Pengalaman Mengurus Balik Nama Kendaraan

Gambar
Halo hai.. Bagaimana kabarnya teman-teman pembaca? Semoga selalu diberi kesehatan ya untuk kita semua. Baik kesehatan fisik maupun mental, karena musim pandemi seperti sekarang rasanya banyak orang yang bersedih hati.

Ohya ini juga pengalaman pertama saya mengurus ini. Jadi sempat deg-degan juga. Takut gimana-gimana gitu. Haha.. We know yah, birokrasi. heee
Oke simak ya, semoga sedikit informasi ini dapat membantu teman-teman yang membutuhkan.
Awalnya kalian datang ke kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (disingkatnya Samsat). Nah, baru tahu juga? haha sama! Kalau versi keminggrisnya dalah One-stop Administration Services Office.   Intinya dalam satu gedung itu ada sistem administrasi yang tujuannya untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat. Gitu.
Nah, di Samsat ini kita bisa melakukan banyak hal yang berkaitan dengan surat menyurat kendaraan. Tujuan saya kali ini adalah untuk mengurus balik nama kendaraan roda dua a k a sepeda motor Vario 125, kesayanga…

no tittle


Honestly, saya kurang begitu menykai sebuah perjalanan, itulah kenapa saya sangat ingin mempunyai kantong ajaib seperti doraemon, supaya dapat mengeluarkan pintu kemana saja. Jadi, saya gak perlu capek menempuh perjalanan yang menghabiskan waktu hingga berjam- jam di jalan.

Sayangnya, semua itu tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Atau bisa dibilang hal- hal seperti itu sulit untuk direalisasikan. Pertanyaanya, adakah manusia yang dapat menembus waktu ? Saya rasa, hingga saat ini belum ada. 

Dari ketidak sukaan saya akan perjalanan ini, membuat saya berpikir tentang kehidupan. Yah, memang sudah waktunya saya memikirkan tentang hal tersebut, karena usia saya tahun ini memasuki babak ke 20.

Mungkin, kalau Tuhan menciptakan kemudahan untuk manusia, kita tidak akan pernah merasakan yang namanya perjuangan. Jika ada pintu kemana saja, kita tidak akan merasakan proses menuju suatu tempat. Sama halnya dengan jika kita lahir, maka akan langsung mati. Seperti itu.

Jadi, saya mulai menikmati setiap proses  yang saya alami selama hidup.

Sama seperti kemarin, saat saya baru pulang dari Kediri dan menuju ke Malang. Seperti sebelumnya, saya menggunakan angkutan kota yang mungkin anda biasa menyebutnya bus, untuk sampai ke terminal di Malang. Saya tidak pernah menyukai kendaraan ini, alasannya ? yah you know lah, hampir semua transportasi umum di Indonesia tidak begitu berpihak baik pada penumpang. Sayangnya, hanya bus ini lah satu- satunya akses yang efisien dan memudahkan saya untuk turun di depan rumah. Jika ada yang ingin mampir, rumah saya berada di dekat jalan raya. Itulah kenapa di KTP saya, (ya saya sudah punya KTP, barusan) tertulis alamatnya : Jalan Raya . . . . .. Kediri.

Sejak awal saya kuliah di Malang, saya memang tidak dibiasakan oleh ibu saya untuk naik bus ini. Saya lebih sering diantar oleh kakak/ travel/ diantar sendiri oleh ayah. ya, kalian boleh bilang saya manja. Apalagi waktu itu ditambah dengan stigma negatif tentang angkutan ini, kurangnya keamanan, banyaknya kecelakaan masuk jurang, dan yang paling parah adalah kriminal di dalam bus. 

Lagi- lagi saya sadar. Hidup memang perjuangan. Kesadaran ini memuncak ketika saya pulang dan tidak mendapat tempat duduk dalam bus. Dari Malang hingga turun did epan rumah, dan begitu pula saat saya kembali ke Malang, dari rumah hingga sampai di Malang. Kejadian seperti ini sudah saya alami sekitar 4 kali. Oke, silahkan dibayangkan, berdiri di dalam kendaraan selama 3 jam dengan medan yang berkelok- kelok naik turun. Saat pertama kali berdiri seperti itu, sampai di rumah saya nangis, capek. 

Tapi, mungkin disitulah prosesnya. Disitulah serunya. 

Seperti kemarin, saya naik bus ini lagi. Untungnya, tidak terlalu ramai sehingga dari rumah hingga malang saya tidak perlu berbagi tempat duduk dengan orang lain. Di beberapa tempat bus berhenti dan menaikkan penumpang, lalu duduk satu keluarga dibelakang bangku saya. Ayah Ibu dan satu Anak. 

Selama di perjalanan, si anak laki- laki kecil ini, tidak bisa diam. Menyanyi, berdiri, lalu berbicara apa saja selama perjalanan. 

Tentunya, saya risih. 

Tapi saya biarkan saja saat itu. 

Saat si adek kecil ini berdiri dan berpegangan di bangku tempat saya bersandar, saya melihat keadaannya. dan saya, terenyuh. 

Adek ini, mungkin masih berusia sekitar 7- 8 tahunan, dan dia mengalami bibir sumbing. Sebelum saya tau keadaanya pun, saya sudah membatin kalau anak ini pintar dan aktif, karena di setiap pemberhentian bus, adek ini selalu membaca apa saja yang terlihat olehnya. dan yang paling membuat saya malu adalah, saat dia menyebut jalan yang berkelok- kelok. Kanan- Kiri- Kanan lagi- Kiri lagi. 

"Saya yang berusia hampir 20 tahun, hingga saat ini masih suka gagap kalau ditanya tentang arah" ya, itulah keterbatasan saya.

Tapi, yang saya suka, adek ini ceria gitu. hehe

Kemudian, ibu nya ngajakin saya ngobrol, dan dari obrolan itulah saya tahu kalau mereka mau berlibur ke Sengkaling (Pemandian di Malang).

Tak lupa saat adek ini akan turun, dia dadahdadah sama saya. Haru banget :')

Dari semua kejadian ini, bolehlah ditarik kesimpulan kalau kejadian tak terduga bisa datang kapan saja dan dimana saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Crayon Beserta Kekurangan dan Kelebihannya yang Perlu Diketahui

Cara Cek Usia Kartu Indosat

Review Milk & Honey Gold Nourishing Oriflame