Minggu, Mei 11, 2014

Maaf Lagi Kangen

  3 comments    
categories: 

Saya tidak menyukai suasana ramai atau gaduh. Telinga saya seperti mengalami kesakitan kalau mendengar orang- orang yang berteriak kencang kemudian berlanjut kepala menjadi pusing. Sejak dia berpulang, saya merasa menjadi pribadi yang berbeda. Ya, memang membutuhkan proses, dan saya tahu akan hal itu. Tapi, sekarang sebisa mungkin saya tidak membicarakan mengenai dia kepada orang lain, padahal saya sangat butuh kawan bicara untuk sekedar mendengar apa yang saya rasakan. Tapi, beberapa orang menganggap jika menceritakan dia, saya akan bersedih. Sudah barang tentu saya bersedih, tapi hanya saya yang bisa mengerti dan tahu apa yang saya rasakan. Bukan orang lain. Mungkin orang lain bisa saja bilang "aku tahu bagaimana rasanya di posisimu Sil". Ya, mungkin memang orang- orang yang berkata demikian pernah juga merasakan kehilangan. Siapa yang tidak, semua orang pasti pernah. Tapi, menceritakan kembali mengenai dia adalah cara saya meyakinkan dan menyadarkan kalau dia benar- benar sudah berpulang ke rumah sebenarnya.

Sejujurnya saya sangat terbuka jika ada teman yang ingin tahu cerita dia secara langsung, tapi kebanyakan dari mereka merasa takut kalau saya semakin sedih. Terimakasih teman- teman untuk perhatiannya. Tapi, mungkin bagi orang lain merasa demikian, tapi saya tidak begitu. Saya merasa menjadi pribadi yang lebih kuat seiring waktu berjalan, semakin sering menceritakan mengenai dia, intensitas menangis saat bercerita semakin berkurang. Dulu, setiap di tanya saya selalu menangis, tapi semakin lama, semakin biasa saja. Meskipun ya akan sembab sedikit.

Siang ini saya kembali melewati jalanan Malang, dengan menggunakan moda trasportasi umum seperti biasanya. Disitu, tiba- tiba perasaan saya buncah. Banyak sekali cerita yang menggantung di sepanjang jalan itu. Mulai dari bukit yang ingin kami daki karena pemandangannya bagus, tapi sekarang sudah gersang karena dibuat perkebunan, jembatan bambu yang saya selalu bilang pengen foto disitu setiap lewat tapi tidak pernah saya mau berhenti, dan sekarang sudah hilang diterjang banjir, dan masih banyak lagi.

Beberapa waktu lalu, teman saya, sebut saja namanya Lek Ri. Dia bercerita mengenai tantenya yang juga kecelakaan dan mengalami koma. Kasusnya sama seperti dia, luka berat di kepala yang dekat dengan batang otak. Namun, beda cerita, tante teman saya ini tidak menjalani operasi, karena mengambil tindakan konservatif (semoga gak salah). Namun, koma hingga hampir dua bulan atau bahkan lebih, namun saat ini sudah mulai pemulihan.

Hanya bisa bilang, semoga khusnul khotimah.

3 komentar:

  1. Berceritalah kepada Tuhan, Silv. :) Rasanya lebih adeem.

    BalasHapus
  2. kalau aku langsung pusing kalau terlalu ramai

    BalasHapus
  3. aku juga lagi kangeeeeen banget.. sampe bingung gimana caranya ketemu.. menjadikan aku sekarang kuru.. :(

    BalasHapus

Keep Blogwalking!