Minggu, Maret 10, 2019

Menjelajah Budug Asu di Lawang

  56 comments    
categories: 

Jalan- jalan menjelajah ke gunung atau bukit sebetulnya bukan hobi saya, tapi saya suka melihat panoramanya. Beberapa waktu yang lalu, tiba- tiba ada hasrat untuk naik salah satu bukit di lereng gunung Arjuna, setelah melihat eksplor Instagram.

Nama bukit ini adalah Budug Asu. Pertama kali saya tahu setelah sekian tahun berada di kota yang dikelilingi ring of fire ini. Panoramanya sungguh membuat saya pengen segera naik dan turut serta menikmatinya secara langsung.

Tapi, memang karena terbentur dengan waktu, yang tak bisa sebebas dulu, jadi saya harus atur jadwal libur supaya tidak menganggu urusan kantor.

Saya pribadi, meskipun punya hasrat yang besar akan traveling, tapi saya juga tetap mengutamakan mana yang menjadi kewajiban saya. Haha sok amat yak.

Ngomong- ngomong, nama Budug Asu sendiri muncul saat masa penjajahan Belanda, terdapat cukup banyak Asu (Anjing, dalam bahasa) yang terkena penyakit Budug atau lebih dikenal dengan scabies. Scabies ini merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau. 

Sabtu sepulang kantor saya beranjak ke Malang dan menginap semalam dengan bantuan Airy Room Syariah di daerah Klojen. Cari yang super murah karena memang tidak digunakan untuk staycation. Hanya menginap singkat guna menghilangkan lelah perjalanan dan menyiapkan tenaga untuk mendaki ke Budug Asu esok harinya.

Hari Minggu pagi, tepat di jam 06.00, Ichal teman yang menemani saya mendaki ke Budug Asu, menjemput di gang Klojen. Perjalanan ini sebetulnya hanya perjalanan santai saja. Kami berangkat dengan santai, masih sempat untuk sarapan Soto kalau tidak salah di daerah Sanan, daerah yang punya UMKM keripik tempe dan terkenal di Malang.

Ohya, Budug Asu ini lokasinya ada di Lawang, tepatnya di atas Kebun Teh Wonosari. Wisata ini cukup terkenal karena memang sering digunakan untuk study banding ataupun berwisata dalam jumla yang besar. Seperti study tour Taman Kanak- Kanak ataupun reunian. Saya pernah datang ke Kebun Teh ini kurang lebih tiga kali saat masa kuliah.  Namun, saat itu belum tahu kalau di atasnya ada bukit yang bisa didaki.

Baik, memasuki wilayah kebun teh kami ditarik tiket sjumlah 15K/ orang. Mungkin karena hari libur sih ya. Sebetulnya ada banyak referensi untuk sampai ke Budug Asu, tidak hanya lewat Kebun Teh Wonosari saja. Bisa juga lewat daerah Sumberawan, Singosari. Kami mengambil jalur Kebun Teh karena menurut kami, jalur ini yang paling aman karena lazim dilewati para pendaki yang akan naik ke Budug Asu.

Setelah memarkirkan kendaraan dan ibu penjaga parkirnya tahu kami akan naik ke Budug Asu, kami diperingatkan jika parkir di tempat ini akan tutup di jam 16.00. Karena saat itu masih pagi, sekitar pukul 08.00 lebih, kami mengira mungkin tidak akan sampai selama itu berada di atas dan akan segera kembali di waktu makan siang. Rupanya, perkiraan itu salah, besar.

Setelah bertanya kepada beberapa orang yang ada di parkiran, kira- kira berapa lama naik ke Budug Asu kalau dari lokasi kami saat itu, banyak yang sepakat naiknya mungkin hanya 1-1,5 jam saja. Baik, mendengar hal itu kami mantap untuk melangkah ke Budug Asu.

Saat berangkat, hanya beberapa kali saja kami berjumpa dengan orang yang naik sepeda gunung dan motor trail. Sedangkan yang jalan kaki hanya saya dan Ichal saja. Saat itu syukur alhamdulillah cuacanya cerah dan tidak terlalu panas. Mungkin karena malam sebelumnya Malang sempat diguyur hujan cukup lebat. Bahkan saat kami mulai mendaki, kabut masih terlihat di beberapa sisi. 

