekali bikin kacang asin atau kacang telor, tapi udah lama banget gak bikin lagi. Lebih ringkes beli dan memang sudah punya tempat favorit yang mana udah teruji rasa. Jadi cuma nyiapin  toplesnya aja, tau- tau udah terisi sempurna.

Meskipun jajanan lebaran di rumah itu hasil beli semua, tapi ada 5 jajanan yang belum pernah absen di toples lebaran rumah saya. Semuanya simpel, enak dan selalu laris manis sepanjang masa. Apa aja sih?

Jelly Inaco
[Sumber gambar : Shopee]
Haha sebut merk, ya emang jajanan yang ini adalah salah satu yang favorit bagi para tamu. Selain karena enak juga menyegarkan. Pernah waktu kumpul keluarga, saya dan para sepupu menghabiskan lebih dari 1 toples jelly Inaco.

Lidah Kucing
[Sumber gambar : resepidea]
Ada yang suka sama lidah kucing? Kue kering yang manis dan renyah ini memang enak banget kalau dibuat cemilan. Apalagi tampilannya juga simpel, pipih memanjang dan mudah dikunyah. Anak kecil sampai yang sudah sepuh pun doyan sama kue ini.

Twistcorn
[Sumber gambar : beoku.com]
Kalau twistcorn itu lebih ke snack ya, rasanya gurih dan nagih banget. Saya biasa beli twiscorn untuk lebaran karena memang banyak yang suka, kami di rumah juga biasanya suka khilaf nyemilin snack ini. Sambil nonton tv, tau- tau abis aja.

Sus Kering isi Coklat
[Sumber gambar : inikue.com]
Pernah denger bawang coklat? Sus yang isinya coklat itu lho. Kalau di masyarakat biasanya pakai yang merk Walens, karena mungkin emang branding awalnya yang bawa adalah Walens ini. Sus yang kering di luar tapi ada kejutan coklat leleh di dalam. Tapi sekarang sus kering ini isianya gak cuma coklat aja, udah ada blueberry, nanas, dan sebagainya.

Keripik Jagung
[sumber : foto dari Bukalapak]
Ini juga favorit banget, selalu laris manis. Mungkin karena dasarnya orang suka ngemil, ya. Jadi suguhan sejenis snack selalu laris manis. Kerpiki jagung atau biasa disebut dengan tortilla ini juga favorit banget. Rasanya gurih dan crunchy kalau dimakan. Bikin gak bisa berhenti.

Sisanya mungkin hanya jajanan toples dengan merk tertentu sebagai pelengkap meja saja. Tapi sejauh ini yang selalu ada di rumah adalah 5 jajanan di atas. Pertimbangan kami buat beli jajanan yang jadi favorit itu karena rumah kami baru open house saatH+4, soalnya orang tua saya ka nada di posisi anak yang lahir belakangan, jadinya masih ada tradisi berkunjung ke kakak- kakaknya.

Kalau di rumah kalian, jajanan wajib adanya apa aja nih temen- temen?.

Ohya, saya beli jajanan lebaran di teman kantor saya, namanya Erkham Salim. Buat yang di Kediri, Pare dan sekitarnya boleh banget kalau tahun- tahun berikutnya beli di dia ya.

Rasanya sudah tentu enak dan harganya juga tidak mahal. Karena dia jualan prinsipnya, untung sedikit tidak apa- apa yang penting berkelanjutan.

Kalau kamu tertarik, bisa colek di instagram atau twitter saya, ya. Nanti saya kasih kontaknya. Thankyou.

Jumat, Mei 31, 2019

Mengisi Waktu Ramadan, Enaknya Ngapain Aja Ya?

  No comments    
categories: 
Kalau ditanya kayak judul di atas, saya akan menjawab “Kerja! Kerja! Kerja!”, bukan berarti karena menjadi pendukung pak Jokowi saat pemilu, tapi jargon Kerja! X 3 itu memang betul adanya di bulan ramadan saya 2 tahunan ini.

Betul, sejak mulai ngantor di Kediri, ramadan saya selalu diisi dengan kegiatan kerja saja, gak ada yang lain. Karena jamnya juga cuma dikasih diskon 1/2 jam saya dari hari biasa. Bisa dibilang, gak ngaruh- ngaruh banget lah diskonnya itu.

