Pengalaman Mengurus Balik Nama Kendaraan

Gambar
Halo hai.. Bagaimana kabarnya teman-teman pembaca? Semoga selalu diberi kesehatan ya untuk kita semua. Baik kesehatan fisik maupun mental, karena musim pandemi seperti sekarang rasanya banyak orang yang bersedih hati.

Ohya ini juga pengalaman pertama saya mengurus ini. Jadi sempat deg-degan juga. Takut gimana-gimana gitu. Haha.. We know yah, birokrasi. heee
Oke simak ya, semoga sedikit informasi ini dapat membantu teman-teman yang membutuhkan.
Awalnya kalian datang ke kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (disingkatnya Samsat). Nah, baru tahu juga? haha sama! Kalau versi keminggrisnya dalah One-stop Administration Services Office.   Intinya dalam satu gedung itu ada sistem administrasi yang tujuannya untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat. Gitu.
Nah, di Samsat ini kita bisa melakukan banyak hal yang berkaitan dengan surat menyurat kendaraan. Tujuan saya kali ini adalah untuk mengurus balik nama kendaraan roda dua a k a sepeda motor Vario 125, kesayanga…

Tentang Petugas Pemanggil Antre KAI

Argh! Saya sebenarnya selalu benci menulis tentang hal- hal seperti ini, macam ini. Apalagi merasakan dan melihatnya sendiri. Dari melihat itulah saya jadi punya inspirasi. Menyebalkaaaaan!.

Siang tadi, (Jumat, 28/2/2014), saya mengantarkan mba kost ke stasiun Kota Malang untuk pulang ke TulungAgung, dan juga sekalian saya beli tiket untuk pulang tanggal 20 Maret. Nah, kebetulan kondisi stasiun lumayan padat. Loket- loket penuh, dan tempat mengisi form pemesanan kereta juga penuh sesak, apalagi bolpoin yang disediakan juga limited. Hanya 5 biji. LIMA BIJI untuk ratusan orang yang akan membeli tiket. Untungnya, saya sudah pengalaman dengan hal tersebut, maka dari itu saya membawa bolpoin sendiri.

Setelah mengambil nomor antre, saya mengisi form dekat dengan petugas pemanggil antrean. Tepatnya, berada di meja charger, datanglah bapak- bapak dengan agak bingung, sudah lumayan /sepuh/ (tua). Bertanya pada petugas, eh malah gak ditanggapi. Oke, disitu saya memerhatikan petugas sedang menjawab pertanyaan dari calon penumpang lainnya, perempuan dan masih muda. Yes! Busuk sudah pikiran saya melihat si bapak tua bertanya tapi tidak langsung ditanggapi. Begitu selesai mamas petugas tak kunjung menjawab pertanyaan si bapak. Awalnya saya kira, petugas tersebut sedang mempersiapkan pertanyaan. Ternyata ? Tidak. Sampai bapak tua mengulang pertanyaanya, dan kalian tau ? petugas bilang apa ? "sebentar pak", tanpa menoleh.

Geram ? Ya, kalau masih punya hati kayaknya bakalan geram juga kalau melihat orang yang sudah sepuh diperlakukan begitu, apalagi si bapak ini kelihatan bingung. Disitu saya langsung bilang, "Pak, tanya sama saya saja, gak usah sama dia (petugas)", kemudian mata kami (saya dan petugas) bertemu, dan saya cuma bilang "PARAH!". 

Ternyata bapak tersebut akan pergi ke Banjar- Bandung.

--

Oke, ini bukan sekali dua kali saya melihat hal- hal semacam ini. SERING! SANGAT SERING!. Bahkan saya juga sering diperlakukan yang sama, untungnya setiap diperlakukan kurang baik oleh orang lain, ketepatan mood saya lagi bagus, jadi agak bisa stay cool gitu. B|

Saya gak tau, apa orang KAI (Petugas KAI) dibayar pakai uang yang kami bayarkan untuk beli tiket, tapi yang jelas, jika ada cara yang baik untuk mengemukakan pendapat dan sikap, kenapa malah milih yang tidak baik. Putih lebih terang daripada hitam.


Komentar

  1. Setuju banget.. parah tuh petugas...
    Pilah-pilih penumpang,..

    BalasHapus

Posting Komentar

Keep Blogwalking!

Postingan populer dari blog ini

Crayon Beserta Kekurangan dan Kelebihannya yang Perlu Diketahui

Cara Cek Usia Kartu Indosat

Review Milk & Honey Gold Nourishing Oriflame