Pengalaman Mengurus Balik Nama Kendaraan

Gambar
Halo hai.. Bagaimana kabarnya teman-teman pembaca? Semoga selalu diberi kesehatan ya untuk kita semua. Baik kesehatan fisik maupun mental, karena musim pandemi seperti sekarang rasanya banyak orang yang bersedih hati.

Oke, sebetulnya pengalaman mengurus balik nama sudah cukup lama ya, sekitar sebelum bulan ramadan. Ohya ini juga pengalaman pertama saya mengurus ini. Jadi sempat deg-degan juga. Takut gimana-gimana gitu. Haha.. We know yah, birokrasi. heee
Saya ingat banget ini kejadiannya bulan April 2020. Lalu, helo baru ditulis sekarang tuh kemana aja? Ngapain aja? Haha. Maafkan akuuuh. Oke simak ya, semoga sedikit informasi ini dapat membantu teman-teman yang membutuhkan.
Awalnya kalian datang ke kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (disingkatnya Samsat). Nah, baru tahu juga? haha sama! Kalau versi keminggrisnya dalah One-stop Administration Services Office.   Intinya dalam satu gedung itu ada sistem administrasi yang tujuannya untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kep…

Bicara Soal Skripsi

Ibarat main game, saat ini saya sudah 'hampir' berada di level puncak dari permainan jenis easy. Awalnya mudah dan menyenangkan. Makin kesini makin berat, karena dengan semakin bertambah level game, maka rintangannya pun semakin berat. Meskipun sering failed dan harus resume, tapi saya akan terus mencobanya dan tidak akan quit sebelum permainan selesai, saya akan terus berusaha untuk dapat berada di level tertinggi, dan tentunya dengan skor yang paling tinggi, sehingga akan muncul tulisan YOU WIN!.

Keberanian saya untuk mencapai level yang paling tinggi sebenarnya bukan karena mau gaya- gayaan. Tapi, lebih ke perihal tanggung jawab. Saya masih ingat, sekitar 3 tahun yang lalu, setelah ujian nasional selesai, malam itu saya sedang duduk berdua dengan bapak di teras rumah, beliau mulai membicarakan tentang studi saya. Biasanya, sama sekali tidak pernah. Bapak jarang sekali berbicara tentang studi saya, hanya sesekali menyuruh belajar dan lebih ke kebutuhan finansial untuk studi. Berbeda dengan ibu, sejauh yang saya ingat, ibu selalu mendukung dan mengontrol sekolah saya. Meski demikian, saya tahu bapak selalu mendukung apapun keputusan saya dalam hal studi.

Bapak bilang "mari lulus SMA iki, rencana ne sampean piye ? arep nerus perguruan tinggi? opo nerus kuliah ?" - (setelah lulus SMA rencana kamu bagaimana ? Mau lanjut perguruan tinggi? apa lanjut kuliah?)

Saya tertawa, dan bapak ikut tertawa.

"pengene nerus pak, ngko ndak aku lulus SMA gak nerus kuliah di rabi wong lak repot, nek aku sekolah meneh pengene sing apik pisan ae"
(pengennya lanjut pak, nanti kalau aku lulus SMA gak lanjut kuliah di nikahi orang repot, kalau aku sekolah lagi pengennya yang bagus sekalian).

"yo rapopo, bapak sik kuat ngragati"
- (iya gak apa- apa, bapak masih mampu mendanai).

Kemudian, saat Ujian SNMPTN Tulis/ Ujian tulis pertama, saya memutuskan untuk ikut kembali setelah gagal di PMDK. Saya mengambil Ekonomi Pembangunan UM pilihan 1, dan Psikologi UIN pilihan 2. Kalau ingat momen ujian tulis saat itu, rasanya saya gak percaya. 2 hari ujian, dengan mata pelajaran yang begitu banyak, tanpa satu butir pertanyaan pun saya nyontek ataupun bertanya. Semuanya murni pekerjaan saya. Ini semua berkat doa orang tua, dan restu dari Tuhan.

Alhamdulillah lolos di pilihan pertama.

Keputusan itulah yang mendasari saya untuk tidak mau berhenti sebelum selesai finish. Saya sudah memulainya, maka saya yang harus mengakhirinya. *kayak lagu aja*



so, the real war is just begun just now. FAIKGHTWING!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Crayon Beserta Kekurangan dan Kelebihannya yang Perlu Diketahui

Cara Cek Usia Kartu Indosat

Review Milk & Honey Gold Nourishing Oriflame