Jumat, November 18, 2016

Backpacker Hemat ke Singapura? Bisa!

  14 comments    
categories: 
Waktu awal tahun saya pernah mbathin "pengenlah pergi ke luar negeri, kemana aja yang penting udah keluar dari kawasan Indonesia", lalu Tuhan bawa saya sampai di Batam hingga akhirnya membuat paspor di Kantor Imigrasi Batam. Maka, setelah paspor ada di tangan, saya menentukan negara mana yang akan menjadi tujuan pertama saya

Baca juga : Cara Mudah Membuat Paspor

Malaysia atau Singapura ?

Sebetulnya sih mau dua-duanya, tapi ternyata kesempatannya hanya bisa mengunjungi Singapura, saja. Selain waktunya yang mepet, saya juga belum berani pergi ke luar negeri sendirian. hehe.

Kenapa lebih memilih Singapura daripada Malaysia ? Padahal Malaysia lebih murah untuk transportasi dan biaya hidup. Selain itu kursnya juga lebih murah Malaysia. Namun, kenapa saya lebih memilih Singapura ? Pertimbangan saya adalah lebih dekat ke Singapura.



Sabtu, 12 Nopember 2016
 
Yay. Akhirnya saya pergi ke Singapura bersama mas ponakan (selanjutnya sebut saja Mas Candra). Mas berangkat dari Muara Bungo, Jambi dan sampai di Batam sekitar pukul 08.30 dan kami berangkat ke Pelabuhan Batam Center pukul 10.30 dengan menggunakan voucher hasil dari ngelomba.

Baca : Jalan-jalan ke Semarang

Kami mendapat jadwal pukul 11.35 waktu Indonesia bagian Batam dan karena saat itu sedang weekend antrean mengular panjang. Tapi Alhamdulillah, lima menit sebelum ferry berangkat kami sudah berada di dalam kapal. Ya agak takut juga karena seperti peraturan pada umumnya, jika penumpang terlambat maka tiket akan hangus. Tapi puji syukur all good. Cuaca mendukung, suasana ferry tak terlalu ramai, bener-bener mestakung.

Jika biasanya saya melihat Singapura dari Batam, kali ini saya melihat Batam dari Singapura. The other side.

 

Kami sampai di Harbourfront pukul 14.00 waktu Singapura. Begitu turun dari ferry kami langsung menuju imigrasi guna chek in, wah tapi sumpah ramainya ga ketulungan deh. Hampir 30 menit menunggu hingga akhirnya bisa lolos check in tanpa hambatan, padahal Singapura terkenal dg negara yg rewel soal imigrasi. Apalagi saat itu counter tempat saya check in, 3 orang sebelum saya semua digiring ke ruang imigrasi. Ada apa memangnya ? Gak tau juga.


Keluar dari pelabuhan kami langsung disambut dengan Mall HarbourFront, selanjutnya melakukan perjalanan ke Sentosa Island dengan melewati Vivo City. Ohya untuk sampai ke Sentosa ada dua cara, yang pertama bisa naik kereta gantung dan yang kedua dengan jalan kaki. Kami memilih untuk jalan kaki, biar sehat dan hemat.

Jarak antara walkingboard dan Sentosa tidak terlalu jauh kok, gak kerasa jauh lebih tepatnya karena memang pemandangan kiri kanan yang sangat bagus, keslimur gitu deh. Ohya, karena ceritanya cuma short time dan di buru waktu, kami tidak memasuki wahana Sentosa, hanya taking picture di tempat yang kata orang "Singapura banget". Seperti universal dan pohon permen.
 
siblings-mate

U n I Versal


Waktu semakin sore dan kami melanjutkan perjalanan ke hostel untuk unpack barang. Berat cyin soalnya, kaki udah kerasa juga. Dari Vivo City kami naik MRT menuju outram road disambung dengan Naik east west line dan sampailah di Lavender. Saya tidak membeli kartu MRT karena Mas Candra punya 2 dan masing-masing sudah di Top Up senilai $10. Buat yang baru ke Singapura, bisa beli kartu MRT di counter stasiun harganya $7 isinya $7 juga.

Tempat menginap kami ada di daerah Penhas Road yang tidak jauh dari Levneder, nama hostelnya Gusti Bed & Breakfest Singapore. Bersih, nyaman, unclenya bisa bahasa Indonesia ngelonthok dan utamanya air melimpah ruah. Jadi gak perlu takut kalau pipis cuma dilap tisu, di hostel ini terjamin airnya, ohya! yang paling penting WIFI kenceeeeng.

Gusti Bed & BFS ini setiap kamarnya terdiri dari 5 tempat tidur tingkat. Kemarin saya satu kamar bersama turis dari Filipina dan sisanya Indonesia semua. Sesampainya di hostel kami membersihkan diri dan istirahat sejenak, lalu pergi lagi ke Marina Bay Sands dengan menggunakan MRT, tujuan utama sebetulnya mau ke Merlion tapi salah turun stasiun. Yasudah tidak apa-apa dianggapnya olahraga.







Akhirnya bisa lihat perahu dijunjung 3 bangunan, perjalanan kami lanjutkan ke Garden Bay The Bay dan menyusuri jalan menuju Merlion. Udah bayangkan sendiri aja lah seberapa jauh kami jalan. Tapi disela-sela jalan kaki, kami juga jajan es krim. Cukup dengan $1.3 dengan roti atau $1.2 dengan wafer.


Garden Bay The Bay
$1.3
$1.2

Memang kalau kita di Singapura harus banget kuat jalan ya. Meskipun kaki udah meronta minta istirahat tapi tekad masih bulat untuk bisa membidik momen terbaik di patung singa biar bisa riya' di sosial media.

Matahari mulai tenggelam dan perjalanan kami lanjutkan menuju Orchard Road. Nah kebetulan sekali disana ada bazar untuk menyambut natal, Chrismast on A Great Street. Di Orchard kami kembali jajan es krim, saya memesan rasa kelapa dan mas Candra memesan choco vanila. Eh di kedai es krim ini banyak terdapat foto artis Indonesia, lho. *ngarep diminta foto terus dipajang*.

