Jumat, Desember 18, 2015

Mengenang Masa Kecil II

  12 comments    
categories: 
Foto bersama di toko baru

Ini tahun 2004, berarti saya masih SD, coba tebak saya yang mana? Hehe

Mungkin saya sudah lupa tentang apa saja yang pernah terjadi di masa lalu, tapi karena ada gambar yang tersimpan dengan baik akhirnya bisa menjadi pengingat. Kadang gak percaya juga kalau pernah melakukan ini itu. Haha. 

Kalau hal buruk tentang saya diceritakan, saya gak pernah terima. Misalnya, kalau saya diajak ke pasar suka minta banyak jajan, atau bisa nangis kejer karena gak dituruti.

Katanya, generasi tahun 90an adalah generasi terakhir yang bahagia karena masa kecil dilalui dengan senang- senang main bersama teman, tanpa harus tersekat gadget, mandi di kali telanjang gak ada anak kecil yang napsu, dan pedofil gak sebanyak sekarang, dulu jarang banget tuh ada berita pemerkosaan, iya ada tapi jarang. 

Gak ada juga anak kecil pacar- pacaran, yang masih kecil sudah sayang- sayangan, baper, patah hati, dan jaim- jaiman.

Tapi, ada pertanyaan besar yang selalu dan selalu saya tanyakan kepada ibu di setiap hari lahir saya tiba. Kenapa ya bertambah usia itu harus datang ? Kan enak kalau kecil bisa main- main terus. Gak perlu mikir ini itu. 

Sekarang nyata benar rasanya jadi besar, jadi dewasa, kehilangan kebahagiaan masa kecil, masa kanak- kanak.  Kehilangan teman bermain yang satu persatu bekerja di tempat yang jauh, menikah, bahkan sudah punya anak. Padahal dewasa itu kan datangnya tidak spontan. Apalagi untuk generasi terakhir yang berbahagia seperti saya. Tapi, lagi- lagi quote life must go on selalu menang.

Jadi, selamat datang masalah, karena dewasa itu penuh dengan masalah. 

*Pasang tameng baja.

Kamis, Desember 17, 2015

Cara Cek Usia Kartu Indosat

  12 comments    
categories: 
Zaman serba modern begini, siapa sih yang gak punya handphone ? Mulai dari smartphone yang bisa buat video-an sampai HP ungkal yang cuma bisa telepon sama sms aja, yang permainanya cuma bounce sampai ular- ularan. Nah, kalau punya HP tapi gak ada provider ibaratnya jiwa tak bernyawa :D.

Saking banyaknya provider, kadang bikin kita bingung milih mana yang paling baik. Tentunya yang jaringan sinyalnya luas dan paket internetnya cepat serta murah :D. Saya sendiri sih punya 2 kartu, dan setia pakai keduanya sejak tahun 2011 dan 2013. 

Tapi, sekarang ini saya bukan mau cerita kebaikan kedua kartu tersebut. Saya cuma mau kasih tahu soal gimana caranya cek usia kartu yang kita gunakan selama ini. Soalnya kan banyak yang lupa tuh kapan beli kartunya, jadi suka kepo- kepo sendiri. Nah, daripada hanya menewarang kayak dukun, mendingan ceknya pakai mycare yang sudah disediakan sama provider ini. Saya kemarin baru coba buat sih, lumayan lah kalau buat punya- punyaan akun di sana. Hehe

1. Masuk ke https://mycare.indosatooredoo.com/. Kalau sudah punya ID myCare langsng saja login, kalau belum tentu kamu harus buat dulu. Caranya klik "Buat Akun Baru Sekarang".


