Melahirkan dengan SC ERACS

Agustus 02, 2022

Setelah menjalani Kehamilan dengan Riwayat Operasi Mioma Uteri dan disarankan untuk melakukan persalinan dengan SC, saya memilih RS. HVA Toeloengredjo dengan dr. Hamidah Tri H, SpOg.

Saat itu saya mulai visit ke RS. HVA setelah melakukan ANC Terpadu ke dua (di usia kehamilan 37 minggu) dan mendapatkan surat rujukan.

13 Juni 2022

Pertama kali berjumpa dengan dr. Hamidah, usia kehamilan saya memasuki 37/38 minggu dan disarankan untuk melakukan tindakan SC satu minggu lagi, karena usia kandungan sudah termasuk cukup bulan untuk dilahirkan.

Menurut hasil USG berat badan janin di angka 2.600 gram dan dokter menyarankan saya untuk makan dan minum yang banyak serta bergizi. Jadilah di hari-hari menjelang kelahiran itu, saya melakukan kegiatan makan-tidur-makan-tidur.

21 Juni 2022

Seminggu setelahnya saya kembali melakukan appointment untuk kontrol sekaligus opname (sehari sebelum operasi SC). Hari Selasa saya check up dan Alhamdulillah berat badan janin sudah bertambah menjadi 3.100 gram. Saat lahir berat badan aktual adalah 3.400 gram dengan panjang 53 cm.

Pemeriksaan selanjutnya, saya diminta untuk melakukan cek lab (darah lengkap dan urin) serta swab antigen. Sejak pandemi hingga sekarang prosedurnya memang wajib swab ya.

Setelah selesai dengan check ini dan itu, kami menuju ruang Teratai/  bagian kebidanan untuk mengisi serta menandatangani beberapa berkas yang diperlukan untuk melakukan bedah SC.

Termasuk persetujuan pemasangan KB, setelah berdiskusi dengan suami akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan KB non hormonal IUD jenis Nova T.

Saya perlu memikirkan dengan matang jika ke depannya memiliki anak lagi, termasuk jarak kehamilan, mengingat kondisi riwayat kesehatan saya. 

Selesai dengan urusan berkas, kami mulai memproses pendaftaran guna mendapatkan ruang rawat inap, mengambil obat dan infus ke apotek.

Prosesnya lumayan cepat, sekitar pukul 17.00 saya sudah menempati kamar rawat inap dan dipasang gelang pasien. Jadi karena belum ada tindakan pemasangan infus dan lainnya, saya masih bisa melaksanakan sholat Maghrib dan Isya di masjid Rumah Sakit.

Ohya selepas Isya, saya juga melakukan rekam jantung di ruang IGD. Saya tidak ingat secara jelas, namun ada beberapa alat yang ditempelkan di bagian dada, lengan dan juga kaki.

22 Juni 2022

Setelah sholat subuh, saya diminta untuk lekas mandi dan keramas karena akan dilakukan pemasangan infus dan kateter. (Jujur meski sudah pernah punya pengalaman memakai kateter selama 10 hari saat di RSSA Malang, rasanya tetap ngeri).

Selain itu saya juga mulai diminta untuk puasa karena tindakan SC akan dilakukan pukul 08.00 WIB.

Ohya, di RS. HVA ada beberapa barang yang perlu kita beli secara mandiri untuk mempersiapkan persalinan, seperti :

  • Kendil 1pcs (untuk meletakkan plasenta bayi),
  • Underpad 5pcs,
  • Opsite (plester luka) 2pcs,
  • Gurita dewasa 1pc,
  • Pampers bayi, 
  • Tisu basah,
  • Cukuran (untuk mencukur bulu memiaw), dan
  • Oktentik (Tisu mandi)

Kemarin ada beberapa barang yang sudah saya siapkan dari rumah, karena belajar dari pengalaman saudara saya yang sudah melahirkan di bulan April kemarin. Jadi hanya melengkapi kekurangannya saja.

Persalinan saya kali ini menggunakan ERACS "Enhanced Recovery After Cesarean Surgery" merupakan metode operasi caesar dengan pendekatan khusus perawatan untuk mengoptimalkan kesehatan ibu, sebelum, selama, dan setelah menjalani operasi caesar. Tujuannya, agar mobilitas dan proses penyembuhan atau recovery persalinan dapat dipercepat.

Pukul 07.45 saya sudah dijemput oleh dua perawat untuk masuk ke ruangan operasi. Sependek yang saya ingat, saat itu mulai dilakukan anestesi regional/ perut ke bawah. Beberapa kali saya diminta untuk mengangkat kaki secara bergantian dan juga bersamaan.

Setelah itu mulai dilakukan pembedan, tidak lama kemudian anak saya lahir tepat pada pukul 08.10.