Malam semakin larut, kami memutuskan untuk pulang ke hostel. Sebelumnya kami mampir ke kedai untuk makan nasi lemak (nasi gurih, ayam goreng, telur mata sapi, sambal) seharga $2.20 dan membeli air mineral serta pisang di Fair Price. Kemudian dilanjutkan menuju hostel untuk istirahat.

Kaki rasanya udah mau putus, sumpah! Eh padahal saya sudah olahraga terus loh selama sebulan sebelum pergi Singapura. HAHA.

Sialnya, gak bisa tidur udah berbagai macam gaya dan cara supaya bisa tidur. Rupanya tetep gak bisa. Baru sekitar pukul 02.00 saya baru bisa istirahat.

Minggu, 13 Nopember 2016

Setelah sarapan pagi di hostel, kami bersiap untuk check out dan melanjutkan perjalanan ke Bugis dan China Town untuk belanja oleh-oleh.


Tacik-nya lagi nunggu karyawan yang bawa konci toko.
Masjid Sultan
Pukul 10.00 kami sudah siap untuk check in pulang ke Indonesia. Sebetulnya kami mau ambil ferry pukul 10.20 namun sudah close, jadinya mundur 1 jam untuk ferry berikutnya. Sambil menunggu jadwal kami sarapan berat di Vivo City. Mas Candra memesan ayam hainan dan saya memesan Yong Tau Fu, semacam sop dengan berbagai macam isian. Paling penting, makanan ini halal, sudah ada logo Halal di storenya. Harganya $4.6 dengan 7 jenis isian, nanti bisa ditambah dengan bihun, mie kuning, atau nasi. Sesuai selera aja.
Yong Tau Fu. Halal. $4.6

Senang, bahagia, dan excited. Mungkin itu yang bisa saya gambarkan soal Singapura. Negara yang perfect untuk menikmati kehidupan. Saya banyak belajar dari mereka, utamanya tentang toleransi- harus banget ditulis ini, ya deh di blog post selanjutnya ya-.

Seperti biasanya, sebelum menutup postingan ini saya mau kasih tips buat kamu yang mungkin baru pertama kali pergi ke Singapura. Hahaha. Sok-sokan kaleeee. Baru juga sekali ke Singapura udah main kasih tips ajaa.

1. Kalau kamu naik ferry via Batam seperti saya, sebelum membeli tiket cek dulu dengan telepon ke agennya, karena bisa jadi kamu dapat harga lebih murah. Seperti saya nih, harga normal untuk ferry PP Batam-Harbourfront yaitu Rp 270.000, saya dapat harga Rp 255.000. Lumayan kan Rp 15.000nya bisa buat beli teh obeng. Kalau naik pesawat terbang, cari tiket termurah ya. Kabarnya mas Candra pernah pergi Singapur dari Surabaya dengan tiket Rp 500.000 PP!

2. Sering cek kurs, cari saat rupiah menguat. Bakalan untung banyak. *plis koreksi kalau salah*

3. Pakai baju yang simpel, apalagi ala backpacker kayak saya kemarin. Beneran cari yang paling simpel, yaitu kaos putih, celana kain (saya menghindari jeans saat hari Sabtu karena saya tahu bakalan seharian jalan di Singapura), dan pakai sepatu atau sandal yang menurutmu nyaman. Bawa topi deh, soalnya panas banget lho Singapura itu.

4. Beli kartu MRT di counter stasiun.

5. Ohya, percaya gak percaya kami beneran bisa hemat karena makan 2 kali gak sampai $10, padahal itu sudah include dengan beli air mineral dan buah.

6. Bawa koyo. Oke ini penting haha.

7. Budgetmu tipis? Tapi tetep pengen kasih saudara oleh-oleh? Belanja di China Town aja, gantungan kunci $10 bisa dapat 42 biji! HAHAHA.

8. Jangan takut ke Singapura, mereka bisa ngomong bahasa Indonesia, kok.

Total cost yang saya keluarkan selama 2 hari di Singapura < Rp. 700.000. Sudah include makan 2 kali, tiket ferry, dan penginapan.

Jadi, kapan kamu ke sana ?

~ Silviana

Selasa, November 08, 2016

Mencari Ketenangan di Tangga Seribu Sekupang Batam

  6 comments    
categories: 
Batam harus berterima kasih kepada B.J Habibie, jauh sebelum ada MP3EI atau Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025, beliau udah bikin masterplan untuk Batam saat masa kepemimpinanya. Makanya kalau misalnya kamu main ke Batam dan menemukan daerah pelosok yang infrastrukturnya bagus, jangan heran ya. Bahkan daerah pulau yang jalannya buntu (hutan) pun diaspal loh. Dewa banget kan ide Mr. Habibie. Gak salah sih, makanya Batam disebut juga Kota Habibie. Proud!.

Makanya kalau kita mau main ke pulau di Batam itu gak perlu takut akses jalan yang susah, soalnya semua udah mulus banget kayak paha caobella. Ya meskipun kiri kanannya masih hutan, sih. Tapi tenang aja, aman kok.

Minggu kemarin, saya bersama Endah ngetrip ke Sekupang. Dulunya Sekupang ini merupakan pusat pemerintahan Batam, sebelum pindah ke Batam Center. Makanya daerah ini tata kotanya udah bagus banget dan yang paling penting, Sekupang ini rindang banget. 

[Bersama Endah di rumah Pohon]
Ohya, sebelumnya kenalan dulu lah sama Endah, dia ini temen saya selama kuliah di Malang. Anak Blitar yang merantau ke Batam, baru sekitar 2 bulan. Makanya masih belum tau daerah yang asyik buat main. Nah sebagai senior yang lebih dulu merantau daripada Endah, saya harus ngayomi dia dong. Makanya saya ajakin jalan-jalan yang murah dan menyenangkan. By the way, ini kedua kalinya kami pergi bersama. 

Kami berdua pergi ke Tangga Seribu atau biasa disebut dengan Tiger Hill (Bukit Harimau) di Sekupang. Saya dijemput Endah di rumah, masih agak ngantuk karena malamnya nongkrong sampai 12 malam. Kami berangkat dengan cuaca yang enak, mendung tipis. Cuaca yang saya suka.

