Pengalaman Mengurus Balik Nama Kendaraan

Gambar
Halo hai.. Bagaimana kabarnya teman-teman pembaca? Semoga selalu diberi kesehatan ya untuk kita semua. Baik kesehatan fisik maupun mental, karena musim pandemi seperti sekarang rasanya banyak orang yang bersedih hati.

Ohya ini juga pengalaman pertama saya mengurus ini. Jadi sempat deg-degan juga. Takut gimana-gimana gitu. Haha.. We know yah, birokrasi. heee
Oke simak ya, semoga sedikit informasi ini dapat membantu teman-teman yang membutuhkan.
Awalnya kalian datang ke kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (disingkatnya Samsat). Nah, baru tahu juga? haha sama! Kalau versi keminggrisnya dalah One-stop Administration Services Office.   Intinya dalam satu gedung itu ada sistem administrasi yang tujuannya untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat. Gitu.
Nah, di Samsat ini kita bisa melakukan banyak hal yang berkaitan dengan surat menyurat kendaraan. Tujuan saya kali ini adalah untuk mengurus balik nama kendaraan roda dua a k a sepeda motor Vario 125, kesayanga…

Kalian tau ini gambar apa ?
Ini adalah salah satu mainan yang dibuat dari hasil kerajinan tangan.
Bambu, kawat, dan ban yang dipotong menyerupai hewan.
Rp. 2000,- dijual oleh seorang kakek yang tidak lelah menawarkan pada ibu- ibu juga bapak- bapak yang berlibur bersama anak- anaknya di taman kota Malang. 

-----
Ketika zaman semakin maju dan ke-virtual-an mulai mendominasi kehidupan, tak ada lagi ruang untuk orang- orang yang masih dibawah batu. Mereka akan tertinggal jauh dan semakin jauh. Zaman saya masih berbaju merah dan putih, hampir setiap sore sebelum mengaji saya dan teman sebaya main gobak sodor, kasti, petak umpet dan gejlik. Belum begitu banyak permaianan virtual yang meng-individu-kan anak- anak seumuran itu. dulu, saya juga sangat suka dengan penjual mainan otok- otok yang terbuat dari bambu dan di dalam bambu tersebut ada semacam kelereng sehingga menimbulkan bunyi nyaring. Atau congklak, wah bersemangat sekali saya kalau diajakin main ini.

Sekarang ? kemana mereka ?

Sudah jarang saya menemukan ada anak seumuran dibawah 10 tahun yang masih bermain dengan mainan tradisional. Anak zaman sekarang lebih suka dengan mainan yang berbasis techno. Mulai dari game hp, pc, ps, onlen, de el el. Sehingga permaian tradisional yang notabene 'handmade' semakin jarang ditemukan dan kalaupun ada pasti harganya sangat murah.

*saya ga ngerti ini sebenernya mau nulis gimana, lagi ga ada inspirasi. - nanti kalau ada waktu nulis lagi, pasti ditambah











Komentar

Postingan populer dari blog ini

Crayon Beserta Kekurangan dan Kelebihannya yang Perlu Diketahui

Cara Cek Usia Kartu Indosat

Review Milk & Honey Gold Nourishing Oriflame