Kamis, Juli 11, 2019

FUS Pada Kucing dan Kematian Pomilo

  23 comments    
categories: 
[Milo saat belum tahu kalau sakit FUS]
Jujur sedih sekali menuliskan ini. Rasanya masih belum ikhlas kalau ingat lagi soal kematian Milo (kucing saya). Buat temen- temen yang udah cukup lama jadi pembaca blog ini, pasti tahu kalau saya punya kucing jantan. Kurang lebih sekitar 4 tahunan memelihara.

Jadi Milo ini kena FUS atau biasa disebut dengan Feline Urologic Syndrome. Simpelnya kucing ini kena sakit kemih bawah. Kalau pada manusia biasa disebut dengan Infeksi Saluran Kemih (ISK). Saya sendiri sebetulnya sudah mulai curiga kalau Milo susah saat buang air.

[Senang fotoin dia karena manut]
Beberapa kali saya lihat dia ngeden- ngeden di box pasirnya. Tapi entah kenapa kok saya gak ngeh kalau sampai kena FUS, karena asupan minumnya juga masih banyak.

Padahal nih, tiap kali dia ada gejala sedikit aneh saja, seperti misal lemas, atau jalannya pincang, saya pasti langsung cek semua badannya. Kali saja ada benjolan atau luka yang dialami tiap kali habis pulang main.


Saya menyesal sekali karena tidak bisa memberikan pengobatan lebih cepat dan terbaik, mungkin kalau sejak awal saya aware dengan kondisinya, bisa jadi hingga saat ini Milo masih ada bersama saya.

Ngomong- ngomong, ini tepat satu minggu Milo mati dan baru hari ini saya punya niatan menuliskan cerita merawat Milo saat sakit. Kemarin- kemarin, saya masih suka mewek tiap kali lihat hal- hal yang berhubungan dengan kucing tua itu.


Jadi tanggal 1 Juli, Milo masih seperti biasanya, rutinitasnya masih sama, pagi membangunkan saya, menunggu sampai saya bangun dan memberinya makan, menunggunya sejenak untuk makan, masih minta dielus- elus kepala dan perutnya, dan sorenya juga menunggu saya pulang di depan rumah. Bahkan saat itu saya masih sempat mengambil video dia berjalan ke arah saya.


2 Juli kondisinya juga masih sama, hanya saja saat itu dia sama sekali gak keluar rumah, padahal biasanya habis makan udah langsung meluncur ke atap dan main ke tetangga sebelah yang punya kucing betina.

Nah di tanggal 3 Juli ini, pagi hari saya lihat bagian kaki belakangnya basah dan sedikit kaku. Tapi Milo juga masih makan seperti biasanya. Jadi saya rasa kucing ini mungkin habis main di air. 

[Sore hari setelah selesai dikateter]
Tapi hal yang bikin saya kaget adalah, saat saya mau berangkat kerja, Milo (maaf) muntah dengan warna yang keruh. Namun karena saat itu saya sudah mepet waktu untuk kerja, saya tinggal berangkat dan saat udah sampai di kantor coba googling, di situ tertulis kemungkinan terkena virus semacamnya. Karena memang saat ini sedang marak virus yang menyerang kucing.

Baca Juga : Ganasnya Virus Calici Pada Kucing


Tak lama setelah itu saya telepon adik untuk bawa Milo ke drh. Retno. Drh ini juga drh yang menangani Milo dan Mili, kucing saya saat masih usia 3 bulan. Jadi saya pikir, disitu drh yang paling dekat dan dulu sudah pengalaman menangani kucing saya, meskipun cuma suntik saja.


Baca Juga : Pengalaman Baru Merawat Kucing Sakit


Rupanya, Milo terkena FUS dan harus diopname untuk dikateter (disedot urinenya). Saya terus memantau perkembangan Milo, sore hari saat sudah selesai kantor saya juga berkunjung ke sana untuk melihat kondisinya.


Namun saat itu masih setengah sadar karena masih dalam kondisi dibius. Tapi yang bikin terharu adalah, saat saya kesana dan elus kepalanya, dia seperti merespon dengan menggerakkan tubuhnya. Padahal kata penjaganya, sebelum- sebelumnya gak bergerak sama sekali. 