Tapi akhirnya saya nemu beberapa kegiatan yang asyik saat ramadan dan saat libur kerja, yaitu jalan- jalan. Sebetulnya baru kali ini saya traveling saat puasa dan ternyata seru. Sebelum- sebelumnya saya suka males tuh kalau pergi pas puasa, takut lemes dan alasan lain.

Tapi kemarin waktu libur kerja, coba jalan- jalan ke pantai di Blitar, ternyata rasanya juga biasa aja sih. Sama kayak waktu hari biasa, bedanya kan gak makan dan gak minum. Traveling saat puasa itu enak karena hemat biaya. Banyak biaya yang dipangkas kalau jalan- jalan waktu puasa.

Di tahun ini, saya juga nemu kegiatan baru yang Insya Allah akan terus berlanjut meskipun gak lagi ramadan. Nemu idenya pun juga ga sengaja, waktu bengong- bengong lalu kepikiran untuk buka toko online. Sebenernya sih udah cukup lama punya angan- angan mau bikin toko online.

Tapi baru terlaksana kemarin. Sekarang ini lagi belajar mengenali websitenya sih, karena dibagian seller kan lain dengan buyer. Doakan semoga lancar dan konsisten ya.

Ikut survey online, berawal dari pengen punya hp baru tapi masih mikir- mikir karena ada keperluan yang lebih penting, jadi saya coba buat ikut survey berbayar yang ada. Semacam Toluna dan beberapa web survey lain. Iseng- iseng berhadiah ceritanya.

Pas lagi ga ngapa- ngapain juga, kemarin saya sempat bikin anting dan gantungan kunci pom- pom. Ini juga ngelanjutin kegiatan yang dulu- dulu sih. Pas lagi pulang kerja, terus tiduran eh lihat seperangkat alat bikin pom- pom dan bahannya.

Rasanya juga udah lama banget nggak utak- atik bikin sesuatu. Jadilah kemarin mulai ubek- ubek lagi. Saya sebetulnya suka kalau diajak bikin prakarya atau punya project, sayangnya saya tidak punya cukup waktu untuk fokus di situ.

Nah, jadi itu tadi beberapa kegiatan yang saya lakukan untuk mengisi ramadan kali ini. Kalau kamu, ramadan ngapain aja?

Kamis, Mei 30, 2019

Tradisi Lebaran di Keluarga

  No comments    
categories: 

Lebaran, apa sih yang sebetulnya paling ditunggu- tunggu saat lebaran? Kalau ditanya kayak gitu, setiap orang jawabannya pasti bakalan lain- lain. Ada yang jawab mau silaturahmi, pengen cepet lebaran karena gak sabar punya baju baru, dan dapat uang saku.

Dulu saya sebagai anak kecil, yang ditunggu- tunggu jelas yang terakhir, dapat uang saku. Bahkan kalau semakin banyak berkunjung ke rumah saudara atau teman bapak-ibu, dapatnya bisa berlipat- lipat. Dikumpulin, buat beli alat sekolah, kalau gak gitu buat beli sepeda.

Sampai- sampai nih, ada yang menyebut kalau lebaran itu adalah momentum anak yang dianggap masih pantas untuk dapat uang saku mendapatkan penghasilan. Saya masih ingat banget waktu lebaran, terakhir kali saya menerima uang saku di atas nominal rata- rata saya setiap tahun merayakan lebaran adalah kuliah semester akhir. 

Hahaha.. Teman- teman boleh tidak percaya, kuliah semester akhir itu artinya umur 22 tahun.  Setelah tahun- tahun itu, saya sudah tidak menerima uang saku saat lebaran sebanyak sebelumnya. Masih ada, namun berkurang drastis. 

Semakin dewasa, saya juga mulai malu menerima uang saku saat lebaran. Seolah sudah gak pantas kalau dikasih secara cuma- cuma. Apalagi sekarang ini kan sudah bekerja juga. Yah memberi uang saku kepada anak- anak kecil atau saudara yang dianggap masih pantas menerima uang saku ini sebetulnya siapa sih yang memulai? Kan jadi tradisi yang gak bisa lepas begitu saja. Haha..

Bikin repot aja, apalagi buat first jobber. Ya meskipun gak wajib sih, tapi pernah gak sih menghadapi saudara atau teman orang tua yang bilang “ayo minta saku sama tante/ mbaknya, kan udah kerja”.

