Kenal Lebih Dekat dengan Teman Kreasi Indonesia

Gambar
Sejak pandemi datang, rasanya makin banyak teman-teman yang bergerak menjadi wirausaha dan kreator. Kebanyakan awalnya cuma coba-coba, ternyata banyak juga yang berhasil dan keterusan sampai sekarang. Nah beruntungnya, sekarang ini ada banyak sekali dukungan dan kemudahan yang diberikan kepada pengusaha dan kreator lokal. Salah satunya adalah dukungan dari PT Smartfren Telecom Tbk. Para pengguna setia Smartfren pasti udah ga heran kalau Smartfren selalu punya gebrakan baru. Program terhits yang baru diluncurkan oleh Smartfren kali ini adalah Teman Kreasi Indonesia. Program ini merupakan sarana pemberdayaan lanjutan yang memiliki basis pengembangan dan penguatan komunitas kreatif di masyarakat. Sama seperti sebelumnya prinsip yang digunakan oleh Teman Kreasi Indonesia adalah kokreasi yang saling mendukung. Maka dari itu Teman Kreasi Indonesia diharapkan dapat mendorong lahirnya banyak wirausahawan sosial, wirausahawan digital, serta kreator lokal di tanah air. Pada tanggal 25 Maret 2021

Ganasnya Virus Calici Pada Kucing

Ini murni curhatan. Cuma mau mengingatkan, kalau gak suka kucing jangan di baca.

Sejak awal tahun kemarin, rumah yang aku tinggali ini jadi hobi pelihara kucing lebih dari 1. Sebelum- sebelumnya kami cuma punya satu saja hewan peliharaan, gak boleh lebih. Kucingnya lokal aja, rescue dari pasar dekat rumah. Beberapa kali kabur pacaran sama kucing tetangga, selebihnya mati ketabrak. 

Tahun 2014 rumah diramaikan lagi sama kucing rescue dari pasar kami kasih nama Moshi, setelah sekian lama gak pelihara karena yang terakhir kali Molly- kucing jantan kabur dan cuma mampir pulang kalau lapar. Moshi ini kucing betina, dia bakalan lari pertama ke pintu kalau denger kendaraan ibu datang. Lalu bulan Oktober datang juga Pakencus- kucing hitam jantan. Udah beberapa kali aku tulis di sini. 
 
Awal Januari, rumah kedatangan 2 kucing mix domestik, kami manggilnya Milo- jantan dan Mili- betina. Gak lama setelah itu disusul sama Didu- betina. Total kucing di rumah ada 5 ekor dan ini bikin bapak gak setuju. Akhirnya diputuskan untuk menghibahkan salah satu, dengan berat hati Pakencus kami hibahkan. Sayangnya, dia gak begitu di rawat dengan baik. Pakencus adalah kucing yang gak suka main jauh, denger suara kendaraan aja dia takut. Lah ini sejak dihibahkan berani nyebrang- nyebrang. 

Masa- masa Pekencus dihibahkan ternyata Moshi hamil, akhir Januari kemarin muncul 2 anaknya, belang telon betina semua. Saat Moshi lahiran, pakencus sering pulang. Gak tau juga ya mungkin nalurinya pengen lihat anaknya, Pakencus bantu Moshi nunggu anak- anaknya, setelah 2 hari Pakencus pulang lagi ke rumah tetangga. 

Tanggal 14 Februari (yang banyak orang nyebutnya pelentin aka hari kasih sayang dan cinta), aku malah bersedih karena Pakencus mati ketabrak motor, lalu kami kubur dia di depan rumah. Kemudian selang satu minggu, disusul sama Moshi karena kena virus. Awalnya aku gak paham kalau sekarang memang lagi wabah virus buat kucing. Aku taunya bahkan dari penjaga vet waktu beli susu kucing buat kitten. Gejalanya muntah, gak doyan makan, lemes, dan berliur berbau, akhirnya gak ketolong, dia mati kaku. Lalu gimana anak-anaknya ? aku support susu lewat spet gak mau masuk, aku bingung karena teriak- teriak kelaparan. Inilah gunanya networking, aku coba buat share di grup pecinta kucing. Syukurlah banyak yang nanggapi, tapi beberapa ada juga yang punya permasalahan yang sama. Tapi akhirnya, kitten ini aku titipkan ke tetangga yang kebetulan sekali kucingnya baru lahiran. Fix, nitip. 

Jadi di rumah tinggal 3 kucing, Milo, Mili, dan Didu. Siang tadi, Didu menyusul mati. Gejalanya sama seperti Moshi, muntah, lemas, gak nafsu makan, berliur. 

Ternyata ini namanya virus calici, virus sariawan pada kucing yang menyebabkan kematian. Jarak antara tanda tertular dan kematian cepet banget, gak lebih dari 2x24 jam. Didu sejak kemarin muntah, tapi masih lincah. Sebagai pemilik kucing aku tentu bertanggung jawab, sejak Didu gak nafsu makan aku coba untuk support dengan bubur sun (hehe) dan susu nol laktosa. Berhasil. Setidaknya ada tenaga untuk bernafas. 

Pagi tadi, Didu kembali lemas hingga siang dia mati dan dikubur berjajar dengan Pakencus dan Moshi. 

Mungkin, jika ada yang penyayang kucing akan bilang kalau kucingku gak di vaksin. Iya, yang Moshi memang tidak di vaksin, karena aku pernah punya kucing lokal yang gak vaksin tapi hidupnya longlast banget, lebih dari 7 tahun. Tapi baru aku sadar, kucing itu beda- beda. Kalau yang Didu sudah aku vaksin, nyatanya kena juga calici. 

Hmm. Yasudahlah. Mau bagaimana lagi. Yang berlalu biarlah berlalu. Sekarang fokus ke kucing yang masih sehat- sehat. Semoga gak ada lagi kejadian kucing mati bersamaan. Sesak jendral.

-Silviana.

Komentar

  1. Pelihara hewan itu nyesek kalo ditinggal, apalagi kalo ngerawatnya dari kecil, disuap-suapin waktu unyu gitu :(

    BalasHapus
  2. aku baru tahu loh nama virus ini. Silvi ngerti aja ya

    BalasHapus
  3. aku catat. Aku biasa aja dengan kucing tapi anak-anak sukaaa...dan udah niat punya nanti kalau di Jakarta :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mama boo. Wah Obi dan Bo suka juga sama kayak tante dong :D

      Hapus
  4. aku malah alergi sama bulu2 kuicing..hmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku dulu juga jijik hehehe. Tapi sekarang sukaaaa

      Hapus

Posting Komentar

Keep Blogwalking!

Postingan populer dari blog ini

Crayon Beserta Kekurangan dan Kelebihannya yang Perlu Diketahui

Pengalaman Sakit Pinggang Kecetit dan Pengobatannya

Review Milk & Honey Gold Nourishing Oriflame