Jujur banyak spot yang bagus yang bisa diabadikan di sepanjang perjalanan ke Budug Asu, apalagi kalau sudah ketemu deretan pohon pinus di sisi kiri dan kanan. Wah, rasanya seperti tidak mau beranjak, masih pengen foto lagi dan lagi. Tapi, karena goalnya saat itu pengen lihat puncak, kami berdua melanjutkan perjalanan yang sepertinya masih kurang sedikit lagi itu. 

Ternyata benar, tidak jauh dari lokasi spot yang instagramable itu, terdapat 3 atau 4 gubug yang dijadikan sebagai loket dan beberapa lainnya sebagai warung. Di sini kami masih harus membayar kembali 10K/ orang sebelum melanjutkan perjalanan naik ke puncak.

Ada dua pilihan untuk bisa melihat puncak Budug Asu dari tempat ini, jalur kanan dan jalur kiri. Jika memilih jalur kanan perjalanannya singkat, jaraknya hanya 800 meter saja, namun treknya menanjak, bahkan tanjakkannya disebut dengan Tanjakan Dhemit. Saking horornya kali ya. 

Nah kalau ambil kiri jaraknya sekitar 2 km, trek landai namun licin karena dilewati oleh para rider motor trail. Saya baru tahu juga saat jalan turun dari puncak. Akhirnya, dengan pertimbangan yang cepat, kami memilih naik ke puncak via jalur kanan, melewati Tanjakan Dhemit. 

Baru setengah jalan menuju puncak, cuaca yang tadinya cerah mendadak mulai mendung. Waduh, gak bisa lihat apa- apa nih nanti di puncak kalau kayak gini. Tapi karena sudah kepalang tanggung, kami tetap melanjutkan perjalanan ke atas. Di sini, kami mulai berjumpa dengan banyak pendaki lainnya. Bahkan ada adik bayi yang digendong ayahnya dengan baby carrier. Saat mereka turun, di dedek terus menerus menangis. Entah karena apa.. 


Dua setengah jam kami melakukan pendakian dan akhirnya sampai di puncak, dan benar saja karena saat itu mendung otomatis kabut muncul di mana- mana. Haha. Baik, memang kalau jalan- jalan disaat musim hujan kita harus menurunkan ekspektasi yang terlalu tinggi. Beruntungnya saya sudah berdamai dengan segala ekspektasi yang terlalu tinggi. Jadi, gak kecewa- kecewa amat.

Saat itu saya, Ichal dan beberapa orang yang saat itu berada di puncak, menunggu cuaca kembali cerah. Namun, alam memang sulit sekali ditebak. Cukup lama kami menunggu , hanya sesekali saja matahari muncul dan tetap lebih banyak kembali mendung. Baiklah, karena sudah lewat jam makan siang akhirnya kami berdua memutuskan untuk segera turun, karena ingat kalau parkiran tutup jam 4 sore. 

Saat itu kami turun bersama rombongan komunitas motor trail lewat jalur yang landai dan licin. Di sini beberapa kali teman- teman baru saya itu tergelincir dan jatuh. Tiap kali ada yang jatuh kami tertawa dan buru- buru mengulurkan tangan, tak jarang saat memberi pertolongan ada juga yang ikut terjatuh.

Saat itu, mungkin karena terlalu senang dan terhibur, giliran saya yang terjatuh dan mandi lumpur. saya tetap tertawa, karena akhirnya merasakan jatuh juga. Ternyata memang benar, jalan landai ini memang jauh dan licin. Setelah teman- teman dari komunitas motor trail sampai di parkirannya, kami berpisah. Melambaikan tangan dan saling berucap terima kasih. 

Perjalanan saya dan Ichal untuk kembali masih menanti, kaki ini masih harus menapaki tanah hutan Budug Asu 2,5 jam lagi. Mungkin karena sangat sepi, kami sampai lost focus melewati jalur kembali ke Kebun Teh. Sebetulnya saya sudah merasa, kok jalannya jadi jauh ya? Kayaknya tadi gak lewatin ini deh, kok jadi lewat sih?. Suasana saat itu makin scary karena mendung makin gelap dan gluduk mulai terdengar. 