2. Langkah 1 : Isi nomor Indosat kamu (jangan provider lain). Masukkan kodenya.


3. Langkah 2 : Masukkan kembali nomor Indosat kamu, dan buat passwordnya.


4. Langkah 3 : Buat ID nya dan isi formnya sesuai dengan yang diminta.

Gambar 1
Gambar 2


5. Langkah 4 : Kamu sudah dinyatakan bergabung di myCare.



6. Secara otomatis nomor kamu akan muncul di sistem mereka.  Kemudian klik "Pilih"



7. Muncul deh keterangannya. Kartu saya aktif sejak tahun 2011 dan masa aktifnya sampai 2016.



Mudah kaaan buatnya, cara ini sih dibuat biar gak penasaran aja sama usia kartu kita. Nah, silakan dicoba. 



Selasa, Desember 15, 2015

Menikmati Peran Sebagai Kakak

Hidup ini tidak mudah, karena takdir yang digariskan kadang kala tak sesuai dengan apa yang kita inginkan, sayapun merasakan demikian. Saya tak bisa memilih dari keluarga mana saya dilahirkan, siapa bapak dan ibu saya, siapa nenek kakek saya, dan siapa adik atau kakak saya. Semua itu, sudah digariskan. Tapi, tentu semua yang terjadi selalu ada pembelajarannya, kan?. 

Dulu, bahkan hingga sekarang, saya selalu berpikir untuk menjadi seorang adik, dan punya kakak. Impian saya adalah punya kakak laki- laki yang cakep dan charming seperti di tv, supaya saya selalu di dekati oleh para gadis yang ingin dekat dengan kakak saya. Tapi sayangnya, takdir menggariskan kalau sayalah yang menjadi seorang kakak. Iya, kakak perempuan. 

Ada cerita lucu saat ibu saya mulai mengandung adik di Tahun 1999, saat itu saya masih kelas SD. Kata ibu, saya menyebut adik "bola besar di dalam perut", (selanjutnya kita sebut sesuatu saja). Saat itu, setiap pagi ibu selalu menyisir dan mengepang rambut saya. Bukan karena saya tidak bisa melakukan hal itu sendiri, tapi rambut saya saat itu masih panjang dan saya tidak suka kalau ke sekolah dengan rambut diurai.

Bulan- bulan mendekati hari kelahiran adik, ibu mulai jarang menyisir rambut saya, dan disana saya mulai cemburu. Saya tidak suka dengan 'sesuatu' yang ada di dalam perut ibu, dan membuatnya besar. 

Ketidaksukaan saya terhadap 'sesuatu' itu semakin menjadi saat hari kelahiran tiba. Ibu masuk kamar dengan seorang mbah, di luar banyak yang bingung. Di dalam kamar terdengar ibu menangis. Saat itu, saya memang tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi, akhirnya saya tahu kalau adik tidak bisa keluar dengan mudah dan harus disecar, karena mbah dukun bayi tidak bisa membantu kelahiran, akhirnya ibu dibawa ke Rumah Sakit, tapi lagi- lagi saya tidak boleh ikut. Drama berlangsung, karena saya sampai ngejar mobil yang membawa ibu ke RS. Intinya saya gak suka dengan adik, karena menyakiti ibu. 

Masa kecil saya bersama adik kurang baik sebetulnya, karena tidak suka dengan adik maka saya sering mengabaikannya. Seperti saat disuruh untuk menjaga adik, saya malah meninggalkan sembunyi, bahkan saat ditanya oleh teman ibu saya menjawab tidak ingin punya adik. Huehehehe.

Bersama Adik
Semakin bertumbuh dewasa, ternyata kebiasaan tidak sayang ini akhirnya sirna. Saya yang awalnya tidak suka dengan adik, menjadi sangat sayang dan gati. Kami saling membantu satu sama lain dalam hal pekerjaan rumah, adik juga sangat kooperatif ketika saya ajak diskusi. Adik juga pendengar yang baik, dan pemberi solusi jitu. Dewasa ini kami sering bertukar pikiran dan bicara dari hati ke hati. Baik tentang urusan sekolah, sampai soal perempuan.

