Senin, Juni 17, 2013

Kematian adalah teman yang paling dekat.

  4 comments    
categories: 

Uti saya sudah tua, usianya menginjak 70 tahun, dan beliau juga mengidap diabetes melitus. Sudah hampir 1 bulan lebih beliau hanya tidur di ranjang karena kondisi badannya yang drop setelah insiden jatuh terpeleset di kamar mandi sehingga kepalanya berdarah.
Sejak itu pula, kesehatan uti mulai menurun. Namun, uti saya masih bandel, raganya memang sakit, tapi pemikirannya masih seperti orang sehat. Bercerita, tertawa, bercanda, semuanya masih bisa. Tapi, satu minggu yang lalu, uti saya mulai kesulitan menelan, hampir semua makanan yang bertekstur keras seperti nasi tidak dapat masuk ke tenggorokannya, minum air saja kesulitan. Hingga akhirnya tak ada satupun makanan yang masuk ke perut beliau, 1 minggu hanya minum air teh hangat, tapi alhamdulillah porsinya masih dibilang lumayan banyak untuk penambah tenaga, 1 hari 3 gelas teh.

Hari Jumat

Semenjak uti saya mulai kesulitan berjalan, uti mulai memakai diapers untuk menampung air seni dan juga poopnya. Tapi, yang membuat saya kaget adalah, dalam diapersnya terdapat warna merah, awalnya saya tidak berpikir macam- macam, namun makin lama uti saya bilang kalau perutnya terasa sakit, dan saat saya melihat (maaf) ‘isi’diapersnya ternyata terdapat darah menggumpal. Sehingga, kami mengganti diapers 1 hari sampai 5 kali untuk menjaga kenyamanan serta kebersihan. Dugaan saya, uti ini terkena liver karena output yang dihasilkan berwarna merah kehitaman. (Jangan dibayangkan!).

Hari Sabtu

Sabtu pagi, saya masih bercengkerama dengan uti. Saya bilang saya menang lomba, menang abcd, dan uti masih menanggapi dengan berkata “menang apa?”, kemudian saat saya beranjak, saya dipanggil dan dibilangi untuk tidak pergi- pergi jauh. “Ojo lungo- lungo, ning kene ae ngancani aku” (Jangan pergi- pergi, disini saja menemani uti).
Kemudian, uti minta saya untuk memeluknya (ngeloni), dan saat itu saya memluk uti sambil menciumi pipi beliau. :’)

Minggu, Pagi

Meskipun sakit, uti saya selalu mandi setiap hari, 1 hari 1 kali, setiap pagi pukul 03.30, itupun atas permintaan uti sendiri. Karena kondisi yang tidak memungkinkan, bude dan ibuk saya memutuskan untuk memandikan uti dengan cara ‘seko’ atau di lap dengan air hangat. Namun, uti saya masih menolak saat ditawari demikian.
Hingga, pakpuh dan bude saya memandikan uti seperti biasanya. Setelah mandi, mata uti saya mulai memutih dan seperti terbalik. Pernah tau ? Allah, itu adalah hal yang paling menakutkan untuk saya. :’(
Selanjutnya seperti biasa, uti masih berinteraksi dengan mata meskipun tidak mengucapkan sepatah kata pun, saudara- saudara saya yang berada di rumah uti bergantian membacakan surat yasiin dan juga menuntun uti untuk berdzikir. Tidak pernah lepas.
Pukul 13.00 uti saya mulai tidak sadar. Kami yang panik terus melantunkan ayat- ayat Allah.
Semua keluarga berkumpul, hingga pakpuh saya yang paling tua datang dari Surabaya.

Senin, 10 Juni 2013

Senin pagi, keluarga kami mengundang dokter untuk memeriksa uti, dan dirujuk untuk dibawa ke rumah sakit, supaya uti saya mendapat infus dan o2, kami menunggu respon uti.
Pukul 08.00 saya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu untuk mandi, dan kemudian ibuk namun hingga pukul 11.00 uti saya masih belum sadar.

