Kamis, Mei 23, 2019

Kenangan Mudik Paling Berkesan

  5 comments    
categories: 
Beberapa hari ini cukup sering lihat dan baca keluhan teman- teman di timeline, mengenai mahalnya ongkos mudik dengan pesawat. Baca keluhan mereka, saya jadi flashback ke momen mudik di tahun 2016. Mudik pertama saya dengan pesawat. 

Mungkin seandainya kalau bisa milih jalur darat, saya akan memilih untuk mudik dengan jalur itu saja. Selain mungkin lebih ekonomis, pemandanganya pun juga lebih banyak, kan. 

Sayangnya, saya tidak bisa, karena tidak ada jembatan penghubung antara Kepulauan Riau dengan pulau Jawa. Kalau dipikir, bisa juga sih mudik dengan menggunakan jalur laut. Tapi membutuhkan waktu sekitar 3 hari 2 malam untuk bisa sampai di Tanjung Perak, Surabaya. Padahal libur lebaran kala itu cuma 8 hari saja.

Makanya, saya cukup bersyukur karena takdir membawa saya pulang lagi ke Jawa. Bekerja di Kediri, tinggal di Kediri. Merantau memang indah, tapi saya sekarang tahu ada yang lebih indah dari merantau, yaitu dekat dengan rumah (orang tua).

Nah, mudik di tahun 2016 itu merupakan mudik yang paling berkesan buat saya. Saat itu pertama kalinya saya mengalami sendiri yang namanya mudik, sendirian.

Baca Juga : Perjalanan Pulang Membayar Rindu

Merasakan euforianya berburu tiket, yang sudah pasti mahalnya minta ampun kalau dibanding hari biasa. Berkali- kali lipat naiknya. Bahkan saat itu saya ada pikiran untuk tidak pulang ke Jawa.

Apalagi H-2 lebaran saya masih masuk kerja. Jadi kebayang kan kayak gimana rasanya, rindu pengen lekas pulang, tapi masih tertahan dengan pekerjaan. Sedangkan saudara- saudara saya yang juga merantau sudah pamer foto di rumah Kediri. Makin miris. 

[Sayap yang membawaku pulang]

Seperti yang sudah diduga, H-1 bandara ramainya minta ampun. Bahkan untuk masuk gate saja harus antre panjang banget. Jam boarding sudah mepet dan saya masih ada di luar bandara, masih antre.


Perasaan rasanya campur aduk meskipun saat itu sudah check in online. Pilihannya cuma ada 2, kalau waktu masih bisa dikejar, berarti bisa pulang. Kalau tidak, berarti tiket hangus dan stay di Batam saat lebaran. Akhirnya, saya lepaskan semua perasaan kalut dan takut. Istilahnya kayak yaudahlah ya, legowo kalaupun gak bisa pulang.

Setelah itu, antrean yang awalnya mengular, tiba- tiba maju cepat sekali. Tau- tau saya sudah di dalam bandara dan segera lari ke counter untuk menimbang koper yang isinya oleh- oleh doang.

Dengan sedikit tergesa, saya lari ke gate pesawat yang akan membawa saya pulang. Penerbangan dari Hang Nadim ke Surabaya memakan waktu sekitar 2 jam 15 menit. Saat tiba di Surabaya kala itu seingat saya sudah maghrib.

Nah, perlu temen- temen tahu, Surabaya ke Kediri itu masih harus ditempuh dengan perjalanan 3-3,5 jam. Makanya karena saat itu puncak arus mudik, saya memutuskan untuk tidak dijemput di bandara dan memilih naik travel. 

Baca Juga : Travel Rahayu Wira Abadi

Sepanjang perjalanan pulang ke Kediri, saya lalui dalam hening. Sesekali ditanya oleh sesama penumpang travel, dari mana, pulang kemana, sama siapa, mana orang tuanya. Mereka cukup terkejut karena saat itu saya sendirian dan ya mungkin dianggap masih anak- anak, akibat punya wajah yang agak mudaan daripada usianya. 
[Foto bersama sepupu di Soetta, yang juga akan kembali ke rantau]
Saat sampai di rumah, saya lekas menghubungi om dan tante saya yang ada di Batam. Perasaan saya hangat, akhirnya bisa mudik juga saat lebaran. Momen yang mungkin tidak akan pernah saya lupakan. Karena selepas cuti selesai, ada perasaan berat untuk kembali ke Batam. Tapi, mau gak mau masih harus kembali.

5 komentar:

  1. Wah seru banget nih Mbak mudiknya. Alhamdulillah ya selamat

    BalasHapus
  2. Wah ini jadi pengalaman yang paling berkesan ya Mbak

    BalasHapus
  3. Pengalaman mudik yang pertama nih ya Mbak. Naik pesawat juga :D

    BalasHapus
  4. Wah kalau saya sendiri mudiknya biasanya naik kereta api hehe

    BalasHapus
  5. Wah seru banget nih ya kalau mudik bisa naik pesawat hehe

    BalasHapus

Keep Blogwalking! Komentar dengan link hidup akan langsung dihapus.