Nah kalau tradisi lebaran di keluarga saya yang belum pernah berubah dari dulu hingga sekarang adalah ritme dalam berkunjung. Jadi keluarga saya itu tinggal beda kecamatan meskipun masih dalam lingkup satu kabupaten.

Jadi, kalau hari pertama lebaran itu sudah pasti kami akan salat ied di masjid yang bahkan sejak saya kecil belum pernah berganti. Jadi disitu terus kalau salat. Entahlah kayak gak mau pindah ke lain hati.

Pas udah pulang, kami saling salaman ya saling meminta maaf satu sama lain. Kemudian dilanjut berkunjung ke tetangga kanan kiri dan tetangga satu lingkunan RW. Kalau dulu sih saat uti masih ada, sebelum jam 10 pagi, kami pasti sudah ada di rumah uti dan semua keluarga juga sudah berkumpul di sana.
Namun, sekarang orang tua bapak dan ibu juga sudah berpulang semua. Jadinya kami sekeluarga baru pergi ke rumah uti di hari kedua sekalian ada acara reuni keluarga besar. Jadi lebih ringkas lagi agendanya. Lalu akan dilanjut berkunjung ke saudara- saudara kandung bapak dan ibu.

Mungkin saja tradisi ini akan berubah ketika saya sudah menikah. Itu saja sih tradisi yang belum pernah berubah dalam hidup saya saat lebaran selama hampir 26 sekian tahun.

Kalau di keluarga kalian, ada tradisi apa nih saat lebaran? 

Rabu, Mei 29, 2019

Penting Ga Penting Beli Baju Baru untuk Lebaran

  1 comment    
categories: 
[Dibuat dengan Canva]
“Baju baru Alhamdulillah, dipakai di hari raya, tak punyapun tak apa-apa, masih ada baju yang lama”

Keingat sama lagu ini terus tiap mau jelang lebaran. Kayaknya dulu waktu masih kecil, beli baju buat lebaran itu semacam suatu ritual wajib dan gak boleh dilewatkan. Kalau baju udah baru, sepatu sandalnyapun juga harus baru. Karena gak lengkap kalau yang 1 baru dan yang satu enggak.

Kegiatan beli baju baru untuk lebaranpun berulang setiap tahun dan gak pernah absen. Hal ini jadi suatu kebiasaan yang bikin kami sebagai anak kecil berpikir “ini kan lebaran, jadi wajib dong punya baju dan sepatu sandal baru”.

Tapi akhirnya, pernah suatu ketika keuangan keluarga kami sedang buruk jelang lebaran karena suatu hal yang tak terduga, seingat saya waktu itu masih kelas 2 SMA. Disitu titik balik saya dan adik mulai tidak menuntut ibu untuk beli baju baru untuk lebaran.

Kami mulai maklum, bahwa baju kan bisa dibeli kapan aja, gak harus nunggu saat lebaran juga bisa. Toh juga sebelum- sebelumnya kami sering beli baju.

Syukur gak lama setelah itu, keuangan keluarga kami mulai membaik dan kembali seperti biasanya. Namun ada satu hal yang berbeda, yaitu cara berpikir saya terhadap makna lebaran.

Ternyata lebaran gak wajib kok beli baju dan sepatu sandal baru, sama kayak lagunya  Dea Ananda itu, “ tak punyapun tak apa-apa, masih ada baju yang lama”.

Jadi makin kesini saya udah mulai jarang banget beli baju waktu mau lebaran. Apalagi semenjak sudah kerja, beli baju bisa kapanpun semau saya.

Tapi meski gak lagi ikut tradisi beli baju baru untuk lebaran, saya juga rajin sih cek beberapa e-commerce ngintip baju kayak apa sih yang lagi hits di tahun 2019 untuk lebaran.

Meski ada hasrat pengen beli tapi saya urungkan niat belinya. Takut gak nyampe bajunya karena udah overload di pengiriman. Nah kalau disuruh belanja offline ke toko, apalagi kalau pas puasa itu saya malas banget. Jadi tahun ini saya gak beli baju baru. Uangnya mau ditabung aja buat jalan- jalan saat libur lebaran. Hehe.

