Romantisan : Sepakat untuk Menikah

Gambar
Long time tidak curhat-curhat santai di blog. Rindu sebetulnya namun bingung untuk memulainya.  Selama ini saya menahan diri selama kurang lebihnya satu tahun untuk tidak upload tentang persiapan menikah ke sosial media. Bukan tidak mau membagikan cerita bahagia ya, hanya saja saya ingin teman-teman dunia maya tahu setelah semuanya benar-benar terjadi. Kalau boleh dibilang, setahun ternyata cepat sekali berlalu. Desember 2019 adalah bulan di mana saya mengirim pesan, bukan ajakan menikah atau minta untuk dinikahi ke orang yang jadi suami saya sekarang ini.  "Chal, bapak dan ibu sudah selesai urusan haji. Sepertinya setelah ini giliranku disuruh menikah" // "Minggu depan aku boleh ke Kediri? Kita bicara soal ini, ya" // Long story short, orangnya betulan datang ke Kediri. Tidak janjian untuk berjumpa di rumah, namun di Warkop Maspu. Di sana kami ngobrol santai-santai saja, bikin vlog cerita perjalanan kami singgah di beberapa tempat wisata (ternyata vlognya ga pernah

Rest in Peace ma Grandpa


Waktu terasa cepat berlalu, ketika semua tangis pecah dalam satu ruangan, kami sadar, semua milik-Nya akan kembali pada-Nya.

Beliau terkena liver, namun semangatnya tak pernah padam. Mbah Sukarmun adalah kakak dari mbah kungku, namun hubungan kami harmonis dan damai walaupun kami berbeda agama. Beliau adalah pemersatu keluarga besar Notoredjo. Sosoknya yang teduh dan tenang menjadikan beliau sangat berarti dalam keluarga besar kami.
Terakhir ku lihat senyumnya ketika awal beliau sakit liver dan tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Tapi beliau masih dapat mengingat semuanya, siapa- siapa yang menjenguknya, ingatanya masih segar. kami masih dapat bercanda, beliaupun masih melontarkan joke- jokenya. Kami tertawa bersama.

Aku masih ingat, saat itu hari Sabtu, aku menjenguk mbah Karmun, mungkin itu memang pertemuan kami yang terakhir. Belaiu masih memanggilku, namun tidak dengan sebutan nduk lagi, beliau hanya melihatku sambil melambaikan tanganya sembari mengangguk. :( Miris melihatnya.

Kepalaku dielusnya, aku hampir menangis.

Ketika itu aku pamit untuk pulang, aku kecup tangannya, mungkin itu untuk yang terakhir kalinya.

Dan aku hanya memantau kesehatannya dari grup keluarga besar kami.

Semalam, aku dapat berita dari ibu kalau kakek sudah tidak ada, Inalillahi wainailiahi rojiun, sesak rasanya dada ini. Sekarang, cuma bisa mendoakan semoga amal beliau selama hidup diterima disisi-Nya.

Selamat jalan mbah Kung Sukarmun (Partomihardjo), anak, cucu, serta cicitmu akan selalu mengenang kebaikanmu selama hidup.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Crayon Beserta Kekurangan dan Kelebihannya yang Perlu Diketahui

Pengalaman Sakit Pinggang Kecetit dan Pengobatannya

Review Milk & Honey Gold Nourishing Oriflame