Kamis, September 21, 2017

Terjebak di Jalur Neraka Pantai Umbul Waru, Blitar

  4 comments    
categories: 

Dua Minggu yang lalu, akhirnya saya pergi lagi ke Blitar. Rencananya sih berkunjung ke Vihara yang katanya luas banget dan proses pembangunannya masih belum selesai dari tahun 90an itu.

Eh gak taunya, temen ngajak buat ke pantai dulu. Okelah coba saya cek jaraknya, kalau ga jauh- jauh amat boleh deh. Kebetulan waktu itu kami pergi pagi, jadi saat sampai di Blitar kota udaranya masih sejuk.

Ah ternyata jarak tempuhnya cuma satu jam kok dari titik point' kami waktu itu. Baiklah yuk mari capcus.

Formasinya seperti biasanya, teman saya pegang kendali setir alias dia yang bonceng, saya pegang kendali maps. Padahal dulu- dulu pertama sering bikepacker, saya ga bisa baca peta. Beruntungnya teman jalan saya saat itu, dengan sabar mau ngajarin.

Buat yang belum pernah ke Blitar Selatan, gambaran daerahnya itu semacam perbukitan. Dengan pemandangan kanan kirinya sawah dan ladang. Namun tak jarang juga perumahan penduduk. Fasilitas aspalnya juga sudah cukup mumpuni meskipun tidak terlalu lebar.
Nah kok satu jam rasanya lama amat ya? Gak sampai-sampai, apalagi kami ikut jalur GMaps yang lewatnya jalur sepi. Lagi-lagi disetiap perjalanan selalu terselip keraguan, namun ketika ada rasa ragu untuk lanjut, rasa optimis akan pemandangan yang indah juga bikin saya jadi semangat lagi.

Ohya, tujuan kami saat itu adalah Pantai Umbul Waru yang berada di Desa ...... Setelah beberapa kali bertanya dan nyasar, akhirnya kami menemukan papan petunjuk ke arah pantai.

Cukup sulit memang menemukan arahnya, karena masih minim petunjuk ke lokasi wisata. Jadi patokannya adalah temukan balai desa Sidomulyo. Depan kelurahan ada pertigaan ke arah selatan, itu masuk.
Jalanannya sih sudah beton, pikir saya oke nih udah bagus. Ternyata, itu hanya awal yang indah saja..

Semakin masuk, penampakan asli jalur pantai Umbul Waru semakin terlihat. Dimana-mana yang tampak hanya pohon jati dan jalur tanah bebatuan. Jangan dikira bebatuannya itu Mac Adam. Sama sekali bukan.

Bebatuannya literally batu yang tak beraturan, selain itu juga licin. Semakin masuk ke dalam, ternyata jalurnya semakin parah. Hingga akhirnya, kami memutuskan untuk treking dan meninggalkan motor di salah satu gubuk.

Agaknya itu memang keputusan yang ngawur. Meninggalkan motor di tempat asing yang sunyi. Saya beberapa kali meyakinkan teman akan keputsannya, tapi yasudah deh anaknya yakin kok.

Baru jalan beberapa meter, kami berjumpa dengan warga sekitar. Ini manusia pertama yang  kami jumpa, tidak menyia-nyiakan kesempatan kami bertanya soal lokasi pantai. Si ibu menyarankan sebaiknya kendaraan dibawa saja, karena jalurnya bisa dipakai untuk lewat motor. Oh baiklah.

Dan kalian tau tidak teman-teman, definisi jalur bagus bagi masyarakat Blitar Selatan ini adalah eng ing engggg.. Jalan setapak yang masih tetap berbatu namun tidak sebanyak sebelumnya. :))

Saya bersyukur hidup di tempat yang sudah lengkap fasilitasnya, belum bisa membayangkan jika setiap hari harus jalan kaki sejauh sekian kilometer untuk pergi ke ladang. Agaknya ketika masuk senja, tempat ini juga akan horor sekali karena memang sejauh mata memandang, tidak ada satupun  gardu listrik.
Semakin dekat dengan pantai, kami semakin sering berjumpa dengan penduduk sekitar. Mereka sangat ramah dan welcome kepada pendatang. Tak jarang banyak yang heran, sampai berujar "jauh-jauh dari Pare cuma main ke kebonan (ladang)".

