Sabtu, Desember 03, 2016

FamsTrip #MenduniakanMadura : Menyusuri Jejak BPWS di Bangkalan dan Sampang

  71 comments    
categories: 


Hidup ini rasanya gak ada istirahatnya, baru selesai di satu tempat sudah harus beranjak pergi ke tempat lain. Mumpung masih muda, jajaki semua peristiwa. Biar tau kalau bertemu dengan orang baru itu seru dan bikin bahagia. Perjalanan untuk #MenduniakanMadura kali ini saya mulai dengan berangkat dari Malang pukul 06.00, janjian dengan mas Ndop untuk tiba di Terminal Bungurasih kurang dari jam 09.00. Gak taunya saya malah telat banget sampai jam 9 lebih dikit. Sepanjang perjalanan saya tidur setelah menenggak 2 pil anti mabuk perjalanan. Maklum sudah hampir 2 tahun tidak pernah naik kendaraan umum lintas daerah, buat jaga-jaga aja. Selama perjalanan Berri Anam selaku panitia terus memonitor posisi saya, karena Kontingen Bungurasih hanya tinggal menunggu kedatangan saya.
 
Setelah harap-harap cemas, akhirnya sampai juga di sekitar terminal Bungurasih. Kontingen ini dijemput dengan menggunakan mobil Avanza warna hitam, di dalamnya sudah ada Pak Latief sebagai sopir, Berri Anam, Mas Ndop dari Nganjuk, Kang Pardi Ponorogo, Mas Whiz Rembang, dan Mas Halim Solo. Karena saya datang paling lambat maka untuk permintaan maaf, saya menyogok mereka dengan membagikan roka-roka asli Johor (ASLI YA). Ohya, Kontingen Bungurasih itu adalah nama yang kami buat untuk peserta yang melakukan perjalanan menuju Surabaya dengan menggunakan bus dan dijemput di terminal. Keren yak namanya. Hehe

Setelah semua personel lengkap, pak Latief membawa kami menuju kantor BPWS. Buat yang belum tahu BPWS adalah singkatan dari Badan Pengembangan Wilayah Surabaya- Madura. Letak kantor BPWS ada di sekitar kaki jembatan Suramadu sisi Surabaya, ada di kanan jalan kalau kamu mau menuju Madura. Setelah sampai di kantor BPWS kami yang baru datang langsung diarahkan untuk sarapan, menunya nase’ serpang yang punya berbagai macam lauk dan merupakan salah satu kuliner khas Madura. Namun sebelumnya, saya dan Kontingen Bungurasih say hi dengan teman-teman panitia.
 
Baca juga : Pengalaman Pertama Berkendara Melintasi Jembatan Suramadu

Acara pembukaan #JejakBPWS dan #MenduniakanMadura dimulai, beberapa perwakilan blogger naik ke lantai 2 kantor BPWS untuk ikut serta. Saya yang datang terlambat dapat jatah berkeliling Jembatan Suramadu sisi Surabaya untuk mengabadikan moment. Setelah dirasa cukup kami kembali ke kantor BPWS untuk menjemput teman-teman blogger yang masih tinggal.
[Jembatan Suramadu sisi Surabaya]
Long journey has begin, karena kami diajak untuk menyusuri sisi utara hingga sisi selatan Madura.  Kami benar-benar seratus persen mengukur aspal menyusuri 4 wilayah di Madura, mulai dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep dan kembali lagi ke Bangkalan. Durasi waktunya pun juga lumayan lama dan ini merupakan FamsTrip paling lama yang pernah saya ikuti selama ini. Trip selama 4 hari 3 malam dan menginap di tiga kabupaten berbeda adalah sebuah pengalaman yang luar biasa, karena setiap malam para peserta diajak untuk melihat tempat baru dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Semacam sarapan di Batam, makan siang di Singapura dan makan malam di Johor.

Perjalanan dari kantor BPWS menuju Bangkalan tidak memakan waktu lama, semua ini berkat adanya jembatan Suramadu yang pembangunannya selesai di tahun 2009 lalu dan memiliki panjang 5,4 KM, sehingga akses menuju pulau Madura dari Surabaya menjadi semakin mudah dan cepat. 