Sebetulnya jika ditelusuri lebih dalam, saya tahu penyebab dari ketidak sukaan saya terrhadap adik, yaitu omongan orang. Saya masih ingat, dulu sebelum saya tahu kalau saya akan punya adik banyak tetangga yang menggoda saya hingga akhirnya muncul ketakutan akan kehilangan kasih sayang dari orang tua. Nyatanya itu tidak terbukti, tuh. Hehe

Sekarang, saya sangat menikmati peran sebagai kakak. Saya adalah wakil dari orang tua yang berjanji akan membantu bapak ibu untuk mengantarkan adik menjadi orang dan lelaki yang bertanggung jawab.

Perubahan pikiran tentang kebencian pada adik tidak lepas dari peran ibu, beliau lah yang selalu mewanti- wanti saya kalau kelak adik akan menjadi penjaga saya di masa depan. Adik yang akan jadi tameng ketika saya besar, dan adik yang akan membantu saya ketika saya kesulitan. 

Saya juga ingat sekali saat saya dan adik hampir baku hantam dengan sapu karena rebutan remot tv. Ibu yang melerai kami berdua, bahkan ibu sampai menangisi sikap saya yang suka sekali menggoda adik, dan sikap adik yang emosional. Saya gak bisa bayangkan kalau misal ibu saya punya anak lagi.


Tapi, saya jadi ingat dengan seorang teman dari Jogja, yang memiliki enam anak. Namanya Mak Siti Hairul, tapi saya biasa memanggilnya dengan Mak Irul. Kami dipertemukan satu tahun yang lalu dari ajang pemilihan blogger. Alhamdulillah, kami masih bisa in touch setiap hari melalui grup WA yang dibentuk saat itu. 
Pertemanan lintas generasi yang ternyata banyak memberi saya pelajaran. Salah satunya adalah tentang pendidikan anak. 



(Sumber Foto : catatansiemak[dot]com)
Mak Irul ini banyak menulis tentang kegiatan bersama ke enam buah hatinya. Tentang bagaimana mendidik putra- putrinya, apalagi beliau juga menerapkan Homeschooling untuk pendidikan anak- anaknya. Cool!

Akhirnya, saya berkaca dari ke enam anak mak Irul. Bahwa, persaudaraan memang harus lekat, dan erat. Good job mak Irul. 


"Persaudaraan tidak hanya terhubung dengan ikatan darah, tapi juga dengan cinta dan kasih sayang". (My Name is Khan)[ Me & Tenzing Norgay ] Sejak 2 tahun yang lalu, saya mulai belajar untuk lebih banyak berpikir daripada berbicara, belajar lebih banyak mendengar, belajar untuk hal- hal lainnya yang sekiranya bisa membuat saya menjadi orang yang lebih baik. Belum signifikan perubahannya, namun setidaknya sedikit demi sedikit ada peningkatan. Ternyata, intinya cuma 1, menahan ego. Malam ini, saya tidur dengan adik. Tentunya dengan bed yang berbeda karena kami sudah sama- sama baligh. We talk each other. Sekarang adik saya sudah mulai masuk SMA. Beberapa hari ini saya terus mendampinginya mencari sekolah. Sistemnya online, hari 1 adik saya daftar bersama teman- temannya, hari 2 saya dampingi dia untuk konsultasi ke guru yang ada di sekolah pilihannya, dan hari ke 3 kami mencari opsi sekolah lainnya, dan saat ini sudah diterima di sekolah pilihan ke 2 melalui jalur prestasi non akademik. Sejak mendapat kabar namanya hilang di sekolah pilihan pertama dan kami berangkat mengambil berkas, saya perhatikan raut mukanya, ternyata dia sadar sedang saya perhatikan. Lalu dia tersenyum, kecut. Disitu saya menyadari, adik saya tidak mendapat apa yang pernah saya dapat. Padahal, saya dulu sangat memusuhinya, tak mau dekat sama sekali, bahkan pernah tidak mengakuinya. Alasannya klasik, cemburu. Saya tak mau kalah dengan adik. Tapi, sekarang saya sadar, bukan waktunya lagi untuk egois. Saya mau jadi Tenzing Norgay, yang memandu Edmund Hillary untuk sampai dan menginjakkan kaki di puncak Mt. Everest pertama kali, yang dengan legowo hatinya mempersilakan Hillary menapakkan kakinya di Mt. Everest padahal kurang 1 langkah lagi Tenzing Norgay sampai. Mungkin ini namanya tanggung jawab sebagai kakak.
A photo posted by Silviana (@silviananoerita) on