Ah, Alhamdulillah, cuma itu yang bisa saya ucapkan ketika kami sampai di area bertuliskan Parkir. Sebuah bangunan dari kayu tua, yang oleh masyarakat sekitar digunakan untuk menyimpan hasil berkebun. Seperti menyimpan jerami dan rumput. Kalau ditempat saya, bangunan semacam itu digunakan untuk kandang hewan.

Eh di area parkir ini juga ada mushola sederhana.

Setelah beristirahat sejenak, kami mulai melanjutkan perjalanan menuju pantai. Hanya dengan jalan sekitar 500 meter saja, suara debur ombak sudah terdengar di telinga.
Wow cantik banget! Garis pantai yang putih bersih komplit dengan bukit yang mendampinginya. Pas banget waktu itu langitnya biru cerah. Ah ini sih surga dunia banget!.

Eits, lagi-lagi saya harus menerima kenyataan yang membuat mulut saya melongo. Untuk bisa turun ke pantai, kami harus meniti tali dan tangga darurat. Jadi semacam wall climbing. 😄😄
Ada tiga turunan yang harus dilalui untuk bisa menginjak pasir putih Umbul Waru. Memang worth it, tapi jalur nerakanya ini yang saya gak mampu hadapi.

Ohya pantai ini punya air terjun juga, jadi air tawar yang menyatu dengan air asin. Saat itu ternyata sedang pasang, jadi air sangat melimpah. Konon katanya, akan lebih bagus jika kondisi air laut sedang surut.
Kurang lebih sekitar 3 jam kami berada di Umbul Waru, selama itupun hanya ada kami dan 2 pengunjung lainnya yang datang. Selebihnya hanya masyarakat sekitar yang bekerja di ladang. 

Saat kembali naikpun, kami juga harus melewati jalur yang sama seperti saat kami berangkat. Oh help me *cry. Apesnya lagi, kendaraan yang kami pakai saat itu bukanlah kendaraan yang cocok untuk kondisi jalur neraka ini. Bahkan mesin motor Vario punya teman ini sampai bau terbakar/ sangit.

Makanya kok sepanjang perjalanan kayak bau iga bakar. Hahaha

Hingga akhirnya dalam satu hari itu, kami hanya bisa berkunjung ke satu destinasi. Badan sudah sangat lelah, ditambah dengan kondisi teman saya yang tiba- tiba drop.

Cepat- cepat kami melaju membawa kendaraan untuk segera sampai di rumah.

Pantai Umbul Waru, Blitar
 

4 komentar:

  1. Memang pesisir selatan Indonesia ini pantainya ciamik punya ya. Di Lombok juga begitu. Kasusnya pun sama: medannya penuh perjuangan! Mungkin sengaja disiapkan Tuhan supaya hanya orang-orang terpilih yang bisa mencapainya. Selain itu, supaya sepadan dengan keindahannya. Jarang-jarang kan bisa ketemu pantai sebagus ini. Jadi makin pengin balik bikepacker (pinjam istilah) ke Blitar. Banyak yang harus dijelajahi!

    BalasHapus
  2. Di Gunungkidul ada juga pantai yang seperti ini, aksesnya susah dan ada air terjunnya.

    BalasHapus
  3. motornya lelah ya kak dipake untuk ngaprak di jalur ekstrim kaya gini

    BalasHapus
  4. Perjalanannya sepada dengan keindahan pantai yang ditemukan. Indah deh!

    BalasHapus

Keep Blogwalking!