Alhamdulillah kami berjumpa dengan bapak- bapak petani yang sama- sama akan kembali, kami mulai bertanya jalur untuk kembali ke Kebun Teh dan syukurlah bapak- bapak ini bersedia menunjukkan jalurnya. Saat itu pula, gerimis mulai turun. Dalam perjalanan, bapak petani ini mulai bercerita dan bilang kami beruntung karena sudah turun dari puncak. Karena kalau hujan turun, Budug Asu bisa seperti lautan. Airnya naik dan beberapa hari sebelumnya banyak yang terjebak di atas puncak karena bawah banjir. 

Alhamdulillah..

Setelah berpisah dengan bapak baik hati tersebut, kami mulai memacu kaki supaya bisa segera kembali ke parkiran kebun teh Wonosari. Hujan tak lagi turun rintik- rintik, tapi mulai deras dan baju mulai basah. Kesalahan terbesar kami saat itu adalah meninggalkan jas hujan di kendaraan. 

Akhirnya, sampai di area parkir dan kami menunggu hujan reda. Sayangnya tidak reda- reda sampai cukup lama. Padahal saat itu, saya harus kembali ke Kediri karena esok harinya masuk kerja. Setelah berdiskusi, kami memutuskan untuk pulang dalam keadaan hujan masih cukup deras. Ichal menyetir kendaraan dan memakai mantel, sedangkan saya yang di belakang hanya mengandalkan jaket yang sebetulnya sudah setengah basah. 

Saat perjalanan pulang, mungkin dikarenakan faktor terburu- buru dan kondisi jalan yang licin, sedangkan Ichal juga diburu waktu supaya saya tidak kemalaman di jalan, akhirnya membuat dia memacu kendaraan dengan lumayan kencang. Tepat di depan puskesmas Ardimulyo Singosari, kami berdua jatuh karena kendaraan depan ngerem mendadak dan membuat Ichal kaget. Bisa ditebak, kami oleng ke kanan dan sempat terseret beberapa meter. 

Untuk selanjutnya sepertinya tidak etis untuk diceritakan ya.  Beruntung, masih sama- sama diberi kesempatan menghirup napas sekali lagi. Sebagai pelajaran, jangan memaksakan jika kondisi tidak memungkinan, karena selamat itu nomor satu. 


56 komentar:

  1. SYukurlah ya Pi, masih diberikan keselamatan. Kalo hujan memang harus hati-hati ya memacu kendaraan, selain jarak pandang terbatas karena hujan, jalanan juga licin. Jadi inget dulu waktu SMA, pulang dari sekolah naik kendaran umum, jalanan hujan, kendaraan selip dan terguling. Syukurlah semua penumpang termasuk aku, masih selamat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukur mbak Li.. Betul yang penting selamat nomor satu.

      Hapus
  2. Saya paling malas jalan-jalan ke alam terbuka begini saat musim hujan. Apalagi kalau waktunya terbatas. Mendingan ngemall aja hahaha. Btw, sekarang masih banyak budug asu gak di sana?

    Tetapi,ada serunya juga sebetulnya. Kemudian saya membayangkan para pengendara motor trail tersebut. Asik juga ya mandi lumpur. Tetapi, gak menyangka ending dari postingan ini. Alhamdulillah masih diberi keselamatan, ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak banyak anjing di sana Mak Chi.. Beberapa aja, itupun punya warga yang ke ladang.

      Mereka jinak, waktu kami lewat malah mereka yang minggir sendiri. Hehehe

      Syukur Alhamdulillah mak Chiii. Sebagai pengingat supaya lebih hati- hati, lagi.

      Hapus
  3. Bagus banget pemandangannya. Dah, abis baca ini tetiba aku inget sama keinginanku yg berharap banget bisa ndaki gt. Ah doakan tercapai ya mbk entah itu kapan. Btw setuju sama paragraf penutup untuk lebih mengutamakan keselamatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga bisa mendaki sama anak- anak yaa mbaak

      Hapus
  4. Paling semangat nih dengan aktivitas naik-naik ke puncak gunung, kayak lagu, hihihi.