4 Juli 

Pagi hari saya coba untuk mengirim pesan ke drh, tentang perkembangannya. Karena saat itu perasaan saya gak enak banget.

Kayak tiba- tiba mau nangis dan jujur saya stress ngadepi kucing yang sakit. Tapi syukur, info dari Drh. Retno saat itu menenangkan hati saya.
[Foto kiriman drh]
 Kabarnya Milo sudah bisa minum sendiri, meski belum mau makan. Saat itu saya juga dikirimi foto terbarunya. Wah lega banget ya rasanya. Saat siang saya kembali di WA oleh drh Retno.

Mengabarkan kalau lebih baik Milo dibawa pulang saja karena di sana kucing ini agak stres. Jadi hanya diobat jalan saja. Karena Milo ini juga sudah bisa pipis sendiri setelah dikateter.


Emang sih, Milo ini kucing dengan kepribadian yang penakut sekali. Jarang mau ketemu dengan orang lain, selain orang di rumah kami. Bahkan saat dia sedang bersantai di ruang tamu, lalu tiba- tiba ada orang masuk saja, dia bakalan langsung lari terbirit- birit.

Sore hari setelah saya pulang kantor, Milo saya jemput dan bawa pulang. Tapi kondisinya masih sangat lemas. Apalagi saat mendengar cerita penjaga kliniknya, jantung saya rasanya kayak anjlok karena pagi hari tadi, Milo sempat kritis dan dikira dokternya sudah mati. Pantes aja perasaan saya kok gak enak banget. 

[Kondisi saat di rumah]

Nah, setelah saya bawa pulang dia masih bisa angkat kepala dan mengubah posisinya. Tapi kondisinya sangat lemas dan jujur kasihan banget lihatnya. Dititik itu saya bilang sama Milo "Yawisla Mil, kok kasian banget liatnya. Kamu minta dibawa pulang cepet meh pamitan ya. Nek emang mau pergi gpp".


Tapi masih tetap berharap Milo bisa sehat kembali.

Sebelumnya juga pernah kejadian Milo sakit seperti ini, tapi karena berantem. Udah sekarat banget dan seminggu lemas terus. Sambil saya spet makanan, saya suka bilang sama dia yang intinya saya gak rela dan gak ikhlas kalau sampai mati.

Alhamdulillah selalu kembali sehat. Tapi kali ini melihatnya sudah kesakitan seperti itu rasanya saya gak tega. 
[Saya elus- elus kepalanya masih respon]
Malam harinya, terakhir saya lihat Milo masih bernapas itu jam 23.00, sesekali saya masih spet air mineral supaya dia gak dehdirasi.

Rencananya kalau besok pagi masih lemas, saya mau bawa ke drh lain supaya dapat penanganan yang lebih bagus. Tapi waktu jam 2 pagi saya bangun, saya lihat Milo lagi.

"Loh, kok wis gak ambekan?" - (loh kok sudah gak bernapas?).


Buru- buru saya buka kandanganya dan pegang badannya. Masih belum sepenuhnya kaku tapi memang sudah gak bernapas. Saat itu ada bapak saya juga yang bangun. Saya nangis dong, meski udah bilang kalau gpp kalau kucing saya pergi, tapi ada rasa sakit di dada yang gak bisa dijelaskan. 

Paginya setelah subuh, saya minta kain putih ke ibu. Saat itu ibu belum tahu kalau Milo sudah mati. 


"Bu, ada kain putih?"


"Ada, buat apa?"


"Milo mati"


"Lho, ya Allah, lha katanya sudah bisa pipis to. Jam berapa?"


".... jam 2" - suara saya udah parau. Nangis.

[Sudah gak bernaywa]
Lalu, bapak sudah siapkan kuburan Milo di belakang rumah. Disitu bapak besarkan hati saya - aduh mbrambangi lagi nih. 

Beliau bilang, "Kucingmu itu wis bagus perawatannya, kalau gak lho udah dari dulu- dulu mati itu pas sekarat itu".


Saya cuma diem aja waktu itu, sampai akhirnya saya bilang kalau gak tega, kok matinya kesakitan gini. 

"Ya sama kayak orang, matinya kan ya dengan cara macam- macam. Kucingmu itu sudah tua, wis wayahe" - Bapak.


