Perjalanan Melawan Mioma Uteri

Bismillah..

Kali ini mau sharing tentang sakit yang saya usahakan kesembuhannya selama 4 bulan ini, April- Agustus 2021.

Teman-teman tentu tahu sebagai wanita kita rawan sekali terkena penyakit, utamanya di bagian reproduksi.

Baik itu miom, kista, kanker indung telur, atau semacam daging tumbuh yang sejenisnya. Kita semua punya bibit yang bisa tumbuh ataupun tidak.

Oke, story begin.

Ohya, sebelum muncul gejala-gejala ini haid saya lancar setiap bulan dan saya tidak mengalami nyeri haid (delepen) dan sejenisnya.

APRIL 2021

Awal bulan April 2021, artinya dua bulan setelah saya menikah. Saya mendapat diagnosa miom sebesar 8x10cm di rahim.

Mulanya saya mengalami menstruasi di hari ke-4 dan terjadi pendarahan hebat, tidak seperti biasanya. Bahkan saya sampai mau pingsan ketika mengalami bleeding.

Kebetulan saat itu harinya Minggu, puskesmas tentu libur. Jadi suami membawa saya untuk periksa ke obgyn di RSIA swasta. Kejadiannya pagi dan saya baru bisa berjumpa dengan dokter menjelang maghrib.

Setelah rangkaian pemeriksaan serta swab, akhirnya bisa konsultasi dengan dokternya. Waktu itu saya diberi 2 obat, namanya Flesminex dan Bleedstop.

Memang benar pendarahan berhenti, namun ternyata berdampak pada siklus haid saya. Dua bulan setelah periksa yaitu bulan Mei dan Juni, saya tidak mengalami menstruasi.

JULI 2021

Bulan Juli, saya mengalami menstruasi hebat sejak hari pertama dan berlangsung selama 14 hari lamanya.

Di hari ke 5 haid karena pendarahan tak kunjung reda, saya kembali melakukan konsultasi ke obgyn lagi. Namun kali ini dengan dokter yang berbeda dari sebelumnya.

Saya menjalani pemeriksaan USG perut dan Transvaginal. Di sana terlihat bahwa miom saya ukurannya berubah menjadi 7x11cm. 

dokter mengibaratkan kemungkinan ukuran miom ini sudah sebesar buah naga, dan sebaiknya lekas operasi supaya tidak semakin membesar.

Diagnosanya waktu itu adalah "kemungkinan bisa diambil (diangkat) rahimnya".

Ohya, dua dokter obgyn di atas dinas di RS swasta. Jadi otomatis saat berobat saya mengeluarkan biaya pribadi.

Saya, suami dan orang tua berdiskusi. Bagaimana baiknya, lalu diputuskan untuk coba cari opsi dari dokter obgyn lain.

AGUSTUS 2021

Bulan Agustus saya kembali menstruasi dan ya sama juga seperti bulan sebelumnya. Lagi dan lagi pendarahan.

Kali ini saya coba konsultasi dengan teman yaitu, mba Dian Rustya dari Tuban. Kebetulan mba Dian juga pernah menjalani miomektomi sebelumnya.

Kali ini saya mulai coba datang ke Puskesmas untuk menanyakan tentang RS mana saja di Kediri yang bisa menjadi rujukan dari faskes saya.

Setelah mendapat info RS, saya mulai mencari-cari dokter siapa yang sekiranya bisa saya jadikan tempat konsultasi dan mungkin operasi.

Setelah menentukan RS mana yang akan saya datangi, saya mulai mengurus surat rujukan di Puskesmas.

Saya sempat harus datang tiga kali ke Puskesmas untuk bisa mendapat suratnya. Pertama saya diperiksa namun dokter yang tanda tangan untuk surat rujukan sedang tidak ada di tempat. Karena sedang ada kegiatan vaksinasi.

Kedua (besoknya) setelah menyerahkan hasil USG dari dokter obgyn sebelumnya, saya diminta untuk kembali lagi siang karena suratnya jadi siang hari. Baru ketiga kalinya saya datang lagi, suratnya bisa saya dapat.

Akhirnya saya memutuskan untuk datang ke RS. Aura Syifa dan menemui dr. Andoko, bersama suami.

Di sana saya di USG lagi, namun gambar di layar tidak jelas karena sebelum USG seharusnya tidak boleh buang air kecil beberapa jam sebelumnya. Namun saat itu saya sempat BAK beberapa kali.