Kawasan Kaki Jembatan Suramadu Sisi Madura (KKJSM)- Rest Area
Saat sampai di Bangkalan tujuan pertama kami adalah melihat rest area yang sedang dalam proses pembangunan. Para pedagang yang sebelumnya berada di sisi kiri kanan tepi jalan raya nantinya akan direlokasi untuk menempati rest area ini. Bakalan semakin cantik dan menarik untuk para wisatawan yang berkunjung ke Madura.
[Rest Area dalam proses]
[Perwakilan dari BPWS menjelaskan tentang tujuan pembangunan Rest Area]

Kawasan Khusus Madura (KKM) Kecamatan Klampis
Perjalanan selanjutnya kami dibawa untuk melihat calon Pelabuhan Internasional Madura. Lokasinya ada di Desa Tolbuk Kecamatan Klampis, berbeda dengan rest area di Bangkalan tadi ya, di sini memang belum ada apa-apa karena memang masih dalam masterplan dari BPWS. Wah saya langsung bayangin Kecamatan Klampis ini bakalan jadi mirip kayak Harbourfront, di Singapura atau Harbour Bay , Batam. Bakalan kece banget gak sih kalau Madura punya pelabuhan internasional? Sudah pasti perekonomian akan berkembang pesat dan cost untuk barang dan jasa yang keluar masuk dari berbagai macam daerah termasuk luar negeri dapat langsung sampai di Madura. Semoga secepatnya bisa terlaksana, ya!.
[Lokasi pembangunan Pelabuhan Internasional, Madura]
[Teman-teman Blogger Indonesia]
Hari mulai sore dan perjalanan kami masih panjang untuk menuju kabupaten Sampang. Meskipun agak lama, tapi perjalanan kami sama sekali tidak membosankan karena ditemani oleh musik Madura dan diselingi dengan alunan 80-90’s. Saya memutuskan untuk tidur ayam guna saving mode. Setelah sampai di Desa Batioh, bus kami tidak dapat masuk terlalu jauh karena kondisi jalan desa yang minim. Kami (para peserta) semua olahraga sore-sore berjalan kaki sambil membawa barang pribadi untuk menuju homestay. Malam pertama kami akan menginap di Sampang, homestay-nya terletak tidak jauh dari pantai Nepa.

Setelah semua peserta berkumpul di homestay dan selesai melakukan tugasnya masing-masing (sholat dan istirahat), kami diajak untuk pergi nengok saudara tua di Hutan Kera Nepa. Dinamai demikian karena memang di tempat ini banyak terdapat kera yang tumbuh dan berkembang biak. Lokasi Hutan Kera Nepa ini tidak jauh dari homestay kami, sekitar 1 km saja. Datang ke Hutan Kera Nepa ini seperti mendapat double jackpot, karena kamu gak cuma dapat 1 wisata saja tapi 2 sekaligus. Anak hutan dan anak pantai bersatu di Desa Batioh. Perjalanan menuju Hutan Kera Nepa saya gunakan untuk mengabadikan momen, foto levitasi bersama teman-teman blogger dan membuat VLOG ala-ala.
[Menyambut Blogger yang datang]
Sampailah kami di pintu gerbang Hutan Kera Nepa, saat masuk kami langsung disambut dengan puluhan  kera yang tersebar diberbagai posisi, ada yang di atap gerbang, di samping kanan dan kiri, ada juga yang bergelayut manja di pohon. Padahal kabarnya kera-kera ini tidak akan muncul dihari biasa dan hanya muncul ketika dipanggil dengan ‘keyword’ “Lo lalilooooo…”. Wow, beruntungnya kami.

Hutan Kera Nepa ini sama seperti hutan pada umumnya, hijau dan creepy. Saat masuk semakin dalam ada perasaan kurang nyaman, seperti ada yang memperhatikan setiap gerak-gerik kami tapi it’s oke karena kami pergi ramai-ramai. Btw, yang memperhatikan kami itu kera ya saudara. Jangan mikir aneh-aneh. Haha. FamsTrip ini aman kok soalnya selama perjalanan di Hutan Kera Nepa kami ditemani oleh juru kunci, penduduk asli Desa Batioh. Sore itu kami tidak masuk terlalu dalam di Hutan Kera Nepa, perjalanan kami berhenti sampai di pohon besar di tengah hutan, semacam petilasan. Kabarnya sih, kalau misalnya kamu datang ke tempat ini lalu punya nadzar dan nadzar itu terkabul kamu harus datang lagi ke Hutan Kera Nepa untuk melakukan doa atau sebagainya sesuai dengan kepercayaan masing-masing.
[Pict by : Mas Ndop]
Suasana semakin creepy karena semakin sore, pak juru kunci mengajak kami untuk keluar dari Hutan Kera Nepa. Bukan blogger kalau gak bikin cerita seru dan lucu, salah satu dari kami ada yang mencoba untuk menggoda si kera, eh gak taunya si kera kayaknya lagi PMS gitu. Bisa jadi  kera tersebut merasa terancam dengan keberadaan kami. Saat ada yang mengganggu, si kera langsung bereaksi dengan mbenges-mbenges (memperlihatkan gigi seperti akan menggigit sambil mengeluarkan desisan). Teman-teman langsung lari kocar-kacir menghindar, termasuk saya. Padahal si kera ini sendirian loh dan kami lebih banyak jumlahnya. Tapi gimana kalau kera ini marah terus manggil temen-temennya?. Makanya lebih aman kami permisi baik-baik dan pelan-pelan. Saya dan mbak Uniek berpegangan tangan, takut.

