Selasa, Maret 26, 2013

#EastJavaTrip Malang- Surabaya - Madura (Bangkalan)

  4 comments    
categories: 
Menepati Janji saya beberapa hari yang lalu, saya sekarang mau mempost tentang #EastJavaTrip saya beberapa minggu yang lalu. Oh ya, kemarin saya pulang dan inginnya menyempatkan waktu untuk menulis tentang #Trip ini tapi kebanyakan malah saya pakai buat rehat.

Yukk, langsung aja kita ke ceritanya.

12 Maret lalu, saya menjelajah 3 Kota di Jawa Timur. Perjalanan dimulai dari Malang pukul 07.00.

Sebelumnya, saya sama sekali belum pernah ke Bangkalan dengan naik sepeda motor. Terhitung ini kali ke tiga saya ke Bangkalan, satu kali bersama keluarga, satu kali backpackeran (baca : ngegembel) bersama kakak , dan satu kali naik motor. Saya tidak pernah mengira akan melampaui perjalanan sejauh ini. Selama 12 jam !

Kami memulai perjalanan ke Surabaya, niat awalnya sih cuma mau lihat jembatan Suramadu yang kata banyak orang megah. Nah, saya pengen membuktikan sendiri tentang omongan- omongan mereka.

Sebelumnya kami mampir di sebuah warung makan di pinggir jalan sebelum pandaan. Saya memesan soto ayam. Hampir 30 menitan kami menunggu makanan tersaji di depan kami. Yah, mungkin memang baru memotong ayam/ bahkan baru saja merebus sayur lalapan. Ternyata benar demikian -_-.

Pembeli adalah raja, dan apakah raja diperlakukan demikian ? gerutu saya dalam hati. Sekian lama kami menunggu, akhirnya makanan datang. Setelah ritual makan ditambah dengan lauk "menggerutu" tersebut, kami membayar dan pulangnya "menggerutu" lagi, karena menu 1 mangkok soto ayam, 1 piring nasi pecel, dan 2 gelas jeruk panas = 25.500. Hell yeah, sebagai turis (oke, sebut saja kami turis ya), menu seperti itu dengan harga segitu sama sekali tidak singkron. *Oh, ralat. Ini menurut saya saja. Hehehe

Perjalanan dilanjutkan menuju Surabaya. Surabaya, pukul 08.45an panasnya sama dengan tengah hari.  Saya yang terbiasa dengan udara sejuk Malang, benar- benar merasa 'terbakar' di neraka dunia ini.

Untuk arah, selain menggunakan penunjuk jalan yang ada. kami juga menggunakan jasa GPS yang langsung terhubung ke satelit, jadi setiap jalan yang kami lewati benar- benar detail.

Sekitar pukul 10.00, kami sampai di loket Suramadu. Here We Go ! S U R A A A A A M A A A A A D U U U U U U U :D. Dengan hanya membayar 3ribu rupiah, kendaraan yang kami naiki, melaju melawan angin lautan Suramadu..


SURRAMADDDHUUUUH
|

Sesampainya di ujung jembatan, saya memutuskan untuk lanjut ke Makam Syeh Kholil di Bangkalan. Ini benar- benar pertama kalinya saya melewati Suramadu, hahahh.. dan seriusan, saya takjub ! 30 menit dari jembatan kami sampai di Martajasah, makam Kiai Syekh Kholil..



Bangunannya bagus, dan begitu masuk ke dalam masjidnya, hati, pikiran, jiwa, raga saya berasa ademmmm..

Bertepatan dengan ibadah sholat Dhuhur, saya mengikuti jama'ah disini, bersama banyak orang yang juga datang. 

Kami juga tidak menyia- nyiakan waktu untuk tidak menikmati Bebek Sinjay Madura. Meskipun ramai, kami ngga patah semangat. Hehehh.. Masuk warung jam 12, keluar dengan membawa kantong plastik berisi Nasi Bebek Sinjay pukul 13.30 *keringetan*.


Ini antrinya



*NGILERRRR!* MAU LAGIIIII!!!