Ohya, kenapa saya ajak Endah ke Tangga Seribu? Karena sebelumnya saya pernah melewati jalan ini, hanya saja gak mampir. Agak scary juga sih karena jalannya mulus tapi sepi banget. 


[Dibalik pulau kecil itu ada Singapura]
Lokasinya memang agak jauh sih dari kota. Tapi memang ini yang sengaja kami cari. Tempatnya bagus, sebuah bukit dengan rumah pohon yang menghadap ke laut, banyak pohon, beberapa hammock yang dibuat dari jala ikan, ayunan dan beberapa pondok yang dibuat menghadap ke laut. Bahkan dari tempat ini kita bisa melihat Singapura dengan jelas.

Tiket masuknya goceng aja dan gratis parkir. Sedangkan kalau mau masuk ke rumah pohon bayar lagi 2000. Ekspektasi saya, Tangga Seribu itu adalah tempat yang punya tangga sebanyak 1000, nah setelah sampai di tangga ke seribu kita bisa menikmati pemandangan laut dari rumah pohon. Ternyata, saya salah. 

Tidak ada tangga sebanyak seribu. Adanya tangga yang dibuat untuk turun ke pantai, itupun gak sampai seratus anak tangga, nah di pantai ini dibuat untuk memancing. Rumah pohonnya pun mudah untuk dijangkau. Hehe. Tapi sumpah deh, Tangga Seribu cocok buat yang pengen cari ketenangan. Cocok gitu buat merenung, apalagi yang baru patah hati. Deburan ombak, semilir angin, daaaan kesendirian. Oke lanjut. 


[Sendirian aja, neng kalau foto]
Oh yang paling penting sih di sini tuh tempatnya, instagramable! Bisa foto ala-ala siluet dengan background rumah pohon dan laut lepas. Beh, udah itu cocok banget buat yang mau pamer dengan cara elegan tapi murah meriah. 

Maka dari itu kalau kamu main ke sini, jangan lupa bawa kamera terbaikmu supaya bisa punya foto yang cetar membahana. Tapi saya sarankan bawa kamera yang ringkas, simpel tapi tetep punya hasil foto yang kece kayak kamera xiaomi yi misalnya. Saya jamin deh foto kamu bakalan hype dan temen-temenmu pada pengen datang buat foto dengan gaya yang sama. 

Hmm. Mungkin saya akan merindukan Batam, suatu saat nanti. 


Tangga Seribu, Taman Habibie. 
Sekupang, Batam, ID.
~ Silviana.


Review Film Shy Shy Cat (Malu- Malu Kucing)

  2 comments    
categories: 
[Sumber : google]

Akhirnya nulis review film lagi ya, sudah lama rasanya. Haha. Jadi sejak di Batam saya mulai sering nonton film di bioskop, lagi. Kadang berdua, tapi seringnya sendiri. Ternyata sensasi nonton sendirian, diantara banyak yang berpasangan itu menyenangkan sekaligus ngenes. 

Kemarin saya nonton sama Endah, temen kuliaj saya di Malang. Dia juga merantau ke Batam dan pas banget hari Minggu sama-sama selo jadilah kami hang out. Gak ada kepikiran mau nonton Shy Shy Cat, semua terjadi spontan aja. Datang ke cinema terus langsung tentuin film. Btw, kami nonton di Mega Mall, Batam. 


Jadi ceritanya Shy Shy Cat ini adalah drama komedi persahabatan antara 3 cewek, Mira (Nirina Zubir), Jessi (Acha Septriasa), dan Umi (Tika Bravani). Masing-masing punya karakter yang unik. 


Mira merupakan gadis cerdas yang sukses dalam karirnya sebagai seorang banker di Jakarta, tapi dia diharuskan pulang oleh ayahnya yang mempunyai padepokan silat di sebuah desa bernama Sindang Barang, Jawa Barat. Mira harus pulang dan menikah di usia 30 tahun sesuai perjanjian yang disepakati dengan ayahnya karena Mira sudah dijodohkan dengan Otoy (Fedi Nuril). 


Sebelum berjumpa dengan Otoy, Mira tetap menolak perjodohan tersebut. Sebagai sahabat, Jessi dan Umi memberi saran untuk ikut ke Sindang Barang dengan rencana akan membatalkan perjodohan Mira. 


Namun, setelah mengetahui bahwa si Otoy adalah lelaki ganteng, menawan, rupawan. Malah ketiganya jatuh cinta dan persahabatan mereka hampir rusak karena saling bersaing. 


Ngakak, haru, ngena, dan ga ketebak. Itu kalau menurut saya. Filmnya sih bagus untuk audio dan visualnya. Apalagi lokasi filmnya ada di Jawa Barat yang notabene punya pemandangan indah banget. 


Film Shy Shy Cat, cocok ditonton buat kamu yang pengen rileks. Ohya yang paling penting jokesnya gak receh. 


~ Silviana.


Minggu, November 06, 2016

Penting Gak Sih Back Up Data di Komputer ?

  7 comments    
categories: 
Penting atau tidak?

Penting banget! Kalau buat saya. Memang bener banget ungkapan "sesuatu itu berharganya kalau dia udah ga ada lagi", ini kejadian juga file-file yang pernah saya simpan di komputer. 

Ceritanya sekitar bulan September 2014, saya menjalani kuliah tingkat VII dan sedang proses untuk skripsi. Kebiasaan di tempat saya belajar (kampus), sebelum menuju ujian skripsi akhir, kita harus melewati masa 2 kali ujian dan pendadaran. 

Ujian pertama disebut Seminar Proposal, ibaratnya nih dia lagi masa-masa pendekatan gitu. Masih malu-malu, masih canggung, masih jaim-jaiman. Atau lagi pendekatan sama orang yang gak kita suka, sama kayak kasus perjodohan. Dijodohinnya gara-gara orang tua punya utang sama tuan tanah, jadinya biar dianggap lunas kita harus mau sama si skripsi ini. Udah gak suka, terpaksa, tapi mau gak mau harus ngejalani sampai tuntas. 