Fiuh, akhirnya keluar juga dari hutan kera ini dan saya buru-buru kembali ke homestay untuk mandi, sedangkan teman-teman yang lain masih ada di pantai Nepa untuk bermain bola volley dan membuat video Mannequin Challenge. Suasana kebersamaan terasa kental sekali, apalagi saat makan malam tiba. Jujur saya selalu takjub dengan jamuan makan masyarakat Madura, kalau orang Kediri bilang “Ngajeni-nya gak tanggung-tanggung”, malam itu menu kami adalah sayur daun kelor, sambal pencit, dengan lauk tahu, tempe, dan tidak ketinggalan olahan ikan laut. Setelah makan besarpun kami masih dimanjakan dengan pohung (ketela/ubi) rebus. Perfecto!
[Makan sambil bercerita]
[Singkong tannpa keju]
Oh, kedatangan kami ke Sampang gak dibiarkan begitu saja, loh. Kami disambut oleh Kepala Desa Batioh, bapak Haji Ali Suud, beliau banyak bercerita tentang potensi daerah ini. Padahal kalau kalian tahu nih, Sampang itu merupakan daerah yang paling rendah tingkat perekonomiannya jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Madura. Tapi Sampang juga punya banyak potensi wisata, salah duanya ya itu tadi Pantai Nepa dan Hutan Kera Nepa. Selain itu ada komoditas andalan yang dibudidayakan di Sampang, yaitu semangka kuning. Wah kalau bicara soal potensi dan perekonomian, ini tugasnya anak Perencanaan Perekonomian Ekonomi Daerah nih. Ehm, benerin jilbab.

Kalau bicara soal potensi, BPWS pasti sudah paham betul tentang bagaimana cara mengembangkan daerah supaya menjadi lebih baik dari sebelumnya, tapi kan BPWS gak mungkin bisa sendiri. Maka perlu kesadaran dari masyarakat sekitar untuk turut serta membantu prosesnya. Ketika semua elemen bersinergi, maka bim salabim Sampang akan menjadi salah satu tempat yang must visit, dan saya optimis perekonomian secara perlahan akan terangkat. Jadi gak ada tuh ceritanya Madura jadi daerah ekonomi rendah. Malam itu tidak hanya kebersamaan yang kami dapat, tapi juga wawasan yang mencerahkan. Saking serunya kami tidak sadar kalau waktu berjalan begitu cepat. Malam semakin larut dan kami harus istirahat untuk menyambut FamsTrip selanjutnya.
[Ini jam 05.00]
Keesokan harinya kami diajak untuk menikmati sunrise di Pantai Nepa, sayangnya pagi itu mendung menggelayut di langit Desa Batioh. Tapi meskipun begitu kami para blogger tetap bahagia dan bergembira. Ada yang main game bareng panitia ada yang berkelana mencari cinta objek foto juga.
[Nepa Band]
[Menghirup udara segar Pantai Nepa]

Saya bersama beberapa teman blogger menyusuri pantai Nepa dan menemukan spot cantik untuk foto-foto, bahkan saking asyiknya kami sampai lupa waktu. Tau-tau ada kabar kalau makan pagi sudah siap di homestay, karena perut naga sudah meronta maka kami yang terbuai ombak asmara pantai Nepa kembali ke homestay untuk sarapan dan bersiap melanjutkan perjalanan menuju Sumenep.
[Foto bersama dengan kamera instan mas Ndop]
Bersambung..