Minggu, Desember 13, 2015

Mie Ayam dan Bakso Telur Enak di Puger Jember

  13 comments    
categories: 
"Jalan senang, makan kenyang, hati riang" 
Makan adalah hak setiap insan, benar begitu kan? Bahkan sampai ada yang bilang hidup untuk makan, dan makan untuk hidup (saya baca di motto salah seorang kakak tingkat saya di album kenangan sekolah). Tapi, banyak tetua yang bilang motto itu terlalu dasar. Tapi yasudahlah, semua itu tak perlu terlalu dirisaukan. Hehe

Musim hujan seperti sekarang ini sepertinya enak kalau makan yang berkuah, apalagi hangat dan pedas. Endeus kan, jadi ngiler sendiri ceritanya. 

Saat jalan- jalan ke Jember saya sempat mampir ke warung pinggir jalan di pertigaan Puger arah ke pantai Papuma. Namanya Mie Ayam dan Bakso pak Adi (semoga bener, soalnya agak lupa nih sudah lama). Sama seperti warung pada umumnya, tempatnya kecil dengan 3 meja dan 6 bangku panjang. Penjualnya suami istri, atau mungkin masih pacaran ya. Soalnya masih muda dan manggilnya "yang". Hehe. 
Menurut saya sih, panggilan sayang gak melulu buat yang masih muda saja. Jadi kesimpulan saya, mereka adalah pasangan muda yang baru menikah. 

Sesuai dengan namanya, warung ini hanya menyediakan 2 jenis menu saja. Mie Ayam dan Bakso, mie ayam biasa atau mie ayam bakso dan bakso biasa serta bakso telur. Tersedia juga lontong dan kerupuk. Namun yang unik, bentuk lontongnya tidak seperti pada umumnya meskipun sama- sama dibungkus dengan daun pisang. 
Bentuk lontongnya bukan panjang dan digulung, tapi seperti mendut (bentuk segitiga dan berasal dari tepung beras yang isinya gula merah/ kacang hijau/ Enten- enten [bola- bola dari kelapa manis]). Minuman yang disediakan juga hanya ada 2 jenis, yaitu minuman es jeruk atau jeruk hangat dan es teh atau teh. Saat itu saya pesan bakso telur dan es jeruk, sedangkan Ilham pesan mie ayam bakso dengan minuman yang sama.



Kalau bakso telur isi mangkoknya cuma 1 saja, sedangkan bakso biasa isinya bermacam- macam seperti tahu, pangsit, gorengan, dan pentol. Nah, kalau bakso telur di dalamnya adalah telur ayam, gak salah kalau ukurannya besar.



Bakso dan telur ayam


Mie ayam bakso

Menurut saya, makan di tempat ini rasanya pas. Baik rasa kuahnya yang sedap, kekenyalan baksonya, dan porsinya. Saya gak menafikkan sih, mana ada orang jualan gak pakai penyedap. Rasanya kok mustahil, tapi saat makan bakso di sini semuanya pas menurut lidah saya. Gak terlalu banyak mecin, karena sebetulnya perut saya sensitif sekali kalau ada makanan yang kurang sip bahannya. Langsung sakit perut dan selanjutnya (maaf) muntah. Jadi, kalau makanan gak enak (dalam arti terlalu banyak penyedap), akan ada sinyal dari lidah dan perut mengirim pesan ke otak untuk segera mengeluarkannya. Hehe.