Yang unik dari bebek sinjay ini, selain mereka tidak membuka cabang serta delivery order, tata cara pemesanan dan pengambilan pesanan pun unik. Jika di warung makan lain, pelayan datang dan menawarkan pesanan, di sinjay ini beda.

Oh ya. Bebek Sinjay ini terletak di sebelah kiri jalan jika kita menuju jembatan Suramadu saya lupa jalan apa (bukannya ga mau nyari, yah biar natural aja karena emang lupa).  Tapi kelihatan kok, paling ramai warungnya. Di Sinjay begitu masuk tempat makan ini, pembeli harus antri terlebih dahulu untuk melakukan pembayaran, dan nantinya akan terdapat nomor antrian di nota. Nah, ada empat loket yang tersedia disini. Disisi kanan untuk mengambil antrian pesanan yang dibungkus, sebelah paling kiri untuk yang makan di tempat, dan dua di tengah untuk loket pembayaran. Jadi, kalau kita pesan untuk di bawa pulang, setelah melakukan pembayaran kita menuju ke loket paling kanan untuk menunggu giliran, sedangkan untuk makan di tempat, kita mengambil piring yang sudah tersedia kemudian berjalan ke loket paling kiri.

Eits, jangan khawatir. Disini juga tersedia minuman yang beraneka ragam, mulai dari macam- macam jus buah, minuman botol, dan yang paling menarik versi saya adalah es degan dengan degan yang masih bulat !, tapi ada juga kok yang di jual per cup. Yang paling spesial lagi, sambal pendamping bebek maknyus ini adalah sambal pencit *ngiler*

Satu porsi nasi bebek sinjay dapat kita nikmati dengan menukar 15.000 saja ! wow. Oh, Bebek Sinjay ini juga pernah masuk teve loh. Bondan Winarno. Jadi, ngga diragukan lagi.

Setelah keluar dari Sinjay kami meneruskan perjalanan untuk pulang. Kelaparan, kami berdua berhenti di POM Sidoarjo untuk makan bebek sinjay dan menunggu hujan reda.

Sesampainya di Pandaan, kami berhenti di masjid Muhammad Cheng Ho, bertepatan dengan waktu Ashar juga. Masjidnya bagus. Etnik dan bangunannya memang memukau, dan saya baru tahu kalau di belakang masjid Cheng Ho ini ada penjual bakso yang 'katanya' recomended untuk di coba. Selain itu, saya juga baru tau kalau Masjid Cheng Ho itu ada dua, yang satu di Pandaan, dan satu lagi di Surabaya.




Karena sudah sore, kami melanjutkan perjalanan pulang, hujan terus mengguyur sepanjang jalan, dan sampai di Malang (kost saya) pukul 18.30. #eluseluspantat

Pukul 19.00 saya rapat LKMO yang nantinya akan saya ceritakan setelah ini.

Awesome untuk #EastJavaTrip waktu itu. Sholat Dhuhur di Bangkalan dan Sholat Ashar di Cheng Ho. #Kotakota

4 komentar:

  1. surabaya emang panas pol. beberapa ke sana mengunjingi sepupu rasanya gk tahan dengan panasnya. lebih cakepan mana sama yang bonceng sil?hahahaha.... ditunggu kunjungannya ke Jember. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat. Untung aku ga di Surabaya hihi. Tapi, panas mana sama Jember Ris ?
      hahaha, *abaikan pertanyaan itu. Okeee, nanti setelah kamu dari Bali aja deh, *biar dapat oleh- olehnya :p

      Hapus
  2. sinjay itu nama kabupaten di sulawesi kan ya? gimana asal mulanya bebek itu jadi bebek sinjay namanya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang punya Sinjay tuh orang Madura asli Lind, Bangkalan. pernah baca di satu situs yang pernah penelitian kesana, yang punya waktu ditanyain nama Sinjay itu dari mana asalnya, malah ga tau, biar mudah diinget doang.

      Hapus

Keep Blogwalking!