    Tapi memang benar lho, kalau pas sampai di puncak, mendadak cuaca berubah jadi mendung menggantung misalnya, wih, bawaan langsung horor saja ya, mba...

    Alhamdullillah, akhirnya selamat dan bisa berbagi pengalaman di sini ya, mba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, alam memang tidak bisa ditebak maunya bagaimana. Cewek pun kalah. hahaha

      Hapus
  5. Tegang baca di bagian tengah dan akhirnya, Mbak. Soal mendung dan hujan, juga nyaris terjebak banjir jika bertahan di atas. Sepertinya harus mencari tahu lebih banyak sebelum mengunjungi suatu tempat.
    Takut juga Mbak dan Mas Ichal jatuh. Duh, tegang. Syukurnya masih selamat, ya, Mbak. Semoga ke depannya hati-hati.
    Semoga saja pengelola tempat Budug Asu membuat semacam papan penunjukl untuk pengunjung. Soal jarak dan waktu tempuh, serta perta jalur yang jelas dan bisa difoto pengunjung. Agar pengunjung yang datang tak bingung, gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak Rohyati, harus tau kondisi dan memperhatikan cuaca kalau misal mau datang ke alam. Gunanya buat antisipasi.

      Hapus
  6. Hihihi...kalo jatuh diketawain dulu baru dibantuin...kacian deh...yup, nambahin semangat

    BalasHapus
  7. Di Budug Asu, anjingnya galak atau biasa aja? Aku pernah tinggal di desa dan itu lumayan byk anjing. Takut sih enggak, cuma waspada aja

    Kalau naik ke sana, aku kudu olahraga dulu biar gak kaget. Udah lama gak nanjak2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anjingnya baiiik, malahan mereka yang minggir sendiri mbak waktu kita lewat. hehehe. Jadi no worries. Tapi saya tetep waspadaaaaaa

      Hapus
  8. Waah anak gunung banget ya mba. Seneng deh pemandangannya indah beut. Saya suka! Saya suka! Perjalanan yg gak akan terlupakan ya mba. Alhamdulillahnya ga kenapa napa ya mba setelah jatuh..

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah tidak fatal kecelakaannya y mba..ikut deg2an bacanya.. Hm, pengen ke sana juga tapi mungkin harus memikirkan faktor cuaca ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, masih diberi keselamatan mbaak. Betul, lebih baik di musim kemarau. Aman mbak

      Hapus
  10. pohon pinusnya ....
    pengalaman paling berharga "Tiap kali ada yang jatuh kami tertawa dan buru- buru mengulurkan tangan, tak jarang saat memberi pertolongan ada juga yang ikut terjatuh."

    BalasHapus
  11. Ya ampuuun pi.. untung ngg papa yaaa semua. Nama bukitnya lucu gitu yaaa. Pemandangannya bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukur maaam. Iya nih, baguuus pemandangannya

      Hapus
  12. ya Allah petualangan nya menegangkan. Alhamdulillah sudah turun sebelum hujan lebat tp ada tantangan kepeleset. insyaallah semoga baik2 saja dan jadi kenangan berharga banget ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mbakk.. hanya Alhamdulillah Alhamdulillah dan Alhamdulillah yang bisa diucapkan

      Hapus
  13. Petualangan ke Budug Asu sungguh menegangkan, mulai dari jalanan yang menanjak tajam, hujan dan kabut yang mengintaj, dan jalanan licin saat pulang sampai hampir tersesat pula, bahkan pulangnya sampai jatuh dari sepeda motor, tapi bisa jadi cerita seru ke anak-anak kelak tentang petualangan ibunya yang menegangkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak, pengalaman yang tidak bisa dilupakan seumur hidup

      Hapus
  14. Seru ya bisa kesana dan untungnya jatuh tidak terlalu parah hehe. Btw masih asri banget ya hutan disana bagus juga buat foto-foto.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, Budug Asu ini memang punya sisi menarik mbak..

      Hapus
  15. Baca buduh asu di judulnya aku langsung penasaran dong,apaaan nih asu asušŸ¤£ btw pemandangannya cantik ya

    BalasHapus
  16. Ya Allah mbak, alhamdulillah masih selamat dan bisa menceritakan cerita perjalanannya sampai selesai. Sehat sehat selalu ya.