71 komentar:

  1. Perkenalkan, saya ALAM, ketua rombongan kera yang menyambut kalian. Hahaha.

    Semoga beneran kayak pelabuhan di Singapur yak. Jd nanti bisa langsung ke Singapur dari Klampis. #ehgimana.

    Ditunggu tulisan berikutnya yaaak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. AAMIIN! Moga lekas terlaksana, biar bisa pergi Singapur gak perlu jauh-jauh ke Harbourbay dulu. hehe

      Thankyou, mas Wahyu! :D

      Hapus
  2. Makin seru andaikan sunrisenya muncul.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, sayang banget yak. Tapi tetap seru kok :))

      Hapus
  3. Wuih sudah berlanjut lagi y mbak cerita ny..

    BalasHapus
  4. Pertamax sis.

    Jng pernah jera ke Madura.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha. Failed. :D

      Gak akan jera. Thankyou!

      Hapus
  5. Dannn sayaaa gagal masuk hutan keraaaa, maap nyali gak kuat sama fans yang agresip

    BalasHapus
  6. Dtgu cerita selanjutnya.... Penasaran.... Keranya mirip tmn saya si ocid

    BalasHapus
  7. Tulisan yang sangat keren. Enak dibaca, mengalir dg apik.

    Hanya urutan perjalanan menjelajah kabupaten di Madura aja yg kurang pas. Mestinya: dari Bangkalan, Sampang lalu Pamekasan dan paling ujung adalah Sumenep

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih koreksinya om Dion. Semoga tidak bosan membaca tulisan saya. :D

      Hapus
  8. Aku pas isuk isuk ndik Nepa kae kok kurang foto foto ya? Hahahhaa marahi fokusku terbagi nggawe VLOG loh. Trus emang pingin menikmati alam dengan jiwa dan raga, gak melalui foto #uhuk

    Ditunggu kelanjutan ceritanya. Aku setor rong postingan saja deh koyoknya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga banyak nge vlognya di Nepa :D
      Harus sewa fotografer ini mas biar ga terpecah fokusnya, jadi tetap punya foto banyak dan vlog. Seimbang. :D

      Hapus
  9. tulisan begini nih yang membuat perjalanan serasa ingat terus. besuk-besuk berangkat lebih awal ya. hehe soalnya ane nyampek Bungurasih jam 05.30 WIB. nungguin 4jam baru bisa berangkat ke Madura. aku nya kali yang terlalu kecepatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. siap kang! Salut sama kedisiplinanya. :D

      Hapus
  10. Asyeek bangeeet..lain kali masukin saya dlm kopernya donk sil������

    BalasHapus
  11. pengen banget next time ke sana lagi, lihat progress dan perkembangannya. semoga nantinya makin ramai ya sana, berkat kita-kita ini juga, hahahaha. oh ya, dan tentunya lebih bersih. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga diberi kesempatan lagi kita semua ya. Biar reuni. hehehe

      Hapus
  12. Wih aku gak ikut ke hutan kera, abis waktu keluar homestay udah gak ada orang.
    Ditunggu cerita selanjutnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Nila bukannya yang ketinggalan di hutan kera ? hehehe

      Hapus
  13. Mantap, antara kangen ke Madura dan ke kamu ni jadinya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. aih, jadi malu. Hahah. Makasih sudah mampir ya Berri

      Hapus
  14. Aku ketinggalan rombongan pada masuk ke Hutan Kera Nepa. Aku, Dito, Zamrony, Ilham dan Sayadi hanya memasang banner di dekat pintu gerbang Hutan Kera Nepa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah ternyata kalian yang memasang ya. Terimakasih :D

      Hapus
    2. iya benar kami ketinggalan. Setelah memasang spanduk, kembali ke homestay, kami sudah ditinggal rombongan haha...

      Hapus
  15. Mau kesini tapi tertolak huhuhu

    BalasHapus
  16. Abis dari sini Silvi seneng ketemu banyu trus langsung adus dan turu blek-sek dari jam 9 hahahha :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha.. ya ampun pakai ngorok ngga mba aku ? *tutup muka

      Hapus
  17. di hutan kera itu ada kera sakti ga mbak :( aku request Wkwkw

    BalasHapus
  18. Beruntung bisa jadi salah satu blogger yang ikut menduniakan Madura. Gimana rasanya daun kelor??hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Alhamdulillah banget mba :').
      Rasa daun kelor kayak sayur bayem, seger.