Cara pertama saya menikmati mie ayam dan bakso enak atau tidak itu dari kuahnya, coba satu sendok dulu kalau enak ya lanjut sampai habis. Kalau gak enak biasanya terpaksa dihabiskan. Haha.

Harganya juga cukup terjangkau untuk rasa yang enak tenan, cukup dengan Rp. 10.000,00 per mangkoknya, kita sudah bisa kenyang dan riang. Eh yang perlu di catat, meskipun tempatnya kecil tapi saat saya makan di sana meja nya penuh dengan pengunjung yang datang dan pergi.

"Harusnya makanan enak begini punya kios, bukan di warung tenda" - kata saya ke Ilham. 

Nilainya kalau dari saya 8/10. Makanan enak tapi sayang tempat cuci piringnya kelihatan dari meja. Itu yang buat saya kurang sip. 
  

Senin, Desember 07, 2015

Masih Mengenang Masa Kecil I

  10 comments    
categories: 

Sekali- kali coba menoleh kebelakang untuk mengenang momen indah. Anak kecil dipeluk ibunya, ditemani dengan bulek yang ada di sisi kanan dan tengah, dan mbah di sebelah kiri.

Ini adalah harta karun yang sangat berharga, karena momennya tak akan pernah terulang lagi. Iya, anak kecil dengan rambut jagung itu adalah saya. Cilik nyekuthis kalau kata orang, ternyata bisa tumbuh besar juga. 

Sabtu, Desember 05, 2015

Menemukan Ayu Budiarti dari Album Foto

  8 comments    
categories: 
Beberapa saat yang lalu, saya mencoba membongkar lemari album foto. Tidak banyak sebetulnya, namun ada. Saya mulai membuka satu persatu album fotonya. Ada saat saya masih tengkurap, berlari, digendong bapaklomba gerak dan lagu Aku Cinta Rupiah di gedung PGRI saat TK, lalu saat menari dan membacakan doa di acara perpisahan SD, momen SKAL dan Pramuka di Lomba Tingkat bersama teman- teman SMP, momen bersama saudara dan masih banyak lagi. 

Lalu, saya berhenti lama di bagian album pramuka. Di sana, ada sosok teman bernama Ayu yang saya ingat, teman pramuka yang saya kenal saat Lomba Tingkat II Pramuka di Pare. Entah kenapa, saya ingin sekali menemukannya, dan bertemu. As soon as posible.

Beruntunglah saya, setelah searching di google dan bertanya sana- sini, kurang dari 2 jam saya mendapat nomor Whatsappnya. Wow! The miracle of networking, right?


Kamu tentu tahu saya yang mana, Ayu Budiarti ada di sebelah kiri saya, rambut pendek, dan merangkul pundak saya.

Hai! Nice to meet you, mbak.

*ditulis dan diedit seadanya dengan tablet. 


Jumat, November 27, 2015

Bijak Main Sosial Media, Kunci Aman Hidup Bahagia

  26 comments    
categories: 
Senang sekali rasanya bisa turut serta hadir di acara keren dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Surabaya kemarin. Pengalaman warbiyasak yang menambah kedewasaan saya bermain sosial media.

"Temenin aku ke perpus yuk, aku mau cari buku buat tugas Ekonometrika!"

"Lah, search aja di google kan ada!"

Percakapan yang sering diucapkan oleh dua orang teman saat masa kuliah lalu. Adanya internet membuat kami merasa mudah, sekaligus perlahan menggiring ke bagian bernama kemalasan. Bukan salah teknologi bernama internet, tapi para pengguna yang kurang bijak dalam menggunakannya.

Saat bertemu teman baru, biasanya hal pertama yang ditanyakan pun kadang bukan kabar, tapi akun sosial media!.

"FB kamu apa nama akunnya? mau aku add nih"

"Twitter kamu? mau aku follow"

"Instagram kamu apa namanya? seberapa banyak sih fotonya?"