Setelah konsultasi, dengan pertimbangan dari dr. Andoko, saya diberi masukkan untuk dirujuk ke RS yang lebih besar. Pilihannya Malang (RSUD Saiful Anwar/ Lavalette) atau Surabaya (RSUD Dr. Sutomo).

Namun dokter memberi saya saran sebaiknya ke Malang saja supaya lebih cepat. Karena kalau ke Surabaya akan lebih lama.

Mungkin ada sebagian teman-teman yang bertanya. Kenapa kok harus dirujuk? Emang RS di Kediri ga bisa?

Pertimbangan dari dr. Andoko adalah karena saya belum pernah punya anak. Kemungkinan sayang sekali kalau sampai muncul diagnosa angkat rahim.

04 AGUSUS 2021

Maka dari itu saya diberi rujukan ke RS yang lebih besar. Di tanggal 4 Agustus saya mendapat rujukan dari Aura Syifa dengan memilih RSSA (Saiful Anwar) Malang.

Saya dan suami berencana untuk datang konsultasi ke Malang tanggal 9 Agustus (menyesuaikan dengan cuti kerja). Namun saat itu saya sedang dalam siklus haid dan pendarahan.

16 AGUSTUS 2021

Jadi seminggu kemudian di tanggal 16 Agustus kami baru bisa datang untuk konsultasi. Awalnya kami harus antre untuk ambil antrean poli di lantai 1. Lalu registrasi di lantai 2.

Saat itu kami keliru ambil antrean poli, kami ambil Onkologi Ginekologi padahal seharusnya Obgyn Ginekologi. Syukur alhamdulillah dibantu oleh petugas registrasi jadi ga perlu antre ulang.

Di hari itu saya konsultasi dan dicek transvaginal. Selanjutnya harus cek lab keseluruhan dan tes swab. Jika hasilnya sudah keluar bisa dibawa kembali ke poli. Dan diminta untuk kembali lagi ke Malang hari Kamis, 19 Agustus.

Hasilnya keluar sore dan jadwal dokter di poli sudah selesai, jadi kami memutuskan untuk pulang dulu dan kembali lagi hari Kamis.

19 Agustus - 31 Agustus - RAWAT INAP 

19 Agustus kami datang lagi ke RSSA untuk jadwal USG dan penentuan ambil tindakan. Ternyata hasilnya diputuskan bisa miomektomi (angkat miom) hari itu juga.


Namun hari itu belum bisa operasi karena terkendala hasil lab, hemoglobin (HGB) hanya 3,3 g/dL dan hematokrit hanya 12%.

Dalam medis, kondisi ini termasuk kritis karena lazimnya HGB normal manusia sehat adalah 11,4 - 15,1 dan hematokritnya 38-42%

Kenapa HGB saya bisa segitu? Kemungkinan besar karena saya sebelumnya mengalami menstruasi hingga pendarahan hebat di bulan Juli dan bulan Agustus.

Akhirnya mau tidak mau, harus pemulihan kondisi dulu sebelum dokter ambil tindakan operasi.

HCU 19 Agustus - 21 Agustus

Saya harus masuk HCU (High Care Unit) di RSSA, yang mana selama dirawat tidak boleh ditunggu keluarga. Hanya boleh berjumpa sesekali saja, itupun sangat terbatas.

Dan juga tidak boleh pegang gadget. Tujuannya supaya bisa istirahat total untuk pemulihan kondisi. Sebagai gambaran HCU, ruangannya dingin sejuk, ada alat monitor di sebelah ranjangnya.

Saat itu saya harus memakai selang oksigen, awalnya tangan kanan diinfus namun 2 hari kemudian pindah ke kiri karena ada nyeri dan juga dipasang alat untuk atur saturasi O2 dan lengan kanan dipasang alat tensi yang beberapa jam (atau malah tiap jam ya, ga memerhatikan) melakukan tugasnya.

Alat-alat tersebut harus selalu dipakai sepanjang waktu. Indikatornya muncul di layar sebelah bed dan yang sempat bikin tegang, alatnya bunyi tit tut tit tut tak pernah berhenti bekerja selama 24 jam.

Ohya saya juga harus dipasang kateter karena menjalani proses transfusi. Jadi bisa dicek berapa mili liter cairan yang keluar.