      Hapus
  19. Aah, aku ketinggalan gak masuk ke dalam Hutan Kera. Pas datang, teman-teman sudah pada keluar :D

    BalasHapus
  20. Dan yang pasti aku senneng bangeet bisa ketemu Silvi lagi setelah sekian lama tak berjumpa

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga senang banget bisa ketemu sama mbak Erna lagi :D

      Hapus
  21. Aaah serunyaaa Sil.. kebayang asyik dan hebohnya trip ke tempat-tempat cantik yang tidak semua orang tau :).. Madura kereeeen..aku pun kalau dekat pengeeen ikut!

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau udah di Indonesia main ke Madura ya mam :)
      keren banget soalnya. Di MAdura bisa diving juga XD

      Hapus
  22. perjalanan #menduniakanMadura sepertinya seru banget yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan sepertinya lagi mas. Memang amat sangat seru :D

      Hapus
  23. Hahaha,, Perut naga meronta. Bisa aja.
    Btw, Kami tunggu kedatangannya lagi di Madura.
    Salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha. Iya, soalnya lapar.
      Siap. Salam kenal juga :D

      Hapus
  24. Runut banget peristiwa demi peristiwa yang ditulis. Bagai baca cerbung beneran hehehe. Ditunggu kisah berikutnya ya, Sil. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. seperti hanyut di kali Madura :D
      Thanks mas Halim :)

      Hapus
  25. Seruuuu banget.. Madura ternyata keren juga ya

    BalasHapus
  26. penasaran sama pantainya.. sepi, enak buat ngadem kayaknya. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya masih enak ini pantainya untuk menyediri :D

      Hapus
  27. Acara kemarin memang seru abis! Saya suka! Btw, itu foto kenapa kita berdua doang yang nunduk sil? haha

    BalasHapus
  28. Huhuuyyy Nepa Band, kangen kaliaaaaann... Mantep ya Pi kita asyik masyuk barengan 4 harian gituh. Moga2 kapan2 bisa ngedate lagi barengan kontingen #MenduniakanMadura di kesempatan yg lain :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya asyiiknyaa. Aamiin, moga terlaksana keinginan kita semua berjumpa kembali ya mbaaa

      Hapus
  29. Eh busyet minum 2 antimo mah, bisa ngak bangun2 ngantuk mulu

    BalasHapus
  30. Rupanya Silvi masuk tim Bungurasih ya? Hehehe. Kalo aku nebeng jemputan tim Gubeng. Hahahaha :D. Kadang aku geli kalo teringat kelakuan kita-kita di Madura tempo hari. Lucu! ;).

    BalasHapus
  31. Akhirnya bisa keliling madura juga ya, untuk PLAT M ada yang mau memfasilitasi acara menduniakan madura ini

    BalasHapus
  32. Wah iya nih, jd penasaran kalau si pelabuhan di KKM jadi ya, karena ini bertaraf internasional juga ya :)

    BalasHapus
  33. semoga madura menjadi salah satu objek wisata Indonesia yang mendunia

    BalasHapus
  34. Thanks fotonya yang di tresna Art. keren sekali lho Sil
    Semoga bisa meetup lagi yak....

    BalasHapus
  35. Seneng banget bisa jalan seperti ini. Mengenal berbagai daerah, budaya, berbaur dengan alam.

    Madura juga punya potensi wisata yang ga bisa dianggap remeh ya ternyata. Apalagi kalau tadi itu pelabuhan internasionalnya udah ada...hmmm..ga kebayang kerennya.

    BalasHapus
  36. Wah, jadi pingin roka-roka Johor #salahfokus :D
    Terima kasih sudah menjadi bagian dari trip di Madura, Silvi ^^

    BalasHapus
  37. Akhirnya bisa berkunjung kesini. Asik banget ya bisa kenalan dan jalan2 sama kalian. Ini waktunya kuraaaanggg. ayo cari momen lain lagi yaa. Hehehe.

    BalasHapus
  38. wew. kamu minum 2 pil? opo g klenger.. haha.
    padahal aku niatan bikin video. tapi mood ilang gegara waktunya mepet2 dan langit sedang murung. sayang sekali

    BalasHapus
  39. Wuah seruuunyaaa! Sudah bisa mengenal Madura lebih, aku aja belum hahaha.

    BalasHapus

Keep Blogwalking!