Satu Malam, Sejuta Cerita di Pantai Coro Tulungagung
Mei 04, 2026Satu Malam, Sejuta Cerita di Pantai Coro Tulungagung — Awal mulanya sekitar dua minggu yang lalu, beberapa teman kantor bercerita mengenai perjalanan mereka ke salah satu pantai di Tulungagung. Cerita ke pantai menurut saya ya biasa-biasa saja, namun semakin lama semakin seru mendengarkan cerita-ceritanya dan spontan tercetus ide untuk camping. Padahal sebagian dari kami banyak yang baru pertama kalinya camping, saya pernah sih tapi itu juga udah lama banget, sekitar tahun 2014 kali ya di Gunung Panderman.
Baca juga : Pertama Mendaki, Nyasar di Panderman
Dengan hanya bermodalkan berani ambil resiko, kami (saya dan beberapa teman) mencoba untuk menawarkan ke anak-anak yang lain untuk ikut bergabung dalam ide dadakan tahu bulat itu. Tanpa disangka gayung bersambut, tanpa drama a-z, beberapa dari mereka langsung menyatakan bersedia.
Kami segera menentukan tanggal dan lokasi untuk camping, listing barang bawaan dan biaya untuk akomodasi. Semua berjalan begitu cepat, koordinasi lancar, semua yang memutuskan ikut serta seperti sudah tahu kalau camping ini tujuannya untuk bersenang-senang. Karena kami menganut paham YMMA (yang mau-mau aja) dan YBBA (yang bisa-bisa aja). Hehehe. Dan bener aja tim yang ikut sungguh low maintain ternyata, terbukti selama acara berlangsung semua berjalan lancar. Syukur alhamdulilah. Fixed peserta untuk berangkat adalah 8 orang.
Hari Sabtu setelah pulang kerja, kami berangkat ke Tulungagung dan stay sejenak di rumah salah satu teman yang ikut dalam acara ini dan dia juga yang akan jadi penunjuk jalan kami. Saya beneran excited banget!
Setelah prepare dan membagi barang bawaan, sekitar pukul 18.00 dari (m)Bandung berangkat menuju Pantai Coro yang berada di wilayah Besole, Kecamatan Besuki, Tulungagung. Saya gak begitu banyak memperhatikan jalan karena sudah gelap, pokoknya tau-tau kami sudah sampai di gerbang masuk Pantai Coro yang sama sekali tidak ada penerangan.
Bonusnya lagi akses menuju pantai juga luar biasa, bebatuan mix dengan tanah. Tanpa ada aspal sama sekali, ya semoga setelah ini mulai ada perhatian untuk akses jalan ke sini ya biar enak kita kalau mau berkunjung lagi. Malam itu sepertinya semesta juga mendukung perjalanan kami. Hari-hari yang biasanya turun hujan, malam itu cerah karena full moon.
Setelah perjalanan yang cukup mengoyak perut, sampai juga di area Pantai Coro. Kami segera memilih lokasi untuk mendirikan tenda. Setelah dirasa pilihan tempatnya strategis, teman-teman cowok membangun 2 tenda (karena peserta terdiri dari 3 cewek dan 5 cowok), sedangkan kami yang cewek-cewek bertugas untuk menyiapkan makanan.
Setelah semua siap, kami menikmati makanan bersama dan dilanjut dengan kegiatan lain yang mengalir begitu saja, sing a long sampai ngobrol receh — berat. Banyak hal yang dibahas, dan banyak cerita lain yang bikin kita jadi tahu sisi lain masing-masing. Rasanya malam itu begitu singkat. Yappingan ga ada habisnya sampai gak terasa waktu udah di jam 01.40, tiba-tiba gerimis datang dan kami masing-masing masuk ke tenda. Karena besok pagi kami punya rencana untuk treking. Kami segera istirahat untuk menyiapkan tenaga.
Ohya saya sempat terpikir kenapa pantai ini dikasih nama Pantai Coro, ternyata memang kalau dari kisahnya dulu di sekitaran pantai banyak ditemukan Coro (Kecoa — Blattodea salah satu serangga tertua, yang fossilnya berusia 320 tahun) dan juga katanya tebing di pantai ini bentuknya mirip kecoa (bisa dilihat saat surut). Pantai ini letaknya pun tersembunyi diantara Pantai Popoh dan Pantai Sidem, makanya juga disebut salah satu hidden gem pantai di Tulungagung.
Back to cerita yaaaa, karena dini hari hujan turun cukup lama bahkan sampai pagi masih gerimis, kami tidak mendapat sunrise. But no worries karena bukan itu satu-satunya tujuan kami ke sini. Setelah selesai saarapan, 6 dari kami melakukan treking menuju Tebing Banyu Mulok yang berada di sebelah kiri area camping, sedangkan 2 yang lainnya berada di tenda untuk istirahat dan menjaga barang.
Tebing Banyu Mulok ini kalau dari area camping ga begitu jauh, mungkin sekitar 30 menitan. Emang agak effort sih ya untuk sampai di tebing ini, jalannya juga licin karena semalam hujan. Tapi kalau sudah sampai pemandangannya indah banget. Tebing karang yang menghadapnya langsung ke Samudra Hindia ini punya fenomena unik, dia punya atraksi semprotan raksasa. Jadi air laut yang menghantam rongga karang itu naik sehingga menciptakan semburan.
Hampir semua spotnya Instagramable, namun tetap jaga jarak aman ya. Cukup lama kami berada di tebing ini dan setelah dirasa cukup kami kembali turun untuk bersiap pulang. Setelah sampai di tenda ternyata pantai ini juga ramai pengunjungnya lho. Liburan seru udah selesai dengan ditutupnya tenda kami. Pulang dari pantai kami kembali ke rumah mas Dian untuk istirahat dan lanjut pulang ke rumah masing-masing.
Last but not least, I wanna say thanks buat temen-temen yang sudah ikut. Kalian membangun memori baik yang sudah tentu akan saya kenang seumur hidup dan tak lupa saya menunggu untuk jadwal rekreasi vol. 2 yaa. Hehe. Setelah dewasa saya kira saya tak bisa lagi punya teman untuk bermain outdoor, ternyata di usia yang tak muda lagi ini kalian justru hadir untuk menemani dan mewujudkan wish list yang pernah saya buat di awal tahun kemarin. Teman-teman kalian sangat luar biasa, kalian yang terbaik.
*Semua properti foto dari mas Dian, Annisa.
0 comments
Keep Blogwalking!