Dulu beli baju lebaran penting banget buat saya, namun sekarang penting gak penting. Seperlunya aja. 

Selasa, Mei 28, 2019

Cerita Buka Bersama Saat Ramadan

  1 comment    
categories: 
[Dibuat dengan Canva]
"yang tidak bisa kembali adalah waktu", makanya kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. 

Berulang kali saya dengar ucapan semacam itu. Tapi setelah saya renungkan, bener juga omongan tersebut. Kalau lagi bulan ramadan, rasanya seneng banget karena di sisi lain bisa silaturahmi dengan teman- teman yang sudah lama gak bersua. Teman sekolah sih utamanya.

Saya mulai mengikuti tradisi buka bersama itu, kalau gak salah setelah zaman kuliah. Soalnya kalau pas zaman sekolah kan selalu ada acara pondok ramadan dan menginap. Jadi anggapanya sudah buka bersama teman- teman sekolah.

Buka bersama teman angkatan sekolah itu rasanya senang banget, malahan jadi satu hal yang ditunggu- tunggu saat ramadan tiba. Jauh- jauh hari juga sudah ada omongan soal buka bersama, padahal bulan puasa aja belum dimulai. 

Tahun- tahun sebelumnya, saya selalu turut serta dalam acara buka bersama, baik teman SMP maupun SMA. Nah kalau teman kuliah jarang sekali bisa hadir, karena selain lokasinya ada di luar kota, saat zaman masih kuliahpun acaranya selalu diadakan dekat dengan lebaran, padahal anak rantau kan udah pulang, yak. 

Namun beberapa tahun terakhir ini, semenjak banyak teman- teman yang sudah mulai lulus dan bekerja di luar kota, otomatis memiliki kesibukan masing- masing. Komunikasi satu sama lain sudah mulai jarang terjalin.

Meskipun ada grup WhatsApp yang menyatukan kami, tapi ya jelas udah tau lah ya. Sesuatu kalau semakin lama kan bisa jadi bosan, tidak menarik, dan sejenisnya.

Dulu saya sering banget buka bersama di luar rumah, agendanya banyak aja pokoknya. Buber alumni SMP, SMA, komunitas, ekstrakulikuler, temen satu geng dan sejenisnya.

Tapi makin kesini mulai sedikit jamaahnya, jadi malas juga kalau gak ramai- ramai. Jadilah tahun ini undangan untuk buka bersama dipastikan hanya dengan teman kantor dan teman akrab saya saja. Saya yang biasanya ditanya oleh teman- teman untuk sounding soal acara buka bersama, kali ini rasanya sudah gak ada hasrat lagi untuk turut serta.

Jadi selama ini hanya buka bersama di luar sebanyak 2 kali saja dan sisanya buka bersama di rumah. Kalau teman- teman gimana?

Senin, Mei 27, 2019

Make Up Simple untuk Lebaran

  6 comments    
categories: 
Lebaran tinggal menghitung hari saja nih, ya ampun kenapa lekas sekali ramadan pergi ya. Udah pada persiapan apa aja nih buat lebaran? Kalau saya lagi rajin nonton youtube buat belajar make up yang simpel. Masa dari dulu gitu- gitu aja dandannya, ya kan. Harus udah sedikit naik level. 

Nah, karena saya ini sebetulnya sehari- hari gak begitu suka memulas wajah secara penuh, dan hanya dandan di saat yang penting saja, seperti kondangan atau acara keluarga. Bahkan saat kerjapun saya hanya menggunakan 4 step untuk wajah saya, yaitu pelembab, bedak, lipbalm dan lipstik.

Kenapa gak ngalis? Cukup banyak teman- teman yang tanya soal ini. Pertama, jelas karena saya gak hobi, yang kedua alis saya sudah cukup terbentuk, ini gara- garanya dulu waktu ada saudara yang nikah dan didapuk jadi domas, sempat dirapikan alisnya, meski sedikit. Gak nyangka hasilnya bisa cukup bagus sampai sekarang. Jadi saya belum merasa perlu untuk ngalis kalau buat sehari- hari.
[Kira- kira looknya jadi begini]
Buat yang punya problem yang sama kayak saya, yaitu gak gitu suka makeup dan belum bisa mengaplikasikan makeup secara sempurna. Mungkin sedikit tips make up simpel ini boleh dicoba, apalagi ini kan udah mau lebaran, tampil sedikit wow boleh dong.  