Sekitar pukul 12.45, ibuk saya mengirim pesan singkat, intinya meminta saya segera sholat dan membaca surat al fatihah 41 kali. Saya masih ingat pukul 13.15, saya baru saja selesai membaca yasin untuk kesembuhan uti, pukul 13.20, ibuk saya menelpon sambil menangis, mengabarkan uti sudah dipanggil Sang maha Cinta. Innalilahi Wainailahi Roji’un.
Posisi saya saat itu di rumah uti sendiri, karena ibuk, emak, bude, pakpuh berada di RS, dan pakpuh saya yang lain baru saja pulang, jarak rumah uti saya dan pakpuh tidak terlalu jauh, hanya berkisar jarak sekitar 10 rumah.

Saya lari ke rumah pakpuh, mengabarkan jika mbah sudah tidak ada. Sambil menangis. Dan pakpuh saya bilang “sudah jangan nangis, mbah uti sekarang sudah tidak merasakan sakit lagi, kamu sudah lulus ujian, sudah dianggap cukup merawat uti”, langsung saya seka air mata.
Karena uti saya sudah dipindahkan dari UGD ke kelas, maka prosesnya lumayan ribet, seharusnya kami harus menunggu selama 2 jam untuk proses urus ini itu, tapi untungnya kami punya kenalan dan akhirnya kami hanya menunggu tidak lebih dari setengah jam.

Di rumah, sudah mulai berdatangan para pelayat, saya yang ditanya masih sering meneteskan air mata, sedih. Gimana tidak, dari tiga belas cucu uti, perempuan hanya lima, dan saya yang paling dekat dengan uti sejak kecil, hingga saya hampir berusia 20 tahun.

Mobil Jenazah datang, buncah hati saya, begitu uti masuk ke ruang tamu, saya langsung masuk, dan mencium muka uti, alhamdulillah saya tidak menangis pada momen itu, saya mencoba tegar, saya takut air mata saya menetes saat mencium uti. Sakit hati saya, menangis tanpa suara.

Alhamdulillah prosesi mandi jenazah, mengkafani, lancar. Sholat jenazah juga dilakukan beberapa shift bergantian, pemberangkatan pun juga cepat, Subhanallah, pelayat yang mengantarkan seperti berlari. :’) – its mean a lot.

Saat proses pemakaman, ayah saya yang membaca adzan, dan masing- masing dari kami (anak, cucu serta keluarga), menggenggam tanah sambil membaca surat Inna Angzalna Hufi lailatul qodr sebanyak 7x, untuk digunakan sebagai ‘bantalan’ uti.

Setelah tahlil yang dibacakan oleh modin selesai, keluarga besar kami masih tinggal untuk melakukan tahlil sendiri. Saudara uti saya ada 8, dan uti saya anak pertama. Adik uti saya, yang bernama mbah Sakir saat menjadi imam tahlil sampai menangis, dan kami semua disitu larut.


Hingga 3 hari berjalan, saya masih saja ingat uti, masih suka nangis, masih cengeng. Sampai sudah lewat 7 harian saya juga masih aneh rasanya, biasanya jam segini uti begini, eh dulu kami sering begini, duduk disitu, setiap saya pulang sekolah uti ngupas apa aja di kursi depan, dan lainnya.
Bagi saya, uti adalah ibuk ke 2.

Untuk siapa saja, saya mewakili uti serta keluarga memohonkan maaf jika uti saya pernah melakukan kesalahan, baik itu disengaja ataupun tidak disengaja.
Semoga Allah ya Kareem, menempatkan uti di tempat yang paling Agung milik- Nya. Al- Fatihah..


*yg paling membuat saya sedih adalah, uti belum lihat saya lulus dan menjadi ‘orang’ seperti yang ia sering bilang ke saya*

4 komentar:

Keep Blogwalking!