Nah di seminar proposal *sempro, kita bahas bagian awal yakni bab 1, 2, 3. Pondasinya dari sebuah buku bernama skripsi. Namanya pondasi dia harus kokoh, harus kuat dan kita wajib tahu sedetail-detailnya soal bahan apa aja yang bakalan dipake. Effort bangun pondasi skripsi ini juga gede banget, saya butuh waktu 3 bulan hingga akhirnya bisa dapat acc untuk seminar proposal. 

Tapi drama sempro ini beneran bikin saya kayak mau mati sakit jantung waktu itu. Soalnya pas mau bimbingan akhir untuk dapat acc, file saya gak ada! Ilang! Padahal semalam udah saya edit kekurangannya, nambah ini itu sampai saya gak tidur. Niatnya sih mau mindah filenya pas mau berangkat nge-print, karena waktu itu saya belum punya printer. Lha dalah, bangun tidur saya cek filenya gak ada, di recovery gak ada, di trash gak ada. Ya ALLAH! APA NIH.

Emang itu asli kesalahan saya sih, kenapa juga gak seketika itu pindah filenya ke flashdisk atau backup lah paling gak ya kan. Ya ini adalah oleh- oleh dari menunda pekerjaan. Setelah drama panik dalam diri usai, saya diam mematung beberapa saat mencoba gali logika dan ingat- ingat apa yang saya lakuin semalam sampai file penting itu hilang. 

Blank. Sekali lagi saya coba buat cari filenya di komputer. Nihil. Terus jadi kepikiran, masa sih saya semalam itu mimpi ngerjain revisian ? haha. Gak lah, orang saya sadar kok.

Akhirnya dengan sisa-sisa kekecewaan, saya mulai revisi ulang. Bersyukurnya sih ya, karena file sebelumnya masih ada. Saya tipikal orang yang selalu save-as, jadi banyak banget tuh kan filenya. Sengaja koleksi. Padahal waktu itu saya janjian sama dosen jam 11 siang bareng temen-temen yang satu dosbing. 

Ultra rejeki! Dosen sms ke saya bilang untuk menginformasikan ke temen-temen kalau bimbingan mundur jam 17.00 karena beliau ada tugas di Batu- Malang. Kebetulan saya memang salah satu finger (sebutan untuk penanggung jawab mata kuliah, bagian ambil dan ngembaliin presensi ke student center, jadi kaki tangan dosen gitu lah pokoknya. Huwooo~. Saya makin percaya kalau setelah kesulitan itu ada kemudahan. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah. Blessing in disguise banget.

Buru-buru deh saya japri ke temen-temen yang udah janjian mau bimbingan, dan drama pun selesai. 

Makanya sejak kejadian file sempro menghilang tanpa kabar, saya udah bener-bener hati-hati menyimpan file apapun. Bahkan sampai saya selesai ujian skripsi, alhamdulillah gak pernah kejadian lagi drama file hilang. 


[I am free]
Selain itu foto-foto hasil jepretan kamera juga saya simpan dengan meng-organizer sesuai dengan nama acara, bulan dan tahun diambilnya. Apalagi foto-foto saya itu udah gak tahu lagi berapa ribu jumlahnya, sampai kapasitas memori komputer udah meronta-ronta minta tambah space. 

Makanya menyimpan file penting atau hasil jepretan kamera memang tidak boleh sembarangan, apalagi foto-fotonya pas momen yang istimewa. Harus primpen dan rapi supaya mudah jika suatu saat kita ingin mencarinya. Apalagi file kamera yang saya pakai itu jenisnya RAW- mentahnya. Jadi filenya besar banget dan pas diolah, si RAW ini gak pernah saya hapus. Kenapa ? Tujuan saya untuk backup file tadi. Soalnya kehilangan tuh gak enak banget ya kan. *kemudian kebawa perasaan.

Maka dari itu saya punya pikiran untuk mengorganisasikan juga jenis file yang saya punya, selain memberi nama yg sesuai supaya mudah dalam pencarian. Jadinya saya nabung tuh, ngirit-ngirit jajan supaya bisa buat beli hardisk. Ya waktu itu kan masih mahasiswa, yang semua orang pasti tau kalau kaum kami adalah kaum yang rata-rata masih mengandalkan kiriman orang tua dan pasti bokek di akhir bulan.

Sekarang ini saya punya 2 hardisk, 1 untuk backup semua file selama sekolah-kuliah, mata pelajaran, tugas, video pembelajaran, dan sejenisnya. Satu lagi untuk menyimpan hasil foto dari kamera saya. Tapi ternyata, hardisk saya yang 1 ini udah mau full, makanya perlu beli lagi *cek dompet, isi angin*. Jadilah kemarin saya coba cari spesifikasi hardisk eksternal  di MatahariMall.com, maunya hardisk yg tahan banting dan bandel. Soalnya nih ya, kadang lupa eject bahkan si hardisk sengaja saya tancapkan di komputer sampai berhari-hari, pas mau pergi aja saya baru lepas. Padahal itu kan gak bener dan bikin hardisk kadang gak bisa kebaca. 


Andai dia bisa bicara pasti dah meronta-ronta karena kedzaliman saya. 

~Silviana.

Rabu, November 02, 2016

Ini Cara Ampuh Obati Kulit Melepuh Kena Knaplot

  11 comments    
categories: 
Siapa di sini yang udah pernah merasakan kakinya kena knalpot motor? Coba ngacung mari diabsen. haha. Pengalaman kena knalpot ternyata gak enak banget ya, ini pertama kalinya dalam karir bersepeda motoran saya. Kejadiannya hari Jumat yang lalu, saat mengantar adik ponakan sekolah. Perjalanan pulang saya mampir ke kios buah di pinggir jalan, pas udah selesai kan harus nyebrang tuh nah lha kok ada truk besar yang menghalangi jalan saya. Intinya dia mau parkir di depan kios buah itu, mungkin barang datang gitu. Rupanya pas sopir gak sabaran, jadinya dia mencet-mencet klaksonnya sambil kasih tanda saya suruh minggir. 

Udah mau nyebrang, jalannya rame, saya jadi panik tuh. Terus kaki kanan saya nyiyum knalpot motor-kebetulan motornya matic- jadi ada besi yang tersambung ke knalpot itu, apa sih namanya. Ini fotonya.


besi knalpot yg mengenyos betis

Mak nyos! 