---------------------------------------------------------------------------------


Begitu ceritanya kucing saya kena FUS dan akhirnya tidak survive. Sebetulnya hari ke 4 setelah Milo mati, tiap kali saya lihat barang- barang yang berhubungan dengan kucing ini, seperti wadah makan, kandang, tempat yang biasa dia gunakan untuk menunggu saya pulang.


Saya masih suka nangis sendiri karena sedih. Kayak masih kerasa pegang bulunya yang halus dan lembut. Matanya yang syahdu tiap kali lihat saya, suara dengkurannya dan bagaimana dia percaya kepada saya, dengan menunjukkan perutnya untuk saya elus- elus.

Btw, kucing kalau dah goleran di depanmu itu, artinya kucing tersebut sudah sepenuhnya percaya padamu. Karena perut adalah bagian paling rawan pada kucing. 

Ya gimana ya, namanya juga udah dirawat sejak masih kecil banget, lho. Bonding selama 4 tahunan ini kan ya erat banget. Jadi saya sendiri juga gak mudah lupakan Milo begitu saja. Apalagi dia kesayangan saya banget. Banget banget banget deh.


Padahal kemarin- kemarin saya udah ada mikir, kalau kucing ini mau saya steril biar masa hidupnya bisa lebih panjang karena kalau sudah disteril kan bisa mengurangi resiko seperti sakit- sakitan.


Jadi gimana sih kok kucing itu bisa kena FUS? Nah, FUS ini sebetulnya lebih rentan menyerang kucing jantan, karena saluran kencing kucing jantan itu lebih panjang dan berkelok. Tapi bisa juga menyerang kucing betina.

Kalau pengalaman saya, kucing ini terlalu banyak mengonsumsi makanan kering (dry food), padahal sebetulnya komposisi makanan Milo sudah saya mix. 

Kadang makanan basah (wet food) juga atau tempe kukus. Tapi ternyata juga masih belum maksimal. Nah, makanan kering itu juga mineralnya sedikit banget, maka dari itu kucing harus banyak minum. 


Kayak yang saya bilang tadi, Milo itu minumnya banyak, jadi saya gak ngira kalau bisa sampai kena FUS. Selain itu, FUS juga sering menyerang kucing usia 4 tahun atau lebih.



[Bakalan kangen banget]
Andai bisa tahu dan ngeh lebih cepat, mungkin Milo gak akan sampai muntah. Setelah saya pelajari, kemungkinan Milo sudah keracunan urinenya sendiri. Sedih banget, karena kucing saat sakit tidak pernah menunjukkan kalau dia sakit, tau- tau aja udah parah. 

Terima kasih, Milo. Sudah memberi warna indah selama 4 tahun ini. Semoga kedepannya, kalau saya sudah berani pelihara kucing lagi, bisa lebih baik dalam perawatannya. 


Milo ini istimewa sekali bagi saya, karena dia yang memilih saya sebagai pemiliknya. Sleep Well, My Lovely.




23 komentar:

  1. Semoga milo tenang disana. Dan masyuk syurga, aamiin

    BalasHapus
  2. Pertama, aku nggak berani baca detail takut nangis,. Kedua, pengalaman yang persis kaya aku. Akupun nyaris terlambat membawa ke dokter, karna kurang peka.
    Setelah dia PUP sambil teriak, dan semalaman tidur berpindah-pindah langsung aku bawa ke dokter.
    Keluar darah, harus dikateter dan rawat inap 6 hari, duuh rasanya sedih.
    Hikmahnya aku sekarang lebih teliti perhatikan mpus aku

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbaaa, emang sedih kalau hewan yang udah jadi bagian keluarga ini pergi ya. Apalagi karena sakit. Betul, kalau gak gini gak belajar ya mbak..