Hari ke-dua saya di HCU sempat drop karena terjadi pendarahan hebat lagi. Hingga akhirnya harus dilakukan tindakan biopsi. Biopsi sendiri adalah pengambilan jaringan tubuh untuk pemeriksaan laboratorium.

Jadi biopsi dilakukan melalui transvaginal. Kebayang rasanya? Sakit luar biasa.

Saya ada di HCU sejak Kamis 19/08 pukul 15.00 sampai Sabtu 21/08 pukul 16.00. Kemudian diusulkan untuk pindah ke ruang kamar karena kondisi HGB sudah mulai membaik di angka 6,5.

Selama itu dilakukan transfusi darah, dalam 1 hari hanya dibolehkan 2 kantong saja. Jadi selama di HCU saya ditransfusi 4 kantong.

1. Kamis - 1 kantong darah

2. Jumat - 2 kantong darah

3. Sabtu - 2 kantong darah (1 di hcu, 1 di ruangan).

Sabtu, 21 Agustus - Pindah Ruangan

Hari Minggu 1 kantong pagi, dan 1 kantong sore hari, belum sampai selesai (baru dapat setengah kantong) saya mengalami reaksi menggigil sampai kejang, disertai demam 37,7°. 

Karena kondisi tersebut proses transfusi dihentikan sementara sambil diberikan obat penurun demam serta injeksi. 

Transfusinya sendiri harus sesuai dengan golongan darah, kalau darah saya AB+ ya harus dapat dari AB+. Mungkin secara teori AB+ memang bisa menerima dari semua golongan darah, namun di RSSA, mungkin juga di RS lain teori tersebut tidak berlaku.

Alhamdulillah sorenya suhu sudah kembali normal. Di malam harinya saya diberi injeksi lagi untuk lambung karena sempat merasa kembung. Ohya, BPJS saya berada di kelas II, namun saat rawat inap diupgrade menjadi kelas I karena ruangan untuk kelas II digunakan untuk pasien Covid-19.

Senin, 23 Agustus - Cek Lab Lagi

Di Senin pagi, saya diambil darah lagi untuk keperluan cek lab. Sorenya hasil sudah keluar, syukur alhamdulillah bagus sudah normal yaitu 12,3.

Tapi lagi-lagi saya mengalami demam dan diberi saran untuk dikompres air hangat. Senangnya saat itu selang infus saya dilepas untuk sementara karena kondisi mulai stabil.

Selasa, 24 Agustus - Kembali Pendarahan

Hari Selasa, kami mendapat info dari perawat kalau sebetulnya saya diusulkan untuk pulang, sambil menunggu jadwal operasi. Namun tidak approve dokter, karena dikhawatirkan drop atau pendarahan lagi.

Benar saja, siangnya saya mengalami pendarahan lagi dan akhirnya harus menerima injeksi anti pendarahan dan anti nyeri lagi. Iya, lagi dan lagi. Selama dirawat, dalam 1 hari saya menerima injeksi paling sedikit 6X dan paling banyak 8X.

Rabu, 25 Agustus - Menerima Kabar Jadwal Operasi

Hari Rabu pagi, kami dapat kabar mengenai jadwal operasi saya. Rencananya akan dilakukan di hari Kamis 26/8, saat itu dokter anestesi sudah visit untuk info prosesnya.

Namun siangnya ada dokter obgyn datang untuk meminta izin mengenai undur jadwal, karena ada pasien emergency pendarahan dan ibu hamil.

Begitu tau alasannya, saat ditanya bersedia atau tidak kalau jadwalnya diundur. Saya dan suami lihat-lihatan sebentar, ga pake mikir lama kami bilang setuju.

Soal ini sebenernya bisa saja kami ga setuju, tapi kami menyadari selama proses berobat, kami selalu diberi kemudahan.

Jadi kami berdua yakin ada tangan-tangan baik di luar sana, yang mungkin saja secara tidak langsung membantu lancarnya proses pengobatan yang kami lakukan selama ini.

Kamis, 26 Agustus - Foto Radiologi

Jadi jadwal operasi saya diganti hari Jum'at. Di hari Kamisnya saya menjalani foto radiologi dan menerima kunjungan beberapa dokter. Baik dokter anestesi (dr. Rini dan dr. Pricillia), dr Obgyn dan jantung. Dan malamnya saya diminta puasa start pukul 02.00.