Pas di rumah, buru-buru tuh lukanya siram pakai air mengalir. Lalu saya biarkan, ternyata pas malam kok lukanya semakin menghitam. Saya basuh air lagi pokoknya gitu terus, gak nyangka pas hari Sabtu udah melepuh dan maaf ada airnya gitu. Minggu pagi kaki saya makin sakit dan nyeri, tiap kena kain atau gesekkan rasanya sengkring-sengkring (apasih bahasanya?). Sampai akhirnya pagi ini saya putuskan untuk nyoblos. Iya mengeluarkan air didalam lepuhan itu. Tapi, saya tetep steril kok karena nyoblosnya pakai duri jeruk nipis. Padahal sebetulnya tidak dianjurkan untuk memecah luka melepuh itu. Tapi karena saya udah gak tahan, jadinya yaaa eksekusi deh.

Awalnya, luka saya guyur dengan air bersih, lalu saya keringkan. Agak takut juga sih tapi dengan segala keyakinan saya coblos supaya airnya keluar. Yah, semua saya eksekusi sendiri. Tak rasa-rasain sendiri deh. Habis itu saya olesin pakai VCO (Virgin Coconut Oil) dan saya plester. Padahal tidak dianjurkan untuk menutup lukanya, tapi karena saat itu saya ada acara dan menggunakan celana jeans-nya, jadinya luka melepuh saya plester.


Tidak dianjurkan untuk ditutup.
Ternyata ada beberapa tips yang ampuh untuk mengobati luka melepuh akibat serangan knalpot ini, antara lain ;
  1. Siram dengan air mengalir, atau ;
  2. Menggunakan es batu untuk memberikan efek dingin;
  3. Oleskan obat luka knalpot sepert Supratulle®, daryantulle®, bioplacenton tulle®, dll.
  4. Biarkan terbuka jika sudah pecah supaya cepat kering.
  5. Ini hari ke 6 luka saya sudah mengering.
Semoga bermanfaat. 

-Silviana

Senin, Oktober 31, 2016

Akhir Pekan Seru- Seruan di Raddisson Golf & Convention Center Batam

  16 comments    
categories: 
Sejak pertama kali datang ke Batam, saya emang udah amaze sama bangunan-bangunan keren yang ada di sini. Mulai dari yang udah lama kayak kampung pecinan di daerah Nagoya, sampai bangunan mewah megah di sepanjang kawasan Bisnis Sukajadi dan Lubuk Baja. Orang Batam sendiri mungkin merasa biasa aja, tapi buat saya ini beda, iyalah di Kediri mana ada yang kayak begini. Apalagi katanya Batam bakalan jadi Singapura ke dua, jadi gak heran kalau pertumbuhan ekonomi di sini begitu pesat. Indikator pertumbuhan ekonomi suatu daerah bisa dikatakan "tumbuh" salah satunya kan bisa dilihat dari banyaknya jumlah investasi dan pembiayaan. Nah, di Batam ini udah bejibunlah yang kayak gitu. 
[Sumber : warta kepri]
Ngomongin soal bangunan, ada satu tempat yang bikin aku melongo tiap berangkat kerja, sebenernya tiap hari ngelewati cuma gatau kenapa pandangan gak bisa lepas aja. Bangunanya mewah dari depan, kombinasi kaca berwarna biru dengan aksen putih, menjulang tinggi tapi punya kesan minimalis. Namanya Radisson Golf & Convention Center, letaknya di kawasan Sukajadi. Saya pribadi memang agak asing dengan nama Radisson, tapi ternyata Radisson ini merupakan bagian dari Carlson Rezidor Hotel Group yang pusatnya di Amerika yang sudah sangat terkenal di berbagai benua, seperti Amerika, Eropa dan Asia. Awalnya saya pikir Radisson cuma tempat buat main golf dan gedung pertemuan saja, sesuai dengan namanya Golf & Convention Center. Rupanya saya salah, di tempat ini semuanya ada, semacam paket lengkap. Mulai dari tempat nginep dengan berbagai macam fasilitas sampai tempat rekreasi kelas premium seperti golf. Selain itu Radisson juga tempatnya kumpul para ekspatriat Batam dan luar negeri. Beh udah macam sim aja pokoknya.

Ohya, kesempatan untuk famtrip Blogger datang dari mba Sarah. Sudah kenal mba Sarah, kan? Coba baca dulu perjalanan kami ke Pantai Melayu dan Kalat, kemarin. Namun beliau gak bisa hadir karena ada urusan pekerjaan, jadilah saya yang dikasih kesempatan untuk jumpa dengan bu Suriyanti dan bu Sugi selaku Sales Secretary & Coordinator Radisson. Tapi saya gak sendirian, ada teman-teman dari visitkepri juga yang hadir untuk seru-seruan bareng. 



Saat sampai di Lobby saya langsung disambut oleh resepsionis yang senyumnya gak habis-habis, nyenengin banget lihatnya, setelah menyampaikan maksud kedatangan, saya diminta untuk menunggu di area santai lobby yang tempatnya instagramable banget. Saya cari tempat paling pewe, eh belum sampai selesai check in path, bu Sugi datang bareng pak Edy. Setelah saling memperkenalkan diri, kami ngobrol banyak soal Batam dan Radisson. Humble banget mereka nih, bikin saya gak sungkan gitu. Lalu teman yang lainnya datang dan petualangan dimulai. 




Bu Sugi mengajak kami untuk lihat-lihat area kolam renang, di sini saya agak kaget karena desain Radisson begitu berbeda jika tampak dalam. Kolam renang lengkap dengan outdoor jacuzzi ditambah view padang golf dan langit biru. What an awe! Right?. Kayaknya enak kalau sore-sore ngadem sambil nyeruput jus jeruk. Beeeeeh. Lengkap hidup ni rasanya. Nah kalau kita pengen renang di sini, gak harus nginap dulu kok, karena kolam renang out door ini dibuka untuk umum, iya sekali lagi DIBUKA UNTUK UMUM. Cukup dengan keluar kocek 150K udah dapat makan minum dan free renang, loh. Mantap kan.


