Pengalaman Mengurus Balik Nama Kendaraan

Gambar
Halo hai.. Bagaimana kabarnya teman-teman pembaca? Semoga selalu diberi kesehatan ya untuk kita semua. Baik kesehatan fisik maupun mental, karena musim pandemi seperti sekarang rasanya banyak orang yang bersedih hati.

Ohya ini juga pengalaman pertama saya mengurus ini. Jadi sempat deg-degan juga. Takut gimana-gimana gitu. Haha.. We know yah, birokrasi. heee
Oke simak ya, semoga sedikit informasi ini dapat membantu teman-teman yang membutuhkan.
Awalnya kalian datang ke kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (disingkatnya Samsat). Nah, baru tahu juga? haha sama! Kalau versi keminggrisnya dalah One-stop Administration Services Office.   Intinya dalam satu gedung itu ada sistem administrasi yang tujuannya untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat. Gitu.
Nah, di Samsat ini kita bisa melakukan banyak hal yang berkaitan dengan surat menyurat kendaraan. Tujuan saya kali ini adalah untuk mengurus balik nama kendaraan roda dua a k a sepeda motor Vario 125, kesayanga…

Menjemput Matahari di Desa Pesisir


Pagi yang cerah untuk jiwa yang sepi, begitu kata mas Aril ya. Tapi, kali ini jiwa saya gak lagi sepi, malah cerah dan hangat seperti matahari terbit. Iya dong, soalnya saya lagi menjelajah Desa Pesisir di Probolinggo. Baru sekali itu saya menikmati hangatnya matahari dengan lokasi langsung dari pantai. Ohya, padahal ini masih jam sangat pagi loh, tapi matahari sudah tinggi sekali. 



Saat melewati perkampungan Desa Pesisir tidak ada tanda- tanda penduduk berjualan ikan layaknya pantai pada umumnya, ternyata setelah selesai melaut hasil tangkapan langsung dibawa ke tempat pelelangan ikan. Sesampainya di lokasi pesisir, saya turun ke pantai, air sedang surut jadi saya bisa berjalan sekitar 2KM ke arah pantai. Sepanjang jalan saya melihat perahu yang sedang parkir dan rawa- rawa yang lebat. 



Hal pertama yang saya katakan saat itu adalah "Beruntung saya gak hidup di daerah kayak gini, gak bakalan sanggup", lalu Ilham tertawa. 

Hidup dengan keterbatasan moderintas, air dan lingkungan yang ya- kalau- boleh- saya- bilang kurang mendukung, transportasi yang cepat, dan hal lainnya yang tentunya tidak akan pernah ditemukan di kota, begitu juga sebaliknya. 


Mungkin, karena kebiasaan saya hidup di tempat yang ramai dan akses mudah dalam segala hal. Tapi, ada satu hal yang tidak akan pernah saya temukan di kota, yaitu ketenangan merasakan hangatnya matahari, ketenangan mendengar bisik- bisik remis dan gesekan daun rawa, juga kaki yang dingin menjejak tanah becek Desa Pesisir. Value experience memang mahal!

Selain itu, saya juga melihat langsung tempat dan alat pembuatan garam. Haha.. Ternyata, bagus ya.



Jika ada kesempatan untuk datang ke Probolinggo lagi, saya pasti akan minta untuk diantar ke tempat ini, untuk menjemput matahari di Probolinggo.



Komentar

  1. hati-hati mbak, kepleset nanti...licin tanahnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pak, licin sekali.
      Terimakasih sudah mampir :)

      Hapus
  2. pagi di desa ini sepertinya nyaman banget ya :)

    BalasHapus
  3. suasananya sama seperti madura...jd rindu kampung halaman deh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku jadi pengen ke kampung halamannya mba Dwi. hehe

      Hapus

Posting Komentar

Keep Blogwalking!

Postingan populer dari blog ini

Crayon Beserta Kekurangan dan Kelebihannya yang Perlu Diketahui

Cara Cek Usia Kartu Indosat

Review Milk & Honey Gold Nourishing Oriflame