Jum'at, 27 Agustus - Hari Operasi

Pagi sebelum operasi saya diminta untuk mandi dan keramas, lalu berganti pakaian dari rumah sakit. Tangan kanan dan kiri saya dipasang infus. Jadi karena saya masih belum bisa keramas sendiri waktu itu, saya dibantu oleh suami.

Keramasnya pakai wastafel yang tersedia di kamar, jadi kayak ala-ala salon. Sedangkan kalau mandi sudah bisa sendiri dengan posisi duduk dan menggunakan shower. Mandi seadanya yang penting basah dan harum.

Sebelum operasi saya menerima kunjungan dari dokter anestesi. Sekitar pukul 07.20 saya dijemput oleh dua orang perawat dengan kursi roda dan bersiap untuk naik ke lantai 5 untuk menjalani operasi.

Untuk anestesinya sendiri biusnya regional (perut ke bawah), karena saya sempat takut jadi saya minta untuk ditidurkan. Tapi tidurnya cuma sebentar saja, setelahnya saya sadar selama proses operasi. 

Mulai dari miomnya diangkat sampai proses jahit. Saya tahu karena dokter di sebelah saya yang memberi info. Karena selama proses operasi saya dalam kondisi sadar, dokter pendamping sesekali mengajak saya bicara. Beliau menanyakan siapa nama, usia, pekerjaan, alamat rumah.  

Ohya anestesinya sendiri disuntik lewat tulang belakang ya. Saya diminta duduk di atas bed dengan posisi tegap dan kepala menunduk. Itulah kenapa di hari sebelumnya saya diminta untuk melakukan foto radiologi.

Rasanya gimana? Cukup sering terkejut saat ada jarum yang menusuk tulang punggung dan lagi suntikannya tidak 1-2x saja, karena posisinya belum pas - selain itu saya juga kurus jadi lumayan sulit, saya merasakan ada sampai sekitar 5x suntikan baru masuk reaksi anestesinya.

Fyi, reaksi anestesi yang saya rasakan adalah perut ke bawah mulai hangat, kesemutan lalu kebas.

Ohya, lokasi miom saya ada di intermurral (cmiww). Di luar rahim tapi ada di belakang dan agak ke bawah. Menurut dokter, operasi ini termasuk operasi yang agak sulit, tapi berkat dokter-dokter yang profesional, alhamdulillah berjalan lancar. Tangan Tuhan turun lewat dokter-dokter dan doa teman-teman semua. Terima kasih banyak!

Setelah selesai operasi, saya ditempatkan di ruang pemulihan operasi dan dipasang alat-alat seperti di HCU, baik selang oksigen, alat tensi otomatis dan alat pengukur saturasi oksigen. Di sana saya sempat merasa menggigil diberi tambahan selimut.

Setelah saya merasa kaki saya sudah mulai bisa gerak, saya sempat bertanya dengan perawat ruang pemulihan operasi.

"Mbak, kaki saya betul bisa gerak atau halusinasi saya saja?",

Ternyata beneran bisa gerak, ya Allah Alhamdulillah. Selanjutnya perawat ruang operasi memberi tahu saya kalau sudah memberi kabar ke perawat ruang kamar untuk menjemput saya. Jadi dari 7.20 saya mulai masuk ruang operasi dan baru keluar sekitar 12.20.

Dari keseluruhannya yang paling bikin deg-degan adalah proses ambil darah. Karena perputaran darah di bank darah rumah sakit tentu cepat ya. Jadi kami sempat khawatir bagaimana kalau sampai tidak tersedia. Apalagi dimasa pandemi seerti sekarang ini. Infonya saat covid sedang naik-naiknya, stok darah di Bank Darah sempat 0 kantong.

Tapi syukur semua dilancarkan, 7 kantong yang saya gunakan dan 2 kantong (untuk persiapan operasi. Syukur tidak terpakai) semua tersedia dari bank darah RSSA. Dari sekian banyak darah yang saya gunakan, saya hanya mengganti dengan 1 pendonor karena screening dari RSSA memang sangat ketat kalau kita mau jadi pendonor.

Syukur Alhamdulillah semua berjalan lancar. Dari semua rangkaian ini saya harus berterima kasih banyak-banyak sama mba Dian dan Nanda karena selalu saya repotkan, bahkan sejak awal soal pertanyaan - pertanyaan proses operasi ini.

Mulai dari gimana ngurus rujukan BPJS dari faskes 1 ke rumah sakit dan semuanya deh mulai dari teknis operasi sampe pertanyaan yang ga jelas. Haha.