"Enak ya jadi anak muda bisa main sana-sini, beda sama saya yang udah ibu-ibu ada tanggungan anak soalnya jadi gak bisa, padahal kan pengen banget bisa renang di Radisson dan nikmati pemandangannya". 




Eh, siapa bilang gak bisa? Bisa banget dong. Soalnya di Radisson sudah tersedia Kids Club. Yas! Ini adalah tempat bermain untuk anak-anak dan balita, jadi para bu-ibu yang pengen me time anaknya bisa dititip sebentar di Kids Club, tapi untuk sekarang ini tetap harus ada anggota keluarga yang jagain ya soalnya Nanny-nya masih dalam proses recruitment. Ohya tempatnya nyaman banget, loh. Saya aja suka apalagi anak-anak. Pokoknya betaaaah. Anak mau renang juga? Bisaa. Soalnya ada kid's pool juga. 



Selanjutnya kami safari ke area resto yang connecting dengan kolam renang, namanya Bite Restaurant. Gak usah ditanya lagi kayak gimana bagusnya, interiornya kayak dapur di Amerika sana itu loh.





 

Setelah puas goda-godain chefnya, kami lanjut ke area business center yang letaknya bersebelahan dengan lobby, tempatnya tenang dan menyenangkan sekali. Cocok kalau mau ngobrolin tender di sini. *mak, gaya kalii bahasanya* hehe. 




Ohya, Radisson punya 7 buah ruangan meeting dengan berbagai macam ukuran dan juga satu Grand Ballroom yang luasnya bisa menampung kurang lebih hingga 1.800 orang. Selain di lantai dasar, Radisson juga punya area business privat kelas lounge di lantai 10. 




Nah, istimewanya lagi di lantai 10 Radisson ini punya indoor swimming pool . Viewnya asyik banget dan letaknya ada di satu lantai dengan business lounge. Namun kolam renang indoor ini khusus untuk tamu yang menginap di kelas bisnis, ya.




View kolam renang dan padang golf dari balkon executive.





Alamak, saya udah capek muterin Radisson padahal masih banyak yang belum di eksplore. Kemudian Bu Sugi membawa kami untuk melihat kamar. Radisson punya 240 kamar dengan apartemen di lantai 11, 12 dan 15. Ada beberapa tipe kamar antara lain superior yang totalnya ada 73 kamar masing-masing 43 king dan 30 twin rooms; Deluxe room totalnya ada 90 kamar, masing-masing 50 king dan 40 twin, superior dan deluxe ini ukurannya sama sebetulnya namun yang jadi pembeda adalah view kamar. Kalau superior view nya ke jalan besar/ kota sedangkan untuk deluxe terdapat balkon dan viewnya padang golf. Nah untuk yang executive suite ukurannya tiga kali lipatnya lagi, lengkap dengan ruang keluarga yang homey banget, bikin gak mau pulang. 


Suite
Living room executive.

Udah selesai nikmatin goler-goler dikamar dan pemandangan padang golf, kami lanjut lihat ruang fitness. Pertama kali masuk saya langsung tertarik sama bola untuk yoga. hehe. Selain itu alatnya juga lengkap dan banyak. Jangan takut gak kebagian alat kalau fitness di Radisson.



Eh gak kerasa udah waktunya makan siang, kami menuju ke Bite Reastaurant dong. Sambil menunggu pesanan datang kami ngobrol-ngobrol sama mba Sugi. Ohya, kami dilayani langsung sama General Managernya loh yang diimpor langsung dari Amerika. What?! Iya dia yang bawain kami makanan sampai semuanya selesai. Angkat topi.

Sandwich with salmon
Selesai makan, masa pulang? ya gak dong. Kami masih mau lanjut main-main di Radisson. Kali ini kami nyobain fasilitas outdoor, seperti Segway, Hovernoard, Smart Skate Board, dan Archery. Kami main sampai batre ke tiga alat habis. hahaha.

Selanjutnya kami main panahan di area belakang Radisson. Rupanya agak susah juga ya mainnya, wah beneran harus pelajari tricknya. 




Udah puas panas-panasan main panahan, kami lanjut duduk santai di Lobby nunggu kakak caddy menjemput dengan buggy-nya, soalnya kami mau diajak keliling padang golf.



Saya bersama caddy kak Shena, di padang golf Sukajadi ini terdapat 18 hole yang luasnya luas banget dah. Kalau disuruh jalan kaki muterin lapangan ini jujur gak sanggup, untung ada buggy. Nah, setelah lihat pemandangan bagus di padang golf, kami dibawa ke golf driving range atau tempat latihan golf buat pemula, di sini kami berjumpa dengan pak Umar. 




Pak Umar ini trainer, jadi kami dijelaskan tata cara main golf dan aturan-aturan yang harus dipatuhi saat main golf. Bahkan dari pakaian yang kita kenakan pun diatur loh, harus rapi dan tidak boleh pakai celana jeans, ya karena memang permainan golf ini merupakan olahraga yang jujur, gentle, dan high class. Woah, gak terasa saya nyoba main golf sampai 10 pukulan dan ketagihan. Kayaknya besok-besok saya mau datang lagi buat nyoba main. 

Waktu sudah hampir gelap, kami dibawa kembali ke Radisson oleh para caddy. Yuhuu. Saking asyiknya sampai gak kerasa waktu udah mau malam, seneng banget seharian diajak menelusuri Radisson yang prestigious ini. Thankyou bu Sugi dan pak Edy seharian nemenin kami jalan-jalan, Bu Yanti dan Kak Nina, Ms. Veronique Sirault, kak Rocky yang dengan sabar nungguin kami milih menu makanan, kakak caddy yang baik hati dan senyum terus jelasin in itu soal golf, pak Umar yang sabar ngajarin kak Albar posisi goyang itik yang gak sempurna-sempurna. Semua itu menunjukkan komitmen dari Radisson yang tidak main-main dalam memberikan pelayanan kepada konsumen. 

Tambahan :
Ohya Radisson ini merupakan hotel bintang 4, tapi fasilitas dan pelayananya hotel bintang 5 saya rasa. 