Pertama, coba aplikasikan pelembab supaya tidak kering saat nanti ditimpa dengan foundie, kemudian ketika sudah cukup menyerap aplikasikan foundation yang sesuai dengan warna kulit kamu. Ratakan foundation dengan beauty blender atau kuas juga boleh. Jika dirasa kurang oke coverage dari foundation, boleh banget ditambahkan lagi layernya. Suka- suka yang make deh pokoknya.

Kedua, setelah beres dengan urusan pelembab dan foundie, its time to Baking. Baking ini adalah mengulaskan bedak tabur pada area tertentu. Seperti di bawah mata, ujung hidung, atas alis dan kelopak. 

Selanjutnya bisa membuat alis dengan gaya yang biasa kalian gunakan, biasanya sih saya gak suka ngalis yang tebel, cuma secukupnya aja dan itupun gak nampak kayak ngalis. Haha. Emang belum pro sih. Lanjut ke area mata, aplikasikan eyeliner kemudian lanjut ke maskara.

Bagian ini yang paling saya suka, mengaplikasikan blush on. Entah kenapa saya suka banget pakai blush on. Rasanya bikin wajah jadi terlihat cerah dan segar. Yang terakhir nih sekarang, saya suka pakai lipbalm atau lip butter kemudian lanjut mengaplikasikan lipstik.

Udah sesimpel itu, tapi hasilnya juga lumayan bagus kalau dibuat foto. Tinggal sesuaikan dengan outfit lebaran, jadi deh. 

Minggu, Mei 26, 2019

Cara Uti Mengajarkan Saya Puasa

  1 comment    
categories: 
[Dibuat dengan Canva]

Klasik gak sih kalau saya bilang puasanya cepet banget udah mau habis aja? Hehe. Kenyataannya memang seperti itu sih ya. Padahal dulu itu kalau lagi puasa rasanya waktu lama banget gak jalan- jalan.


Dulu waktu masih kecil kalau lagi weekend, saya sering banget nginap di rumah nenek. Kalau pas puasa begini, saya suka menemani uti memasak untuk buka puasa. Itupun rasanya kayak lama banget maghribnya.

Ohya, uti saya ini punya andil yang besar dalam mengajarkan puasa dan agama ke saya, selain orang tua tentunya. Sependek ingatan saya, uti tidak pernah memaksa saya untuk ikut puasa saat ramadan. Ini ceritanya juga boleh dapat dari ibu.

Karena dulu masih kecil, jadi memang belum mengerti tentang puasa. Bulan puasa ya main kayak biasanya, tapi kalau jam makan siang, uti selalu memanggil saya untuk pulang dan makan. Biasanya kan kalau lagi makan gitu suka barengan, nah ini kok uti gak makan yaa. Disitulah saya diberi pengertian soal puasa, waktu itu kayaknya masih TK A.

Esoknya uti mulai membangunkan saya sahur, kemudian dibatasi makan sampai jam 10 pagi. Selanjutnya boleh makan lalu puasa lagi sampai jam 3 sore, makan lagi lalu puasa sampai maghrib. Jadi total makan 4 kali haha. Hal semacam ini berulang sekitar beberapa hari. 

Lalu diajak naik level dengan puasa setengah hari, yaitu jam 12 ssiang baru boleh buka puasa, lanjut sampai maghrib. Rasanya saya cukup lama ada di level ini karena saat itu sekolah dan masih suka haus.

Begitu masuk SD, ternyata banyak teman- teman saya yang puasa full. Jadilah disitu sayapun mulai belajar untuk ikut puasa penuh, meski dengan syarat ada pajaknya. Saya agak lupa nominalnya, yang jelas kecil sih. Tahun berapa juga itu, mungkin sektar 1998- 1999.

Syukur Alhamdulillah, belajar puasa ternyata gak banyak dramanya. Apalagi saat sudah puasa full saya suka tidur siang dan meminimalisir nonton televise. Tahu sendiri kan di tv banyak racun yang bikin lapar mata. Hehe.

Terima kasih, uti. Semoga uti mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Insya Allah amal tidak akan terputus, selama anak- anak dan cucu- cucumu terus mengamalkan ilmu yang uti bagi.