Pengalaman Mengurus Balik Nama Kendaraan

Gambar
Halo hai.. Bagaimana kabarnya teman-teman pembaca? Semoga selalu diberi kesehatan ya untuk kita semua. Baik kesehatan fisik maupun mental, karena musim pandemi seperti sekarang rasanya banyak orang yang bersedih hati.

Ohya ini juga pengalaman pertama saya mengurus ini. Jadi sempat deg-degan juga. Takut gimana-gimana gitu. Haha.. We know yah, birokrasi. heee
Oke simak ya, semoga sedikit informasi ini dapat membantu teman-teman yang membutuhkan.
Awalnya kalian datang ke kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (disingkatnya Samsat). Nah, baru tahu juga? haha sama! Kalau versi keminggrisnya dalah One-stop Administration Services Office.   Intinya dalam satu gedung itu ada sistem administrasi yang tujuannya untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat. Gitu.
Nah, di Samsat ini kita bisa melakukan banyak hal yang berkaitan dengan surat menyurat kendaraan. Tujuan saya kali ini adalah untuk mengurus balik nama kendaraan roda dua a k a sepeda motor Vario 125, kesayanga…

Cerita Perjalanan dari Juanda ke Suramadu sampai Gresik



“Buat saya, jarak itu bukan pada jauh/- dekatnya lokasi, tapi ada pada niat” – Saya.

Sejauh apapun kamu berkelana, selama tempat yang kamu tuju masih bisa dijangkau dan kakimu masih bisa menjejak di tanah, buat saya jarak tempat itu masih dekat. Pemikiran ini muncul karena banyak teman saya yang komplain ketika mereka tahu saya sedang berada di luar Kediri, apalagi mereka tahu kalau saya menyetir motor sendiri. Berbagai macam ungkapan pernah saya terima, seperti misalnya “edan kamu”, “nekat banget sih kamu”, dan sebagainya. Saya hanya menanggapinya dengan tertawa. 

Tidak terkecuali saat saya pergi ke 4 lokasi berbeda dalam satu hari. Bagaimana mereka tahu ? Yup, medsos. Beberapa waktu yang lalu, saya bersama keluarga besar dari uti mengantar bulek untuk pulang ke Batam. Bulek pulang ke Jawa untuk ke 3 kalinya selama rentang waktu 16 tahun, pertama saya sudah lupa, kedua saat uti meninggal, dan kali ini untuk menghadiri acara 1000 hari uti. 

Kami berangkat dari rumah uti di Pare pukul 02.30 karena pesawat bulek re-schedule dari pukul 11.00 WIB ke 06.30 WIB. Jadilah pagi-pagi kami menuju Surabaya untuk mengantar bulek. Suasana pagi yang syahdu dan horror saat melewati jalanan Surabaya yang sepi. Lampu dimana-mana tapi suasanya lenggang, kondisi yang jarang saya jumpai saat melakukan perjalanan menuju Surabaya. Bahkan saking lenggangnya, kami bisa sampai di Juanda sebelum shubuh. Only 1,5 hours from Pare to Sidoarjo. Amazing.  Beberapa saat menunggu, akhirnya bulek boarding. 

Empat dari enam, Bude ke 2, Bulek ke 5, Ibuk, Om
Suasanya masih pagi sekali saat itu, bahkan Juanda belum ramai. Lalu sepupu saya mengutarakan niatnya bagaimana kalau kami pergi ke Madura. Apalagi tujuannya kalau bukan bebek Sinjay. Beruntung Surabaya tak begitu ramai saat itu, perjalanan kami lancar dari Juanda menuju Madura. Awalnya kami ragu, apakah Bebek Sinjay sudah buka, ternyata setelah saya mencari di internet Bebek Sinjay sudah buka pukul 07.00- habis. Kami sampai di Bangkalan sekitar pukul 08.00 WIB, ternyata sudah lumayan ramai. Tak perlu menunggu lama, saya dan sepupu memesan 7 porsi bebek Sinjay dan 7 gelas teh manis. Terakhir kali saya menikmati bebek Sinjay alur pemesanan belum seperti sekarang yang lebih terorganisir. Dulu, loket hanya ada 1 saja dan melayani semua item, seperti pemesanan, pembayaran, dan pengambilan makanan. Namun sekarang sudah ada 3 loket terpisah, loket pertama untuk pemesanan dan pembayaran, loket kedua untuk pemesanan minum, dan loket ketiga untuk mengambil piring bebek Sinjay. Fyi, di sini memang sistemnya self service.

Suramadu

Bridge
Bebek Sinjay

Kenyang menikmati Bebek Sinjay, perjalanan kami lanjutkan ke Gresik untuk mengunjungi Pakpuh atau kakak tertua dari Ibuk. Anak dari uti dan kakung saya ada 6, 4 perempuan dan 2 laki-laki . Ibu saya sendiri nomor 4, that’s why her name’s Catur Indrati. Ohya ada yang unik juga, anak-anak dari uti saya namanya selalu diawali dengan S dan dilanjutkan dengan angka dalam sansekerta. Misalnya, Susanto Eko Hadi, S.. Dwi, Tri, Catur, Panca, dst

Pakpuh saya memang sejak lama tinggal di Gresik, maka dari itu mumpung ke Surabaya jadi mampir Gresik sekalian, meskipun satu minggu sebelumnya kami juga berjumpa dengan pakpuh dan keluarga saat acara 1000 hari uti. Tak di sangka dan di nyana, kami diajak untuk mencicipi bakso ukuran bola kasti. Waw padahal baru saja kami makan seporsi bebek sinjay, tapi apa daya katanya kan rejeki nggak boleh di tolak. Hehe
Setelah beristirahat kami pamit untuk pulang dan melanjutkan berkunjung ke rumah saudara bude di Wonocolo Surabaya. Di sini, lagi-lagi kami diminta untuk makan karena memang bulek (saya memanggilnya) punya warung makan dan masakannya terbukti ampuh enak. 

Haha. Perjalanan yang menyenangkan sekaligus mengenyangkan. I love it. Tapi, di luar itu semua menyambung silaturahim adalah hal yang utama. Katanya bisa memperpanjang usia.

One Day One Post - 3 (30 Maret 2016)



Komentar

  1. silaturahmi katanya menyehatkan dan memanjangkan usia.

    BalasHapus
  2. mbak silvy kok seneng banget jalan-jalan keliling surabaya. nggak capek tah? haha :D

    BalasHapus
  3. Jadi kapan ke Madura lagi?

    BalasHapus
  4. paling seruuu ya kalau jalan darat beginiii

    BalasHapus

Posting Komentar

Keep Blogwalking!

Postingan populer dari blog ini

Crayon Beserta Kekurangan dan Kelebihannya yang Perlu Diketahui

Cara Cek Usia Kartu Indosat

Review Milk & Honey Gold Nourishing Oriflame