Untuk yang pengen coba hoverboard, segway, otoped dan archery, nih saya kasih bocoran price list nya. 




Radisson Golf & Convention Center Batam 
JL. Jenderal Sudirman, Batam, 29432 
T : 0778 - 480 0888 
W: www.radisson.com/batamid

 
-Silviana

Rabu, Oktober 26, 2016

Pantai Cakang di Ujung Pulau Galang

  24 comments    
categories: 
Seperti yang saya ceritakan di post sebelumnya tentang perjalanan mendadak saya bersama mba Sarah dalam rangka mengeksotiskan kulit dengan pantai-pantai di Barelang, setelah puas menikmati Pantai Melayu dan Kalat, kami berdua melanjutkan perjalanan ke ujung pulau Galang. 

Baca : Menyusuri Pantai Melayu dan Pantai Kalat

Ini perjalanan ketiga saya menyusuri Barelang (Batam, Rempang dan Galang), pertama saat pergi dengan keluarga, kedua dengan teman, dan ketiga kalinya bersama mba Sarah. Sejak pertama datang, saya sudah penasaran dengan ujung Barelang, karena mendengar ada 6 jembatan yang ada di Batam ini yang menghubungkan 3 pulau ini, padahal sebenernya sudah jelas juga kalau akhirnya pasti ketemu perairan, cuma ya penasaran saja. 

"Ujung jembatan 6 itu ada apanya ya?", tanya saya.

"Pantai lah, apalagi. Cuma dia jauh kali", jawabnya.

"yaah aku kan penasaran aja".

dan secara tak terduga, mba Sarah menjawab rasa penasaran saya, dia bawa saya ke ujung Pulau Galang, tempat yang saya pikir lautnya pasti ganas dan punya ombak besar karena berada di ujung dan berhadapan dengan laut lepas, saya pikir dengan keadaan yang seperti itu sudah pasti di ujung sana tidak ada apa-apanya. Ternyata, saya salah. 


[Batunya terlihat tajam dan licin, padahal enggak]
foto koleksi Pribadi
Di ujung pulau ini terdapat pantai bernama Cakang dulunya disebut Barelang Bay. Orang gak akan ngira kalau diujung pulau ada tempat bagus seperti Cakang, kenapa ? Soalnya tidak ada papan petunjuk lokasi yang besar kalau ditempat ini ada sebuah pantai yang must visit banget kalau ke Batam. 


Saat pertama kali masuk saya sempat underestimate karena jalan menuju lokasi belum aspal, seperti tidak ada kehidupan. Namun saat sampai di parkiran, senyum saya mengembang. Pantainya cantik sekali. Tiket masuk ke pantai ini cuma goceng per orang, dengan tarif parkir 3000/ motor. 

Gerbang masuk pantai ini sangat sederhana, kita harus naik tangga terlebih dulu untuk sampai di lokasi utama. Tenang, tangganya gak banyak kok cuma ada beberapa aja. Begitu sampai kita akan disambut dengan pasir putih dan pemandangan menyejukkan. Pepohonan yang rindang, ayunan kayu bergelantungan, tempat ngaso di pinggir pantai, meja kursi kayu yang diletakkan tak beraturan, batu-batu berwarna merah dan air laut yang tenang dan jernih. Sumpah, ini pantai apa kali yak? Bening banget.


[namaste]
foto koleksi Pribadi
[relax]
foto koleksi Pribadi
Rasanya kayak bukan di Batam soalnya sejuk banget dah.

Sebelum eksplore pantai, kami berdua memutuskan untuk makan siang terlebih dulu. Soalnya jalan kaki susur pantai kan butuh tenaga juga, gak cuma pura-pura bahagia aja yang butuh tenaga, kan. Pantai Cakang cuma punya satu warung doang, it's called Monopoli pasar. Itupun cuma ada 3 menu yang disediakan, mie kuah, mie goreng dan seafood. Jadi kalau mau datang ke sini harus ala-ala piknik gitu, bawa semua dari rumah. Kemarin saya lihat ada satu keluarga yang piknik cantik, udah ready banget sampai bawa alat bakar ikan segala. haha. 


[foto koleksi Pribadi]
Setelah selesai makan, kami berdua siap untuk menjelajah Cakang yang cuma seuplik tapi asli cantik banget ini. Saya sampai terpesona, bahkan mba Sarah yang sudah 4 kali datang kesini pun juga excited. Yup, ternyata saat saya datang airnya lagi pasang. Sebelumnya tiap mba Sarah berkunjung suasananya air lagi surut gitu deh.

Kami berdua sengaja agak lama menikmati pemandangan dan foto-foto di setiap lokasi, lalu saat mulai tengah hari kami jalan ke ujungnya pantai dan wallaaaaaa sepi banget. Uh! DEWA banget lah, nikmat dan keindahan Tuhan mana yang kau dustakan. Kami langsung gelar lapak, taruh barang di satu-satunya meja kursi yang menghadap ke laut dan pasang hammock. 


[mba Sarah lagi tidur, saya foto ala-ala candid]
foto koleksi Pribadi
[Baju Blogger Kepri yang body fit banget dah]
foto koleksi Pribadi
Agak lama kami ada di tempat ini, mba Sarah katanya sampai ketiduran. Dari yang sepi banget cuma kami berdua, sampai banyak orang yang datang. Ohya, kami ada di sana dari waktu sholat Dzuhur sampai Ashar. Untuk urusan beribadah saat melakukan perjalanan, saya teringat tulisan kak Iqbal - www.jalankemanagitu.com - bahwa sesibuk apapun kita, jangan sampai lupa untuk melaksanakannya. 

Mba Sarah juga bilang "kita udah dikasih keindahan kayak gini, masa kita sampai lupa buat berterima kasih sama DIA"


[foto koleksi Pribadi]
Setelah sholat ashar kami siap untuk pulang dan menuju pantai Vio-vio yang tentunya akan saya tulis di next post. Jangan khawatir loh, di Pantai Cakang ada musholanya kok, meskipun sangat sederhana. Rasanya saya gak rela loh mau pergi dari tempat ini. Last but not least, terimakasih mba Sarah untuk kesempatannya. 