"Kalau path kamu punya?"

"Minta ID Line, PIN BBM dan nomor WhatsApp kamu dong biar mudah aku hubunginya"

Nah, saya yakin sebagai manusia serba modern dengan smartphone di tangan kanan dan remot di tangan kiri, masing- masing dari kita tentu punya paling tidak salah satu dari sosial media yang saya sebutkan diatas. Masalahnya, apakah kita sudah cukup mengerti bagaimana menggunakan semua itu? Tak sekedar dari sisi aplikasinya saja, tapi ada yang lebih penting lagi, yaitu dari sisi etikanya. 


Beruntung sekali saya bisa hadir di acara Uji Coba Draft Model Pendampingan Pendayagunaan TIK Bagi Perempuan di Jawa Timur, yang digagas oleh KPPA bersama KOMINFO dan bertempat di Hotel Garden Palace Surabaya. 

Sesuai dengan acaranya, audiencenya pun mayoritas perempuan. Baik ibu- ibu PKK, ibu- ibu penggiat UMKM, ibu- ibu dari dinas, pemerhati IT, blogger, dan adik- adik dari SMA di sekitar Surabaya.


Acara ini diadakan untuk memberikan edukasi kepada para perempuan dan anak- anak tentang pentingnya menjaga diri saat bermain internet, karena ternyata pengguna internet paling banyak berasal dari gender perempuan. 

Melihat banyaknya permasalahan yang terjadi yang diakibatkan oleh penggunaan internet dan sosial media yang kurang bijak, maka dengan adanya acara ini diharapkan para wanita mulai aware dan siap defence terhadap segala kejahatan yang mengintai yang asalnya dari internet. Seperti misalnya kejahatan pelecehan seksual, bullying, kekerasan, penculikan, bahkan sampai pembunuhan. 

Miris sekali rasanya saat pak Soetjipto staff Kominfo Jawa Timur, menunjukkan beberapa video mengenai akibat dari penggunaan sosial media yang kurang tepat, dan yang perlu digaris bawahi banyak dari kasus tersebut korbannya adalah perempuan.

Dalam video tersebut gadis remaja mulai berkenalan dengan laki- laki di Facebook, semakin lama semakin akrab, karena banyak kata manis dan romantis yang terucap, kemudian mereka mulai membuat janji untuk bertemu, dan ternyata gadis ini disekap dan diculik oleh teman yang selama ini memberi rasa aman dalam bentuk visual. Satu kata saja, menakutkan.

Video kedua, lagi- lagi yang diceritakan adalah gadis, dia diminta oleh teman FBnya untuk mengirimkan "FLASH" atau foto yang memperlihatkan buah dadanya, tentunya si teman tersebut berjanji untuk tidak menyebarkan kepada siapapun. Entah apa yang dipikirkan, gadis tersebut mengirimkan foto bugilnya.

Satu tahun kemudian, muncul laki- laki yang menghubungi si gadis dan mengirimkan foto lama yang memperlihatkan buah dadanya, dan mengancamnya. Jika tidak mengirimkan foto yang lebih (bugil), maka foto tersebut akan disebar luaskan. Sampai pada suatu ketika, pagi- pagi saat liburan rumah si gadis didatangi oleh polisi, memberi tahukan bahwa foto dirinya sudah tersebar luas di sosial media. Gadis tersebut shock, dan depresi.

Sampai hal yang paling parah harus pindah sekolah beberapa kali karena menjadi korban Bully teman- temannya. Apa yang ada dibenak kita jika hal tersebut terjadi pada diri kita sendiri ?. Sedih? Marah?. Tak karuan tentunya.


Hal- hal semacam inilah yang seharusnya menjadi perhatian lebih para orang tua untuk mengawasi anak- anaknya. Ada beberapa hal yang dipaparkan oleh Pak Tjip tentang Do's dan Don'ts dalam bermain sosial media sesuai dengan panduan Internet Sehat yang Aman. 