Saat pertama kali saya mendengar tangisnya, tangis sayapun ikut pecah. Perawat yang berada di sebelah saya memberi tahu bahwa anak saya laki-laki dan alhamdulillah lahir dalam keadaan lengkap. Saat itu saya hanya bisa mengucap syukur alhamdulillah.

Menurut saya operasinya cukup lama, saya sempat mengantuk namun tidak dapat terlelap dan sempat mengalami halusinasi. Sekeliling saya rasanya membesar termasuk badan saya sendiri dan hanya kepala saya saja yang kecil.

Sampai pada akhirnya operasi selesai, mungkin untuk memulihkan kesadaran saya, perawat mengajak saya bicara mengenai pekerjaan. Sampai pada akhirnya membahas harga barang bangunan sembari bed saya dibawa ke ruang pemulihan.

Saya tidak tahu rentang waktunya sampai ada dua suster yang mengganti baju saya dengan gurita ibu melahirkan, jarik dan juga underpad. 

Saat keluar dari ruang operasi ke ruang pemulihan bahkan keluar ruang operasi untuk kembali ke kamar rawat inap, mata saya terus terpejam karena rasanya pusing dan mual luar biasa ketika melihat sekeliling.

Saat mendengar suara sekitar, saya tahu ada keluarga saya yang menunggu di luar ruangan, ada ibu dan bude saya. Saat itu Ilham masih mengurus berkas-berkas anak. 

Saat mendengar suara keluarga, hal pertama yang saya tanyakan adalah "bu, jam berapa?". Ternyata saat saya keluar dari ruang operasi masih jam 09.00 WIB. Rasanya senang bercampur terharu karena akhirnya dapat berjumpa dengan bocah bebi.

Pukul 14.00 saya sudah diharuskan bisa duduk dan alhamdulillah 2 jam kemudian saya sudah bisa turun dari ranjang. Setelah maghrib mulai belajar berjalan dan setelah Isya kateter dan infus dilepas.

Setelahnya saya sudah bisa ke kamar mandi untuk bersih-bersih badan meskipun masih dibantu oleh suami. Berbeda dengan operasi saya sebelumnya yang rentang waktunya cukup lama.

Saat itu selesai operasi pukul 12.30 WIB dan baru bisa mulai belajar duduk dini hari pukul 03.00 WIB.

Meskipun dibilang minim rasa sakit, bagi saya tetap terasa nyerinya ya. Apalagi kalau anti nyerinya telat, aduh rasanya mantap sekali. Tapi saya akui untuk recoverynya memang lebih cepat dari operasi miom saya sebelumnya. 

Setelah ngobrol dengan beberapa teman yang juga menjalani SC dengan metode ERACS, efek dan recoverynya setiap orang berbeda-beda. Ada yang cepat dan ada yang agak lama.

Saya masuk RS hari Selasa sore, Rabu menjalani persalinan dan Kamis sudah dibolehkan untuk pulang.

Saya betul-betul mempersiapkan persalinan ini karena memang sejak awal sudah tahu kalau akan menjalani operasi. Tentunya juga saya sudah mempersiapkan diri menerima "komentar jahat". 

Ya, meskipun saya belum pernah tahu rasanya melahirkan secara V-Birth, namun menurut saya semua proses persalinan itu sama. Sama-sama berjuang untuk melahirkan buah hati dengan selamat, baik untuk ibu maupun anaknya.

Menjalani persalinan baik V-Birth ataupun SC tidak mengurangi esensi kita sebagai seorang ibu ya. Selain itu V-Birth dan SC juga memiliki rasa sakitnya masing-masing. Jadi tidak perlu diperdebatkan lagi yah soal ini.

Selamat datang di dunia anakku, Aksara Swargadeeva. Insya Allah menjadi anak yang sholeh dan berguna untuk sesama.



You Might Also Like

2 comments

  1. Semangat Vi...sudah berjuang sepenuhnya untuk menjadi seorang ibu. Sc atau normal sama saja... Tidak merubah kodrat kita sebagai wanita. Aku belum coba sih ERACS ini... Mungkin di rencana kehamilan berikutnya deh..

    Btw..selamat ya. 🥰

    BalasHapus
  2. Wah selamat ya atas kelahiran anaknya, hemm perjuangan memang membuahkan hasil. Momen mengharukan saat denger tangisan anak, jadi ikut terharu dan bahagia. Walaupun SC Eracs sih menurutku sama saja asal malaikat kecilnya udah terlahir dengan sehat.

    BalasHapus

Keep Blogwalking!

ABOUT ME

ABOUT ME
I'm Silviana Noerita. a human write about random things and travel journal. Based in Kediri, ID.

LIKE US ON FACEBOOK