      Hapus
  3. ya alloh Milo lucunyaaa, sedih kalau baca cerita binatang meninggal. Kelinciku jg kemarin meninggal, hiks sedih, merasa gak maksimal ngobatinnya, dan pas liat dikubur jd mau nangis

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbaak, sedih deh. Apalagi tiap hari ngerawat yaa

      Hapus
  4. Duh tetap semangat Mbak...
    Saya juga sudah dua kali kehilangan kucing tersayang. Sedih memang. Tapi mungkin itu sudah takdirnya ya. Semoga akan ada pengganti ya meski tentu saja tidak akan bisa menggantikan Milo

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak, setiap hewan yang kita pelihara punya waktunya masing- masing. Tugas kita hanya merawat dan menyayangi

      Hapus
  5. Lucuuuu sekali Milo, pasti sedih banget kalau kehilangan hewan peliharaan kesayangan kita. Saya juga mengalaminya, apalagi kalau peliharaan kita sudah tinggal sama kita bertahun-tahun lamanya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbaak, sedih sekali rasanya.. Tapi harus kembali bersemangat lagi. hehe

      Hapus
  6. Mbak..aku melu nangis maca Iki.. Semoga Milo bahagia sekarang dan mba bisa merelakan kepergiannya ya..

    BalasHapus
  7. Miloooo kamu so cuteee
    Yg tabah ya Silvi. I feel you karena beberapa kali aku juga patah hati ketika kucing2ku passed away
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
  8. Waktu baru lihat foto yang paling atas, saya pengen langsung bilang, "Kucingnya lucu bangeeet!" Tetapi, setelah membaca keseluruhan ceritanya saya jadi sedih. Selama 4 tahun hidupnya Milo pasti bahagia banget, ya

    BalasHapus
  9. Nyess banget baca ceritanya, sabar ya mbam Milo udah bahagia disana dan ga sakit lagi.

    BalasHapus
  10. Turut sedih ya Mba atas perginya Milo. Ikan di akuriaum aja kalau mati aku sedih, karena ibarat kayak kurang temen main di rumah, apalagi kucing ya yang emang banyak tingkah lucunya. Semangat ya, Mba :)

    BalasHapus
  11. aaah silpiii..aku jadi ikutan nangis jugaaaa hiks. Aku cinta kucing, serumah kita syaaang sama kucing juga. Aku harus hati-hati juga nih..karena di rumah kami banyak kasih dry food. Karena mereka Persians, kalua salah kasih makan bulunya rontoook Sil..jadi serba salah. Tapi setiap mau kasih vitamin aku campurnya dengan wet food. Rest in peace, Milo..you are forever loved..

    BalasHapus
  12. Gantengnya Milo.
    Ya Allah~
    Bulunya cantik.

    Aku baru dengar FUS. Dan pas banget..ada kucing-kucing di rumah.

    BalasHapus
  13. Mbaa ikut sedih bacanya.. aku jadi teringat Mimi, kucingku yang dibuang ayahku dulu huhu aku sampai sakit 3 hari karena kehilangan banget.

    BalasHapus
  14. Milo lucu dan gendut, bulunya juga bagus banget.. selama 4 tahun juga pasti Milo bahagia banget tinggal sama mba.

    BalasHapus
  15. Wuaaaaa....aku ikut meneteskan air mata dan ikut nangis baca tulisanmu ini silvi. Ikut berduka cita ya Vi

    BalasHapus
  16. 4 tahun itu bukan waktu yg sebentar Silvi. Aku ikut sedih dan ikut nangis baca tulisanmu ini. Meski aslinya aku ga suka kucing

    BalasHapus
  17. Mba Silvi aku nangis lho, hiks Milo. Ya Allah, semoga Milo tenang di sana. Di taman surga main-main paling dia ya mba. Aku dari kecil pelihara kucing sampe SMA. Dari 1 sampe beranak pinak 30an. Sedih pas kucingku dibuang ke kali, diracun dsb. Sedih. Tapi ak kucing kampung mba, nggak yang kucing keren kayak Milo ini. ah ... sedih

    BalasHapus
  18. Sedih banget ih, jadi nangis juga, Mbak.. Apalagi pas bilang, nek emang mau pergi, nggak apa-apa. Itu rasanya kayak... Hmmm...

    Sabar ya, Mbak.. :(

    BalasHapus
  19. Kucing jantan memang gampang terkena penyakit kayak gitu Pi. Jaman momongan kucingku masih banyak dulu, yang cowok2 itu memang rentan sakit dan dalam hitungan hari udah basah terus beberapa jam kemudian kaku. Udah ga kehitung deh sedihnya karena berkali2 harus kehilangan mereka.

    Makanya sekarang udah ga mau punya momongan kucing lagi. Kalau cewek beranak terus, kalau cowok rentan kena penyakit. Sedih melulu deehh...

    BalasHapus

Keep Blogwalking!