Do’s
Manfaatkan sebagai narasumber.
Posting hal positif.
Selektif dalam memilih teman.

Tempatkan komputer di ruang tamu.
Buat aturan.
Jauhi semua yang ilegal

Don’ts

Jangan beri informasi tentang anda terlalu detail. Terutama untuk para ibu yang gemar mengunggah informasi tentang buah hatinya.
Mencurahkan isi hati.
Terlalu banyak update.  

Mengunduh apapun yang negatif.

Nah, informasi dari pak Tjip memang sangat bermanfaat untuk kita supaya tetap aware dengan apapun yang terjadi yang berasal dari sosial media. 

Selain pak Tjip, Mbak Ani Berta sebagai pemateri juga memberikan edukasi tentang penggunaan sosial media yang memberikan benefit lebih kepada para penggunanya. Jadi, setelah tau etika bersosial media, kita juga bisa menggunakan sosial media sebagai ajang untuk mengasi rejeki. Misalnya dengan menggunakan sosmed untuk promosi barang dagangan kita, lalu menunjukkan karya kita baik melalui tulisan maupun foto. 

Intinya, sosial media itu seperti dua sisi mata uang. Jika digunakan tidak sesuai dengan etika maka akan merugikan, namun jika digunakan dengan baik maka akan menguntungkan. Sekali saja kamu membuat kesalahan di sosial media, maka hal itu akan terus terkenang di mata para pengguna lainnya. Sekali kamu terperosok, maka reputasimu akan rusak begitu saja.

Maka dari itu, think before posting, karena apapun yang kamu unggah di sosial media, meskipun kamu sudah merasa menghapusnya, sebetulnya hal tersebut akan tetap ada disana selamanya. Selamanya. 

Jadi, yok pakai sosial media dengan bijak.



Senin, November 23, 2015

Ketagihan Motret Gara- Gara Auto Fokus Zenfone 2 Laser

  23 comments    
categories: 

“No photo today, no history tomorrow”- anonim. 
 
Quote yang pernah saya baca dikaos teman UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) fotografi saat masa kuliah lalu. Saya begitu amaze membacanya. Quote yang logis dan memang iya benar adanya. Entah siapa yang mencetuskan quote itu pertama kali, saya pengen ngajak wefie! Karena sungguh, dia keren sekali. 

Saat ini, mengabadikan moment yang kita alami merupakan hal yang wajib dilakukan, karena itulah yang akan menjadi cerita di masa tua. Adanya foto membuat kita mengingat, mengenang, dan bernostalgia. 

Memang benar, semakin berkembangnya zaman, dunia fotografi memang sudah bukan sesuatu yang mahal dan tidak sulit dijangkau oleh segala lapisan manusia. Mulai dari ibu- ibu, bapak- bapak, embah- embah, anak muda, bahkan sekarang ini bayi pun pandai berfoto. Alat fotografipun bermacam- macam, mulai dari yang pro sampai yang gak pro. Mulai dari yang ribet sampai yang ringkas, dan juga mulai dari yang mahal sampai yang terjangkau. Tapi, melihat personality mayoritas manusia pasti sukanya yang cepat, ringkas, efisien, dan berkualitas.  Itulah kenapa, banyak yang lebih memilih fotografi ponsel dibandingkan dengan kamera DSLR. 

Memang sih banyak ponsel yang menyediakan fitur kamera dengan resolusi bagus, tapi banyak juga yang harganya belum bisa dijangkau oleh lapisan masyarakat kelas menengah. Jadinya cuma bisa berangan- angan karena belum bisa kebeli ponsel impian karena harganya yang kemahalan. 

Tapi sekarang gak perlu sedih, karena ada teknologi keren dari ASUS yang bernama Zenfone 2 Laser yang punya fitur dan spesifikasi super keren. Apalagi ada 3 varian smartphone yang ukurannya pun bermacam- macam menyesuaikan kebutuhan. Mulai dari 5 inci, 5,5 inci dan 6 inci.