Terima kasih mba Dian dan Nanda, sampai gatau lagi mau ngomong apa kecuali terima kasih.

Tentunya juga keluarga terdekat, suami, keluarga, saudara, teman - teman, baik di real life maupun di sosial media yang mendukung sejak munculnya gejala sakit ini sampai selesainya proses operasi. Terima kasih untuk doa dan supportnya selama ini.

Yang selalu tanya gimana kabarnya, gimana keadaanya, gimana perkembangannya, setiap waktu. Its means to me, a lot.

Saya harap dengan cerita ini, teman-teman khususnya yang perempuan selalu aware dengan kesehatan utamanya mengenai reproduksi. Jangan segan untuk periksa. Rumah Sakit sekarang ini sudah jauh beda pelayanannya dengan yang dulu. Mereka berbenah, dan mereka sangat ramah.

Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulilah. Ga henti-hentinya saya bersyukur untuk pengalaman luar biasa itu. 13 days of blessing. Ohya, seluruh pengobatan saya dari mulai mengurus surat di Faskes 1 sampai operasi. Semua dicover oleh BPJS (JKN).

Saat berada di Rumah Sakit, saya berjumpa dengan penderita miom yang sama seperti saya. Namun yang jadi pembeda adalah dia harus menjalani kemo sebelum dokter melakukan tindakan operasi, karena kasusnya miom tersebut sudah lengket pada usus.

Jadi ternyata meskipun sakitnya sama, namun treatment tiap kasus-nya berbeda. Baik pengobatan sampai pemulihanya.

Jujur saya jadi banyak bersyukur karena pengobatan saya terbilang cukup cepat, meskipun harus menjalani transfusi dulu sebelumnya. Waiting list jadwal operasi juga tidak sampai berbulan-bulan. Alhamdulillah.

Semoga siapapun yang menjalani proses pengobatan dilancarkan dan yang menjalani proses pemulihan diberi segera sehat dan pulih kembali seperti sedia kala.

Trigger warning, foto miom dalam tubuh saya yang membuat saya sering pendarahan. Maaf aku buang kamu ya, soalnya kamu menyebalkan.

Untuk fisik miomnya sendiri saat ini masih berada di RSSA Malang, karena setelah operasi miom tersebut akan dimasukkan ke lab patologi untuk dicek jaringannya.

Hasilnya akan diberitahu saat saya melakukan medical check up selanjutnya.

Update :

Syukur Alhamdulillah, hasil patologi anatomi miom jinak.

* saya tidak menampilkan foto saat saya berada di ruangan HCU maupun ruangan rawat inap, karena berkaitan dengan etika. 



Komentar

  1. Semoga masa pemulihannya lancar dan segera sehat kembali..aminn��

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah.. membaca dari awal sampai akhir, terharu rasanya, terutama ketika rela diganti jadwal karena ada pasien yang lebih urgent. Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang tak ternilai.. sekarang pemulihan semoga lekas sembuh total, dan pada saatnya nanti dikaruniai keturunan yang sehat, kuat, cerdas dan membanggakan.. Aamiin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Om, semua ini tidak lain karena ada campur tangan Allah dan doa dari teman-teman semua. Aamiin, terima kasih Om Bud

      Hapus
  3. Alhamdulillah sudah selesai operasinya semoga tidak tumbuh lagi ya sil, dan silvi bisa segera hamil dengan aman tanpa gangguan sesuatu itu..

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah, semua bisa terlewati ya. Masya Allah ujiannya, setelah ini dapat bahagia ya, Sil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukur alhamdulillah mba Riska.. Terima kasih doanya ya

      Hapus
  5. Gileee ukurannya sungguh mencengangkan sil! Alhamdulillah km berhasil melalui tahap demi tahapnya dg baik. Mdhn hasil pengecekan jaringannya engga bikin cemas ya. Keep positive mind, banyak istirahat, nonton drakor dan makan enak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beneran mbak Aik! Syukur alhamdulillah sudah terlewati. Aamiin, thankyouuuuu

      Hapus
  6. Alhamdulillah sudah terangkat miomnya, semoga setelah ini selalu diberi kesehatan mba.

    BalasHapus

Posting Komentar

Keep Blogwalking!

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Sakit Pinggang Kecetit dan Pengobatannya

Crayon Beserta Kekurangan dan Kelebihannya yang Perlu Diketahui

FUS Pada Kucing dan Kematian Pomilo