    Btw pemandangannya indah banget ya. Masih asri dan menyenangkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita semua dberi kesehatan ya mbaak.. betul, di sana senaaang rasanya

      Hapus
  17. aku sih gpp jalan-jalan ke gunung atau bukit tapi maunya gak nginep & ada toiletnya hehehe. Nama bukitnya aneh banget sih Pi, kalau budug itu aku taunay penyakit kulit gitu hehehe.
    Wah pemandangannya bagus ya seger gitu lihat hutan pinus

    BalasHapus
  18. Pemandangan budug asunya keren ya mbak. Menantang juga kalau banyak 'asu'nya. Eh tapi klu saya berpapasan dengan anjing biasa suka takut duluan. Hehe.

    Syukur ya mbak masih diberi keselamatan. Kalau berpegian aplagi dalam kondisi hujan emang rawan kecelakaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheh di Budug Asu, Anjingnya ternyata ramah- ramah mbak

      Hapus
  19. Bakal masuk pengalaman yang seru ya ka... baca judulnya aja aku dah penasaran sih and basicly aku suka cerita or pengalaman yang agak ngeri ngeri sedap hehe bagi aku itu tantangan dan aku suka tantangan hehe.. karena jujur nih aku pernah punya pengalaman dikejar anjing dan digigit pulak.. sejak itu aku jadi belajar untuk menaklukan anjing.. eh kok jadi curcol.. saran aku lanjut berpetualang karena pengalamannya ngga bisa dibeli dengan uang

    BalasHapus
  20. MasyaAllah mazih asri banget
    Pengen main ke situ juga. Tapi butuh olahraga dulu inj biar strong naiknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbaaak, saya juga waktu itu persiapannya lari pagi..

      Hapus
  21. Wah apik ki Pi, pemandanganya cantik banget. Masih sepi juga ya kayaknya

    BalasHapus
  22. aduh mbaak... sampai jatuh segala, tapi gak apa apa kan? Seru banget ceritanya, jadi kesimpulannya kalau musim hujan mendingan gak main dulu ke Budug Asu ya, ngeri kalau sampai ada banjir seperti kata si Bapak. Eh tapi Bapaknya itu betulan orang kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah masih sehat mbak.. Betul, lebih baik jangan ke alam deh apalagi mendaki kalau hujan. Hahaha.. Aduh kalau bukan manusia, semoga itu malaikat yang menolong kami yaaa. hehehe

      Hapus
  23. Wahhh medannya cukup berat yaa, sepertinya saya gak bakalan bisa naik ke sana #AnaknyaLemah. Tapi pemandangannya memang oke banget, Mba, ditambah udaranya yang masih segar pasti pikiran langsung fresh yaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa mbak. memang perlu tenaga ekstra kalau mau kesini

      Hapus
  24. Tanjakan dhemit-nya ngeri euy, saya kayaknya bakalan nyerah duluan dan gak mau naik lagi, huhuhu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahah.. iyaa mbaak, ini saya juga pikir- pikir kalau mau balik ke sana.

      Hapus
  25. Laaah Silpi, endingnya kok ngeri banget. Jatuhnya lumayan parah yaaa...
    Okelah, besok pas tidak hujan perlu diulangi lagi tuh. Yawlaaaa... namanya aja udah ngeri ya Budug Asu. Kirain tadi Badog Asu, lebih parah lagiiii...

    BalasHapus
  26. duh, perjalanannya menegangkan banget ya mba. Tapi seru sih itu pengalamannya, jadi bisa diceritain di blog kan.

    BalasHapus
  27. Aku paling negeri kalo lagi naik ke gunung pas musim hujan. Udah pasti jalurnya licin dan suasananya kyk horor gitu, hihi.

    BalasHapus
  28. ikutan tegang juga bacanya pas mbak jalan kejauhan ahahah tapi seru banget ya pengalamannya gini
    jadi bacaan berbeda juga buat aku .
    keep blogging mbak

    BalasHapus

Keep Blogwalking! Komentar dengan link hidup akan langsung dihapus.