(Sumber Foto : asus[dot]files[dot]com)


Kameranya pun gak kalah sama yang lain karena resolusi kamera belakangnya 13MP, dan kamera depan 5MP. Makin lengkap dengan lensa f/2.0 dan mampu mengambil foto dengan resolusi 4128 x 3096 pixel. Apalagi ASUS Zenfone 2 Laser juga diperkuat dengan fitur Laser Auto Fokus yang bikin hasil bidikan kamera Zenfone ini bening dan diklaim lebih cepat dari kedipan mata. WOW!
(Sumber Foto : asus[dot]files[dot]com)
Ada lagi nih yang ternyata bikin tambah keren, buat yang suka selfie, kamera depan Zenfone 2 Laser punya sudut yang lebih luas, jadi bisa dipakai foto rame- rame tanpa harus takut ada yang terpotong atau ketinggalan. Sedangkan buat yang suka bikin video buat diupload di instagram atau yang lainnya, Zenfone 2 Laser juga ngasih kita teknologi yang kece banget karena dengan kemera smartphone ini kita bisa merekam dengan resolusi FullHD dan kecepatannya mencapai 30 frame per detik. 

(Sumber Foto : asus[dot]files[dot]com)
Masih ditambah lagi dengan teknologi Pixel Master Camera, jadi kalau kita ambil foto dan video di tempat yang minim cahaya foto yang dihasilkan masih bisa lebih terang sampai 400%, kalau masih kurang masih ada juga yang namanya dual- LED (dual tone) flash yang bikin hasil bidikan kamera lebih natural, jadi gak khawatir dibilang editan kan. 
 
(Sumber Foto : asus[dot]files[dot]com)
Semua itu include di ASUS Zenfone 2 Laser yang punya kamera hebat dan tentunya harganya terjangkau buat kantong menengah. Nah, coba siapa yang gak kepengen punya smartphone ramah di genggaman ini. Kalau saya sih mau banget punya, pastinya bisa mempercepat mobilitas pekerjaan saya, dan juga gak akan kehilangan setiap moment yang berharga karena sudah langsung di capture sama teknologi super duper canggih dari Zenfone 2 Laser. 

Mau tau harganya ? 
Berasa kayak DSLR dalam satu genggaman kan ya. Yuk, grab it fast!

Loves Each Other

  9 comments    
categories: 
Just Upload my cats. Hehe Sorry. :) 






Saya mengupload foto bersama hewan peliharaan ini karena keprihatinan saya terhadap banyaknya kasus perburuan dan pembunuhan (baik dimakan HIYEEEK! ataupun di awetkan) hewan. 

Saya mengajak teman- teman semua untuk saling melindungi dan saling menyayangi kepada sesama mahkluk hidup, karena bumi Tuhan tak hanya untuk manusia saja, tapi untuk hewan dan juga tumbuhan. 



Mencicip Selat Solo

  8 comments    
categories: 
Pernah datang ke Solo ? Atau mungkin hanya lewat saja ? 2013 yang lalu saya mendapat kesempatan untuk singgah di kota kelahiran pak presiden ke 7 Indonesia selama 3 hari untuk mengikuti perhelatan Asean Blogger Festival Indonesia. Nah, pada hari terakhir, saya dan semua peserta disuguhi makanan khas Solo, namanya Selat Solo dan yang masak langsung ibu- ibu kasunan.

Selat Solo adalah makanan dari sayur- sayuran yang endeus banget, dan puji syukur di Malang depan gang kosan sudah ada yang buka, loh!



Lalu, ada makanan lain, saya gak tau sih apa namanya. Isinya Nasi putih yang punel sekali, telur ayam 1/2 iris, dan oseng pepaya serta sambal sambal berwarna putih yang mirip gamping atau batu kapur. Awalnya saya ragu untuk makan, tapi ternyata nagih, serta nambah :D. 





Jiyan muantap tho ?