Ah, sebelum post ini berakhir, seperti biasanya saya mau kasih sedikit tips untuk kamu yang mau datang ke Pantai Cakang.
1. Pantai Cakang ada di ujung pulau Galang, jadi bener-bener perhitungkan minyak (bensin) kendaraanmu, takutnya nanti gak bisa balek ke Batam kota kan bahaya. Soalnya disepanjang Jembatan I sampai VI tidak ada SPBU, sekali lagi TIDAK ADA SPBU. Pertamini (Orang jual pinggir jalan) pun jarang sekali,
2. Bawa bekal yang cukup supaya bisa hore-hore tanpa kelaparan, 
3. Pantai Cakang ini cocok banget buat mandi, asli kalau misal saya punya kesempatan datang lagi, saya pasti mandi,
4. Untuk yang muslim, bawa mukena sendiri soalnya di Pantai Cakang ada juga sih disediakan, tapi saran saya lebih baik bawa sendiri saja, bukannya lebih enak kalau pakai punya pribadi?,
5. Ajak temen yang asyik dan gak suka ngeluh, kayak saya dan mba Sarah misalnya *kedip-kedip,
6. Setelah baca ini, klik like, share, katakan aamiin.

Yuk liburan ke Pantai Cakang.

- Silviana-

Jalan Tanpa Worry dengan Asuransi Perjalanan Futuready

  2 comments    
categories: 
“The journey of a thousand miles begins with a single step.” Lao Tzu

Kata orang sepuh, sejatinya kita hidup di dunia ini cuma mampir minum aja, maksudnya hidup cuma sebentar. Maka dari itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin biar gak menyesal kedepannya. Itulah kenapa saya pikir kita harus pandai ambil peluang dan mengambil keputusan terbaik untuk hidup kita. Ibaratnya sih, mumpung bisa kita melakukan sesuatu ya lakukan saja. Maka di usia saya yang kata teman-teman ibu, harusnya sudah menikah dan berkeluarga ini, saya memilih untuk melihat dunia yang lebih luas dan memuaskan rasa lapar untuk melakukan banyak perjalanan terlebih dahulu. Mumpung masih muda dan belum punya banyak tanggungan hidup.

Work hard play hard, tapi gak lupa investasi. Itu pedoman yang saya anut sekarang. Kerja sampai capek begitu duit udah terkumpul pakai buat jalan-jalan. Makanya sejak tinggal di Batam ini, saya bisa punya banyak stok foto asik untuk upload  Instagram. Apalagi zaman sosial media seperti sekarang, tempat yang rasanya dulu tak mungkin terjamah bisa dengan mudah kita datangi. Yak karena rata-rata semua perjalanan yang saya lakukan adalah hasil dari sharing-posting teman-teman di internet. Jadi dengan membaca pengalaman teman-teman yang sudah pernah pergi ke destinasi tertentu itu, saya jadi tau apa saja yang harus dipersiapkan dan bisa antisipasi hal-hal yang mungkin saja kurang menyenangkan. Sembah sungkem untuk para guide online ku.

Memang sih, melakukan persiapan untuk memulai perjalanan itu mudah saja kan, pokoknya ada waktu luang, duit cukup, kesempatan pas momennya, dan tau destinasinya, yaudah tinggal cus berangkat. Tapi ternyata, ada satu hal yang kadang diabaikan oleh para pejalan, apa tuh? Udah pada taulah pasti jawabannya, iya asuransi. Nahloh, pernah terpikir nggak kalau sedang melakukan perjalanan kita juga perlu pengamanan? Saya pernah tapi sering mengabaikannya.

Saya selalu berpikir kalau semua pasti baik-baik saja, tapi semakin sering melakukan perjalanan saya jadi mikir ulang untuk mengabaikan hal yang ternyata sangat penting ini. Karena inti dari perjalanan adalah sampai di tujuan dengan selamat dan kembali ke rumah tanpa kurang suatu apapun dalam diri kita, ya kan?.

[sumber : Futuready.com]
Maka dari itu, beruntung sekali karena sekarang ini saya diperkenalkan dengan Futuready. Karenanya dengan asuransi perjalanan kita dapat terlindungi dari berbagai macam resiko yang akan terjadi. Simpelnya, jika kita punya asuransi maka kita tak perlu worry dalam melakukan perjalanan atau liburan. Nah, Futuready sendiri merupakan broker asuransi online pertama yang ada di Indonesia yang punya lisensi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Asosiasi Ahli Pialang Asuransi & Reasuransi Indonesia (APARI) dan Asosiasi E-commerce Indonesia (idea). Jadi sudah tentu trusted ya.

[sumber : Futuready.com]
[sumber : Futuready.com]
Lalu, bagaimana caranya untuk menggunakan jasa Futuready ini?
Pertama kita masuk ke webnya terlebih dahulu, lalu pilih daftar keinginan kita di Daftar Produk Asuransi sesuai dengan kebutuhan. Saya sudah punya asuransi jiwa untuk kesehatan dan kecelakaan, maka saya pilih Asuransi Perjalanan. Misalnya saja saya nih, kan saya pengen banget suatu saat pergi ke Inggris, soalnya mau foto di lokasi syuting Mohabbatein, kampus Gurukul di Longleat Inggris, maka ambil untuk perjalanan ke Inggris, maka ketik saja sesuai dengan yang kita butuhkan untuk tahu berapa premi yang ditawarkan, ada premi termurah hingga termahal dan juga nilai limit klaim tertinggi dan terendah. Jika sudah memilih mana yang cocok maka lihat detailnya untuk tahu lebih banyak. Kalau cocok segera ajukan. Mudah banget pokoknya.

Nah, apa sih manfaatnya kalau kita pakai asuransi perjalanan? Ternyata banyak loh ya. Asuransi perjalanan ini gak cuma melindungi kita dari naudzubillah kecelakaan atau kematian, tapi juga melindungi kita dari delay pesawat, kehilangan barang, dan semua yang berkaitan dengan perjalanan. Jadi buat para pejalan, masih ragu untuk melindungi diri dengan asuransi perjalanan terbaik ini? Yuk, intip Futuready untuk lebih jelasnya. 

-Silviana-