Pengalaman Mengurus Balik Nama Kendaraan

Gambar
Halo hai.. Bagaimana kabarnya teman-teman pembaca? Semoga selalu diberi kesehatan ya untuk kita semua. Baik kesehatan fisik maupun mental, karena musim pandemi seperti sekarang rasanya banyak orang yang bersedih hati.

Ohya ini juga pengalaman pertama saya mengurus ini. Jadi sempat deg-degan juga. Takut gimana-gimana gitu. Haha.. We know yah, birokrasi. heee
Oke simak ya, semoga sedikit informasi ini dapat membantu teman-teman yang membutuhkan.
Awalnya kalian datang ke kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (disingkatnya Samsat). Nah, baru tahu juga? haha sama! Kalau versi keminggrisnya dalah One-stop Administration Services Office.   Intinya dalam satu gedung itu ada sistem administrasi yang tujuannya untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat. Gitu.
Nah, di Samsat ini kita bisa melakukan banyak hal yang berkaitan dengan surat menyurat kendaraan. Tujuan saya kali ini adalah untuk mengurus balik nama kendaraan roda dua a k a sepeda motor Vario 125, kesayanga…

#BeachTrip Sekali mendayung, 3 Pantai Terlampaui


Haii. Selamat berlibur panjang ! :D
Diisi dengan kegiatan apa nih liburan kayak gini ? Travelling, belanja, atau sekedar istirahat di rumah saja ? yip, apa saja kegiatannya, semoga selalu dalam keadaan sehat yaa. Hihi

Jumat Sabtu Ahad ini saya nyepi di kosan. Dari 24 penghuni tinggal 3 anak saja yang 'stay' termasuk saya. 2 adik maba dari Madura, dan saya. 

Jumat ternyata adalah Jumat Agung, jadi jalanan di Malang cukup lenggang untuk dijelajahi, kapan lagi lihat Malang kayak gini di hari efektif ? Biasanya macet dan gerah.

Oh ya, liburan ini saya isi dengan separuh traveling dan separuhnya lagi leha- leha seperti sekarang. Kemarin, hari Jumat saya dan Bayu jalan- jalan ke Pantai di Selatan Malang. Rencana awal kami mengunjungi Pantai Goa China, salah satu destinasi recommended jika anda semua ke Malang. Tapi ternyata, dengan sekali dayung 3 pulau terlampaui. Saya baru tau malahan kalau Pantai Sendang Biru, Goa China dan Bajul Mati terletak dalam satu garis pantai. Namun, tempatnya yang berbeda- beda.

Kami berangkat pukul 7.25 dan sampai di destinasi pukul 10.25. 66 km kami tempuh dengan kendaraan bermotor. Terpotong waktu untuk sarapan di Kepanjen. Kami sarapan nasi ampok/empog intinya nasi jagung dengan lauk super banyak. Urap- urap, rempeyek ikan, mendol (tempe yang dibentuk lonjong), dan sayur kacang. Dilengkapi dengan teh panas. Mantap. Sayangnya, saya ga sempat nge foto karena benar- benar kelaparan. Kalap. Asli no Hoax kok. Penjualnya bisa di temukan di sisi kanan jalan depan pabrik Cakra Kepanjen. Penjualnya seorang ibu dengan rambut potong pendek (laki) dan ramah sekali. Jangan lupa mampir. 

Setelah cukup. Kami melanjutkan perjalanan ke Goa China. Seperti yang saya bilang tadi, Goa China terletak satu garis dengan dua pantai lainnya. Ada dua persimpangan yang memisahkan Sendang biru serta Goa China dan Bajul Mati. Arah kiri untuk ke Sendang biru jarak yang ditempuh untuk sampai ke tkp +- 1,5 km. Sedangkan untuk ke Goa China dan Bajul Mati adalah 5 km.

Akhirnya kami berdua memutuskan untuk ke Bajul Mati terlebih dahulu, karena letaknya paling selatan. Tiket masuk ke Bajul mati adalah 6ooo/orang dengan parkir untuk motor 3000 rupiah. Sayangnya di Bajul Mati sangat sedikit tempat berteduh, cuaca sangat panas dan waktu itu ombak benar- benar sangat besar. 



sisi kanan Pantai Bajul Mati




Sisi Kiri Pantai Bajul Mati


Sebelum menuju ke Bajul Mati, kami melewati sebuah jembatan yang unik. 






Kemudian, kami melanjutkan perjalanan (balik perjalanan) ke Goa China, 800 meter menuju TKP kami harus ber-gangnam style diatas kendaraan. yip. Jalanannya benar- benar masih berbatu (batu marmer) dan ukurannya lumayan besar. 800meter serasa 3 km. Tiket masuk di Goa China lebih murah dibanding dengan Bajul Mati, 5000/orang, namun biaya parkir yang mahal, yaitu 5000. Sama saja sebenarnya dengan Bajul Mati jika dipikir- dipikir. 

Begitu sampai, kami tidak langsung menuju pantai dikarenakan udara sangat panas. Kami stay di salah satu warung dan menunggu matahari sedikit turun. Saya main ayunan. Hihi



Kami akhirnya turun ke pantai, hanya sebentar dikarenakan panggilan sholat Jumat sudah berkumandang. Bayu sholat Jumat dan saya menunggu di bale rumah penduduk yang letaknya bersebelahan dengan masjid. Masjidnya tidak terlalu besar, mungkin jika di daerah kita masjid ini disebut dengan mushola. karena ukurannya yang lebih kecil. 



Saat saya menunggu Bayu selesai jumatan, saya berbincang dengan salah seorang bapak penjual makanan di tepi pantai. Beliau menanyakan darimana asal saya, dan menanyakan bagaimana rasanya sampai di Goa China, karena memang medan yang ditempuh tidak mudah. 

Saya yang orang ekonomi pembangunan (*tsah), menanyakan perihal jalan yang sulit ditempuh untuk mencapai pantai, kenapa tidak dibangun supaya memudahkan, dan lain- lain. Akhirnya si bapak ini bercerita, tentang permohonan bantuan ke pemerintah Malang, melalui desa, perhutani, dan keduanya sejak dua tahun yang lalu. Namun, hingga saat ini belum ada yang direalisasi. Bapak tersebut juga bercerita jika beberapa tahun yang lalu, mobil belum dapat masuk ke Goa China. 1,5 tahun yang lalu, warga setempat bergotong- royong dan saat ini mobil dapat masuk ke kawasan pantai meskipun dengan jalan yang berbatu, karena memang kemampuan masyarakat untuk membangun hanya sampai di perbaikan jalan yang sebenarnya belum layak untuk dilewati. mybe you can call it, Mackadam. Jalan yang masih berbatu dan belum sampai aspal.

Padahal jika pemerintah kota mau ikut campur tangan menangani tempat wisata seperti Goa China ini. Dengan ikut merawat dan memperbaiki, pastinya retribusi daerah akan bertambah sehingga menambah APBD. 

Maka dari itu kenapa masuk di pantai ini sedikit mahal, yah anggap saja kita ikut membantu membangun dan mensejahterakan masyarakat setempat.

Kami berjalan melintasi ujung hingga ujung, dan pukul 15.00 kami keluar area Goa China. 





Oh ya, kenapa disebut Goa China ? yap, karena disalah satu bukit, terdapat Goa yang buntu (tidak ada tembusan), dan dulunya ada seorang pertapa China yang bertapa di Goa tersebut bertahun- tahun dan hilang begitu saja (mukso), serta meninggalkan surat. Akhirnya, oleh masyarakat setempat diberi nama Goa China.





Di pantai Sendang Biru, hampir sama dengan dua pantai lainnya banyak terdapat penjual ikan yang masih segar dan disini sedikit amis. Sayangnya saya tidak sempat memotret karena cuaca yang tidak mendukung, hujan lebat.

Tunggu trip trip saya selanjutnya yaaa...

*Foto dokumentasi pribadi



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Crayon Beserta Kekurangan dan Kelebihannya yang Perlu Diketahui

Cara Cek Usia Kartu Indosat

Review Milk & Honey Gold Nourishing Oriflame